
Waktu terus berlalu, Dinda pikir dia akan hidup tenang karena imagenya perlahan membaik. Tak ada lagi Prilly yang mengusik hidupnya karena sebentar lagi akan menikah dengan Zidan, tapi tidak. Wanita itu masih saja belum terima dengan perbuatan Dinda yang sudah membuat hidupnya kacau.
Seperti kemarin saat menemui Dinda di rumah sakit untuk memberikan undangan pernikahannya, Prilly masih dengan sinisnya melempar tatapan tak suka, ia bahkan kembali menyinggung soal Dinda yang tak kunjung hamil, wanita itu terus menakut-nakutinya kalau suatu saat akan ada pelakor yang merebut Adam darinya.
Prilly sendiri tak habis pikir dengan Adam yang begitu mudahnya melupakan dirinya.
Apa yang membuat Adam langsung bisa melupakan cintanya? Itulah pertanyaan yang terbesit di otak Prilly.
Tentu saja karena Prilly sudah menyerahkan mahkotanya pada Zidan. Mungkinkah begitu? Atau sikap arogan dan galaknya yang menjadi penyebab cinta Adam perlahan luntur?
Di tambah lagi dengan sikap lembut dan kesabaran Dinda yang seakan membuat Adam takjub hingga tanpa sadar dirinyapun terpikat dengan sosok dokter cantik itu. Itulah salah satu kenapa Adam bisa cepat sekali lepas dari bayang-bayang wanita yang tak hanya cantik, tapi juga high class dan smart.
"Selamat pagi, Dokter Dinda?"
"Eh, dokter Ara" Dinda melangkah mendekat lengkap dengan seulas senyum. Dua wanita cantik yang terpaut usia lumayan jauh itu saling mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Selamat pagi dokter"
Tidak hanya Dinda, Pagi ini Amara juga datang lebih awal.
"Maaf dokter, boleh saya bertanya?" Amara ragu-ragu mengatakannya. Takut jika ucapannya tidak berkenan di hati Dinda.
"Silakan dok, apa ada sesuatu yang harus saya kerjakan?"
"Bukan dokter Dinda, saya hanya ingin bertanya hal yang mungkin privasi"
Dinda sempat tercenung, namun hanya sesaat.
"Tanya apa dokter Ara?"
"Tapi maaf sebelumnya dok"
"Iya tidak apa-apa" sahut Dinda seraya menyiapkan diri, meskipun jantung di dalam sana tiba-tiba mengencang, dia berusaha tenang agar bisa memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang akan di lontarkan oleh wanita yang menjabat sebagai kepala rumah sakit sekaligus dokter.
"Sudah lebih dari sebulan saya perhatikan suami dokter sering antar jemput, dan mohon maaf sekali lagi dok" Hati-hati Amara mengatakannya. "Saya dengar dari para karyawan kalau suami dokter sedang mencari-cari pekerjaan, apa itu benar, dok?"
Dinda menelan ludah, sedikit lega sebab pertanyaannya tak berkaitan dengan Prilly, pelakor, atau apapun yang berhubungan dengan masa lalu yang getir semenjak menjadi wanita bayaran.
"Oh, iya dokter, itu benar"
"Dulunya kerja di mana, dokter Dinda?"
"Di perusahaan tekstil"
"Di bagian apa, maksudnya apa jabatannya?" Tanya Amara ingin tahu.
"Menejer keuangan, dok"
Amara mengangguk-anggukan kepala "Kenapa berhenti?"
"Ehmm" ada jeda beberapa datik dari Dinda sebelum kemudian kembali bersuara. "Suami saya di pecat, dok. Beliau di fitnah korupsi oleh rekan kerjanya"
__ADS_1
"Oh, jadi karena itu suami dokter Dinda kesulitan mendapatkan pekerjaan?"
"Iya dokter"
"Kalau mau, coba deh, datang ke starlight Plaza, itu milik daddy saya, tapi sekarang sudah di ambil alih oleh suami saya. Jika berkenan, ajukan CV dari suami dokter, kebetulan Plazanya lagi butuh GM untuk bantu suami saya mengelola plaza itu"
Adinda terpaku dengan sorot tak percaya. "I-ini benar, dok?" Dia menatap Ara tanpa mengerjap.
"Benar dong, saya rekomendasikan ke suami saya ya" Kata Amara "Kalau bisa datang hari ini, itu lebih baik"
"Hari ini?"
Amara mengangguk tanpa berfikir.
