
Aktivitas pagi berjalan sebagaimana mestinya. Dinda yang selalu bangun lebih awal dari Adam untuk menyiapkan sarapan, pagi ini dia terlambat bangun sebab semalam Adam benar-benar menghajarnya dengan cumbuan yang membuatnya melayang.
Saat alarm berbunyi, waktu menunjukan pukul 05:20, ia sedikit heran sebab seingatnya, dia memasang alarm di waktu 04:30, itu artinya, ada tangan jahil yang sudah mengubahnya. Siapa lagi kalau bukan sang suami.
Di rumah sakitpun berjalan seperti hari-hari sebelumnya, tak ada yang berubah dengan aktivitas Dinda yang monoton.
Pekerjaannya sebagai dokter yang begitu-begitu saja, tak membuatnya jenuh apalagi bosan, karena menjadi dokter adalah cita-citanya sejak ayahnya meninggal. Bagi dia, itu adalah kesempatan untuk menolong orang secara tidak langsung.
Alhasil, berkat keramahan serta sifat lembutnya, semakin hari pasien Dinda kian bertambah, jelas membuat Ben dan Kellen memujinya, sebab semenjak kedatangannya di rumah sakit itu, popularitas familly care semakin naik, elektabilitasnya pun kian meningkat.
"Dokter Dinda!"
Dinda mengarahkan pandangan ke sumber suara yang baru saja memanggil namanya.
Seorang pria berwibawa, tampak masih gagah di usianya yang sudah berada di kepala lima. Pria berkacamata plus itu perlahan melangkah mendekat. Dinda sengaja menatapnya tanpa mengatakan apapun. "Apa anda sibuk siang ini?" tanyanya saat sudah berdiri di depannya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Dinda bertanya balik.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Tak langsung menjawab, wanita itu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Waktu istirahat saya tersisa lima belas menit, kalau hanya sebentar, saya bisa. Kita bicara di taman"
Pria itu berjalan mengekor di belakang Dinda yang mengarahkan langkanya menuju taman.
"Silakan duduk!" ucap Dinda mempersilkan.
Kini, baik Dinda dan pria itu sudah duduk di kursi taman berbahan batu bata.
Mereka duduk saling berhadapan.
"Begini dokter Dinda" katanya agak sedikit ragu. Wajahnya seperti menahan malu, atau merasa tak enak hati. Entahlah..
"Saya bermaksud meminta maaf atas semua perbuatan yang sudah saya lakukan pada anda. Saya sadar, semenjak saya mengacaukan hidup seseorang, saya menjadi tidak tenang, dan tak ada kebahagiaan yang singgah meski hanya sejenak"
Sebenarnya, Dinda tak paham dengan apa yang pria itu katakan, tapi dia memilih bergeming seraya mendengarkan lebih detail dan tidak berniat memotong kalimatnya.
"Dulu, saya pernah mengacaukan hidup orang lain, dan belum lama ini, saya pun melakukan hal yang sama seperti yang pernah saya lakukan di waktu dulu. Saya minta maaf sudah membuat hidup dokter Dinda sempat terpontang-panting, di tambah dengan kelakuan anak saya, Prilly, yang sudah sangat keterlaluan"
"Saya sadar apa yang menimpa hidup putri saya, kemungkinan besar adalah karma dari perbuatan saya"
__ADS_1
"Saya sudah memaafkan putri bapak"
"Terimakasih" sahut Birawa menundukkan kepala. "Saya juga minta maaf sudah menjebak anda dan Adam di hotel saat itu. Saya minta maaf untuk semuanya"
Hening, Dinda meraih ponselnya di saku sneli, lalu membuka mobile banking dan mentransfer balik uang yang pernah Birawa berikan sebagai bonus dan uang konspensasi.
