
Dari gesture tubuhnya, Dinda terlihat sangat linglung, menatap sekeliling dengan penuh tanda tanya. Dia seperti baru bangun dari tidurnya, akan tetapi menyadari Adam yang tampak bahagia melihatnya, ia semakin di liputi rasa bingung.
"Mas!" panggil Dinda, dan Adam langsung menghampirinya. Sang susterpun memberikan tempat untuk Adam.
"Ini ada apa mas, kenapa aku di sini?" suaranya masih sangat lemah serta parau.
"Kita sedang di rumah sakit, sayang. Kamu diam dulu ya, tunggu dokter selesai memeriksamu"
Dinda Lantas melirik dokter yang kali ini giliran memeriksa detak nadi di tangan kirinya.
"Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak, mas? kenapa aku hanya bisa mengangkat tanganku sedikit, tubuh dan kakiku juga terasa berat"
"Kamu tenang dulu sayang" Bujuk Adam melihat sang istri yang tampak panik. "Setelah selesai di periksa, kita tanyakan pada dokter. Sabar ya!"
Adam menggenggam tangan Dinda, berusaha menyalurkan kekuatan agar kekhawatirannya sedikit berkurang.
Yang terakhir, sang dokter melakukan rangsangan terhadap gerakan.
"Bagaimana istri saya, dokter?"
"Kita bicarakan di ruangan saya" sahut dokter kemudian melirik Suster. "Sus, tolong temani dokter Dinda, selagi suaminya di ruangan saya"
"Baik, dok!"
Sebelum keluar dari ruang HCU, Adam berpamitan pada Dinda.
"Tunggu sebentar ya, mas tanyakan ke dokter dulu"
Dinda mengangguk.
Ruang High Care Unit (HCU) dan Intensive Care Unit (ICU) merupakan fasilitas rawat inap bagi pasien yang membutuhkan pengawasan, perawatan, dan pengobatan ketat karena adanya penyakit atau kondisi tertentu yang mengancam jiwa.
Setibanya di ruang dokter, Adam di persilahkan untuk duduk. Dengan perasaan was-was, dia mendudukan dirinya di depan dokter yang menampilkan raut tegang. Takut kalau-kalau kondisi Dinda parah.
"Bagaimana istri saya, dokter?" tanya Adam kian penasaran.
"Jadi begini pak" persekian detik jantung Adam kebat-kebit, serasa mau lepas dari tempatnya. "Menurut hasil pemeriksaan, istri bapak memberikan perubahan yang cukup signifikan, hasilnya sangat bagus. Akan tetapi, dari segi gerakan, poinnya sangat kecil. Karena luka di bagian kepala berpengaruh pada saraf motorik yang menyebabkan kelumpuhan di bagian kakinya"
Penjelasan dokter, cukup membuat Adam down. Namun, sedetik kemudian, ia berfikir kalau dirinya tidak boleh putus asa, sebab Dinda butuh semangat darinya.
"Lumpuh, dok?"
Dokter itu mengangguk meski pelan.
"Mudah-mudahan, ini tidak permanen, dan kondisi seperti ini memang biasa terjadi bagi pasien yang baru bangun dari koma. Beruntung dokter Dinda ini tidak kehilangan memorinya, dan masih bisa bicara dengan fasih"
"Lalu tindakan apa yang harus di lakukan, dokter?"
"Untuk sementara ini, kita biarkan dokter Dinda untuk menenangkan hati dan pikirannya, kami akan memberi beberapa obat, nanti di tahap selanjutnya akan kami lakukan fisioterapi"
"Baik dokter"
"Untuk sementara hanya itu yang bisa saya sampaikan"
"Terimakasih dokter"
"Sama-sama"
Dengan langkah gontai, Adam kembali ke ruang HCU dengan harapan kelumpuhan yang di alami sang istri hanya sementara saja.
"Mas, apa kata dokter?"
"Bukan apa-apa dek"
"Mas jangan bohong, aku ini seorang dokter, mas nggak perlu menutupinya dariku, karena aku paham betul, seorang dokter akan menutupi kondisi pasiennya jika parah"
Adam tersenyum, lalu mengusap kening Dinda.
"Kamu memang keras kepala, dek"
__ADS_1
"Ada apa denganku, mas? kenapa kakiku tidak merasakan apapun?"
"Nggak apa-apa kalau mas kasih tahu kamu?"
"Nggak apa-apa. Aku paham kok"
Suara Dinda masih sangat lemah, lirih dan tersendat. Namun dengan sabar Adam mendengarkan sepatah demi sepatah kata yang terucap dari mulut sang istri.
"Kakimu lumpuh, sayang"
Reflek, Dinda meluncurkan titik embun dari netranya.
"Tapi itu hanya sementara kok, nanti akan di bantu dengan fisiotherapi. Kamu seorang dokter, pasti kamu tahu kan? dan selama ini kamu pandai sekali membujuk pasien supaya tenang dan nurut apa kata kamu. Sekarang giliran kamu nurut sama mas sama dokter paham!"
Dinda mengangguk, tak pernah membayangkan bahwa dirinya akan berada di posisi sebagai pasien.
Selepas maghrib, Adam menghubungi keluarganya kalau Dinda sudah sadar. Santi dan Hasan yang memang sedang menginap di apartemen Dinda, tak butuh waktu lama untuk bisa sampai di family care. Sementara Birawa dan Meta, mereka datang bersamaan sebab Birawa menawarkan diri untuk menjemput Meta.
Dan saat ini, tepat pukul 18:50, Hasan, Santi dan Birawa, Meta sudah berada di rumah sakit.
Dinda sedikit bingung dengan keberadaan Birawa yang juga turut hadir pasca sadar dari komanya.
"Dek, pak Birawa ini sudah mendonorkan darahnya untukmu?"
