
Setelah kepergian Prilly, Adam yang tak mengejarnya dan masih terduduk lemas di tempat semula, menoleh ke samping kanan di mana ada Dinda yang tengah menangis tersedu.
Mengedarkan pandangan, Wajah Adam seketika memanas saat melihat pakaian berserakan di lantai. Persekian detik kemudian, ingatannya mengulas kejadian beberapa menit lalu. Secara otomatis bayangan percintaan mereka yang menggebu-gebu terputar ulang dengan gerakan lambat di depannya. Reflek, ia mengusap wajahnya gusar dengan tarikan napas panjang tapi berat.
Adam yang shock dan melihat Dinda menangis, merasa sangat bersalah karena sudah merenggut keperawanannya.
Bergerak merapatkan tubuh, Pria itu berniat memeluk Dinda bermaksud menenangkannya. Namun dengan tegas Dinda menepis tangan Adam yang hendak melingkari bahunya. Bukan karena apapun, hanya saja Dinda merasa heran sekaligus jijik melihat dirinya sendiri yang begitu mudahnya menyerahkan kesucian pada pria asing. Pria yang belum lama di kenalnya.
Tanpa pikir panjang dan tanpa melihat Adam, Dinda menarik selimut yang menutupi tubuh mereka, lalu melilitkannya untuk menutupi bagian tubuhnya. Perlahan dia mencoba bergerak dan turun dari ranjang. Rasa pegal dan nyerinya di salah satu bagian tubuh membuat pergerakannya begitu lambat. Butuh beberapa menit untuk Dinda memunguti pakaiannya satu persatu.
Adam yang masih terpaku dan bingung, sorot fokusnya tak teralihkan barang sejenak memperhatikan gerak-gerik Dinda yang sudah berhasil mengumpulkan helaian pakaiannya. Tampak wanita itu berjalan dengan tertatih menuju kamar mandi.
Ketika punggung Adinda tak lagi tartangkap oleh netranya, Sepasang kilatnya kini beralih ke arah sprei yang di penuhi bercak merah.
Astaghfirullah...
Desisnya sambil mengusap wajah, kemudian menyugar rambut hingga batas tengkuk leher.
Samar-samar, telinga Adam mendengar suara kran air di barengi dengan isak dari kamar mandi yang pintunya tertutup rapat.
Seketika penyesalan kembali menyergap, menyeruak hingga relung dada, tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur karena kesalahan fatalnya yang tak bisa melawan syahwat.
Pelan, ia turun dari ranjang, meraih pakaian lalu mengenakannya. Kembali duduk di tepian ranjang selagi menunggu Adinda menampakkan diri.
Di dalam kamar mandi, Adinda di buat tercenung melihat bayangan dirinya di cermin. Ada begitu banyak bekas merah keunguan memenuhi leher dan tulang selangka. Bahkan ketika memiringkan badan, di tengkuk serta punggung bagian atas ia menemukan warna yang sama.
Wanita itu tersenyum ironis ketika mengingat pergumulannya.
Si bodoh ini benar-benar bodoh. Dengan mudahnya terhasut oleh nafsu sesaat.
Kamu bodoh Dinda!
Ia menjerit dalam hati, menyesali semuanya dengan diiringi isak serta nafas tersengal.
Dinda kembali beristighfar ketika membuka selimut yang menutupi sebagian dada ke bawah. Sepasang netranya kembali menangkap warna merah di tengah dada dan perutnya. Ia kembali bergidik merasa jijik pada tubuhnya sendiri. Sepertinya menyesal pun percuma sebab tak bisa mengembalikan keperawanannya.
__ADS_1
Ia kembali terisak, titik bening kembali berjatuhan membasahi pipi mulusnya.
Mencuci muka, berharap penyesalan segera hanyut terbawa air yang mengalir di wajahnya.
Dengan lembut ia mengelap wajah menggunakan handuk kecil fasilitas hotel yang memang sudah tersedia di dalam lemari kamar mandi.
Menurunkan sepasang tangan dari wajah, ia kembali manatap pantulan dirinya di cermin.
"Kenapa aku bisa seperti ini? padahal aku hanya menyuruh pegawai itu memasukkan obat tidur di gelas mas Adam!" Kedua tangannya yang masih memegang handuk mendarat di sisi wastafle.
