Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Epilog


__ADS_3

Waktu terus berlalu, pernikahan Birawa dengan Meta sudah di setujui oleh anak-anaknya dan juga kedua mempelai. Dan hari ini, ijab qobul akan di laksanakan di rumah Birawa.


Kediaman sudah di hias begitu mewah, orang tua Zidan dan juga Adam pun turut hadir untuk menyaksikan sumpah setia yang akan di ucapkan oleh Birawa dalam meminang cinta pertamanya.


Hanya rekan kerja dan para karyawan yang di undang, teman-teman Dinda di family care, keluarga Eve, Ben dan juga Shanum juga hadir.


"Saya terima nikahnya Meta Sofiana, binti almarhum Santoso dengan seperangkat alat sholat dan emas lima puluh gram, Tunai"


Kalimat qobul dari mulut Birawa keluar dengan lancar, para hadirin mengucap kata sah setelah penghulu mempertanyakan keabsahannya.


Kini keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri. Dari binar wajah Birawa dan Meta tersirat sebuah kebahagiaan yang mendalam.


Kebahagiaan juga terpancar dari wajah Dinda dan Prillya, keduanya bahkan meneteskan air mata saking bahagianya dengan pernikahan orang tua mereka.


"Selamat ya, mah"


"Makasih, nak" Meta menimpali ucapan Dinda.


Mereka berpelukan dan saling memberikan usapan lembut di punggung.


"Semoga mamah bahagia menghabiskan sisa umur mamah dengan papah"


"Aamiin" Sahut Meta. "Semoga kamu dengan Adam juga bahagia selalu ya?"


"Iya mah" Pelukan mereka terurai, mereka saling mempertemukan pandangan dengan sorot sendu.


Detik berikutnya Meta mengusap lengan sang putri lembut.


Setelah Meta, Dinda beralih memberikan ucapan selamat untuk papahnya.


"Selamat, pah" Dinda memeluk Birawa. Pelukan kedua setelah mengetahui bahwa Birawa adalah papah kandungnya.


"Makasih sayang!"


"Berani papah nyakitin mamah, papah akan berhadapan denganku dan mas Adam"


"Papah mencintai mamahmu, mana mungkin papah menyakitinya"


"Kak, mulai sekarang ubah panggilan kakak pada mamah kakak" Prilly menyela.


Tak paham dengan ucapan sang adik, Dinda mengerutkan kening dengan tajam.


"Maksudmu?" tanyanya dengan lirikan menghujam.


"Jangan panggil mama papa, panggil ayah bunda"


"Nggak mau, aku sudah nyaman panggil mamah"

__ADS_1


"Kak!" Prilly menunjukkan puppy eyesnya "Aku mohon!"


"Nggak mau!"


"Aku mohon kak" Prilly menyatukan kedua tangannya. Sementara Dinda berdecak sebal.


"Kamu yang merubah panggilanmu ikuti aku" Dinda membuang muka ke arah lain. Entahlah, rasa-rasanya selama hamil wanita itu begitu membenci Prillya.


"Boleh?" tanya Prilly, dan itu membuat Dinda otomatis menunduk menatap Prilly yang duduk di kursi roda.


"Kamu mau, panggil papa dan mama?"


"Kalau kakak mengijinkan"


"Dasar bodoh, kalau aku nggak ijinin, aku pasti akan kena sledding sama suamimu"


"Jadi boleh kak?"


"Boleh" jawab Dinda agak sedikit ketus.


"Aaaaa... Makasih kak" Prilly berteriak sambil merentangkan kedua tangan. "Peluk aku kak"


"Ish, kekanak-kanakan banget si kamu"


"Peluk!"


Birawa, Meta, serta yang lainnya tertawa melihat tingkah Prilly, terlebih Dinda yang menampakkan raut kesal. Tapi meskipun begitu, tak ada rasa dendam atau tak suka di hati Dinda. Dia hanya merasa sebal karena bawaan hamil.


Tak hanya Prilly, Adampun kerap sekali mendapat semprotan kekesalan.


