
Setelah menghabiskan makan, Dinda langsung terlelap dalam tidur siangnya. Adam menggunakan kesempatan ini untuk keluar sebentar membeli makan siang.
Prilly yang sedari tadi mengawasi kamar Dinda, langsung melangkah masuk begitu Adam meninggalkan kamar menuju kantin.
Dengan sedikit kasar, wanita itu membuka pintu dan menutupnya kembali.
"Dokter pelakor!"
Panggilan Prilly yang mengagetkan Dinda, membuatnya langsung membuka mata. Ia terkejut mendapati sosok Prilly dengan raut masam seperti menahan marah.
"A-ada apa Prilly?"
"Malang sekali nasib kamu, Dinda. Sudah menyandang gelar pelakor, anak haram, lumpuh" Prilly berdecak sinis. "Semoga julukan sebagai wanita mandul tidak tersemat setelah ini ya"
Prilly tahu kondisi Dinda termasuk luka memar di rahimnya. Dia memang sengaja mencari tahu tentang keadaannya lewat sang ayah.
"Apa maksud kamu?" Pelan, Dinda berusaha bangkit dan menyandarkan punggung pada headboard.
"Jadi kamu belum tahu soal kamu yang menjadi anak haram dan juga tentang rahimmu yang terluka? suamimu yang miskin itu dan ibumu yang hina tidak memberitahumu?"
"Jaga ucapanmu, Prilly!"
Wanita itu melipat tangan di dada. "Aku bicara fakta, Dinda"
"Memangnya apa yang kamu bicarakan, hah?" tanya Dinda sedikit mengangkat dagunya.
"Ckk, pelakor melahirkan anak pelakor"
Dinda semakin tak mengerti. Melihat raut wajah Dinda yang tampak bingung, Prilly kembali berkata.
"Sama sepertimu yang menggoda Adam, mamahmu juga menggoda ayahku"
"Jangan sembarangan bicara kamu, Prilly"
"Kasihan sekali kamu, Din. Fakta sebesar ini di sembunyikan darimu"
"Katakan yang jelas apa maksudmu" Hilang kendali, Dinda meninggikan intonasinya.
Alih-alih menjawab, Prilly justru tersenyum miring. Namun setelah puas mengejek, ia menyerukkan suaranya.
"Papahmu yang sudah meninggal itu, ternyata bukan papah kandungmu" Kata Prillya dengan santainya. "Apa kamu ingin tahu, siapa papah kandungmu yang sebenarnya?" dia mengurai tangannya yang tadi terlipat, kemudian mendaratkan di tepian ranjang untuk menopang tubuhnya. Sementara Dinda tak menjawab. Namun dari sorot matanya, Dinda tengah menunggu Prilly melanjutkan ucapannya.
"Apa kamu ingin tahu, Din?"
Hening, keduanya saling beradu pandang dengan tatapan benci.
"Siapa?" tanya Dinda datar.
"Birawa" jawab Prilly nyaris tanpa suara.
Mendengar jawaban Prilly, reflek Dinda menelan ludahnya sendiri.
"Apa selama ini kamu tidak tahu, kalau mamahmu menikah dengan pria yang kamu anggap papah kandungmu, dalam keadaan hamil? Hamil di luar nikah dengan ayahku?"
"Nggak mungkin"
"Ckkk, Dinda, Dinda. Polos sekali si kamu"
Dinda bergeming sambil menatap Prilly penuh tanya. Ia masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Nggak nyangka ya Din, ternyata kita kakak adik, nggak nyangka juga, ternyata kakakku sendiri yang sudah merebut suamiku"
Ketika Dinda hanya diam, ia tak kunjung mengucap sepatah kata, Prilly terus mengoceh, mencacinya dengan sesekali menyisipkan kekehan.
__ADS_1
"Tapi sori Din, aku nggak sudi punya kakak pelakor sepertimu, aku takut sialmu nular ke aku"
Dinda masih tak menyahut.
"Anak haram, lantas apa jadinya kalau anak haram ini nggak bisa punya anak, apakah Adam akan menikah lagi dengan wanita lain? wanita yang jelas bisa melahirkan anaknya?"
Bola mata Prilly bergerak ke sana kemari seperti tengah berfikir.
"Apa jadinya ya, kalau dokter pelakor yang lumpuh dan nggak bisa ngapa-ngapain, ternyata juga mandul? Ah, aku sangat penasaran sekali, sangat menanti waktu di mana Adam meninggalkanmu dengan wanita lain demi mendapatkan keturunan"
"Pergi dari sini" Pekik Dinda dengan wajah memerah menahan isak.
"Oh... Baper ya sama kata-kataku? makannya jangan jadi pelakor, sekarang terima akibatnya, ini adalah sebuah hukuman karena kamu sudah merusak kebahagiaan orang"
"Pergi!"
"Ya-ya, aku pasti akan pergi kok, lagian nggak sudi lama-lama bicara dengan wanita yang lumpuh dan nggak guna"
Usai mengatakan itu, Prilly berlenggang dengan santai keluar dari kamar rawat milik Dinda. Melangkah tanpa mempedulikan sang kakak yang menyorot penuh luka.
Dinda yang masih terhenyak dengan semua perkataan Prilly, langsung menangis sejadi-jadinya.