"Saya kembalikan uang bonus dari bapak, tolong jangan di transfer balik seperti yang sudah-sudah"
"Tapi dokter Dinda, itu bonus buat anda karena sudah menjalankan tugas dengan baik"
"Tapi saya gagal kan pak, Prilly dan mas Adam tetap menikah"
"Tidak Dinda, mereka menikah karena keadaan yang memaksanya, bukan karena cinta, jadi itu bonus atas keberhasilan anda"
"Maaf pak, saya tidak bisa menerimanya, suami saya pasti akan marah"
"Tapi, Din_"
"Saya sudah sangat bersyukur karena mamah saya bisa sembuh, itu sudah lebih dari cukup, pak. Saya juga mengucapkan banyak terimakasih karena bapak sudah meminta saya untuk menjadi perusak hubungan asmara putri bapak. Kalau bapak tidak datang untuk menawarkan kerja sama itu, entah seperti apa kondisi mamah saya, pak"
Tatapan Birawa tak teralihkan saat Dinda mengatakan itu.
"Mungkin saya sudah kehilangan mamah saya"
Aku merasa sangat bahagia ketika mendengar papahmu sakit-sakitan, aku bahkan begitu kejamnya meminta pihak rumah sakit agar menolak merawat pasien dengan tanpa membayar uang muka.
Maafkan aku sudah membuat papahmu meninggal karena pihak rumah sakit begitu lambat menangani papahmu.
Maaf, aku tidak bisa mengatakan kebenarannya dan akan ku simpan rapat-rapat rahasia itu sampai aku tiada.
"Pak Birawa"
"I-iya dokter Dinda?" Pria itu terlonjak kaget.
"Terimaksih sudah memilih saya untuk menjadi pelakor dalam rumah tangga anak bapak"
"Jangan bilang begitu, dokter Dinda"
"Tapi memang itu kenyataannya, pak. Prilly selalu mengatai saya pelakor dan saya menyadari itu"
"Kalau begitu lebih tepatnya, dokter cantik pelakor. Karena kamu berhasil membuat suami orang menikahimu, dan bercerai dari istri pertamanya"
Dinda tersenyum tipis. Senyum yang ia paksa sebenarnya.
__ADS_1
Kamu memang cantik, Din, sama seperti mamahmu. Birawa membatin, menatap Dinda yang tengah menunduk.
Dari sisi lain, Meta yang di temani sang ART hendak mampir ke rumah sakit menemui Dinda, mendapati sosok Dinda sedang duduk dengan seorang Pria. Meta sendiri tidak tahu siapa pria itu, karena dia datang dari arah balik punggung Birawa.
"Sama siapa Dinda yan?" tanya Meta pada ARTnya.
"Bukan pak Adam kan ya bu?"
"Bukan yan, Adam nggak gitu rambut dan bentuk tubuhnya. Dia lebih tinggi lagi" balas Meta dengan tatapan penasaran ke arah Dinda.
"Kita samperin aja, Bu"
"Apa nggak ganggu nanti"
"Nanti kalau ganggu, kita tunggu di bangku lain. Setidaknya nyapa dulu gitu bu"
"Ya udah kita samperin saja yuk"
"Iya bu"
Dua wanita itu berjalan. Saat langkahnya kian dekat, Dinda menyadari kedatangan sang mamah. Sontak dia pun bangkit saat Meta berdiri di dekatnya.
"Mamah"
Meta belum menyadari dengan pria yang menjadi lawan bicara sang putri. Berbeda dengan Birawa yang terkejut karena sudah tahu bahwa wanita yang tiba-tiba datang adalah sosok yang pernah menempati ruang kosong di hatinya.
"M-Meta?"
Mendengar namanya di sebut, sepersekian detik Meta menoleh, memindai wajah pria yang pernah membuatnya hancur hingga berkeping-keping.
"Birawa?"
Wajah Meta memerah, menahan rasa cemas yang mendadak singgah.
"Mamah kenal dengan pak Birawa?"
Wanita itu menatap putrinya. "Din, k-kamu?" ia kembali memalingkan wajah ke arah Birawa
Apa yang sedang Dinda dan Birawa bahas? apakah rahasiaku sudah di ketahui oleh mereka? Apakah Dinda sudah tahu, kalau pria brengsek ini adalah papah kandungnya?"
Dia menelan ludahnya yang seakan tercekat di tenggorokan, tak percaya dengan situasi yang baginya sangat mengejutkan.
Bersambung
__ADS_1
Kalau ada typo nanti di beresin ya, lagi sibuk mempekerjakan orang buat benerin garasi 😀😀