Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Kemarahan Birawa


__ADS_3

Saat Dinda masih memeluk suaminya, tiba-tiba terdengar suara decitan pintu terbuka. Sosok Meta muncul sambil membawa parcel buah.


"Maaf, Dam... mama telat datang" Meta kembali menutup pintu.


"Nggak apa-apa mah, aku memiliki banyak waktu buat nemenin Dinda" Mereka saling melepas pelukannya.


Ketika langkah Meta kian dekat, ia menyadarai mata sang putri yang nampak sembab.


"Loh, nak, kamu kenapa? kamu habis nangis?"


"Enggak/iya mah"


Dinda menjawab tidak, bersamaan dengan Adam yang menjawab iya, dan itu membuat alis Meta menukik tajam.


"Wah, kalian nggak kompak" Meta menimpali jawaban anak dan menantunya.


"Apaan si mas"


"Kamu memang habis nangis kan?"


"Ya nggak harus mamah tahu kan?"


"Bohong dosa kan?


"Tapi kan_"


"Stop anak muda" potong Meta cepat. "Kalian ini kok kayak ABG si"


Reflek Dinda mencubit pinggang Adam.


"Kenapa kok nangis?"


"Ini mah_"


"Mas,,," Dengan cepat Dinda memenggal kalimat Adam, yang di pastikan akan menceritakan soal Prilly yang datang mencaci makinya. "perlu ngasih tahu mamah?"


"Jangan sembunyikan apapun dari mama, Din" Tatapan Meta menyorot tajam.


"Mamah juga menyembunyikan sesuatu dariku" Lirih Dinda menunduk.


"Istrimu ngomong apa si Dam?" Meta melirik Adam Sejenak.


"Jadi tadi Prilly datang mah, dia mengatakan soal Birawa"


"J-jadi kamu sudah tahu, Din?"


Dinda mengangguk dengan bibir terkatup.


Meta langsung melangkah lebih dekat, kemudian duduk di tepian ranjang tepat di samping Dinda.


"Maafin mamah ya, Din, mamah sembunyikan ini dari kamu"


"Sebenarnya aku marah, mah. Tapi nggak di bolehin sama mas Adam. Tapi pernikahanku sama mas Adam sah kan mah?"


Mendengar pertanyaan Dinda, Adam dan Meta saling mempertemukan pandangan.


"Kenapa kamu tanya seperti itu, nak?"


"Aku dalam kandungan sebelum mamah menikah, itu artinya aku nggak ada nasab kecuali nasab mamah, lantas saat ijab qobul gimana?"


"Mamah minta ustadz Zaki menyebut nama almarhum kakek Santoso sebagai walimu nak"


Dinda yang memang berada di ruang berbeda saat Adam melafazkan ijab, tak mendengar bahwa nama sang kakeklah yang di sebut.


"Nggak usah melow dek"


"Iba aja sama nasibku sendiri, mas"


"Sekali lagi, mamah minta maaf ya, Din. Mamah sudah membuatmu menderita, demi mamah, kamu terpaksa menggoda Adam"


Seketika ingatan Dinda mengulas saat pertama kali bertemu dengan Birawa yang memberikan penawaran.


"Bahkan nyawaku sekalipun akan aku korbankan buat mamah"


"Kamu memang anak mamah yang baik, yang kuat. Mamah beruntung punya kamu" Meta membawa Dinda ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Jangan kamu fikirkan semua celaan Prilly, biar bagaimanapun, dia adikmu. Jika Prilly emosi, atau marah, jangan kamu balas dengan amarah juga ya! nanti nggak akan selesai konflik kalian"


"Iya mah"


"Apapun yang dia katakan, kamu hanya perlu menunduk lalu melenggang dan tinggalkan dia. Jangan di ambil hati, yang terpenting kamu dengan suamimu baik-baik saja"


"Iya" balas Dinda sendu.


"Kalian sudah makan, Din, Adam?"


"Dinda sudah, aku belum mah"


"Ya sudah kamu makan dulu di kantin, biar mama yang jagain Dinda"


"Aku sudah beli tadi" Adam berjalan menuju sofa yang ada di dalam bangsal. Tadi ia meletakkan makanannya di meja itu.


