
Adam langsung membopong tubuh Dinda yang sudah tak sadarkan diri dengan lumuran darah. Tanpa pikir panjang, dia berlari memasuki gedung family care.
Di sana sudah ada petugas yang membawa brankar, pria itu lantas merebahkan tubuh sang istri sesuai instruksi dokter. Dengan langkah seribu, dokter serta suster mendorong brangkar berisi dokter Dinda ke ruang ICU. Dia di minta untuk menunggu di luar selagi peramedis memberikan penanganan.
Raut panik tampak sangat jelas terlukis di wajah pria tampan itu, bahkan tangan serta tubuhnya bergetar hebat. Kedua tanganya menutupi wajah berusaha mengusir rasa takut yang kian menyergap.
Yaa Rabb, jangan ambil istriku..
Sepintas ia merasa menyesal, andai saja waktu bisa di undur, dia pasti akan membantu istrinya menyebrang jalanan yang memang selalu ramai di saat-saat jam kerja seperti pagi ini.
Semenjak bekerja, Adam memang tak pernah mengantar Dinda hingga halaman rumah sakit. Itu karena permintaan Dinda sendiri, wanita itu tahu jika suaminya harus pergi ke kantor tepat waktu. Bayangan kebersamaannya dengan sang istru pun berkelebat bebas memenuhi isi kepala
Saat pintu tiba-tiba terbuka, Adam bangkit. Ia heran kenapa suster itu buru-buru berlari dengan raut cemas.
Dia kembali terduduk lemas sambil menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Pintu yang membuatnya terpisah dengan sang istri.
Menarik napas panjang, tangannya bergerak meraih ponsel untuk menghubungi mamah mertuanya.
Beberapa saat setelah mengabari Meta, sepasang matanya menangkap Amara yang berlari menghampirinya.
"Pak Adam"
Mendengar namanya di sebut, Adam mendongak, lalu berdiri.
"Bu Ara"
"Bagaimana dokter Dinda?"
"Masih dalam penanganan bu" Adam tahu kalau Amara adalah istri dari atasannya saat ini.
"Oh ya bu, saya belum mengabari pak Daffa"
"Tidak apa-apa, saya sudah menelfon suami saya kalau istri pak Adam kecelakaan"
"Terimakasih bu"
Amara mengangguk. "Saya permisi dulu, pak. Kami akan berusaha memberikan yang terbaik untuk dokter Dinda"
__ADS_1
"Terimakasih sekali lagi"____
Baru saja Amara pergi dari hadapan Adam, pintu ICU kembali terbuka.
"Sus, bagaimana istri saya?"
"Dokter Dinda membutuhkan banyak darah, sedangkan darah yang dokter Dinda butuhkan sangat sulit didapat, rumah sakit juga sudah kehabisan stok darah B rhesus negative, tolong pihak keluarga segera di hubungi untuk mendonorkan darahnya"
Adam berusaha mencerna kalimat wanita yang tanpa jeda itu, ia merasa bingung, otaknya pun seakan tak bisa berfikir jernih. Bahkan segalanya melambat luar biasa.
"Pak!"
Dia tersentak kaget.
"Secepatnya hubungi keluarga, pasien benar-benar membutuhkan darah B rhesus negative"
Usai mengatakan itu suster kembali masuk, mengabaikan sorot Adam yang kelam nan kosong.
Setengah jam berlalu, Adam masih belum bisa melakukan apapun, dia hanya menghubungi orang tua serta kakaknya untuk meminta bantuan mencarikan golongan darah yang Dinda butuhkan. Dia hanya bisa berdoa semoga di rumah sakit Ar-Raudhah dan rumah sakit Suryadaya memiliki stok dengan golongan daeah tersebut.
Tiba-tiba Meta datang dengan tergopoh, wajahnya tampak sangat cemas bercampur sedih.
"Dinda butuh darah B rhesus negative, mah. Mamah bisa mendonorkan darah mamah?"
"B-b rhesus negative?"
"Iya mah, rumah sakit hanya ada dua kantong dan itu sudah di transfusikan, Dinda masih butuh sekitar tiga hingga empat kantong untuk persediaan operasi, mah"
"T-tapi apa yang terjadi dengan Dinda, Adam?"
"Dinda di tabrak seseorang, tapi yang nabrak berhasil kabur"
"Bagaimana bisa?" Mendengar itu, seakan tubuh Meta melemah bak tak bertulang. Andai saja Susyani tak memeganginya, mungkin Meta sudah terkapar di lantai.
"Mah" Adampun langsung dengan sigap menyentuh kedua sisi lengan Meta.
"Mamah, yang tenang ya, kita berdoa, tadi dokter Amara sudah menghubungi rumah sakit Ar-Raudhah dan Surya Daya meminta darah buat Dinda"
__ADS_1
Adam mengatakannya sembari menuntun Meta ke sebuah bangku.
"H-hubungi Birawa, Dam" Mereka sudah duduk di bangku panjang.
"Birawa?" Alis Adam menukik tajam.
"Cepat hubungi Birawa, minta dia mendonorkan darahnya"
"T-tapi kenapa Birawa mah?"
"Jangan banyak bertanya, Adam!" suara Meta meninggi. "Sekarang juga hubungi Birawa, minta dia mendonorkan darahnya. Bilang kalau ini permintaan mamah"
"I-iya mah"
Meskipun masih di liputi perasaan bingung, serta tanda tanya yang mengelilingi kepalanya, Adam akhirnya menghubungi Birawa. Beruntung pria itu bersedia datang ke rumah sakit dan mendonorkan darahnya untuk Dinda.
****
Operasi berjalan lancar, Birawa sudah mendonorkan darahnya.
Sebenarnya sudah cukup darah yang dinda butuhkan, karena di Ar-Raudhah ada dua kantong dan di Suryadaya ada satu kantong. tapi paramedis tetap harus menyediakan stok untuk berjaga-jaga. Dan benar saja, darah Birawa pun akhirnya masuk ke tubuh Dinda, sebab dia masih kekurangan darah pasca operasi.
"Kenapa darahku bisa satu tipe dengan Dinda, Mey?" Tanya Birawa yang kemudian di susul dengan senyuman miring. Kini mereka duduk di depan ruang ICU, sementara Adam meninggalkan keduanya untuk mengambil tas Dinda yang tadi di amankan di bagian *rescepstionis*t.
"Karena dia darah dagingmu"
Birawa menoleh ke samping kiri. "A-apa kamu bilang?" tanyanya tak percaya.
"Dinda putri kandungmu"
Braakkk....!!
Adam yang sudah kembali dan berdiri dengan jarak sekitar lima meter di depan Meta, Ia menjatuhkan tas milik Dinda yang baru saja di ambil. Merasa terkejut dengan kalimat mamah mertuanya yang baru saja ia dengar.
"A-Adam?" Birawa serta Meta memalingkan wajah ke arahnya yang nyaris kompak.
"D-Dinda putri kandung Birawa?"
__ADS_1
Bersambung.