
Semenjak peringatan dari Prilly dan juga kepala rumah sakit, Adinda merasa hidupnya terancam. Ia berfikir jika usahanya untuk menghancurkan hubungan Adam dengan Prilly sia-sia dan tidak membuahkan hasil apapun.
Ibarat melangkah maju, salah, mundur pun salah. Dia sudah terlanjur basah karena telah berhubungan dengan Birawa.
Sebagian dari dirinya menyesali keputusan kerja sama dengan pria paruh baya itu, tapi sebagian lagi, dia teringat sang mamah yang saat ini bisa
melakukan operasi pemasangan ring jantung berkat pria itu pula.
Sepersekian detik, ia segera menyangkal penyesalannya itu yang malah menimbulkan dadanya semakin sesak bila mengingatnya, bahkan untuk menghirup oksigen pun seakan tak mampu.
Terhimpit, terpaksa dan terkekang, itulah yang Dinda rasakan saat ini.
Dengan tarikan napas berat, Adinda mencoba menetralisir perasaan cemas dan takut yang timbul secara bersamaan, ia berharap akan ada jalan keluar dari permasalahan yang ia alami.
Saat sibuk dengan pemikirannya, tiba-tiba saja terdengar suara pintu rumah Dinda di ketuk dari luar. Dia yang tengah mencuci piring bekas makan malam, langsung menoleh ke arah sumber suara kemudian bergegas membilas tangannya yang berlumur busa.
Mengeringkan tangan menggunakan handuk kecil, sebelum kemudian beranjak dari dapur menuju ruang tamu untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
Dinda mengeryit dengan sosok pria di hadapannya.
"Maaf, anda mencari siapa?"
"Saya mencari anda" jawabnya spontan.
Alis Dinda menukik tajam, setelah mencermati wajah pria itu dalam-dalam, dia akhirnya tahu jika yang datang adalah anak buah dari Birawa.
"Bisa kita bicara?" Pria dengan pakaian serba hitam itu bertanya.
Menelan ludah, Dinda menoleh ke belakang, berharap sang mamah yang masih belum pulih dan sedang berada di dalam kamar tidak mendengarnya.
"Kita bicara di luar" kata Dinda pelan.
Dia membawa pria itu menjauh, tapi masih berada di area depan rumahnya.
"Apa yang ingin anda bicarakan?"
Pria itu tampak melipat tangannya di depan dada, kemudian berkata. "Saya di minta pak Birawa untuk menemui anda"
"Katakan langsung apa tujuan anda, tidak perlu berbasa-basi"
"Apakah anda tahu, kalau nona Prilly dan kekasihnya masih menjalin hubungan dan bahkan malah semakin mesra?"
"Saya tahu"
"Itu artinya, anda sudah gagal membuat mereka berpisah karena mereka masih berpacaran" Ujarnya yang entah kenapa membuat Dinda resah.
"Pak Birawa bilang, jika anda gagal, maka anda harus mengembalikan uang yang sudah anda terima dari pak Birawa"
"A-apa?"
Terkejut, Adinda mendengar kalimat suruhan Birawa.
__ADS_1
"Iya, anda harus mengembalikan uang itu secepatnya, jika tidak itu berarti anda berhutang kepada pak Birawa"
Bagaimana aku bisa mengembalikan uang sebanyak itu? uang yang sudah ku gunakan untuk biaya rumah sakit mamah?
Kenapa bisa menjadi serumit ini, Tuhan!.
Tanpa sadar, buliran bening meluncur bebas dari pelupuk matanya. Ia benar-benar sudah masuk ke dalam lobang neraka yang sangat dalam. Sampai-sampai, dia tak mampu untuk keluar dari lobang itu.
"Saya beri waktu satu minggu, kalau anda tidak segera mengembalikannya, terpaksa kami akan melaporkan anda ke polisi"
Pria itu langsung berbalik usai mengatakan itu. Ketika baru mengambil sekitar tiga langkah menjauh, Adinda buru-buru mencegahnya.
"Tunggu!" kata Dinda meninggikan nada bicaranya.
Pria itu berhenti, sedetik kemudian kembali berbalik untuk menghadap Dinda.
"Bisa tolong sampaikan kepada pak Birawa, untuk memberikan saya satu kesempatan lagi?" wanita itu memohon dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada. "Saya mohon, karena saya tidak bisa mengembalikan uang itu"
Bergeming sembari menatap Dinda lekat-lekat, pria yang tampak seperti bodyguard itu berfikir sejenak.
"Akan saya sampaikan permintaan anda" pungkasnya setelah beberapa detik terdiam.
