
Adam langsung pulang setelah mengantar Dinda ke rumahnya, dia hanya menyapa Meta sebentar kemudian berpamitan.
Sedikit banyak, Dinda bisa bernapas lega karena pertemuannya dengan orang tua Adam berjalan dengan lancar. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur karena setidaknya orang tua calon suaminya, Santi dan Hasan menerima Adinda dan bahkan menyukainya.
Tapi Ulva??
Tadi, saat Hasan dan Santi ijin untuk sholat isya, sedangkan Adam dan Ferry yang tak lain adalah kakak ipar Adam serta Della sang keponakan pergi ke kebun yang ada di belakang rumah, Dinda di tinggal dan hanya duduk berdua dengan Ulva di ruang tamu.
Ulva tahu soal hubungan Dinda dengan Adam yang terbilang cukup mengejutkan. Wanita itu bilang, kalau Dinda sudah merebut Adam dari Prilly, dia juga mengatakan bahwa Dinda sudah menjadi pelakor dan orang ketiga dalam hubungan adik dan kekasihnya yang kaya raya itu. Tentu saja Ulva mengetahuinya dari Prilly beberapa hari lalu sebelum dia memblokir semua kontak keluarga mantan kekasihnya. Karena sudah terlanjur sakit hati, seolah Prillya enggan untuk berhubungan lagi dengan keluarga Adam yang jauh lebih rendah derajatnya di banding dirinya.
Duduk termenung di dalam kamar, tiba-tiba obrolan dengan Ulva terlintas di ingatan Dinda.
"Kenapa merebut Adam dari Prilly Din? kamu itu berhijab loh, nggak pantas ah rebut-rebut pacar orang" kata Ulva dengan nada ketus. "Padahal mereka nyaris bertunangan, tapi karena kamu masuk ke dalam hubungan mereka, jadi kandas kan kisah mereka yang sudah terjalin hampir dua tahun"
"Mbak Ulva tahu dari mana aku merebut mas Adam dari Prilly?" tanya Dinda ingin tahu.
"Kamu buta, Din? beritamu tentang pelakor loh sempat viral. Untung saja Abi dan Umi nggak tahu kalau kamu dapatin Adam dengan cara merampas dari Prilly"
"Tapi Prilly sudah akan bertunangan dengan pria lain mbak, lagi pula ayahnya Prilly tak merestui hubungan mereka" Adinda berusaha mencari pembenaran.
"Kamu nggak tahu, kalau mereka sedang berusaha mendapatkan restu orang tuanya, kalau saja kamu nggak masuk kedalam hubungan mereka, aku nggak akan kehilangan calon adik ipar yang kaya raya itu"
"Asal kamu tahu Din, Prily itu, kalau datang kesini bawain banyak oleh-oleh buat kami sekeluarga, suka membelikanku tas, baju, dan barang-barang lainnya" Lanjutnya yang membuat kedua alis Dinda menukik tajam.
"Tapi bukan hanya itu kok mbak. Banyak alasan yang membuat mereka harus berpisah, terutama soal wasiat ibunya" Ujar Dinda sewajar mungkin. Khawatir kalau Ulva akan tersinggung.
"Halah, kamu pelakor ya pelakor aja Din, nggak usah membela diri. Yang namanya mencuri, apapun alasannya tetap saja salah. Nggak tahu malu nyusup-nyusuk ke rumah orang, terus ngrampok suaminya"
Hening, Dinda mengerutkan kening melihat dan mendengar betapa ketusnya wanita di hadapannya itu.
"Aku beri tahu ya! pelakor itu, ibarat orang kemana-mana pakai baju curian. Memangnya kamu nggak malu gitu, pakai baju hasil nyuri?"
Wanita itu seakan mengejek.
"Padahal aku berharap Prilly lah yang jadi adik iparku, eh nggak tahunya dokter bermuka tembok"
"Terserah mbak Ulva saja, yang jelas mas Adam lebih memilihku dari pada Prilly"
"Ya itu karena kamu pinter ngerayunya" sergahnya cepat. "By the way kamu nggak ada niat buat rebut suamiku kan?"
"Astaghfirullah mbak"
"Halah sok suci"
"Kalian ngobrolin apa? kelihatannya kok serius?" tiba-tiba Santi datang.
"Ngobrol biasa aja bu, iya kan Din?"
"Iya bu" sahut Dinda singkat.
__ADS_1
Dinda mengerjap sambil menggelengkan kepala teringat sikap Ulva padanya.
Dari semua perkataan Ulva, Dinda menilai jika wanita itu memiliki sifat egois dan matre. Hanya mementingkan dirinya sendiri. Sepertinya, dia tidak tahu kalau sang adik sering sekali mendapat perlakuan buruk dan cacian dari Prilly, dan juga Birawa. Sang kakak seperti tidak rela kehilangan segala kemewahan yang sering di berikan oleh Prilly untuknya. Jelas dia wanita matre karena takut kehilangan calon adik ipar yang kaya raya.
Dinda memastikan jika semua obrolan antara dirinya dengan Ulva hanya dia yang tahu. Dokter itu sama sekali tidak berniat mengadukan sikap Ulva pada siapapun apalagi sama Adam.
