Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Rencana bertemu


__ADS_3

Birawa duduk di kursi singgasananya di kantor, ia seperti tak percaya jika rencana menjebak Adam dan Adinda bisa berjalan semulus ini, tanpa di sadari oleh putrinya sendiri, Adam, maupun Dinda.


Menarik laci, pria itu meraih ponsel yang ia simpan di dalam sana. Setelahnya dia mencari kontak bernama Adinda di list kontak dan langsung menyentuh tombol dial.


Cukup lama pria itu menunggu, panggilan pun tersambung. Terdengar suara berat dari seorang wanita di sebrang telfon.


"Halo?" Ucap Dinda dengan nada malas.


"Kerja bagus dokter Dinda"


Dinda berdecak lirih. "Anda puas sekarang?"


"Saya rasa bayaran yang sudah anda terima cukup sepadan dengan kerja keras anda"


"Apa anda sedang menghina saya, pak?"


"Tidak, saya hanya mengingatkan, agar anda dan pria itu sebaiknya segera menikah"


"Jadi, apakah anda yang sudah menjebak saya dan Adam?"


"Tidak ada cara lain dokter Dinda, karena ternyata anda menipu saya, bukan begitu dokter?" tanya Birawa yang entah seperti apa ekspresinya. "Anda bilang pada saya akan menaburkan obat perangsang, tapi nyatanya, anda hanya menaburkan obat tidur di minumannya. Jadi jangan salahkan saya kalau saya membelokkan rencana anda"


"Saya sudah bekerja dengan baik, saya juga sudah berhasil memisahkan Putri anda dengan kekasihnya, jadi kerja sama kita selesai sampai di sini. Selamat siang"


Usai mengatakan itu, Dinda langsung memutus panggilannya.


Sementara Birawa langsung menatap layar ponsel ketika sambungannya terputus secara sepihak


Masih dengan senyum kemenangan yang terulas lebar, Birawa segera merencanakan pertunangan Prilly dan Zidan. Anak dari pemilik Herquina Hospital.


***


Usai pembicaraannya melalui telfon dengan pria bernama Birawa, Adinda berniat pergi ke kantin untuk membeli minuman, karena setelah bicara dengan pria itu, ia merasa otaknya kembali memanas dan seolah akan meledak. Namun, dalam perjalanannya menuju kantin rumah sakit, Dinda mendengar suara keributan dari salah satu kamar pasien. Tanpa berpikir lagi, dia bergegas mendatanginya.


"Ada apa ini?" tanya Dinda setelah membuka pintu, kemudian langsung masuk menghampiri ranjang pasien.


"Ini dokter, saya hanya mau ambil darah bu Santi, tapi beliau malah gerak-gerak terus sambil teriak-teriak, jadi saya kesulitan menemukan urat nadinya"


"Ini sakit dokter" Adu wanita berusia lanjut itu. "Saya merasa kesakitan karena suster ini tidak melakukan pekerjaannya dengan baik"


"Boleh saya yang mengambil darah ibu?" tanya Dinda lembut.


Si pasien diam sejenak sebelum kemudian mengangguk.


Dinda lantas duduk di tepian ranjangnya.


"Pelan-pelan ya dok, saya takut dengan jarum suntik"


"Baik bu, saya ambil darahnya ya, ibu rileks saja, jangan tegang, saya akan pelan-pelan"

__ADS_1


Dengan hati-hati, Dinda mulai menusukkan jarum suntik setelah sebelumnya mencari urat nadi, lalu mengambil sampel darahnya untuk di masukkan ke tabung khusus.


"Bagaimana? Apa sakit bu?" tanya Dinda sambil melepas ikatan pada lengan dan menekan bekas suntikan, kemudian menutupnya dengan plester.


Santi menggeleng. "Dokter pasti melakukan pekerjaan dengan penuh cinta"


"Ah, ibu bisa saja! saya ini dokter baru bu, masih harus belajar banyak-banyak"


"Bisakah dokter merawat saya selama saya disini?"


"Ibu sudah ada dokter ahli yang menangani penyakit ibu"


"Tapi saya mau dokter yang memeriksa saya"


"Ya sudah, nanti saya akan datang setiap kali pemeriksaan"


"Benar dok"


"Benar bu, tapi hanya menjenguk ibu saja ya, karena sudah ada beberapa dokter yang akan bergilir sesuai jadwal"


"Ya dok, nggak apa-apa, yang penting dokter jengukin saya"


Adinda hanya tersenyum merespon kalimat Santi.