Sebab, selain mual dan muntah, emosi Dinda pun terkadang naik turun. Melihat kondisi itu, membuat Adam harus siap di juteki sang istri.


Merasa Dinda lebih moody di masa-masa kehamilannya, ia lebih memilih mengalah dan mengayomi istrinya karena kehamilan Dinda adalah suatu anugerah yang tak ternilai baginya. Jadi mau tak mau Adam harus mengerti akan kondisi wanita yang berprofesi sebagai dokter itu.


****


Tiga hari setelah pernikahan berlalu, Meta sudah tinggal di kediaman mewah milik Birawa. Dia tinggal bersama Zidan dan juga Prillya, namun sebentar lagi Prillya akan di boyong oleh Zidan untuk tinggal di rumah orang tuanya.


Selain menjadi pewaris utama keluarga Atmajaya, Zidan di minta agar dia tinggal di rumah orang tuanya membawa serta istri dan anaknya. Karena Zidan sudah memutuskan, Prilly pun menyetujui permintaan papa dan mama mertuanya.


Sementara Dinda dan Adam, akan tinggal bersama Birawa dan Meta untuk menjaga dan menemaninya di masa-masa tua mereka.


Prillya yang pemaksa, membuat Dinda tak bisa berkutik dan tak mampu menolak permintaan adiknya untuk tinggal di rumah besarnya.


"Gimana mah, sudah bikin adek buat Dinda dan juga Prilly?" celetuk Adam frontal.


Mereka yang tengah sarapan langsung mengalihkan netranya menatap Adam.

__ADS_1


"Adam!" Mata Meta menajam.


"Kalau Prilly minta adeknya yang cowok mah" kali ini Zidan yang meledeknya. Padahal Prilly sama sekali tak mengatakan itu.


"Kalian ini apa-apaan si, orang tua di bercandain begitu!" Pandangan Birawa hanya beralih pada para menantunya secara bergantian.


Kedua pria satu generasi itu hanya terkikik sambil menundukkan pandangan. Bisa jadi Adam dan Zidan tengah membayangkan malam pertama untuk mertua mereka.


"Aku sudah selesai" Kata Dinda yang membuat Adam langsung menoleh ke kiri.


"Loh, nggak habis makannya?"


"Sudah kenyang, mas"


"Baru sedikit loh?"


"Udah kenyang" ulang Dinda sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Kalau nggak habis makannya, susunya di habisin, Din!"


"Enggak mah, sudah nggak muat perutnya" tolak Dinda. "Aku tunggu di luar ya mas" Lanjut Dinda seraya bangkit dari duduknya.


"Sebentar ya sayang"


"Hmm, santai saja mas, jangan buru-buru makannya"


Usai mengatakan itu, Dinda berpamitan pada orang tua dan juga adiknya. Wanita itu menyalami dan mengecup punggung tangan Birawa dan Meta, baru setelahnya dia melangkah meninggalkan meja makan.


Di tengah-tengah langkahnya, Dinda sempat menoleh ke belakang, memindai sosok Birawa, Meta, dan juga Prillya. Tanpa sadar bibirnya tersungging melihat bagaimana keakrakaban serta ketenangan yang ia rasakan selama beberapa hari ini.


Dan pagi ini adalah pagi yang paling berkesan untuk Dinda.


Makna keluarga untukku, adalah mereka yang selalu ada baik dalam masa suka maupun duka. Ketika kebersamaan menjadi sebuah tujuan, di situlah cinta akan selalu bertebaran.


Keluarga adalah tempat kita bersama meniti sebuah cerita.


Meskipun awalnya saling bersitegang, tapi inilah takdir.


Siapa yang menyangka kalau perseteruan kami berujung menjadi sebuah keluarga?


Aku bahkan sama sekali tak memimpikan hal ini.


Menarik napas panjang, Dinda terus melangkah menuju mobil sang suami yang akan mengantarkannya menuju rumah sakit untuk melakukan tugasnya sebagai tenaga medis.


...🌷END🌷...


Nanti ada ekstra partnya ya πŸ˜‡

__ADS_1


__ADS_2