****


Sudah hampir sebulan Dinda terbaring lemah di rumah sakit. Perlahan saraf motoriknya sudah bisa memerintahkan kakinya untuk bergerak sedikit demi sedikit


Dengan ketelatenannya menggerakkan kaki, dia sudah bisa berjalan, dan sudah beberapa hari ini dia mondar-mandir ke kamar mandi tanpa bantuan siapapun.


Mengenai luka di kepala dan perut bagian bawah, meski perlahan pun mulai membaik.


Sementara selama di rawat, Ben, Kellen, Eve serta beberapa rekan kerja, datang silih berganti untuk menjenguknya. Ada juga dokter Zaskia yang sampai saat ini masih bekerja di Harquina menyempatkan diri untuk datang membesuknya.


Dan hari ini, dokter itu sudah di izinkan pulang. Dinda hanya perlu menunggu waktu sampai jam menunjukan pukul empat sore, menanti Adam pulang kantor lalu menjemputnya.


Saat Dinda tengah mengemasi pakaiannya, tiba-tiba ada yang bersuara dari arah pintu.


"Selamat Siang, dokter Dinda!"


Spontan, Dina pun memusatkan netranya ke sumber suara berasal.


"P-pak Birawa!"


Selama di rumah sakit, Birawa memang belum sempat menjenguknya. Terakhir saat Dinda baru sadar dari komanya.


Dia yang seorang pebisnis luar biasa dan sukses, jadwalnya nyaris full keluar negri sepanjang tahun, sedangkan putrinya yang membuat putri lainnya celaka, selama ini selalu tinggal dengan ART sejak kecil. Tak ayal sifat Prilly tak sebijak dan sedewasa Dinda, karena memang dia jarang sekali mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Namun untuk masalah uang, dan apapun yang Prilly mau, pasti tak lama akan dia dapatkan.


"Apa kabarmu, dokter Dinda?" tanya Birawa, melangkah mendekat. Pria itu datang ke rumah sakit di sela-sela istirahat makan siang.


Entah kenapa, Dia menjadi begitu segan terhadap Birawa, bahkan suasana mendadak canggung bercampur tegang.


Andai saja ada Adam atau Meta, mungkin situasinya tak akan sesungkan ini.


Sunyi, mereka sama-sama tidak bersuara. Birawa yang terus menatap sang putri dengan raut bersalah, merasa sangat menyesal teringat apa yang sudah dia lakukan terhadap putri kandungnya itu.


"Dokter, Dinda!" ragu-ragu Birawa memanggilnya.


"Panggil saya Dinda"


"Oh_ iya, Dinda"


Pria itu berdehem, lalu mengusap tengkuknya pelan.


"Maafkan saya, dokter Din_" Birawa menjeda sejenak. "Dinda maksud saya"


Hening...


"Maaf untuk semua perbuatan saya" Katanya lagi.


"Saya sudah memaafkannya"


Kembali hening, kali ini agak sedikit lama.


"Kamu sudah tahu kalau saya adalah papah kandungmu, bukan?"


Selama ini, Birawa hanya mendengar cerita dari Meta, mengenai kondisinya yang perlahan membaik, tentang Prilly yang datang mengolok-olok Dinda, semua Birawa mengetahuinya. Karena selama ini, Birawa dan Meta kerap sekali mengobrol walau hanya lewat telepon.


Dinda mengangguk merespon kalimatnya.


"Maafkan Prilly juga"


"Tidak mudah memberikan maaf pada orang yang sudah berulang kali menyakiti saya. Tapi karena saya tidak mau memperumit keadaan, saya juga tidak mau terbebani dengan sesuatu yang justru akan menyakiti saya kian lebih, saya memilih memaafkan"

__ADS_1


"Terimakasih, kamu memang anak baik"


"Saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar"


Pria itu kemudian mengangguk-anggukan kepala seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


"Boleh saya meminta sesuatu darimu?"


Dinda mengernyit.


"Sepertinya anda salah meminta sesuatu dari saya, karena saya tidak memiliki apapun"


"Kamu memilikinya, Din?"


Dinda memberanikan diri menatap pria yang awalnya dia nilai sebagai pria yang bijaksana.