"Kamu memang wanita nggak guna, Dinda" Wanita itu bermonolog sambil memukul-mukul kakinya. "Prilly benar, ini akibat dari semua perbuatan kamu. Kamu pezina, perebut suami orang, kamu juga merusak hubungan orang"
Isak tangisnya kian tersedu sampai-sampai sesenggukkan ketika mengambil napas panjang.
"Ada apa denganmu, Dek?" Adam yang memilih membawa makan siangnya ke kamar, langsung berlari sesaat setelah membuka pintu dan melihat sang istri tengah menangis.
Ia segera meletakkan makanannya di atas meja.
"Dek, apa yang terjadi? kenapa kamu duduk di lantai? apa kamu terjatuh?"
Tadi, ketika Dinda merasa frustasi, ia berusaha bangkit dan berdiri di atas kakinya sendiri, namun usahanya sia-sia, tubuhnya seketika melorot ke lantai.
Adam merengkuh Dinda ke dalam pelukannya.
"Tenang sayang" ujar Adam sambil mengusap punggung sang istri.
Setelah Dinda sedikit bisa mengatur nafas, Adam mengangkat tubuhnya dan membaringkan di atas ranjang.
"Ada apa?" Meraih tangan Dinda dan menggenggamnya sangat erat. Melihat istrinya yang seakan hilang asa, Adam yakin ada sesuatu terjadi saat dirinya pergi sejenak tadi.
Lalu haning, dengan sabar Adam menunggu sang istri bicara sambil terus meremas lembut tangan Dinda yang berada dalam genggamannya.
Hingga beberapa menit, akhirnya wanita itu menyerukan suaranya.
"Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku, mas?"
"Sesuatu yang mas sembunyikan!" pria itu mengernyit.
"Apa rahimku bermasalah? apa aku akan sulit punya anak?"
Adam tertegun, namun hanya sesaat.
"Itu nggak terlalu beresiko, dek. Rahimmu hanya terluka sedikit karena efek dari benturan. Sama sekali nggak membuatmu sulit untuk punya anak"
"Lalu soal Birawa?"
Entah kenapa jantung Adam mendadak bertalu-talu.
"Apa Birawa papah kandungku, mas?"
"D-dari mana kamu tahu?"
__ADS_1
"Jawab saja mas!"
Tak langsung menjawab, Adam mengecup tangan Dinda.
"Kalau iya kenapa? Kamu mau marah?"
"Hmm?" sambung Adam setelah beberapa saat. "Kalau marah, mau marah sama siapa?"
Adam yang tadi duduk di kursi, kini bergerak bangkit lalu duduk di tepian ranjang menghadap Dinda.
"Marah sama mama? mamah nggak salah lho. Marah sama Birawa? dia melakukannya ketika sedang mabuk, Birawa marah karena cintanya di tolak sama mama, makannya dia melakukan itu secara paksa. Dan mamah langsung pergi tanpa meminta pertanggung jawaban dari pak Bi, padahal pak Bi sangat berharap mamah ngomong soal kehamilannya"
"Jadi pak Bi tidak tahu kalau aku anaknya?"
"Belum sampai mamah kamu meminta darah pak Bi saat kamu membutuhkannya"
"Apa setelah tahu, pak Bi bisa menerimaku? dia tidak menyangkalnya?"
"Enggak" sahut Adam seraya menggeleng. "Ku lihat dia malah senang, dan sepertinya pak Bi masih mencintai mamah"
Pandangan Dinda yang sebelumnya kosong, kini hidup menatap lekat-lekat iris sang suami.
"Sekarang jawab, apa Prilly tadi kesini?" tanya Adam penuh penasaran.
Padahal Adam hanya menebaknya, tapi anggukan Dinda membenarkan tebakannya.
"Ngomong apa dia?"
"Banyak"
"Ya tapi apa?"
Mendengkus kasar, Adam menggelengkan kepala seakan tak percaya setelah mendengar cerita istrinya.
"Benar-benar ya adikmu itu"
"Adikku?"
"Kalian satu ayah, jadi kalian kakak beradik"
"Aku masih belum percaya" Dinda sebenarnya masih shock, namun ia yang selalu bersikap dewasa bisa menutupi rasa ketidak percayaannya.
Selang dua menit, Adam bangkit lalu menarik kepala Dinda dan menempelkannya di perut.
"Menurut mas, aku harus gimana menghadapi pak Bi?" Dinda melingkarkan lengan di pinggang, kemudian mendongak menatap Adam yang selisih tingginya sangat jauh.
"Biasa aja sayang, ikhlas dan kamu harus menerima dia sebagai papa kamu. Jangan terlalu di fikirkan soal itu, untuk saat ini, kamu hanya perlu fokus dengan kesembuhanmu, setelah sembuh, kita pikirkan soal anak"
"Tapi benar rahimku nggak kenapa-kenapa kan?"
"Kamu nggak percaya sama suamimu?" Pria itu menunduk. "Mas akan perlihatkan hasil USGmu besok"
"Nggak usah, aku percaya kok"
"Setelah benar-benar sembuh, kita akan pergi ke Bali untuk bulan madu"
"Bali?" Dinda sedikit menjauhkan kepala dari perut Adam.
"Maaf hanya bisa mengajakmu ke Bali"
"Nggak apa-apa" Lingkaran tangan Dinda di pinggang Adam mengerat menempelkan salah satu sisi wajahnya di perut sang suami.
"Nanti kalau uang mas sudah terkumpul banyak, kita bulan madu di luar negeri"
__ADS_1
"Dalam negri aja aku senang kok, mas"
Bersambung