Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Alasan di Sepucuk Surat


__ADS_3

Setelah pemecatan dari atasannya dengan tanpa penjelasan apapun, Adam langsung mengemasi barang-barangnya lalu menuju ke bagian HRD. Dia berniat meminta surat keterangan kerja yang di buat oleh perusahaan mengenai perjalanan karirnya selama bekerja. Tentu saja surat itu sangat ia butuhkan sebagai pelengkap untuk melamar pekerjaan di kemudian hari, yang bisa menjadi bahan pertimbangan rekruter.


Tanpa memasukkan amplop berwarna putih ke dalam tas, pria itu berjalan menuju mobil.


Selang lima menit, dia yang saat ini sudah duduk di balik kemudi, menghembuskan napas panjang sebelum kemudian menyalakan mesin dan melajukannya keluar dari area parkiran kantor.


Bukan rumah istri pertama atau istri ke dua tujuan Adam, melainkan rumah orang tuanya. Namun saat mobil sudah hampir mendekati rumahnya, ia menginjak pedal rem, mobilpun seketika berhenti.


Amplop yang tadi ia letakan di atas dashboard, ia ambil lalu ia buka.


Pelan ia membaca surat yang umumnya berisi tentang kebenaran bahwa Adam pernah menjadi bagian dari perusahaan itu termasuk jabatan serta waktu bekerja. Adapula penilaian dari pihak perusahaan tentang dedikasinya selama bekerja.


Adam begitu terkejut saat mendapati sebuah kalimat yang menyatakan dirinya sudah melakukan tindakan korupsi senilai milyaran rupiah. Seakan tak percaya, ia melepas senyum miring sambil melempar pandangan ke atas menatap arakan awan yang bergerak lambat, dengan latar belakang langit berwarna biru.


Prilly, aku nggak nyangka dia sejahat itu. Dan parahnya, aku pernah mencintai bahkan sempat ingin memperjuangkannya.


Aku yakin, ini adalah ulah dia.


Menghembuskan napas frustasi, pria itu kembali melajukan mobilnya menuju rumah abi serta uminya.


Sesampainya di sana, ia di sambut oleh Santi.


Wanita yang merasa heran sebab tak biasanya sang anak berkunjung di saat jam kerja, langsung menggiringnya duduk di ruang tamu dan membombardir dengan rentetan pertanyaan.


"Ada masalah apa, nak?"


"Dengan Prillya? Atau Dinda?"


"Apa ayah mertuamu marah padamu karena sudah diam-diam menikahi Dinda?"


"Jawab umi, nak... ada apa denganmu?"


"Aku di pecat dari pekerjaanku, um"


Mendengar jawaban putranya, reflek dia menelan ludahnya kemudian bangkit dan beranjak dari ruang tamu. Semenit kemudian ia kembali dengan membawa segelas air putih hangat.


"Minum dulu nak"


Adam menerima uluran gelas dari tangan Santi lalu meneguknya hingga tak tersisa.


"Sudah lebih tenang? sudah kembali jernih pikiranmu, nak?" tanya Santi mengambil Alih gelas yang sudah kosong dari tangan Adam.


"Yang sabar ya, ini ujian pernikahanmu" tambahnya sambil meletakkan gelas itu di atas meja. "Jangan mengira kalau setelah menikah itu lepas dari konflik apapun, justru ujiannya bertambah tingkat kesukarannya"


"Iya um"


"Lantas kenapa kamu seperti putus asa?"


Adam menyandarkan kepala di sandaran sofa, lalu memejamkan mata. Tangannya bergerak memijit pelipis berharap rasa yang berkecamuk memberatkan dahinya segera sirna.


"Aku bisa terima di pecat dari pekerjaan umi, tapi yang enggak bisa aku terima, mereka menuduhku melakukan hal yang tidak aku lakukan"

__ADS_1


"Memangnya tuduhan apa, Dam?"


"Korupsi bu" sahutnya dengan suara rendah. "Milyaran rupiah" tambahnya yang kemudian di susul dengan menarik napas panjang lalu membuangnya dengan sedikit mengeluarkan des@ahan.


"Kemarin Prillya menuduhmu menghamilinya, sampai-sampai kamu menikahinya, sekarang kamu di tuduh korupsi, umi nggak habis pikir, kenapa mereka setega itu memfitnah saudaranya sendiri, padahal kita sama-sama bekerja, sama-sama mencari nafkah untuk ibadah"


"Sudah um, nanti tensi umi naik"


"Ya umi kesal anak umi selalu di jahatin, padahal setahu umi kamu ini baik, nggak pernah bikin onar, nggak pernah jahatin orang"


"Nggak apa-apa umi, nanti pasti dapat pekerjaan lagi"


Adam sedikit ragu saat mengatakannya, mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk bisa mendapatkan pekerjaan kembali, sebab penilaian perusahaan itu sangat buruk terhadap dirinya. Adam yakin perusahaan akan menolak ketika membaca surat keterangan kerja miliknya. Pastilah mereka akan menjauhkan koruptor dari perusahaannya. Pikir mereka adalah, sebuah kesalahan fatal jika perusahaan menerima karyawan yang pernah korupsi.


Meski Adam hanya di fitnah, tapi apa yang mereka ketahui di surat keterangan kerja itu, pasti akan menganggap Adam karyawan yang tidak benar.


"Lalu gimana masalah soal Prilly, kemarin lusa dia kesini dan menanyakan tentang pernikahan kamu dengan Dinda"


Adam menarik kepalanya, lalu memalingkan ke arah Santi. Dia tersenyum sebelum kemudian berkata "Umi jangan khawatirkan apapun soal pernikahanku, aku dan Dinda akan mengatasi Prillya, lagi pula" Pria itu melingkupi punggung tangan uminya. "Pak Birawa sudah tahu kalau aku bukan ayah dari cucunya. Aku dan pak Birawa akan menyelesaikan semuanya"


"Jadi ayahnya Prilly sudah tahu? dia tidak marah, Dam?" Santi seakan tak percaya.


