Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Teh buatan istri pertama


__ADS_3

Berulang kali Adam menarik napas panjang, mencoba meredam sesuatu yang bergejolak di dalam dada. Setelah puluhan menit, pria itu akhirnya bangun dari ranjang ketika sang istri sudah pulas terbawa arus mimpi.


Sepasang netranya melirik jam yang menggantung di dinding.


Pukul 22:55.


Adam membawa bantal lalu tidur di sofa. Sampai waktu nyaris di pertengahan malam, Barulah pria itu bisa memejamkan mata hingga waktu subuh.


Usai sholat, Adam kembali menempatkan dirinya di atas tempat tidur tepat di sebelah Prilly, supaya Prilly mengira Adam tidur dengannya. Seperti itulah yang Adam lakukan selama pernikahannya.


***


Waktu terus bergulir tanpa ada yang mampu menghentikannya. Pagi, siang, hingga malam menjelang.


Malam ini, Prilly sudah mengatur rencana agar Adam meminum teh buatannya.


Sementara Dinda, sepulang dari rumah sakit, ia di sibukan dengan aktivitas memasak sebab malam ini Adam akan makan malam di apartemennya.


Adam bilang ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan, termasuk soal resignnya dari kantor.


Sembari menunggu daging yang ia masak matang, Adinda terdiam. Dalam hati sebenarnya memiliki kekhawatiran yang sama seperti yang di utarakan Adam saat di telfon siang ini. Bukan Dinda berburuk sangka, hanya saja setelah mendengar sendiri permintaan Birawa jelas Ia tak bisa menepis rasa kekhawatirannya.


"Kalau mas Adam resign dari kantor, lalu bekerja di perusahaan Birawa, pasti mas Adam akan langsung di usir dari perusahaan kalau tahu kebenarannya"


"Kasihan mas Adam harus kehilangan karir yang sudah mas Adam raih"


"Tapi bagaimana caranya supaya mas Adam jangan sampai resign dari kantor?"


"Assalamu'alaikum"


Lamunan Dinda buyar ketika mendengar suara salam dari Adam setelah menempelkan cardlock apartemen pada daun pintu.


"Wa'alaikumsalam, mas" Mereka berpapasan di ambang pintu antara dapur dan ruang makan.


Dinda segera meraih tangan Adam untuk di kecup. Sementara Adam membalas dengan mengecup keningnya. Suatu kebiasaan yang mereka lakukan baru-baru ini. Tentu saja setelah menikah.


Kebiasaan yang selalu mengingatkan keduanya akan hak dan kewajiban yang mereka miliki sebagai suami istri.


"Mas cuci tangan dulu, setelah itu langsung makan"


"Kamu sudah masak, Dek?"


"Sudah" Adam berjalan menuju wastafle, melirik panci di atas kompor.


"Lagi masak apa itu?"


"Rendang" jawab Dinda sambil menyiapkan peralatan masak. "Di bikinin sarapan apa tadi pagi sama Prilly?"


"Boro-boro di masakin, mas berangkat kerja saja dia masih tidur"


"Nggak bantu nyiapin baju kantor juga buat mas?" Dinda berjalan ke arah kompor.


"Enggak, tapi nggak masalah si dek, mas maklum dia setiap pagi kayak sakit gitu"


"Dia pasti ngalami morning sickness"


"Apa itu?" Adam yang sudah duduk di kursi makan, menatap Dinda yang sedang menghampirinya dengan membawa rendang di atas piring saji.


"Sakit yang biasa di alami oleh ibu hamil" Wanita itu duduk lalu menyidukkan nasi untuk suaminya. "Bukan sakit si sebenarnya, tapi memang di awal-awal kehamilan suka gitu, seperti muntah, gampang lelah, tingkat kemalasan juga naik level. Tapi ada juga yang hamil jadi tambah rajin, semua tergantung mood dalam diri kita"


"Oh, pantas saja dia seperti uring-uringan terutama kalau di pagi hari"


"Terus gimana, katanya ada sesuatu yang ingin mas bicarakan"


"Iya dek, soal rencana resign mas"


"Kalau menurut aku si mas nggak usah resign, mas cari alasan ke Birawa, bilang aja nggak jadi keluar"


"Tapi apa dek?" tanya Adam setelah menelan makannan yang dia kunyah. "Apa lebih baik kita bongkar saja video itu?"


"Nggak gampang mas, iya kalau nanti Birawa langsung percaya, kalau nggak, gimana?"


