
Prilly yang hanya memakai lingerie tipis, langsung menyambar long coat lalu mengenakannya. Setelah itu, barulah dia meraih kunci mobil, sama seperti yang Adam lakukan sebelum keluar kamar. Wanita itu lantas menyusul langkah Adam yang terarah menuju garasi.
Tak memperdulikan teriakan Prilly, Adam terus melangkah hingga langkahnya sampai di samping pintu mobil bagian kemudi. Pria itu langsung memasuki mobil dan meluncur ke apartemen Dinda setelah sang satpam membukakan pintu gerbang.
Saat gerbang baru tertutup setengahnya, si satpam mendengar suara klakson yang berasal dari mobil nona mudanya. Otomatis pria itu kembali membuka gerbang lebar-lebar.
"Adam mau kemana?" Gumam Prilly sambil terus mengikuti mobil suaminya. Matanya tak teralihkan barang sebentar.
Adam yang tengah mengemudi, pikirannya bercabang antara menahan gejolak yang terus naik, dan fokus dengan jalanan ramai yang sedang ia lalui.
Sementara Prilly, masih terus bermonolog dengan spekulasi-spekulasi yang ia buat sendiri.
"Sebenarnya obat apa yang sudah ku masukkan itu? pertama Adam justru tidur, dan kedua dia malah kabur"
"Bukankah seharusnya obat itu akan bereaksi setelah sepuluh hingga lima belas menit? apalagi kalau langsung di pancing dengan sentuhan-sentuhan kecil"
Dengan perasaan was-was Prilly terus mengekor di belakang mobil sang suami, jantungnya seakan mencelos dan tubuhnya bergetar hampir di waktu yang bersamaan. Takut jika obat yang ia masukkan justru obat lain yang bisa membahayakan nyawanya.
Dengan jarak yang di yakini tak akan pernah Adam sadari, tiba-tiba sepasang mata Prilly melihat mobil suaminya berbelok ke kawasan apartemen mewah dan berkelas.
"Apartemen Luxury Diamond?" Prilly merendahkan kecepatan dan menghentikan laju kendaraanya saat mobil Adam berhenti karena terhalang besi panjang.
Sedetik kemudian ia mendapati tangan Adam terulur lewat kaca mobil lalu menekan tombol. Setelah mobil Adam benar-benar memasuki area pintu masuk hunian mewah berlantai tiga
puluh, barulah Prilly kembali melajukan mobilnya. Ia melakukan hal yang sama. Menekan tombol hijau dan secara otomatis besi panjang itu terangkat. Mobil pun bisa masuk ke area apartemen.
"Apartemen siapa?" persekian detik jantung Prilly bertalu-talu dan seperti akan meledak.
"Kenapa Adam kesini? dia selingkuh?"
Dari kejauhan Prilly menangkap suaminya turun dari mobil kemudian dengan setengah berlari pria itu memasuki sebuah tower.
Reflek sepasang netranya melirik ke atas.
Green Diamond Tower?
Menghela nafas panjang, berulang kali Prilly menelan ludah dengan di iringi rasa penasaran yang terus bergelayut.
Apa maksud tujuan Adam kemari?
Apa dia memiliki apartemen?
Sepertinya tidak, kalau dia punya apartemen, dia nggak akan mengontrak rumah kecil. Lagi pula, mana mungkin Adam membeli apartemen semewah ini. Apartemen dengan harga di atas lima milyar.
Tapi mungkin saja bagi Adam bisa memilikinya, dia itu orangnya selain irit bicara, irit senyum, juga irit duit.
Tapi dia nggak pernah menyinggung soal ini selama pacaran bahkan setelah menikah denganku.
Dia berselingkuh? Dengan Dinda?
Aah sepertinya bukan, nggak mungkin dokter pelakor.
Apa selain Dinda, kamu juga ada selingkuhan lain?
Tapi kali ini siapa wanita itu?
Aku benar-benar bingung.
Apapun itu, kamu brengsek Adam.
Dan aku yakin pasti selingkuhannya yang akan meyelesaikan masalah Adam.
__ADS_1
Ahh kurang ajar, kamu main-main di belakangku, Dam!
Refleks, tangan Prilly mengepal kuat.
Ia kemudian teringat ucapan Adam yang tidak mau menyentuh wanita dengan tanpa ikatan pernikahan.
Dia kan takut dosa.
Atau jangan-jangan Adam punya istri selain aku?
Jantung Prilly benar-benar berdegup sangat kencang. Kepalanya menggeleng, lalu kembali bermonolog dalam hati.
Adam bukan pria seperti itu, dia tidak mungkin menikahi wanita lain saat statusnya sudah menikah. Adam bukan pria pengkhianat.
Semoga saja obat yang ku campurkan itu bukan obat perangsang.
Merasa tak ada gunanya berada di sana, dia juga tidak mungkin masuk karena tidak memiliki akses untuk memasuki apartemen bergaya luar negri itu, akhirnya Prilly memilih pergi, ia berniat mencoba obat itu karena rasa penasaran yang begitu ingin tahu.
Sedangkan Adam, ia langsung memasuki unitnya di lantai dua belas.
"Assalamu'alaikum?"
Dinda tak menyahut, sebab ia berada di kamar dengan pintu tertutup. Dia juga sedang fokus berkutat di depan laptop.
