Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Permintaan maaf


__ADS_3

Sesaat setelah salam di akhir sholat subuh berjamaah dengan suaminya, Dinda langsung lari terbirit menuju kamar mandi dan langsung memuntahkan isi yang ada di perutnya.


Karena kondisi perut yang kosong, dia hanya mengeluarkan cairan sedikit berwarna kekuning-kuningan.


Adam yang turut panik mengekor Dinda di belakangnya.


"Kenapa, dek?" tanya Adam sambil memijat tengkuk Dinda lembut.


"Hamil kayaknya" wanita itu menjawab asal, sebab dari tanda-tandanya yang sudah telat datang bulan hingga dua minggu lebih, membuatnya berfikir bahwa dia memang tengah hamil saat ini.


"Hamil?" Adam berhenti memijat, lalu sedikit membungkuk agar pandangannya bertemu. "Yang bener, dek?"


"Hmm"


"Alhamdulillah" Adam berjingkrak kegirangan.


"Jangan senang dulu!"


Mendengar kalimat Dinda, persekian detik Adam langsung termangu dengan sorot heran.


"Loh, katanya benar kamu hamil"


"Ya itu kan prediksi aku, mas. Aku belum cek dengan alat" wanita itu mengelap wajahnya menggunakan handuk kecil.


"Harus di pastikan, bukan?" Dinda keluar dari kamar mandi lalu menanggalkan dan melipat mukenanya.


Adam yang juga mengikuti langkahnya agak sedikit pasang raut kecewa.


"Kenapa muka mas di tekuk-tekut gitu?" tanya Dinda saat menatap wajah suaminya yang tertunduk lesu.


"Kirain sudah pasti"


"Kita pastikan sama-sama yuk?"


"Caranya?" tanya Adam tak mengerti.


"Mas pergi ke ruang tengah, ambil testpack di lemari obat"


"Sekarang?"


"Sekaranglah, masa taun depan"


"Ya maksudnya, emang kamu sedia?"


"Ya kalau nggak sedia mana mungkin aku nyuruh mas buat ambil"


"Kok ketus si dek?"


"Buruan"


Adam segera beranjak masih dengan sarung melingkari pinggangnya.


Selang sekitar dua menit, pria itu kembali dengan benda yang Dinda maksud.


Dokter itu memang menyediakan p3k di almari khusus obat-obatan di rumahnya. Ada jarum suntik, obat antibiotik, suplemen dan vitamin, botol infus, serta kain kasa lengkap dengan plasternya.


"Ini kan dek?" Adam menunjukkan kemasan di tangan kanannya.


"Iya"


"Gimana ngeceknya, kecil gitu?"


"Mas benar-benar nggak tahu benda ini?"


"Ya tahu cuma nggak tahu cara pakainya"


"Okay, aku ajarin ya"

__ADS_1


Dinda bangkit, kembali memasuki kamar mandi. Langkahnya langsung di susul oleh sang suami.


"Mas mau apa?" Saat Dinda menyadari Adam membuntuti langkahnya.


"Katanya mau ajarin?" Adam bingung.


"Ya mas sini aja, aku ke kamar mandi dulu sebentar"


"Jadinya mas nggak ikut ini?"


"Ya nggak usahlah"


"Kalau gitu mas tunggu di luar?"


"Hmm"


Dinda menutup pintu kamar mandi, tak peduli dengan raut Adam yang menyorot bingung. Ia lantas menelan salivanya mentah-mentah.


"Gimana dek, beneran hamil kan?" tanya Adam ketika Dinda membuka pintu kamar mandi.


"Belum di cek"


"Belum di cek?" Pria itu menautkan kedua alisnya. "Dari tadi belum di cek?"


"Mas banyak tanya, deh!" katanya sambil meletakkan wadah mini berisi cairan urine di atas meja rias.


"Ketus terus dari tadi"


"Nanya terus dari tadi" sergah Dinda tak mau kalah.


Adam mencebik dengan bibir mengerucut.


"Gini caranya" wanita itu mencelupkan benda pipih dan tipis.


"Celupkan sampai dibawah garis batas MAX. tuh ada tulisannya" dengan cermat Adam memperhatikannya.


"Sudah lima detik dek!"