"Terimakasih"
Diam terpaku di tempatnya, Adinda memejamkan mata usai kepergian suruhan Birawa. Ia mencoba menyalurkan oksigen sedikit lebih banyak dari normalnya ke dalam paru-paru.
Selang sekitar dua menit, ia mendengar suara Meta dari balik punggungnya.
Wanita itu menoleh ke belakang, memusatkan atensinya ke arah dimana sang mamah tengah berdiri di ambang pintu rumahnya.
"Mamah" Mengusap pipinya yang basah, sebisa mungkin Dinda menormalkan ekspresi agar Meta tak menyadari raut wajahnya yang menyorot penuh kesedihan.
Kecemasan serta kegelisahan Dinda jelas naik ke level paling atas setelah percakapannya dengan anak buah Birawa.
"Kenapa di luar?" tanya Meta setelah sang putri sudah berdiri di depannya.
"Nggak apa-apa mah, tadi sempat kegerahaan di dalam, jadi aku keluar untuk mencari udara segar"
"Angin malam itu tidak baik loh Din, ayo masuk"
"Iya mah"
Menutup pintu, Dinda berjalan bersisihan menuju kamar Meta. Dia menyuruh sang mamah untuk beristirahat karena kondisinya masih lemah pasca operasi.
"Mamah istirahat ya!"
"Kamu juga istirahat, besok harus ke rumah sakit kan?"
Sembari membantu mamahnya memakaikan selimut, Dinda menganggukan kepala meski pelan. Ada senyum terpaksa yang ia sunggingkan di bibirnya.
Keluar dari kamar Meta, Dinda melangkah menuju kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Namun setelah tiga puluh menit tak bisa memejamkan mata, tahu-tahu sepasang netranya mendapati benda pipih miliknya tengah berkedip di atas meja nakas.
Otomatis, tangan Dinda terulur meraih ponselnya.
Birawa caling...
"Pak birawa" Lirih Dinda dengan bola mata bergerak gelisah.
Tak ingin membuat Birawa menunggu lama, Dinda segera menggeser ikon hijau lalu menempelkan ponsel di telinga kanannya.
"Selamat malam pak Birawa"
"Selamat malam" jawabnya dari sebrang telfon.
"Anak buah saya bilang, kalau anda meminta kesempatan kedua, apa itu benar?"
"Iya pak, itu benar"
"Baiklah, saya akan berikan kesempatan kedua untuk anda, dan saya minta anda benar-benar menggunakan kesempatan itu dengan sebaik mungkin, karena saya tidak ingin mendengar kegagalan anda untuk yang kedua kalinya.
"Baik, dan terimakasih sudah memberi saya kesempatan itu"
"Okay, saya tunggu kabar perpisahan putri saya dengan Adam secepatnya"
Menarik napas panjang, Prilly mengangguk seakan sedang berbicara secara tatap muka. meski sebenarnya dia juga tahu kalau Birawa tak melihat anggukan kepalanya.
"Saya akan melakukan tugas saya, selamat malam"
Tanpa menunggu respon Birawa, Dinda memutuskan panggilannya secara sepihak.
Disini, Dinda mulai tertekan. Di satu sisi ia mendapat peringatan dari pihak rumah sakit. Tapi di sisi lain, dia takut jika langkahnya kembali membuatnya di tegur oleh kepala rumah sakit.
"Jika aku menghubungi Adam, pasti Prilly akan tahu dan dia akan kembali membuat kekacauan di rumah sakit. Sementara pak kepala pun sudah memperingatkanku jika kejadian itu terulang, maka dia akan memberiku sanksi, dan bahkan aku akan di pecat"
"Apa yang harus ku lakukan?"
Sembari menggumam lirih, Dinda mengusap wajahnya gusar.
"Jika aku di pecat, lalu bagaimana aku bisa memenuhi kebutuhan hidup? belum lagi mamah yang membutuhkan dana untuk perawatannya selama beberapa bulan kedepan?"
Wanita itu menyorot dengan tatapan kosong. Pandangannya jatuh pada layar televisi yang tak menyala memantulkan bayangan dirinya.
"Tidak ada pilihan lain, aku memang harus mempertaruhkan segalanya. Nama baik, karir, dan masa depanku"
"Tapi jika aku gagal lagi untuk memisahkan mereka, itu artinya hutangku sangat banyak pada pak Birawa"
Adinda menggelengkan kepala.
Tidak, aku tidak boleh gagal, hidupku berada di ujung tanduk, aku harus melakukan sesuatu.
Bersambung.
__ADS_1