Begitu pintu kamar terbuka, Dinda yang merasa tak tahu apa-apa sempat tersentak karena kemunculan Adam yang mendadak.
"Mas" wanita itu memutar kursinya, lalu berdiri.
"Din"
Tanpa aba-aba, Adam langsung memakan bibir Dinda.
Wanita itu hanya pasrah dengan raut bingung. Ia bahkan mengerutkan kening dengan fokus yang terbagi.
Pagutannya terurai, kemudian diam saling menatap. Tanpa mengatakan apapun Adam kembali menempelkan bibirnya, menyapu dengan lembut bibir wanitanya.
Perlahan, ciuman Adam kian dalam setelah Dinda reflek membalas ciumannya.
Ketika nafas mereka hampir habis, Adam melepas pagu*tannya. Dengan napas terengah ia menatap wajah Dinda penuh intens.
"Ada apa?" lirih Dinda tak mengerti.
Tanpa memberikan jawaban, tiba-tiba Adam membopong dan membawa Dinda ke atas tempat tidur.
Ada banyak tanda tanya yang memenuhi isi kepala Dinda, namun ia mencoba bersabar setidaknya sampai keinginan Adam terpenuhi___
Setelah sekian menit berlalu, Adam langsung bergerak merebahkan diri di samping Dinda usai aktivitasnya, kemudian menarik Dinda ke dalam pelukannya.
"Ada apa dengan mas?"
"Sepertinya Prilly mencampurkan sesuatu di teh yang dia buat" jawabnya kalem. Tangan kiri Adam melingkar di belakang punggung Dinda dan membuat gerakan mengusap.
Kepala Dinda yang salah satu sisinya menempel di dada Adam, reflek terangkat untuk menatap wajah pria yang berbagi selimut dengannya.
"Mencampurkan sesuatu?" Dinda mengernyit, kini ganti menempelkan satu telapak tangan di dada Adam dan menggunakan punggung tangan lain untuk menumpu dagunya.
"Mas merasakan hal yang sama seperti saat itu dek"
"Terus mas langsung ke sini?"
"Hmm" masih dengan mengusap punggung Dinda.
__ADS_1
"Terus, gimana reaksi Prilly pas mas kabur dari rumah?"
Sebelum menjawab, tangan Adam terjulur menuju kening Dinda. Menyelipkan juntaian rambut ke belakang telinga.
"Mas nggak tahu"
"Kok nggak tahu?"
Dinda menghela napas panjang, lalu bergerak memunggunginya. "Kalau dia ngikutin mas gimana?"
"Entahlah" Adam bergerak merapatkan tubuhnya dan melingkarkan tangan di perut Dinda dari arah belakang. "Mas jadi semakin bulat buat membongkar semuanya"
"Aku akan coba temui Zidan"
"Mas akan ikut denganmu"
"Jangan, nanti Zidan malah mencurigai kita ada hubungan. Kita pastikan dulu kalau dia ada di pihak kita"
"Kamu mau nemuin dia sendiri dek?" tangan Adam mengusap perut Dinda, bibirnya mengecup bagian tengkuk yang membuat Dinda reflek menggeliat karena efek geli.
"Kenapa memangnya?"
"Nggak apa-apa, cuma mau mengingatkan supaya jangan aneh-aneh"
"Aneh-aneh gimana?"
"Jaga hati, jaga pandangan. Jangan lama-lama natap wajahnya, takutnya nanti dia jatuh cinta sama kamu"
"Ish enggak mungkinlah"
"Lagian kenapa si dek, waktu itu kamu nolak Zidan untuk menggagalkan pernikahan mas dengan Prilly"
"Karena Prilly hamil, aku pikir itu anaknya mas, aku nggak mau berhubungan dengan kalian. Apalagi aku baru dapat pekerjaan. Takut kalau Prilly aneh-aneh lagi"
Hening, Dinda merasakan napas Adam menyapu batang lehernya.
"Mas jangan pulang malam ini"
"Kenapa?"
"Obat itu akan bereaksi empat hingga lima jam, pasti nanti mas akan kembali menginginkannya"
"Oh, ya?"
"Hmm"
Disaat Adam dan Dinda hanyut dalam obrolan mesra yang menghangatkan, di tempat lainnya Prilly yang berniat ingin mencoba obat itu, ia urungkan sebab tak mau ambil resiko dengan bayinya.
"Aku harus tenang, harus bisa bersikap seperti Dinda, meskipun di permalukan di depan umum, dokter pelakor itu tetap bisa mengendalikan emosinya, aku juga harus bisa seperti dia"
Saking frustasinya, wanita itu berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan agak tegang.
"Pertama-tama, aku akan menyelidiki sesering apa Adam mengunjungi apartemen itu, lalu apa lagi?"
"Apa aku harus mengikuti Adam ke kantor?"
"Sepertinya aku memang harus mengikuti kemana Adam pergi, dan aku perlu mobil lain agar Adam tidak mencurigaiku"
"Awas saja Adam, kalau kamu benar-benar berselingkuh dariku, aku akan membuatmu hancur"
Dia kemudian duduk di tepian ranjang.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan, selama ini bukan Dinda selingkuhan Adam, dia menjadikan Dinda hanya untuk mengalihkan perhatianku pada selingkuhan Adam yang sebenarnya"
Bersambung