Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Membujuk Pasien


__ADS_3

Keesokan harinya, Dinda melakukan aktivitas seperti biasa, selalu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. Karena Meta belum boleh melakukan aktivitas yang menguras tenaga, jadi Dinda harus pintar-pintar membagi waktu sebaik mungkin agar bisa bekerja sekaligus mengurus rumah dan mamahnya.


"Nanti pulang jam berapa nak?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Meta ketika sedang sarapan.


"Jam empat mah seperti biasa" Dinda lantas memasukkan sendok berisi nasi serta lauk ke mulutnya.


"Kalau pulang telat, beri tahu mamah ya Din, biar mamah nggak khawatir lagi kayak kemarin"


"Iya mah, maaf"


Karena kondisi Dinda kemarin, dia sampai pulang telat dan tidak mengabari Meta.


"Memangnya kemarin kamu kemana si, kok pulangnya telat?"


Pertanyaan kedua dari sang mamah, membuat jantung Dinda seketika berdebam.


"A-anu mah, kemarin aku ada operasi mendadak, jadi nggak sempat kabarin mama"


"Oh begitu"


Jantung Dinda benar-benar liar di dalam sana ketika teringat pergulatannya di atas ranjang bersama Adam kemarin. Dia bahkan sampai kewalahan menormalkan kembali detakannya.


Hingga selesai makanpun, detakan itu masih menyisakan rasa tak nyaman dalam dirinya.


"Mah, berangkat dulu ya" pamit Dinda setelah menelan kunyahan terakhirnya.


"Hati-hati ya sayang"


"Iya mah"


Meneguk minuman hingga habis, kemudian meraih tangan Meta untuk di kecup punggung tangannya.


"Assalamu'alaikum, mah"


"Wa'alaikumsalam sayang"


Dinda beranjak meninggalkan Meta yang masih menyelesaikan sarapannya setelah mengucap salam.


Sejujurnya, Dinda sangat takut atas apa yang akan terjadi di rumah sakit. Belum lagi jika hubungan itu menghasilkan tumbuhnya janin di dalam rahimnya. Dia bahkan tak bisa tidur hingga pukul dua dini hari sebab otaknya sibuk memikirkan ketakutannya.


Karena tak kunjung memejamkan mata, akhirnya semalam dia melaksanakan sholat malam hingga waktu subuh. Dan setelah sholat subuh, barulah dia bisa tidur. Tapi meskipun hanya tidur satu jam, Dinda merasa badannya lebih fres, padahal masih ada sedikit rasa nyeri di salah satu bagian tubuhnya.


Tenggelam dalam kecemasan dan ketakutan yang tidak bisa ia ketahui kedalamannya, tahu-tahu bis yang dia tumpangi telah sampai di depan rumah sakit.


Dinda menghela napas panjang, berharap masalahnya tak mengganggunya saat bekerja.


Baru saja duduk di kursi kerja, seorang suster memasuki ruangannya.


"Dok, ada pasien yang memaksa pulang hari ini"


"Pasien yang mana sus?"

__ADS_1


"Ini rekam medisnya dokter, pasien itu bernama Santi Rosmana ada di kamar teratai satu"


Suster itu memberi berkas catatan dan dokumen tentang pasien yang berisi identitas, pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan medis lain pada sarana pelayanan kesehatan untuk rawat jalan serta rawat inap, baik dikelola oleh pemerintah maupun swasta.


"Pasien ini baru tadi malam masuk rumah sakit kan sus, beliau rujukan dari puskesmas?"


"Betul dok, tadi malam terakhir di periksa oleh dokter Zaskia dan di dalam catatan kondisinya belum stabil, tapi pagi ini beliau merasa sudah enakan jadi langsung minta pulang"


"Pasien tidak bisa pulang hari ini sus, dia menderita Hypertensi Emergency, pagi ini tekanan darahnya masih tinggi"


"Tapi dia memaksa dokter"


"Dokter Zaskia bilang apa kemarin pas memeriksanya?" tanya Dinda dengan sorot serius.


"Dokter Zaskia bilang harus menunggu tekanan darahnya normal, baru bisa pulang"


"Benar itu" jawab Dinda. "Okey, saya yang akan membujuknya, temani saya suster" Dinda bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju kamar yang hendak di tuju.


"Selamat sore?" sapa Dinda ramah, lengkap dengan seulas senyum yang terukir di bibir.


"Selamat sore" jawab wanita yang menemani pasien.


Dinda berjalan mendekat, masih dengan senyum yang tertahan di bibir tipisnya. Saat langkahnya sudah berada di sisi ranjang sebelah kanan, Dinda memasang kedua alat pendengaran di telinga kanan dan kirinya.


"Saya periksa dulu ya bu" ucap Dinda lembut, lalu meletakkan diafragma di atas area jantung pasien, kemudian mulai mendengar detak jantungnya.