"Siapa yang sudah mengubah rencanaku?"
"Birawa?"
"Hanya dia yang tahu. Tapi bagaimana dia bisa melakukan itu?"
Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di pikiran Dinda, ia lantas menghela napas panjang sebelum kemudian membuangnya secara kasar, teringat jika Birawa bukan orang sembarangan.
"Ckkk,,, aku lupa kalau dia bisa melakukan apapun. Hanya dengan membalikkan tangan saja, semua bisa bagi dia" Gumamnya lirih. "Ya, siapa lagi kalau bukan dia pelakunya"
Pandangan Dinda menyorot sepenuhnya pada wajah di balik kaca.
Mendesah pelan, wanita itu menyelampirkan handuk pada besi yang menempel di dinding.
Puas menangis merutuki dirinya sendiri, Dinda yang sudah berpakaian lengkap dan badannya sudah lebih segar, memberanikan diri keluar dari kamar mandi, berharap Adam sudah pergi sehingga tak perlu melihatnya.
Tapi ternyata dugaannya salah, tepat ketika
membuka pintu kamar mandi, tatapan Dinda lurus tertuju pada sosok yang tengah duduk memunggunginya di tepi ranjang. Tampak kedua siku Adam berada di atas lutut dengan kedua tangannya menutupi wajah.
Pria itu tak sadar jika Dinda sudah membuka pintu kamar mandi. Sampai ketika Adinda berjalan di hadapannya untuk mengambil tas di atas nakas, barulah dia tahu dan langsung menurunkan tangan dari wajahnya.
"Din, kamu baik-baik saja?" Adam masih duduk dengan pandangan mengikuti kemana arah tubuh Dinda.
Raut wajahnya datar, tetapi Adam tahu dari sorot matanya kalau wanita itu tengah mengkhawatirkan sesuatu.
__ADS_1
Adam buru-buru mencengkram pergelangan tangan Dinda ketika langkahnya tertuju ke arah pintu keluar dan pertanyaanya tak mendapat jawaban.
"Aku akan bertanggung jawab, Din"
Alih-alih merespon, isakan Dinda justru kian tersedu, tampak dari pundaknya yang bergetar hebat, serta tatapannya yang menyorot kosong.
Adam yang mengerti kecemasan dan ketakutan Dinda, terus berusaha menenangkannya.
Meskipun tidak di tunjukan di depan Adam, Adam sangat tahu seperti apa hancurnya perasaan wanita yang sudah ia nodai. Merasa simpatik, ia terus menepis ketakutan Dinda dengan mengingatkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Lepas mas" kata Dinda menahan isak. Alih-alih merasa lega karena Adam mau bertanggung jawab, dia justru merasa tidak senang dengan kejadian yang menimpanya.
"Lepaskan!" ulang Dinda dengan penuh penekanan. Fokusnya terarah menatap tangan yang berusaha melepaskan cengkraman Adam.
"Aku antar kamu pulang"
"Tidak usah" jawabnya tanpa melihat Adam.
Ketika berhasil terlepas, bergegas Dinda setengah berlari keluar dari kamar nomor delapan. Langkahnya lebar, namun tak tahu kemana akan melangkah. Hingga tanpa sadar, wanita itu berhenti di sebuah taman area bebas merokok di sekitar hotel.
Duduk di bangku panjang, Dinda termenung seolah ada banyak hal yang ingin berebut masuk ke dalam benaknya, mengusik-usik ketenangan hati dan pikiran.
Tersenyum getir, pandangannya tertunduk kemudian menghirup napas dalam-dalam sambil menatap jari-jemarinya yang lentik.
Huuwwhhhh ... Begitu lihainya takdir mempermainkanku.
Dokter itu menatap kosong nasibnya.
Aku yakin, skenario lain pasti sudah menantiku. Entah apa yang akan terjadi besok, rasanya tak ada lagi semangat untuk menjalani hari-hariku.
Aku akan kehilangan pekerjaanku karena Prilly pasti tidak akan tinggal diam.
Sudut bibirnya terangkat menertawakan kebodohannya, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
You are stupid, Dinda.
__ADS_1
BERSAMBUNG..
Hikkk Perfomanya menurun drastis, nanti kalau nggak lulus review editor, dan sampai di bab 20 terus anjlok, maaf nggak bisa lanjut ya. 😘😘😘