"Nggak percayanya dimana, kan sudah jelas mas nggak ngelakuin apa-apa"


"Coba kalau Prilly bilang di lain kesempatan mas menyentuhnya"


Pria itu terdiam.


"Kita sebaiknya minta bantuan Zidan"


"Zidan?" ucap Adam dengan alis berkerut. Heran campur bingung pastinya.


"Iya. Kayaknya Zidan cinta mati sama Prilly, soalnya dia pernah ajak aku buat batalain pernikahan mas dan Prilly waktu itu. Dan mas tahu, dari mana Zidan dapat video itu padahal aku nggak pernah kasih ke dia?"


"Dari mana?" Adam sangat penasaran.


"Pas aku nolak kerja sama itu, ponselku sempat tertinggal, aku yakin Zidan mencurinya dari ponselku"


"Mas ingat dek, pas Prilly bilang kalau bayi itu bukan anak mas, Zidan juga mengancamnya supaya jangan menyerahkan tubuhnya pada mas"


"Itu artinya Zidan nggak rela, sama kayak aku yang nggak rela kalau mas nyentuh-nyentuh Prilly" Tiba-tiba, Dinda merasakan kakinya yang berada di bawah meja di tendang dengan sayang oleh Adam.


"Apaan si mas, aku serius tahu"


"Kamu itu cewek tapi pintar gombal"


"Gombalin suami sendiri nggak apa-apa" celetuk Dinda tanpa menatap wajah sang suami.


"Dinda, Dinda" pria itu menggelengkan kepala sembari tersenyum simpul.


"Oh iya dek, kamu bilang ini apartemen bos kamu kan?"

__ADS_1


"Iya, kenapa memangnya?" Dinda mengangkat kepala lalu menoleh ke kiri untuk mencari netra Adam yang duduk di sebelahnya.


"Lebih baik kita beli saja apartemen ini, mas nggak enak"


"Aku juga berfikir seperti itu si mas, tapi kayaknya pak El memang nggak mau aku beli apartemennya, aku pernah bilang mau beli soalnya, terus dia nolak"


"Kenapa kamu nggak boleh beli apartemen ini?"


"Pak El bilang, ini hadiah buatku"


"Hadiah?" Adam terkejut sekaligus heran.


Dinda mengangguk. "Jangan salah paham dulu. Pertama, pak El memberikan apartemen ini karena aku sudah menyelamatkan nyawanya, kedua ini hadiah pernikahan untuk kita dari Pak El dan istrinya"


"Hadiah semahal ini? ini nggak murah lho dek?"


"Iya, aku juga merasa nggak enak hati, tapi pak El mengatakan kalau apartemen ini tak sebanding dengan nyawanya"


Hening, mereka terdiam tapi tangannya bergerak menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Coba kamu ngomong lagi, kalau bisa nanti mas cicil setiap bulan, Mas juga akan kasih DP, kebetulan mas ada tabungan"


"Ya udah akan aku coba ngomong lagi ke pak El, nanti aku bantu mas buat mencicilnya"


"Nggak usah, biar mas saja. Uang kamu di simpan saja, nanti kalau ada kebutuhan mendesak, pas suamimu yang miskin ini lagi nggak ada kerjaan kamu bisa pakai tabungan kamu"


"Nggak apa-apa mas, bantu suami kan sah-sah aja"


"Nurut sama suami malah kewajiban dek?"


Bibir Dinda terkatup rapat, lalu ia tarik ke kiri.


"Kenapa bibirnya di gituin?"


Wanita itu hanya menggeleng, dan itu memantik tangan Adam terulur untuk mengusap belakang kepala Dinda.


"I love you" bisik Adam lembut.


"I love you too" balas Dinda sembari menoleh.


Keduanya lekat saling menatap sebelum kemudian saling menempelkan bibir.


Saat asik di tengah-tengah ciumannya, suara ponsel milik Adam membuat mereka terpaksa melepas tautannya.


"Pasti dari Prilly"


"Angkat dulu!"


Mendesah kasar, pria itupun meraih ponselnya.


"Iya Pril"


"Sebentar lagi pulang"


"Ya sudah aku tunggu ya, aku sudah siapin makan malam buat kamu"


"Tapi aku sudah makan Pril, tadi bareng klien"


"Loh, kenapa gitu? harusnya makan sama aku dong, gimana si kamu Dam"


"Ya tadi klien ngajak makan malam, nggak mungkin kan aku tolak"


"Ya harusnya kamu jangan makan dong, kamu minum aja, udah capek-capek masak juga"


"Aku nggak tahu kamu masak"


"Pesanku isinya angka, makannya nggak kebaca?" Dari intonasinya yang naik, mungkin saat ini ekspresi Prilly tengah bersungut-sungut.


