
"Ayah menamparku?" Prilly menyentuh pipi bekas tamparannya.
"Iya, karena perbuatanmu sudah keterlaluan"
"Jadi ayah lebih membela wanita itu?"
"Kenapa memangnya? wanita itu juga darah daging ayah, dan kalaupun dia bukan anak ayah, ayah akan tetap membelanya"
Ucapan Birawa bagaikan sembilu yang menyayat hati Prilly. Bagaimana tidak, sosok ayah yang selalu ia banggakan, justru mengatakan langsung di hadapan dirinya bahwa dia lebih membela orang lain ketimbang putrinya sendiri.
"Apa aku tidak salah dengar, yah?"
"Apa kamu masih belum paham kalau perbuatanmu itu sudah di luar nalar, Prilly" sergah Birawa masih dengan kilat merahnya.
"Untuk kali ini ayah memaafkanmu, tapi jika kamu berani mencelakai Dinda, atau sedikit saja Dinda terluka karena ulahmu, ayah sendiri yang akan mengantarkanmu ke penjara"
Wanita itu tercengang mendengar perkataan sang ayah. Sama sekali tak percaya kalau dia mendapat ancaman dari pria hebatnya. Ayahnya sendiri.
"Perlu kamu tahu Prilly" kata Birawa sarkas. "Ayah yang sudah membayar Dinda untuk merayu Adam, ayah yang sudah memaksa dia untuk memisahkanmu dari Adam, jadi akan lebih tepat kamu menyalahkan ayahmu. Karena ayahmulah yang sudah mengancam Dinda saat dia menolak penawaran ayah"
Menelan ludah, embusan nafas yang keluar dari mulut Prilly jelas sekali terasa berat.
"Dia saudaramu" suara Birawa merendah. "Jangan kamu sakiti. Hanya pada saudara kita berbagi keluh kesah, hanya saudara sedarah yang akan kita mintai pertolongan suatu saat nanti, Prillya"
__ADS_1
"Asal ayah tahu, aku tidak akan pernah sudi berbagi keluh kesah dengannya, berbagi kebahagiaan, apalagi meminta pertolongan padanya. Itu tidak akan pernah terjadi, yah"
Lelaki itu tersenyum miring lengkap dengan gelengan kepala. "Ayah tidak percaya putri ayah seliar ini, seperti tidak punya perasaan, bahkan tak punya hati"
"Terserah" Prily langsung pergi dari hadapan ayahnya setelah mengatakan itu, sebab jika ini terus berlanjut, makan emosinya pasti akan semakin memuncak.
Sementara Birawa, reflek meneteskan bulir bening dari sepasang matanya.
"Apa ayah salah, jika ayah mengancam Prilly?" Birawa bergumam. "Ayah tidak tahu bagaimana meluruskan hati putri kita, bun"
Pria paruh baya itu mendadak merasakan nyeri yang begitu menusuk dadanya. Bahkan untuk mengambil napas saja rasanya sangat sulit.
Memejamkan mata, ia mendongak berusaha menahan laju air yang hendak meluncur.
Sekian detik berlalu, ponsel Prilly yang masih berada di tangannya, ia pakai untuk menghubungi orang yang menjadi pesuruh putrinya. Birawa akan membereskan orang itu agar rahasia mengenai kecelakaan Dinda tidak di ketahui oleh siapapun.
Setelah menghubungi pria itu, Birawa segera menghubungi tangan kanannya untuk mengurus dan menyerahkan uang lima puluh juta sesuai permintaan. Selain memberikan uang, Birawa juga membuat surat perjanjian agar jika pesuruh Prilly masih memerasnya dan membocorkan rahasianya, maka Birawa akan menuntutnya ke jalur hukum.
Dengan begitu, masalah mengenai pria yang menabrak Dinda pun bisa teratasi dengan mudahnya oleh Birawa.
****
Kepulangan Dinda dari rumah sakit di sambut oleh bapak dan ibu mertuanya serta kakak dan keponakan dari Adam. Meta yang juga menjemput Dinda di rumah sakit, ikut pulang ke apartemennya.
__ADS_1
Hampir satu bulan dia tidak menempati apartemen, tak ada yang berubah satupun. Soal kebersihan dan kerapihan pun tetap sama, sebab Adam selalu membersihkan rumah mereka.
"Welcome ate Dinda"
"Thankyou sayang" Dinda sedikit merunduk mengecup pipi keponakannya.
"Alhamdulillah nak, akhirnya bisa pulang" Ucap santi yang langsung di balas pelukan oleh Dinda setelah mengecup punggung tangannya.
"Alhamdulillah umi, makasih doanya" mereka saling mengusap punggung lawannya.
Selang sekitar satu menit, Giliran punggung tangan Hasan yang Dinda kecup.
"Barokallah, nak. Kita bisa berkumpul kembali"
"Makasih doanya ya, abi"
"Tidak perlu berterimakasih, orang tua wajib mendoakan anak-anaknya"
Dinda dan Hasan kompak tersenyum. Di sisi lain, Adampun mengecup punggung tangan orang tuanya. Begitu juga dengan Meta yang saling sapa dengan besannya.
Adam membawa Dinda ke kamar. Tadi di perjalanan pulang, Dinda mau langsung mandi sebab saat mandi di rumah sakit, dia merasa kalau airnya tidak senyaman air di rumahnya. Entah itu hanya perasaan Dinda sendiri atau memang semua orang merasakan hal yang sama jika tinggal di rumah sakit.
Detik itu juga Dinda merasakan betapa tidak nyamannya rumah sakit, itu sebabnya dia kerap sekali mendengar keluhan para pasien yang merasa tidak betah tinggal di gedung yang seluruh sudutnya nyaris tak lepas dari bau obat
__ADS_1
Bersambung