
Ketika membuka mata, Dinda agak sedikit terkejut sebab tahu-tahu ada sebuah tangan kokoh yang melingkari perutnya.
Dari arah belakang, ada nafas yang terdengar begitu teratur, hembusannya pun menerpa hangat kepala bagian belakang. Dalam hati ia bertanya-tanya kapan pria itu datang, kenapa bisa dia tidak tahu dengan kedatangannya.
Pelan, Dinda bergerak membalikkan badan. Saat posisinya sudah berhadapan, salah satu tangan Dinda berada di bawah pipinya sendiri sementara tangan lainnya melingkar di pinggang Adam.
Ia menatap penuh intens wajah teduh sang suami, refleks bibirnya tersungging kala melihat ada lipatan kecil di dahinya. Tangannya yang tadi mendarat di pinggang, bergerak mengusap dan lipatan itu seketika menghilang. Saat tangan itu bergeser ke area bibir, tangannya merasakan ada bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar pipi dan dagu.
Menghembuskan napas panjang, Dinda mengeratkan pelukannya kemudian menyurukkan kepala di dada Adam. Detik itu juga Adam terbangun dan langsung membalas pelukan sang istri.
"Jam berapa sekarang" suara Adam terdengar parau.
"Jam empat" Sahut Dinda dengan suara teredam.
"Kenapa mas tiba-tiba di sini"
"Kenapa memangnya? kamu nggak suka?"
"Bukan begitu" sergahnya cepat. "Mas bilang hari ini akan menemani Prilly refresing kan?"
"Nggak jadi"
"Kenapa?" tanya Dinda sambil merenggangkan lingkaran tangan, dia agak sedikit mendongakkan kepala agar bisa mempertemukan netranya.
Alih-alih mendapat jawaban, ia justru mendapat kecupan di keningnya.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Dia ngeselin tahu nggak"
"Ngeselin gimana?"
Sebelum menjawab, Adam bergerak merentangkan badan, ia menatap langit-langit kamar seraya menarik tubuh Dinda agar merapat padanya. Ia menggunakan salah satu tangannya dan di jadikan batal untuk menopang kepala istrinya.
"Dia sudah tahu kalau kita sudah menikah"
"Hah?" respon Dinda sambil mengangkat kepala. "Gimana critanya?"
Tak langsung menjawab, Adam kembali mendaratkan kepala Dinda di lengannya.
"Nggak tahu kenapa, dia tiba-tiba buka-buka tas kerja mas, dan nemuin buku nikah kita"
__ADS_1
"Buku nikah?"
"Hmm, kamu lupa meninggalkannya di dashboard mobil kan, terus mas masukkan ke tas kerja, mas selipin di sela-sela dokumen dan laptop"
"Terus gimana sekarang?" tanya Dinda agak sedikit was-was. Tangannya bergerak gelisah memilin butiran kecil yang tumbuh di dada suaminya.
"Mas kasih dia kesempatan buat mengakhiri kebohongannya secara baik-baik dan legowo, dengan begitu kita akan sama-sama enak"
"Apa dia bersedia?"
"Entahlah, mas nggak yakin. Mas tahu persis gimana watak dia"
Mata Dinda memicing penuh selidik. "Setahu, dan semengerti itu, mas sama dia? apa mas juga pernah melakukan kontak fisik selama pacaran?"
"Kontak fisik yang bagaimana?" Adam kembali memiringkan badan, sedikit mengangkat dagu Dinda.
"Kayak gini" Pria itu mengecup bibir Dinda kilat "Atau kayak gini" dengan cepat dia memposisikan dirinya di atas tubuh Dinda. "Lalu_"
"Stop" ucapan Adam terpenggal karena Dinda buru-buru membungkam mulutnya dengan gemas, sepasang mata Adam menyipit tanda kalau dia tengah tertawa di balik bungkaman tangan Dinda. Dia tahu kalau pria yang ada di atasnya akan mencumbu area leher yang menjadi titik sensitivenya.
"Sebelum bibir serta tangan mas semakin nakal, kita sholat dulu" Wanita itu berusaha menyingkirkan tubuh kekar suaminya dari atas tubuhnya. Saat berhasil, dia duduk di tepian ranjang. Sambil menggulung rambutnya, ia bersuara "Mas jam berapa kesini tadi malam?"
"Kok malam banget?"
Dia hanya berdehem kecil.
