
"Maukah kamu memaafkanku, kak!"
Adam dan Dinda saling pandang satu sama lain. Benar-benar di luar dugaannya Prilly akan meminta maaf begini.
"Maafkanlah atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Jujur, hidupku tidak tenang setelah aku melahirkan, aku sudah terlalu banyak menyakitimu"
Wanita itu mengatakannya penuh sesal. Pandangannya jatuh pada tangan yang saling meremat di atas pangkuan.
"Aku akan melakukan apapun agar bisa mendapatkan maafmu" Lanjutnya dengan sungguh-sungguh.
"Aku menyesal, kak"
"T-tapi Pril_"
"Apa kakak nggak mau memaafkanku?" Prilly mengangkat pandangan untuk mencari netra Dinda.
"A-aku sudah memaafkanmu"
"Satu lagi kak" kata Prilly, membuat kedua alis Dinda menukik tajam.
"Aku yang sudah membuat kakak celaka"
"Maksud kamu?" Dinda tak paham.
"Aku sudah menyuruh orang buat nabrak kakak"
"Apa?" Adam langsung bangkit dari tempat duduknya dengan wajah memanas.
Sementara Birawa, Dinda beserta Prillya kompak mendongak menatap Adam.
"Jadi kamu yang sudah membuat istriku koma?" tanya Adam. Gelegak emosinya kian naik.
"Mas" Dinda menenangkannya dengan mengusap lengan Adam. "Tenang mas"
"Tenang kamu bilang, Din? kamu hampir tiada gara-gara dia" tangan Adam menunjuk Prilly yang ada di depannya.
"Duduk, mas!"
Perintah Dinda di abaikan oleh Adam.
"Ayo duduklah" pintanya sekali lagi.
"Sabar mas"
Adam kembali duduk dengan dada yang naik turun menahan gejolak amarah yang terus memuncak.
"Keihklasan kita sudah di ganti sama bayi, mas ingat ucapan mas waktu itu kan?" Dinda berbisik.
"Tapi Din_"
"Please, mas!"
Pria itu mendesah lirih, lalu mengarahkan pandangan pada Prilly dengan tatapan tak suka yang kini sedang sesenggukan.
Dulu Adam memang mencintainya, tapi entah kenapa cinta itu berubah menjadi kebencian.
__ADS_1
Tentang kecelakannya, Dinda tak ingin bertanya lebih dalam kenapa Prilly melakukan hal itu, yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah kebahagiaan karena kehamilannya. Suasana hati yang sedang berbunga-bunga itu tak ingin di rusak oleh hal apapun termasuk soal kecelakaan yang menimpa dirinya.
"Aku maafkan semua perbuatanmu, Prilly! kita lupakan semua apa yang sudah terjadi di antara aku, mas Adam dan juga kamu"
"Benar, kak?"
"Iya" sahut Dinda sembari mengangguk.
"Mulai sekarang kita bisa hidup dengan keluarga masing-masing. Kamu dengan suami dan anakmu, begitu juga denganku"
"Ta-tapi kak, aku mau kita hidup sama-sama, ayahku ayahmu juga"
"Aku sudah merebut mas Adam darimu, aku nggak mau merebut ayah dan hartamu juga"
"Bukan itu maksudku kak"
"Apa maksudmu, Din?" sama halnya Prillya, Birawa juga terkejut atas kalimat yang meluncur dari mulut Dinda.
"Hiduplah bahagia dengan keluargamu termasuk ayahmu" Dinda tersenyum. "Hiduplah dengan tenang tanpa rasa bersalah, aku sudah memaafkanmu"
"Tapi aku mau kamu juga mengiringi perjalanan hidupku, aku mau kita jadi satu keluarga"
Tampak sekali gurat kesungguhan di raut wajah Prilly.
"Dengan begitu, aku akan lebih tenang kak"
"Din, mari kita tutup buku yang lalu, kita buka lembaran baru bersama-sama. Apa kamu tidak mau hidup dengan papah kandungmu?"
Suara itu keluar dari mulut Birawa. "Hubungan darah itu sangat kental, Din. Mantan istri atau mantan suami itu ada, tapi apa kamu pernah dengar ada mantan orang tua ataupun mantan anak?"
"Kak, aku janji tidak akan membuat hidupmu berantakan lagi seperti waktu itu. Aku janji akan menyayangimu layaknya adik kakak pada umumnya"
Lalu hening hingga beberapa detik.
"Mas" Dinda menoleh ke arah suaminya, bermaksud minta pendapat atau saran darinya.
"Terserah kamu, Din. Apapun keputusanmu mas akan mendukungmu, biar bagaimanapun pak Bi dan Prilly adalah keluargamu"
Menarik napas panjang, helaannya terasa begitu berat. Dinda merasa sedang berada di zona yang baginya sangat membingungkan.
Satu sisi, dia tak ingin berhubungan lagi dengan Prilly dan Birawa, tapi di sisi lainnya, hubungan mereka ternyata begitu kuat.