"Iya, umi. Kami akan membahas ini bersama dengan keluarga dari ayah bayi itu"


"Nggak berpengaruh sama pernikahanmu dengan Dinda, kan?"


"Insya Allah enggak, um"


"Pokoknya umi jangan berfikir yang macam-macam, nanti Dinda marahin aku kalau tensi umi naik gara-gara aku crita ke umi"


"Gimana umi nggak khawatir nak, masalah kamu itu loh, berat, konfliknya nggak putus-putus, nggak selesai-selesai. Belum clear satu masalah, timbul masalah lain, nanti yang ini selesai, ada lagi masalah baru" Santi mendesah. "Kamu yang sabar ya nak!"


"Rumah tangga kan emang gitu, Umi" Ucap Adam setelah sebelumnya mengangguk merespon perkataan santi. "Konflik dalam rumah tangga itu macam-macam, dan beda-beda. Ada yang di uji dengan masalah ekonomi, orang ketiga, ada juga dengan mertua, ipar, ada juga soal keturunan"


"Oh iya, ngomong-ngomong soal keturunan, Dam, apa Dinda sudah ada tanda-tanda positif hamil?"


Adam baru ingat, pernikahannya yang sudah sebulan, dia sama sekali tidak memikirkan soal anak. Ada banyak masalah, membuatnya tak fokus dalam merealisasikan anak pertama.


"Belum ada um"


"Nggak apa-apa nak, baru sebulan kalian menikah, bahkan ada yang menunggu sampai dua hingga lima tahun"


"Tapi umi nggak apa-apa kan?"


Wanita paruh baya itu menggeleng.


"Pulangnya nanti sore saja ya, Dam"


"Iya umi"


Mereka lalu saling melempar senyum.

__ADS_1


***


Assalamu'alaikum, bunda Fatma! ayah datang bersama Prillya nih, bun" Birawa menaburkan bunga di atas nisan milik istrinya.


"Bunda, maaf ya, Prilly jarang datang buat nengokin bunda"


Birawa tersenyum mendengar kalimat sang putri.


"Oh iya bun, sebentar lagi kita punya cucu, cucunya Indah juga, sahabat kamu"


Pandangan Prillya yang tertunduk, kini terangkat. Wanita yang memakai kaca mata hitam itu lantas melepas kacamatanya lalu mencermati wajah sang ayah.


Ia berusaha mencerna kalimat Birawa yang mengatakan jika anaknya adalah cucu Indah, yang tak lain adalah mamahnya Zidan.


Ketika ekor mata Birawa melirik Prilly yang sedang menatapnya dengan sorot terkejut, dia langsung tersenyum, kemudian berkata tanpa membalas tatapan putrinya.


"Ada kalanya sesuatu yang kita sayangi harus kita relakan, nak"


Sebelah alis Prilly terangkat, benar-benar tak paham apa maksud kalimat Birawa.


"Ayah tahu itu bukan anaknya Adam, kan? ayah tahu kalau selain kamu, Adam memiliki istri yang lain"


Prilly gelagapan, tidak menyangka jika ayahnya tahu tentang semuanya.


"Ayah sudah bicara dengan Zidan tadi pagi di telfon, dia bersedia menikahimu setelah Adam menceraikanmu"


Mendengar ucapan sang ayah, entah kenapa Ia kembali merasakan perih yang seakan menggerogoti hati.


"Semua gara-gara ayah" dia mengalihkan netra pada papan nisan yang bertuliskan nama bundanya. "Kalau saja ayah merestui hubunganku dengan Adam sejak awal, aku pasti akan hidup bahagia bersama pria yang ku cintai"


"Andai saja ayah tidak membayar Dinda untuk memisahkanku dengan Adam, aku pasti akan menjadi istri satu-satunya. Ayah egois, ayah hanya memikirkan bisnis dan nama baik. Ayah yang ku kira baik, tapi malah selalu menghina Adam yang derajatnya lebih rendah dari ayah" Prilly berusaha menjaga nada bicaranya, dia sadar kalau saat ini sedang berada di TPU, di mana anti sekali bagi dia berkata dengan nada tinggi.


"Maafkan ayah, Prilly... Ayah tidak bermasuk menghinanya, ayah seperti itu karena terdorong oleh keinginan bundamu. Dengan ayah terus mencaci maki Adam, ayah berharap dia menyerah dan meninggalkanmu"


"Kenapa ayah bawa-bawa bunda atas masalah yang ayah ciptakan" Matanya sudah berkaca-kaca, jika mengerjap sekali saja, titik beningnya pasti akan meluncur bebas.


Alih-alih merespon, Birawa malah mengeluarkan secarik kertas yang ia simpan selama bertahun-tahun.


"Jangan tanya lagi tentang alasan ayah tidak merestui kalian, karena alasan itu ada di surat yang bunda tulis sebelum bunda meninggal"


Birawa menyodorkan secarik kertas, sementara Prilly pun menerimanya dengan raut bingung.


Pelan, ia membuka lipatan kertas yang sedikit usang, lalu membacanya dengan penuh penghayatan.


Satu paragraf yang membuat Prilly meneteskan air mata.


Aku sudah tidak sanggup lagi melawan ketakutanku, mas...


Maaf jika aku menyerah sampai disini, ku titipkan peri kecilku padamu, jika kamu tak sanggup, berikan Prillya kepada Indah, sahabatku. Nikahkan dia dengan Zidan, putra kesayanganku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2