
Setelah Birawa mendapat informasi dari dua pesuruhnya, dia langsung memerintahkan kembali anak buahnya itu untuk membeli obat perangsang yang akan di taburkan ke dalam makanan Dinda serta Adam. Rencana Birawa ini, tentu saja tanpa sepengetahuan Dinda.
"Dokter Dinda, benar dugaan saya, anda akan berbuat licik di belakang saya"
Pria paruh baya yang masih enerjik di usianya tersenyum miring.
"Anda mau main-main dengan saya? jelas saya yang akan memenangkan permainan yang anda buat"
"Sorry dokter Dinda, karena saya tidak yakin dengan anda, jadi ku belokkan saja rencana anda"
"Hhhhh,,, Anda kira anda lebih cerdik dari saya? anda salah"
Dia tersenyum dengan seringai licik di sudut bibirnya.
****
Tepat pukul 14:00 dua anak buah Birawa sudah menempatkan dirinya sejak tiga puluh menit yang lalu di area restauran dekat meja Dinda dan Adam.
Di meja nomor tujuh belas, sosok Dinda dan Adam sudah duduk dengan saling berhadapan yang hanya di batasi sebuah meja berbentuk bundar.
Mereka tampak mengobrol satu sama lain. Sesekali mereka tertawa kompak ketika ada hal lucu yang mereka bicarakan.
Salah satu dari pesuruh Birawa yang mengawasi gelagat mereka, merekam adegan perbincangan mereka secara sembunyi-sembunyi.
Dan salah satu di antara mereka nanti, akan menyusup ke area dapur untuk mengganti obat dari Adinda dengan obat perangsang yang sudah mereka beli melalui resep dokter. Benar-benar sepasang mata dua pria itu tak teralihkan barang sejenak. Fokusnya terus tertuju pada dua orang yang menjadi targetnya.
"Mau pesan apa mas?" tanya Dinda tanpa melihatnya. Dia terlalu canggung untuk menatap Adam.
"Samain dengan kamu saja"
"Okey" sahut Dinda singkat.
Dinda pun memesan beberapa menu makan siang dan minuman.
Sembari menunggu pesanan datang, Dinda berniat pergi ke area dapur restoran untuk meminta bantuan petugas dapur dalam menjalankan misinya. Namun, ia akan berpura-pura pada Adam jika dirinya akan pergi ke toilet.
"Mas, aku ke toilet dulu ya, tadi selesai workshop nggak sempat ke toilet karena langsung ke sini"
"Oh, Iya Din, silakan"
Adinda bangkit dari duduknya, lalu mendorong kursi sebelum kemudian beranjak.
Alih-alih ke kamar kecil, kakinya justru mengarah ke tempat lain. Hati-hati dan sambil melirik Adam, wanita itu buru-buru melangkah agar pria itu tak melihat jika dirinya masuk ke arena dapur restoran.
"Mbak" panggil Dinda.
"Iya mbak, ada yang bisa saya bantu?"
"Begini mbak, saya orang yang pesan makanan di meja nomor tujuh belas, saya minta mbak kasih obat ini di minuman lemon tea yang saya pesan, nanti saya akan bayar embak dua juta untuk tugas ini"
Petugas itu tampak takut-takut. Mengerti dengan ekspresi wajahnya, Dinda segera memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Mbak tenang saja, ini bukan sianida atau sejenis racun lainnya. Ini hanya obat tidur untuk suami saya" dusta Dinda tanpa ragu. "Suami saya adalah orang yang giat bekerja, saya ingin membuat suami saya tidur sejenak di siang hari agar kesehatannya tetap stabil. Jadi, tolong saya ya mbak"
"Tapi mbak"
"Mbak jangan takut, tidak akan terjadi apapun dengan embak, ini hanya obat tidur biasa, saya bisa jamin karena saya seorang dokter" Dinda menyodorkan kartu nama.
"Nama saya Adinda, saya dokter di Herquina Hospital"
"Tapi benar ini hanya obat tidur kan mbak?"
"Iya benar"
"Tapi kalau terjadi sesuatu jangan libatkan saya ya mbak"
"Iya tenang saja, tapi saya minta ini rahasia kita berdua, okay!"
__ADS_1
"Baik mbak"
"Nah ini upah untukmu" Kali ini Dinda menyodorkan uang sebanyak dua puluh lembar pecahan seratus ribuan.
"Ingat lemontea pesanan meja nomor tujuh belas"
"Siap mbak"
"Makasih ya mbak"
Adinda pergi setelah di respon dengan anggukan kepala oleh petugas dapur.
Tak sadar, anak buah Birawa yang menguping pembicaraan merekapun menghampiri petugas itu setelah kepergian Dinda.
"Mbak, tadi nyonyah saya nyuruh mbak ngapain?"
"Nyonyah?" tanyanya bingung.
"Dokter Dinda mbak, dia majikan saya" bohongnya.
"A-anu pak, dia meminta saya untuk menaburkan obat tidur di minuman suaminya"
"Mana obat tidurnya? berikan padaku kalau kamu ingin selamat"
Takut dengan ancamannya, sosok wanita itu menelan ludah dengan tubuh sedikit gemetar.