"Dek" Tangan Adam melingkupi punggung tangan Dinda, kemudian menautkan jari-jari mereka.
"Aku bingung mas"
"Bingung kenapa? mereka keluargamu, biar bagaimanapun, kita memang tidak boleh memutus hubungan darah, iya kan?"
Dinda mengangguk.
Selang beberapa saat, Dinda lantas menyerukan suaranya.
"Kita jalani seperti ini dulu ya Pril, pak Bi. Aku mau kita berhubungan secara tidak langsung dulu. Maksudnya lewat telfon atau chat, begitu"
Prilly serta Birawang saling pandang, sebelum kemudian mengangguk setuju.
__ADS_1
"Aku setuju Din, tapi dengan satu syarat" ujar Birawa. "Kamu harus panggil aku papa, dan biar kita lebih akrab lagi, ayah akan buat Wa Group khusus untuk kita bertiga. Kita bisa saling memberikan perhatian melalui pesan group yang ayah buat. Sedikit demi sedikit ayah yakin nanti rasa canggung di antara kita pasti akan sirna"
Mendengar syarat Birawa, Dinda kembali menoleh ke samping kanan "Gimana mas?"
"Nggak apa-apa, sayang. Mungkin ini sudah menjadi takdirmu"
"Baiklah, aku setuju"
Prilly dan Birawa tersenyum. Harapannya semoga dengan cara seperti itu, hubungan mereka akan terbiasa, mereka akan sering bertemu setelah saling bertukar perhatian melalui pesan singkat. Dan dari situlah mereka akan saling menyayangi.
***
Kabar kehamilan Dinda sudah menyebar di kalangan keluarga, rekan kerja Dinda di rumah sakit, juga rekan kerja Adam di tempat kerjanya. Mereka kompak mengucapkan selamat pada Dinda serta Adam.
Setelah bersabar hampir satu tahun, akhirnya kebahagiaan mereka nyaris sempurna dengan kehadiran anak yang akan lahir dalam waktu sembilan bulan kemudian.
Baik dari Umi dan mamahnya, mereka kerap sekali memberikan wejangan pada Dinda untuk menghindari hal-hal yang di anggap pamali menurut orang jawa.
Seperti kali ini, entah kenapa semenjak hamil, Dinda begitu membenci Prilly. Tentu saja kebenciannya hanya dia dan sang suami yang tahu. Dia menyembunyikan kebenciannya dari semua orang.
Dari luar, Dinda tampak biasa saja, tapi dari lubuk hatinya, dokter cantik pelakor itu suka mengolok-olok Prilly seperti misalnya mengikuti logat dan gaya bicaranya.
"Mas tahu nggak, tadi pas dia nemenin aku beli susu hamil, dia tuh sok ngatur gitu" kata Dinda sembari menikmati potongan mangga. "Pokoknya beli yang premium kak, aku ngak mau keponakanku itu kekurangan gizi, kakak juga harus menjaganya baik-baik, and bla bla bla bla" tambah Dinda sambil menirukan gaya bicaranya.
"Bencinya jangan kelewat batas dek, nanti anaknya jadi kayak Prilly loh" Adam mengumpulkan kulit mangga yang baru ia kupas lalu membuangnya di tong sampah. "Contohnya mbak Ulva, pas hamil Della, dia benci banget sama Ci*ta Laura, apalagi dengan caranya ngomong yang sok inggris, sekarang anaknya jadi kayak dia, baik dari segi rambut Della yang ngikal-ngikal, cengkok bicaranya sama bibirnya di menceng-mencengin gitu"
"Ah, nggak terima aku kalau anakku mirip dia"
"Makannya jangan terlalu membencinya"
"Aku juga nggak mau benci sama Prilly. Biar bagaimanapun kan dia udah baik, benar-benar sudah berubah. Tapi itu di luar kendali mas"
"Kalau begitu siap-siap anak kita akan meniru tingkah tantenya"
"Ih janganlah"
Adam terkekeh melihat raut panik di wajah Dinda.
"Terus gimana sekarang hubunganmu, pak Birawa dan Prilly?"
"Udah baik, aku juga udah terbiasa panggil dia papah"
"Tadi siang juga mas ketemu pak Bi, mas panggil dia pak, kadang kelupaan panggil ayah, tapi dia nyuruh mas buat panggil dia sama seperti kamu memanggilnya papah"
"Terus mas gimana? mau panggil papah?"
"Ya gimana lagi, dia maksa, dan pada kenyataannya pak Bi papah dari istri mas, mau nggak mau ya harus panggil dia papah"
"Maaf ya, masa laluku nggak jelas"
"Ngomong apa kamu, dek?"
"Papah yang merawatku sejak bayi, ternyata malah bukan papah kandungku, aku juga anak di luar nikah_"
"Ssttt, apapun kamu, mas terima apa adanya. Jangan ungkit masa lalu terus, okay"
__ADS_1
Bersambung