"Sus tolong tensi tekanan darahnya" perintah Dinda setelah dia selesai memeriksa.


"Bagaimana kondisi ibu saya dokter?" tanya wanita berusia sekitar tiga puluh tahun. Dinda langsung memusatkan pandangan pada sosok yang bersuara barusan, lalu tersenyum tipis. "Ibu saya terus meminta pulang karena tidak suka tinggal di rumah sakit, beliau juga sangat takut dengan jarum suntik"


"Sepertinya ibunya harus tinggal di sini selama beberapa hari bu"


"Dok ini hasil tensinya" si suster menyela.


Dinda melihat hasil tekannan darahnya sejenak kemudian kembali menatap pasiennya. "Bu, tekanan darah ibu masih sangat tinggi, ibu tidak bisa pulang hari ini"


"Tapi dokter, saya ingin pulang" Pasien bernama Santi memelas.


"Tapi ibu masih sakit, tunggu sampai ibu benar-benar sehat ya, kami akan merawat ibu disini"


"Saya sudah sehat kok dokter, dan setelah bertemu dengan putra saya, pasti saya akan langsung sembuh"


"Kalau begitu, bagaimana jika ibu suruh putra ibu yang menemani ibu di sini?"


"Dia sangat sibuk dok"


Dinda menekan bibirnya ke dalam.


"Sekarang begini" ucap Dinda dengan tenang. "Ibu nurut dulu sama saya, ibu minum obat dan makan teratur, besok jika hasilnya baik, ibu boleh pulang"


Ibu bernama Santi itu tampak bergeming sambil menatap wajah cantik Dinda.

__ADS_1


"Tinggal dulu di sini untuk beberapa hari saja ya bu, nanti kalau pulang sekarang, sampai rumah ibu pusing lagi, gimana?"


"Ya sudah dok, saya mau tinggal disini, tapi besok boleh pulang ya"


Dinda mengangguk. "Kalau ibu nurut sama dokter, sama suster, pasti ibu akan segera sembuh, dan akan segera pulang ke rumah"


"Iya dokter, terimakasih"


"Baik, saya tinggal dulu ya bu, nanti insya Allah ketemu lagi dengan saya"


"Iya dok"


"Saya permisi ya bu" Dinda beralih menatap putri dari pasiennya "Mari"


Akhirnya, setelah membujuknya, Si pasien bersedia tinggal di rumah sakit sampai dia pulih.


****


"Loh, Prilly, kenapa belum siap-siap ke kantor?" tanya Birawa saat memasuki kamar putrinya.


Prillya yang tengah berdiri di depan jendela dengan bersedakap, tak langsung merespon pertanyaan sang ayah.


"Ada apa nak, apa yang terjadi?" Birawa pura-pura tak tahu sambil lekat menatap wajah sang putri dari samping


"Ternyata ayah benar, Adam bukan pria yang baik, bukan pria yang setia yah" Prilly menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.


"Ada apa memangnya?"


"Selama ini ucapan ayah benar, mereka diam-diam masih menjalin hubungan, dan parahnya mereka sampai melakukan hubungan suami istri"


"Ayah bilang juga apa, Adam itu bukan pria baik-baik, tidak hanya sekali ayah melihat dia bersama wanita. Tapi berulang kali nak" Kata Birawa berdusta. "Dia sangat tidak pantas untuk putri cantik kesayangan ayah ini"


Mendesah pelan, Prilly menghela napas berat. "Untung saja kemarin ayah memintaku menghadiri meeting di hotel itu, kalau tidak, aku pasti tidak akan pernah tahu kebusukan mereka yah"


"Sudah, jangan kamu tangisi, pria seperti dia hanya rongsokan yang tidak ada harganya, sama sekali tidak sepadan denganmu, tidak pantas mendampingimu"


Birawa tersenyum puas penuh kemenangan. Seringai licik pun nampak jelas di raut wajahnya.


"Lebih baik putuskan hubunganmu dengannya, ayah tidak rela jika putri ayah satu-satunya di campakkan oleh pria model Adam"


"Sudah ku putuskan yah"


"Bagus nak" Dalam hati, Birawa berjingkrak kegirangan. "Lebih baik kamu terima perjodohan dari ayah dengan Zidan ya, karena hanya Zidan yang akan membuatmu bahagia, Dia itu pria baik, tak kalah tampan juga kok dari Adam, malah lebih tampan Zidan ketimbang Adam, dan tolong penuhi wasiat bundamu ya sayang"


"Baiklah yah, aku setuju bertunangan dengan pria pilihan ayah"


Birawa mengusap lembut belakang kepala Prilly sebelum kemudian kembali berucap. "Jangan pikirkan tentang si bajingan itu, lebih baik pergilah ke kantor, bantu ayah mengurus perusahaan"


Seraya menyalurkan udara ke paru-paru, Prilly mengangguk patuh.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2