"Aku akan bayar lima juta jika kamu mau menuruti perintahku, tapi jika tidak, aku pastikan kamu akan di pecat dan tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan apapun, dimanapun"
"T-tapi pak"
"Berikan obatnya padaku cepat"
Sempat ragu, akhirnya petugas itu menyerahkan obat pemberian Adinda. "Ini pak"
Pria itu langsung merebut satu tablet obat tidur yang masih berada di dalam plastik mini. Lantas, sekian detik kemudian dia menyerahkan obat lain yang ia ambil dari saku jaketnya.
"T-tapi ini obat apa pak?"
"Ini obat perangsang bi* rahi, aku dapat perintah dari orang tua majikanku itu, untuk menaburkan obat ini di pesanan mereka agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama, dan orang tua majikan saya bisa segera mendapatkan cucu"
"Tenang saja, aku akan bayar kontan atas jasamu sebesar lima juta" tambahnya mantap.
Bagaikan kejatuhan duren, setelah mendapat bayaran dari Dinda sebesar dua juta, dia juga mendapatkan lima juta dari suruhan Birawa.
"Ingat meja nomor tujuh belas, meja milik majikanku"
"Iya tuan"
"Kerjakan tugasnya dengan baik dan tepat sasaran, awas kalau gagal"
"Iya pak"
"Iya apa?" tanya pria itu galak.
"Taburkan satu di masing-masing minuman pesanan meja nomor tujuh belas"
"Bagus"
Setelah melewati drama kucing-kucingan dengan petugas dapur yang lain, akhirnya anak buah Birawa berhasil menyogok petugas restoran untuk menaburkan obat perangsang berupa serbuk ke dalam dua minuman yang di pesan Adinda.
"Maaf mas, lama" Dinda kembali duduk di hadapan Adam
"Nggak apa-apa, Din"
Setelah Adinda duduk, dia mulai bersuara.
"Maaf ya mas, aku sudah ganggu hubungan mas dan Prilly"
__ADS_1
Adam diam tak merespon. Dan diamnya itu, sebenarnya sudah memaafkan Dinda.
"Atas pernyataan cintaku beberapa hari lalu, tolong lupakan saja mas. Aku hanya terbawa perasaan waktu itu, jadi tidak berfikir dua kali sebelum berbicara" Adinda menjeda kalimatnya bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirinya sendiri agar tak meledak. "Jika di perlukan, aku bersedia kalau harus menemui Prilly untuk menjelaskan semuanya agar hubungan kalian baik-baik saja"
"Tidak perlu Din, lagipula, hubunganku dengan Prilly sudah membaik, bahkan aku berencana melamarnya dalam waktu dekat"
Tercenung, Adinda mendengarnya. Diam-diam dia shock dengan niat Adam yang ingin melamar Prilly.
Hah?? Mas Adam mau melamar Prilly? Huuuftt... Beruntung aku segera melancarkan rencanaku untuk menjebak mas Adam. Jika terlambat sedikit saja, tamatlah riwayatmu Adinda.
"Selamat mas, aku lega dan ikut senang" kata Dinda setenang mungkin. "Aku merasa bersalah dan menyesal sudah berdiri di antara kalian"
"Jangan merasa bersalah, semuanya sudah kembali normal, kamu jangan khawatir"
Wanita itu mengatupkan bibir rapat-rapat kemudian mengangguk faham.
Lalu hening hingga sekian detik.
"Gimana kerjaan kamu?" tanya Adam agar suasana tidak canggung.
"Baik, mas sendiri gimana?"
"Alhamdulillah lancar"
"Syukurlah"
"Permisi mbak" suara dari waitres menginterupsi obrolan mereka.
Adinda dan adam sama-sama memberi celah pada pelayan restoran untuk meletakkan pesanan mereka.
****
Dari sisi lain, setelah berhasil menjalankan tugas, pria dengan tubuh kurus itu langsung kembali ke tampat duduknya menghampiri teman yang lain.
"Gimana?" tanya anak buah Birawa yang menunggu di meja.
"Beres dan aman tentunya"
"Bisa di pastikan obat itu masuk ke dalam minuman yang mereka pesan kan?"
"Tentu saja"
"Bagus, sekarang kita hubungi pak Birawa kalau kita sudah menjalankan perintahnya dengan baik"
"Ya, sekarang telfonlah menggunakan ponselmu"
Cukup lama panggilanpun tersambung.
Hingga hampir satu menit, tiba-tiba terdengar suara seorang pria di balik telfon genggamnya.
"Iya halo?"
"Halo pak Birawa"
"Iya bagaimana?"
"Beres pak, kami sudah memasukkan obat itu ke dalam pesanan mereka"
"Bagus, sekarang saya akan menjalankan rencana yang lain. Kalian terus awasi mereka, pastikan mereka meminumnya hingga habis, setelah itu kabari saya"
"Siap pak, kami mengerti"
Setelah itu panggilanpun terputus.
Di sana, Birawa kembali memasukkan ponsel ke dalam kantong kemejanya. Bibirnya tersenyum licik dengan seringai kemenangan.
"Anda tidak bisa lari dariku dokter Dinda"
__ADS_1
Bersambung