"Oh ya dokter, saya punya anak laki-laki loh, usianya sudah cukup matang untuk menikah, tapi sayangnya, dia belum mau menikah"


"Dia sudah punya pacar dok, tapi ibu nggak tahu, kenapa mereka belum juga menikah, lagipula ibu juga kurang sreg dengan pacarnya itu"


Adinda kembali tersenyum menanggapinya.


Tiba-tiba seorang perawat memanggil Dinda dari ambang pintu.


Dia pun menoleh sembari tersenyum.


"Maaf dokter Dinda, bisa tolong periksa pasien di kamar teratai dua?"


"Baik, saya segera kesana" Adinda memusatkan netra pada Santi usai menjawab kalimat si perawat.


"Maaf ya bu, saya tinggal ke kamar sebelah"


Dengan raut kecewa, Santi hanya bisa mengangguk mengiyakan. wanita itu kembali sendiri di dalam kamar karena anak perempuan yang menemaninya sedang makan siang di kantin.


Setelah kepergian Dinda, entah pikiran dari mana Santi ingin sekali memperkenalkan putranya yang masih lajang kepada Adinda. Seakan tak peduli jika sang putra sudah memiliki kekasih.


****


Adam yang sudah tidak bisa menghubungi Prilly karena semua akses sudah di blokir, tak bisa berbuat apapun, untuk menjelaskan saja sepertinya tak mampu apalagi bertemu.


Ada juga Adinda yang harus dia jaga perasaannya. Selain itu, Rasanya percuma kalau harus menemui Prilly, karena ayahnya sudah pasti melarang Adam menemui putrinya.

__ADS_1


Merasa bersalah pada Dinda, Adam berniat menemuinya di rumah sakit.


Dia berusaha menghubungi Dinda namun panggilannya tak di respon. Mencoba berfikir positif, Adampun mengirimkan pesan.


Karena dokter cantik itu sedang sibuk, juga meninggalkan ponselnya di meja kerja, dia belum tahu jika Adam menelfon dan mengirimkan pesan padanya.


Selang tiga puluh menit, Dinda yang sudah kembali ke ruangannya, dahinya mengerut ketika mendapati ada beberapa panggilan masuk dan sebuah pesan dari Adam.


Mas Adam : "Din, sore ini aku akan ke Herquina Hospital, bisa kita bertemu?" (14:50) Wib.


Menarik napas panjang, Adinda hanya membaca tanpa membalasnya. Baru saja hendak memasukkan ponsel ke dalam tas, tahu-tahu nama Adam kembali muncul, membuat Dinda nyaris melempar ponselnya.


"Kenapa secepat ini dia meresponku, padahal aku baru saja membaca pesannya"


Sempat ragu, akhirnya Dinda Menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser ikon berwarna hijau.


Suasana sempat hening beberapa detik hingga kemudian Dinda mengucap salam.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam, kenapa tidak membalas pesanku?"


"Aku sibuk" Jawab Dinda dingin. Ada jeda sesaat setelah Dinda memberikan jawaban. Entah kenapa tetap saja Dinda salah tingkah, malu, atau tak enak hati meski orangnya tak ada di depannya.


"Kita bertemu di taman rumah sakit pukul empat"


"Mau apa bertemu?" tanya Dinda berusaha tenang.


"Mau membicarakan tentang kemarin, aku juga berniat memperkenalkanmu pada Abi dan Umi sebagai calon istriku"


Hening, sejujurnya Adinda merasa tak senang dengan niat Adam yang ingin mempertemukan dirinya dengan orang tuanya. Jelas, Dinda tahu jika Adam melakukan itu karena terpaksa. Tidak ada cinta di hati Adam untuk Dinda karena cintanya hanya untuk Prilly.


"Din" panggil Adam membuyar lamunannya.


"Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu secepatnya"


"Tidak perlu, mas"


"Itu perlu Din"


Memejamkan mata, kilas balik tentang percintaan itu kembali terlintas di ingatan Dinda.


"Kita akan menikah, itu keputusanku" Pungkas Adam dengan nada menegaskan. "Mau tidak mau, kita harus bertemu, dan nanti sore aku akan ke rumah sakit menemuimu"


Adam tampak menjeda sejenak untuk mengambil nafas. "Kita ketemu di sana. Nanti ku kabari lagi. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2