"Bentar lagi, sayang"


"Setelah ini di apain?"


"Kita angkat, nanti muncul garis merah. Kalau garisnya dua tandanya positif, kalau satu berarti coba lain kali"


Mereka berdiri dengan saling berhadapan.


"Coba lain kali gimana maksudnya?"


"Ya coba bikin lagi, usaha lagi lebih keras" Tangan Dinda terulur meraih tespacknya.


"Okay kalau urusan coba lagi itu gampang" Sepasang netra Adam tak mengerjap mendapati alat itu samar-samar menunjukkan satu garis.


Satu detik, dua detik, satu garis lainnya pun muncul.


"Dua garis dek"


Dinda yang sedari tadi tak berani menatap alat itu karena takut kecewa, perlahan memusatkan pandangan untuk memastikan ucapan suaminya.


"Garis dua artinya hamil kan?"


Dinda mengerjap tak percaya. Ia membungkam mulutnya, reflek meneteskan air mata.


"Kok nangis dek?" iris Adam fokus tertuju pada mata Dinda. "Beneran hamil kan, dek?"


Dinda mengangguk.


"Alhamdulillah" Pria itu dengan tangkas meraup tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Mengecupi puncak kepala berkali-kali sembari mengucap syukur berulang kali.

__ADS_1


"Kita beri tahu umi" kata Adam sedikit merenggangkan lingkaran tangan di pinggang Dinda.


Dinda merespon dengan bahasa tubuh, mengangguk lalu berkata "Kita ke rumah abi sekalian nengokin umi" mendongak, menempelkan dagu di dada bidang sang suami.


Karena ini hari minggu dan tidak bekerja, mereka pun menyempatkan diri pergi ke rumah orang tuanya. Baik orang tua Adam maupun Dinda.


"Setelah sarapan, okay" Adam tersenyum.


"Okay"


"Kamu mandi, biar mas yang siapin sarapan"


"Aku aja yang siapin, mas mandi"


"Kita sama-sama masak aja kalau gitu"


"Nggak usah, aku sendiri bisa kok"


"Bareng-bareng aja yuk" Ajak Adam yang langsung melepas lingkaran tangan di pinggang Dinda. Di susul melepas sarung lalu melemparnya ke atas ranjang.


Adam mendaratkan kedua tangan di pundak istrinya dari arah belakang, dia agak sedikit mendorong tubuhnya pelan-pelan hingga langkahnya terhenti di dapur.


****


"Mas tunggu di luar ya dek" Adam melingkarkan arloji di salah satu pergelangan tangannya. Matanya melirik Dinda yang duduk di kursi rias tengah memakai hijab scraft.


Mereka berdua sedang bersiap-siap hendak ke rumah Hasan dan Santi, orang tua Adam.


"Iya"


Sepuluh menit berlalu, Adam kembali memasuki kamar mereka.


"Dek, di luar ada tamu"


"Tamu?" Dinda yang sedang mengoles lipstik di bibirnya berhenti sejenak. "Siapa?" tanyanya menatap Adam lewat pantulan cermin rias.


"Prilly dan pak Bi"


Mendengar nama rivalnya, sontak Dinda membalikkan badan.


"Prilly?"


Adam mengangguk, sementara Dinda melirik ke arah pintu kamar yang tidak tertutup rapat.


"Ngapain dia kesini? aku udah sebodo amat sama mereka, udah terserah, malas"


"Temui dia dulu dek"


Termangu sesaat, akhirnya Dinda menyetujui ucapan Adam untuk menemui tamunya.


"Ayo"


Lagi-lagi Dinda mengangguk meski agak sedikit ragu.________


"Dinda!" Birawa bangkit dari duduknya ketika mendapati Dinda muncul dari dalam rumahnya.


"Duduk saja pak" kata Dinda.


Prilly hanya bergeming sambil menatap Dinda dengan sorot segan.


"Ada keperluan apa anda datang kemari?" Tanya Dinda setelah wanita itu duduk berdampingan dengan sang suami.


"Hmmm,, kami kesini untuk minta maaf padamu, Din"


Ucapan Birawa sontak membuat Dinda tercenung.


Dia tak percaya dengan permintaan maaf yang Birawa lontarkan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2