"Insya Allah bisa, dokter Ara"
"Ya sudah, dokter Dinda bisa telfon suami, sementara saya akan telfon suami saya untuk memberitahukan hal ini"
"Baik dokter, terimakasih"
"Tidak perlu berterimakasih, saya senang kalau suami dokter akan menerima tawaran saya"
"Tapi, apa nanti suami dokter Ara tidak mempermasalahkan suami saya karena rekam jejak yang tidak baik, apalagi korupsi?"
Amara tersenyum sebelum memberikan jawaban. "Kami tahu mana orang yang jujur dan tidak, dan sepertinya suami dokter Dinda orang baik, apa salahnya jika kami memberikan kesempatan untuk suami dokter"
"Terimakasih sekali lagi dokter"
"Ah, itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia, kita harus saling tolong menolong, bukan?"
"Anda benar, dokter Dinda"
Keduanya saling melempar senyum. "Oh ya dokter, besok lusa ada acara di rumah mommy saya, ada syukuran tujuh bulannan kehamilan Eve"
"Sudah tujuh bulan saja dok?"
"Iya, dia belum ngomong ke anda memangnya?"
"Belum"
"Oh, mungkin nanti malam, soalnya dokter Dinda ini satu-satunya teman adik saya, nggak mungkin kalau nggak di undang"
"Satu-satunya?" mendadak alis Dinda saling bertaut.
"Hmm"
"Nggak ada teman sekolah, begitu dokter Ara?"
"Tidak ada, karena semua teman-teman Eve ada di Macau. Dia di besarkan di sana dan belum ada satu tahun menjadi warga negara Indonesia"
__ADS_1
"Oh ya?"
"Hmm"
"Jadi aku teman satu-satunya Eve?"
"Iya" Amara tersenyum seraya mengangguk, lalu melirik jam di tangannya. "Sudah siang dokter Dinda, nanti bos kita marah"
"Ah iya"
"Saking larutnya dalam obrolan, nggak tahunya sudah siang ya. Ayo kita masuk, sebelum sekertaris Ben yang pelit senyum itu datang"
Dinda meresponnya dengan tawa lirih. "Mari dokter"
"Ayo, jangan lupa suaminya untuk kirim CV atau bisa langsung datang ke kantor Plaza di lantai tujuh"
"Baik dokter Amara"
Mendesah pelan, hati Dinda merasa lega. Satu persatu masalah nyaris terselesaikan. Tentang status dirinya yang menjadi istri satu-satunya Adam, soal Prilly yang sebentar lagi akan menjadi milik Zidan, juga tentang pekerjaan sang suami yang sebentar lagi penganggurannya akan segera teratasi.
"Sabar dan selalu tenang, maka semua akan baik-baik saja" Dokter cantik itu mengayunkan kaki menuju ruangannya.
***
Beberapa hari sudah lewat, Adam sudah bekerja, sementara pernikahan Prilly pun sudah terlaksana dengan lancar.
Seperti biasa, Adam selalu mengantar Dinda ke rumah sakit terlebih dulu sebelum berangkat kerja. Meskipun tempat kerja Adam berlawanan arah dengan Family care, akan tetapi letak rumah sakit itu hanya sekitar lima menit dari apartemen yang Dinda dan Adam tempati
Jam di pergelangan tangan Adam menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit saat tiba di lokasi tempat Dinda bekerja.
"Aku kerja dulu, mas"
"Hati-hati sayang" Adam mengecup puncak kepala Dinda.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Wanita itu membuka pintu mobil sebelum akhirnya turun.
"Hati-hati mas" Suaranya bersamaan dengan tanganya yang menghempas pintu mobil.
"Hmm" Adam masih bertahan menatap Dinda yang berjalan semakin jauh dari dalam mobil, wajahnya berbinar dengan senyum yang terukir samar. Namun sekian detik kemudian senyum samarnya seketika pudar dan berganti dengan teriakan bercampur panik. Sebab, saat Dinda hendak menyebrang jalan, sebuah motor dengan nomor polisi yang tidak di ketahui, menabrak tubuh Dinda. Karena dia tak tahu akan ada motor yang menabraknya, Dinda kehilangan keseimbangan, hingga tubuhnya terlempar sejauh tiga belas kaki.
"Dinda,,,!!!" teriak Adam histeris
Pria itu segera membuka pintu mobil, berlari menghampiri istrinya yang sudah di kerumuni oleh orang-orang yang kebetulan berada di area rumah sakit.
Bersambung...
__ADS_1
Itu si Prilly pengin tak iihhh....!!!