Semalam, Adam yang langsung pergi usai pembicaraannya dengan Prillya, dia berkendara memutari taman kota, lalu berhenti di Khanzalium untuk makan malam. Dia sempat bertemu Kellen dan Eve di sana dan mengobrol ringan hingga pukul sepuluh. Setelah itu, ia kembali ke rumah Prilly untuk mengambil baju serta tas kantor kemudian langsung meluncur ke rumah Dinda. Meskipun Prilly sempat mencegah Adam, dan ada sedikit pertengkaran, tapi akhirnya Adam berhasil keluar dari rumah itu.
Ia memberikan waktu satu minggu untuk Prilly berkata jujur pada Birawa, dan juga keluarga Zidan.
****
Adinda tersenyum menatap bagaimana Adam memeluk sebuah bantal guling dalam tidurnya. Tadi setelah mandi, usai penyatuan tubuhnya setelah sholat subuh, Dinda keluar menuju dapur untuk membantu mbak Sus menyiapkan sarapan. Tak berapa lama, ketika dia hendak mengecek sang suami, rupanya pria itu juga sudah mandi dan kembali tidur. Melihat kondisi Adam, Dinda bergegas mengambil handuk kecil. Keluar dari kamar mandi langkah kakinya langsung menuju ranjang lalu duduk di tepian tepat di samping Adam.
"Padahal mas yang sering ngingetin aku supaya jangan tidur dengan rambut basah" gumamnya sambil terus mengeringkan rambutnya.
Sunyi hingga hampir satu menit.
Setelah beberapa saat, pria itu bergerak pelan seolah tahu jika Dinda sedang mengeringkan rambutnya. Adam yang semula memeluk bantal dan memunggunginya, kini berbalik lalu menjatuhkan tangan di atas pangkuan Dinda.
Wanita itu tersenyum dan mengeringkan sisi kepalanya yang lain.
__ADS_1
Sambil terus mengeringkan rambutnya yang sekarang sudah setengah kering, Dinda menatap wajah Adam. Aura yang membuatnya segan seakan menghilang tanpa jejak, dari ekspresinya, Dinda justru seperti melihat seorang anak kecil yang sedang bermanja-manja.
"Sudah" ujarnya sedikit merunduk dan mendekatkan bibir di telinga Adam. "Aku mau lanjut masak, mas bisa tidur lagi, nanti kalau sarapan sudah siap, aku bangunin, kita sarapan sama-sama"
Mendengar kalimat sang istri, hati Adam menghangat, ia merasa beruntung menikah dengan dokter cantik itu. Ternyata petunjuk sholat istikharrahnya benar-benar menjadi sebuah keputusan yang bagus. Sayangnya, ia harus menikahi Prilly sebelum menikahinya.
Alih-alih membiarkan Dinda bangkit dari duduknya, Adam mendadak membuat sang istri terkejut, pasalnya dia justru melingkarkan tangan di pinggang Dinda. Akan tetapi keterkejutan Dinda berganti dengan senyum kecil yang terkembang di bibirnya. Reflek, satu tangan yang tak memegang handuk, mengusap lembut lengan Adam bagian atas. "Aku mau bantu mbak Sus masak, kasihan dia pasti kerepotan"
Pria itu menghembuskan napas panjang sebelum kemudian kembali berbalik, memunggungi istrinya untuk memeluk bantal lagi. Sementara senyum Dinda tak kunjung surut, bahkan sampai ketika dia kembali ke dapur dan mendapat pertanyaan dari ARTnya.
"Mbak Dinda kenapa senyum-senyum?"
"Hah?" Dinda salah tingkah kedapatan tengah tersenyum sendiri oleh wanita bernama lengkap Susyati. "Senyum-senyum? enggak kok" Menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah bersemu.
Selesai sarapan, Dinda membantu Meta meminum obat serta vitamin, dan mbak Sus mencuci piring, sementara Adam membantu mengelap meja makan.
"Dokter pelakor!" tiba-tiba ada suara Prilly saat Adam sedang mengeringkan tangan usai mencucinya.
Prillya. Adam membatin sambil melirik ke arah pintu utama.
Dinda dan Meta saling pandang.
"Apa itu Prilly mas?" Sorot Dinda ke arah wajah Adam.
"Iya, itu suara Prilly"
"Buka, Dinda!" teriaknya lantang sambil terus menggedor daun pintu dengan tidak sopannya.
"Kembalikan suamiku, dokter ja lang!"
Adam langsung melangkah untuk membukanya, sementara dari dalam rumah, Dinda hanya berharap semoga teriakan Prilly itu tak sampai terdengar oleh tetangganya. Apalagi ketika dia meninggikan nada suaranya barusan.
Bersambung.
Hari ini karnaval, kemungkinan sampai sore.
😀😀Sampai jumpa besok 😍😍
Kecup manja 😘
Typonya nantu di renovasi, eh di revisi
__ADS_1