"Maukah kamu memanggil saya papah?!"


Menelan ludah, Dinda di buat bimbang oleh permintaannya.


Bagaimana bisa, pria yang sempat menjerumuskan dirinya ke lubang dosa, adalah ayahnya sendiri dan sekarang pria itu meminta dirinya untuk memanggilnya papah.


Mustahil, pikir Dinda. Baginya Birawa adalah ayah kandung atau bukan, tidak akan mengubah keadaannya. Dia sudah terbiasa hidup pas-pasan, dia bahkan akan menolak jika Birawa mencantumkan namanya sebagai ahli warisnya. Apalagi, Prilly sama sekali tak bisa menerima dirinya sebagai kakak. Jelas itu membuat Dinda merasa tak enak hati.


"Apa itu perlu?" tanya Dinda tanpa ekspresi.


"Jika kamu bersedia, tapi jika tidak, saya tidak akan memaksa"


"Saya rasa, hubungan saya dengan anda lebih cocok seperti sebelum kita tahu fakta yang sebenarnya. Maksud saya hubungan sebagai kerabat, bukan ayah dan anak"


"Saya tahu ini berat buat kamu, tapi saya akan terus berharap suatu saat kamu mau menerima saya sebagai papahmu"


"Saya tidak bisa janji"


"Iya, saya mengerti"


Cukup lama mereka terlibat perbincangan, Birawa pun pamit sebab jam istirahatnya sudah selesai. Namun, alih-alih kembali ke kantor, Birawa justru menyuruh sang sopir untuk mengarahkan mobilnya ke rumah.


Saat mobil sudah terparkir di pelataran rumah mewahnya, Birawa turun dari mobil setelah sang sopir membukakan pintu mobil untuknya.


Langkahnya lebar memasuki rumah, berjalan melewati ruang tamu dan ruang tengah. Baru saja ia memasuki kamar dan hendak menutup kembali pintu kamarnya, dia mendengar suara Prilly yang sedang menuruni anak tangga dengan kasar sembari mengomel melalui sambungan telfon.


Birawa menajamkan pendengaran dan berusaha menguping apa yang putrinya bicarakan.


"Dengar ya, saat kamu berhasil menabrak dokter itu, aku sudah membayarmu dua puluh juta, dua minggu setelah itu, kamu kembali meminta dua puluh juta. Dan sekarang kamu minta lima puluh juta? kamu mau memeras saya?"


"Apa yang di maksud Prilly itu dokter Dinda?" Birawa menggumam lirih.


"Kamu mengancam saya? silahkan saja kalau kamu mau membongkar mengenai kecelakaan itu, saya pastikan kamu yang justru akan mendekam di penjara. Aku akan melaporkanmu karena sudah melakukan pemerasan"


Setelah mengatakan itu, Prilly memutus panggilannya. Dia yang sudah berada di ruang makan, tangannya mendarat di sandara kursi. Ia tidak sadar kalau ayahnya berada di belakang dan langsung merampas ponselnya.


Begitu ponsel Prillya berpindah ke tangan Birawa, Prillya berbalik, dan terkejut mendapati sang ayah yang menampilkan raut kemarahan.


"Apa maksud kamu Prilly?" tanyanya tampa berkedip, matanya membola sempurna dengan wajah yang memerah.


"A-ayah?"


"Katakan, apa yang kamu maksud itu dokter Dinda?" pekiknya yang mampu memekakan telinga.


"A-aku bisa jelasin yah" sahutnya gugup menahan takut.


"Apa kamu yang sudah mencelakai Dinda?"


"A-aku_"


"Katakan Prilly" Suara Birawa yang terlampau tinggi, membuat para ARTnya turut merasa takut.


"Kamu yang sudah membuat Dinda celaka?"


"Iya" jawab Prilly. Emosinya memuncak, bahkan suaranya naik beberapa oktaf dari suara sang ayah.


"Kenapa?" tatapan Birawa kian tajam.


"Dia sudah mengacaukan hidupku yah"

__ADS_1


Hilang kesabaran, Birawa melayangkan tamparan tepat di pipi anak perempuannya.


Bersambung


__ADS_2