"Biarlah dia dengan segala asumsinya, yang penting mas Adam nantinya bisa percaya padaku. Jika mbak Ulva berani mengusik rumah tanggaku, barulah aku membicarakan pada mas Adam" gumam Adinda dengan tatapan sepenuhnya ke layar laptop.
"Gimana tadi pertemuan kalian, din?" Tiba-tiba, sang mama masuk ke kamarnya, Dinda langsung melipat laptop yang ada di atas pangkuan.
"Ya gitu mah, orang tua mas Adam baik, mereka menyukaiku"
"Tidak mempermasalahkan soal kamu yang udah nggak punya papa kan?"
"Enggak" jawab Dinda cepat.
"Syukurlah, mamah lega Din"
"Insya Allah secepatnya mereka akan datang untuk membahas pernikahanku dengan mas Adam, mah"
"Secepatnya? kapan itu" Meta seperti terkejut.
"Hmm, nanti di kabarin lagi"
"Ya sudah kalau memang sudah menjadi keputusan yang bulat"
"Bagus tuh si Adam, lebih baik di percepat daripada timbul fitnah, dan kalian zina, naudzubillah"
Dinda terdiam dengan raut gelisah. Benar-benar tertampar saat mendengar ucapan sang mamah. Detik itu juga dia beristighfar dalam hati saat kembali mengingat penyatuan haram tubuhnya dengan tubuh Adam. Persekian detik Dinda kembali terheran dengan ulah Birawa yang sudah memasukkan bubuk perangsang ke dalam makanan mereka. Sayangnya, Dinda tak memiliki keberanian untuk mengatakannya pada Adam, karena sebagian rencana itu Adinda juga ikut terlibat. Hanya saja dia tak tahu menahu soal obat perangsang itu.
Ini akan menjadi rahasia besarku. Batin Dinda dengan tarikan napas pelan.
"Mamah senang, bisa lihat kamu menikah?"
"A-apa mah?" tanya Dinda sebab dia tak begitu jelas mendengar ucapan mamahnya.
"Mamah senang bisa melihat kamu menikah, nak?" ulang Meta. "Mamah kira nggak akan bisa merasakan hari bahagiamu, Din?"
"Mamah ngomong apa, bahkan mamah akan merasakan bagaimana main-main dengan cucu nanti"
"Aamiin, semoga saja ya Din?"
"Tentu dong mah" Bersamaan dengan jawaban Dinda, ponselnya di atas meja berkedip tanda panggilan masuk.
Otomatis Dinda dan Meta langsung mengarahkan atensinya ke arah nakas. Ssaat netranya menangkap nomor tak di kenal muncul di layar ponsel, secara reflek keningnya mengerut.
"Kamu angkat telfonnya, mamah mau istirahat dulu"
Mengalihkan pandangan menatap sang mamah, Dinda lantas mengangguk.
__ADS_1
Karena tak ingin menahan rasa penasaran, Dindapun segera mengangkat telfon setelah sang mamah benar-benar keluar dari kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Assalamu'alaikum?"
"Kumsalam, pelokor" Ketusnya sinis.
"Siapa ini?" tanya Dinda lembut.
"Jadi sudah di ajak ke rumah Adam? menemui orang tuanya?"
"Prilly?
"Ckk... Belajar jadi pelakor dimana si? sukses banget ngerebut calon tunangan orang"
Dinda yakin pasti Ulva yang sudah memberitahu Prilly kalau Adam sudah memperkenalkannya pada keluarga, atau bisa jadi informan Birawa yang sudah mengawasinya hingga mereka mengikuti kemana Dinda pergi.
"Hey, pelakor busuk, kamu budek?"
"Maaf Pril, aku sibuk"
"Sibuk apa hah? Oh ya aku lupa kalau aku bisa saja mencabut ijin praktekmu di Herquina Hospital"
"Apa maksud kamu Prilly?"
"Maksudku, sebentar lagi kan aku menikah dengan Zidan, dan kamu siap-siap saja hengkang dari rumah sakitku"
"Apa maumu?"
Terdengar gelak tawa Prilly dari sebrang telfon.
"Siapa kamu? bertanya apa mauku, kamu hanya wanita murahan yang berani meniduri kekasih orang lain, ingat itu. Aku bisa membuat hidupmu dan pacar hasil ngerampasmu menderita"
"Kamu mengancamku?" tanya Dinda berusaha tenang.
"Aku tidak hanya mengancam, tapi itulah yang akan aku lakukan padamu dan mantan kekasihku, aku pasti bisa membalas rasa sakit hatiku pada kalian, paham!"
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Tidak etis kalau aku memberitahumu sekarang"
Tak ingin meladeninya, Dinda memutus panggilan secara sepihak dan tanpa mengucap salam.
Mendesah pelan, wanita itu memejamkan mata untuk sejenak menenangkan pikiran.
"Ada begitu banyak masalah, akan seperti apa rumah tanggaku nanti?"
Tenggelam dalam penyesalan, Dinda bahkan nyaris tersedak salivanya sendiri. Detik berikutnya, Ia meletakkan ponsel serta laptop di atas nakas dengan perasaan was-was.
BERSAMBUNG
__ADS_1