"Ya sudah ya, aku matiin"


"Cepat pulang!"


"Hmm" balas Adam singkat, lalu mematikan panggilannya.


"Dia selalu marah-marah mas?" Tanya Dinda penasaran.


"Iya"


"Pas pacaran juga??"


Adam langsung menjawab dengan anggukan kepala.


"Ya sudah mas pulang sekarang"


"Kamu ngusir mas? nggak mau ngasih hidangan penutup dek?"


"Mas mau buah?"


"Enggak?"


"Lalu apa?"


"Mau dessert"


"Ya apa?" Alis Dinda menukik.


Alih-alih menjawab, Adam malah melirik ke arah pintu kamar"


"Mesum pasti"


Adam kembali merespon dengan bahasa tubuh kali ini dengan mengulum senyum.

__ADS_1


Spontan tangan Dinda mengusap wajah suaminya.


"Dessertnya besok lagi"


"Kalau besok harus nambah"


"Mulai deh" Dengan kikuk sekaligus salah tingkah. "Pulang sana, istri pertama nungguin tuh"


"Nggak apa-apa mas nggak bantu cuci piring-piring ini?"


"Nggak apa-apa" sahut Dinda. Mereka yang duduk bersebelahan, kini saling berhadapan dan saling beradu pandang.


Satu tangan Adam memegang tangan Dinda sementara tangan lainnya menyentuh dagunya.


"Mas cinta kamu"


"Aku juga"


"Pulang dulu ya?"


"Hmm"


Sebelum bangkit, Adam mengecup kening Dinda, lalu turun ke pipi dan terakhir bergeser ke bibir.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" Balas Dinda dengan nada lembut. Tangannya sudah terbiasa menyalami suaminya.


"Nggak usah antar, mas akan kunci pintu dari luar"


"Hati-hati, mas!"


***


Empat puluh menit kemudian, Adam sudah sampai di rumah. Ia di sambut oleh Prilly di kamarnya.


"Maaf baru pulang"


"Beneran makan malam sama klien kan?"


"Iya"


"Nggak bohong?" tatapan Prilly penuh menyelidik.


"Kamu bertanya, atau mencurigaiku?" Adam melepas kancing lengan baju.


"Aku mandi dulu" tambahnya.


"Aku buatkan teh untukmu ya"


Adam yang hendak memasuki kamar mandi, berhenti lalu menoleh, kemudian mengangguk.


Yes ini kesempatanku.


Wanita itu langsung berjalan menuju dapur.


Selang lima belas menit, Adam yang baru saja selesai mandi, langsung di sodorin secangkir teh yang sudah di beri sesuatu.


Tanpa curiga, Adam menerima teh itu lantas meneguk isinya.


"Habisin aja langsung, Dam. Nanti sekalian cangkirnya aku bawa ke dapur"


"Hmm" sahut Adam masih sambil terus meneguknya.


Setelah meminum hingga tandas, Prilly mengambil alih cangkirnya.


"Aku bawa ini ke dapur dulu ya"


"Iya"


Prilly berjalan ke arah pintu, dan Adam menuju lemari.


Tepat ketika selesai memakai kaos, tubuhnya merasakan sesuatu yang pernah ia rasakan dulu.


Secara otomatis Adam langsung teringat dengan obat yang di ceritakan Dinda.


"Apa Prilly mencampurkan obat itu?" Adam menebak-nebak.


"Ah, tubuhku panas dingin, ini sama seperti yang aku rasakan saat mau menyentuh Dinda dulu"


Dadanya bergetar, sementara keringat dingin keluar melalui pori-pori kulitnya.


"Sayang" tiba-tiba, tangan Prilly melingkar di pinggang Adam dari arah balik punggungnya.


"P-Prilly?"


"Kamu kenapa pulangnya malam banget, Dam"


"A-aku"


"Kita tidur yuk, aku pijitin" kata Prilly sambil meraba perut Adam.


"Aku lupa ada yang tertinggal di kantor Prill. Aku akan segera kembali, okey"


"Tapi Dam"


"Tunggu aku, setelah itu aku akan temani kamu tidur"


Setelah mengatakan itu, Adam langsung melangkah pergi.


Tak bisa mencegahnya, akhirnya Prillya membuntuti Adam tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


__ADS_2