Dinda tak percaya dengan ucapan suaminya, ia menatap Adam penuh lekat.
"Pak Birawa sudah mendonorkan darahnya, mas?"
"Iya, sayang"
Meta, Birawa serta Adam, sepakat untuk tidak memberitahu Dinda sampai Dia benar-benar sembuh.
Pandangan Dinda yang tadi mengarah ke Adam, kini beralih menatap Birawa.
"Terimakasih banyak, pak, saya berhutang budi pada anda" kata Dinda.
"Terimakasih" ucap Dinda sekali lagi.
"Sama-sama" balas Birawa sembari mengangguk, lengkap dengan seulas senyum.
"Jangan terlalu banyak ngomong dulu, Din, kamu harus banyak istirahat" pungkas Meta menasehati.
"Aku sudah nggak apa-apa kok mah"
"Jangan membohongi mamah, selama ini kamu sudah menjadi anak yang tegar, anak yang kuat, yang sibuknya ngalahin mentri, jadi gunakan waktumu ini untuk bedrest"
"Kamu sudah bekerja keras untuk mamah, nak" Tambah Meta sendu.
"Mamah jangan gitu, mah"
Meta sudah tahu kalau Dinda sudah di bayar oleh Birawa untuk memisahkan Prilly dengan Adam, hanya demi dirinya agar dapat melakukan pemasangan ring jantung. Birawa sendiri yang menceritakan semuanya ketika Meta bertanya mengenai pertemuan Birawa dengan putrinya.
Dan dengan sangat menyesal, Birawa mengakui kesalahannya yang juga sudah menjebak putrinya sendiri ke lubang dosa perzinahan.
Dia pun tak henti-hentinya meminta maaf pada Meta. Namun dengan tegas, Meta meminta Birawa untuk meminta maaf pada Dinda langsung.
"Turuti semua ucapan dokter ya nak" kali ini suara itu keluar dari mulut Santi. "Ingat nggak, kamu pernah rayu-rayu umi buat nurut sama dokter"
"Iya um"
"Umi yakin kamu pasti sembuh"
"Minta doanya ya, Um"
"Pasti, nak"
Keduanya tersenyum simpul.
Sampai waktu terus bergulir, tahu-tahu sudah sepuluh hari Dinda terbaring di rumah sakit.
__ADS_1
Tapi saat ini, Dinda sudah bisa duduk walau hanya di tempat tidur. Meskipun belum bisa berjalan, tapi kakinya agak sedikit ringan dari sebelumnya.
Tidak hanya berbaring di tempat tidur, rasa bosan seringkali menghampirinya karena tak ada yang bisa dia lakukan.
"Mas bisa ajak aku jalan-jalan ke taman rumah sakit?" tanya Dinda. Hari minggu Adam gunakan untuk menemani sang istri sehari penuh.
"Bisa, sayang. Tunggu sebentar ya" Adam pergi beberapa saat dan kembali dengan membawa kursi roda.
"Ayo" Pelan, Adam membopong tubuh Dinda dan mendudukannya di kursi roda.
"Maaf ya mas, udah merepotkan mas"
"Jangan bilang begitu, dek. Ini kesempatan mas buat manjain kamu. Selama ini mas kan jarang-jarang manjain kamu"
Dinda tersipu.
Adam mendorong kursi roda ke arah Taman. Ia memilih duduk di bangku yang di jatuhi sinar matahari. Sekalian bisa jemur untuk therapi alam istrinya.
Mereka duduk saling berhadapan. Dinda masih di kursi rodanya sementara Adam duduk di bangku taman.
"Dek" Pria itu meraih tangan Dinda lalu menggenggamnya.
"Mas kangen kamu, mas kangen kamu pakai handuk yang dililitkan hanya sebatas dada hingga atas lutut, memperlihatkan pundak serta kaki jenjangmu, dengan rambut tergerai yang masih basah" Adam memejamkan mata melukis tubuh Dinda di udara. "Gemes ih, pengin gigit pundaknya"
"Tapi sekarang aku nggak bisa melakukan apapun, mas"
"Itu hanya sementara dek, bahkan kamu akan bisa berlari dengan sangat kencang"
Lalu sunyi, mereka hanya diam saling menatap lekat-lekat.
"Apa ini karma untukku ya, mas?,Karena sudah membuat hidup orang hancur berantakan?"
"Hidup Prilly maksud kamu?" tanya Adam mengernyit.
"Hmm"
"Asal kamu tahu Din, dia juga sudah menghancurkan hidup kamu, karirmu, dan nama baikmu"
"Tapi itu karena ulahku sendiri, mas"
"Sudahlah sayang, jangan bicarakan soal dia, ini dunia kita, jangan libatkan orang lain ke dalam kisah kita"
"Tapi_"
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita taruhan"
"Taruhan?" Dinda mengerutkan kening. "Taruhan apa? jangan aneh-aneh deh mas"
"Mas yakin, kalau suatu saat Prilly pun akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia lakukan padamu"
"Jangan sok nyumpahin" kata Dinda memberengut.
"Mas nggak nyumpahin dek, mas cuma ingin menjadi paranormal, dan menebak-nebak soal masa depan Prilly. Karena mas yakin, Prilly juga salah, terutama padamu. Dan seharusnya, mas yang dapat karma ini karena mas yang salah, bukan kamu"
"Jangan ngomong soal karma deh, pusing jadinya"
"Ish, kan kamu yang duluan ngomongin karma, dokter Dinda"
"Iya, tapi sekarang stop, jangan ngomongin itu lagi"
Tawa mereka pecah. Hal itu membuat Adam kian senang.
"Terus bahagia ya, dek! mas akan selalu ada buat kamu"
"Janji?"
"Janji dong"
Bersambung
__ADS_1