Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Di permalukan


__ADS_3

Terkejut dengan kemunculan Prilly, tanpa aba-aba, pergelangan tangan Dinda di cengkram sangat kencang lalu di tarik dan di bawa ke hadapan ruang tunggu di mana banyak sekali pasien rawat jalan yang sudah mengantri untuk bergilir mendapatkan pemeriksaan dokter.


Tanpa sepengetahuan Adam, Prilly nekad menemui Dinda untuk memperingatkan agar menjauhi sang kekasih sekaligus mempermalukannya.


"Ibu-ibu, kalian tahu siapa wanita ini?" ucap Prilly sarkas, matanya berkilat penuh amarah.


"Wanita ini adalah pelakor, dia berusaha merayu kekasih orang. Si ja lang ini, sudah merayu dan nyaris merebut calon suami saya. Jadi bu, jaga suami kalian dari wanita murahan ini!"


Puluhan pasang mata tertuju pada Dinda, tatapannya seolah tak teralihkan bahkan seperti tak ada obyek lain selain Dinda dan juga Prillya.


"Dengan tidak tahu malunya, dia mencoba membuat calon suami saya berpaling dari saya"


"Kamu apa-apaan Prilya, jangan memfitnahku di depan orang banyak"


Alih-alih merespon sanggahan Dinda, wanita yang tidak hanya cantik tapi juga berkelas itu malah tertawa lebar. Tawa yang menyiratkan sebuah ejekan.


"Memfitnah? Mau bukti? aku bisa sebarkan isi chatmu dengan kekasihku, wanita *******"


"Apa maksudmu?" Geram Dinda mulai tak bisa menahan emosi. "Tolong jaga ucapanmu nona Prilly, ini tempat umum"


"Kamu bodoh atau pura-pura bodoh? Ingat ya, sekali lagi kamu menghubungi Adam, aku pastikan karirmu selesai sampai di situ" ujarnya tenang, namun ketenangannya justru membuat Dinda semakin merasa tak nyaman.


"Ini peringatan pertama dan terakhir, jauhi Adam, kalau kamu tidak mau berurusan denganku"


Dinda menelan ludah dengan susah payah, sekalipun cukup malu dengan sikap Prilly di hadapan karyawan rumah sakit dan orang-orang yang masih duduk mengantri di ruang tunggu. Tak hanya itu, rasa was-waspun kian memuncak saat mendengar ancaman wanita yang masih mencekal pergelangan tangannya.


"Lepaskan aku Prillya!" Dinda memohon.


"Camkan baik-baik peringatanku, dokter ja lang?"


"Cukup, hati-hati dengan ucapanmu nona Prillya, saya bisa melaporkan anda ke polisi"


Seruan Dinda, justru membuat Prillya terkekeh geli. "Mana bisa wanita miskin sepertimu melaporkanku ke polisi" balasnya dengan nada meledek. 


"Adam itu miliku, dia itu cinta mati padaku. Ku beri tahu dari sekarang, usahamu merebutnya dariku akan sia-sia, jadi akan lebih baik kamu mundur dari sekarang dan berhenti menghubunginya"


Usai mengatakan itu, Prillya langsung melangkah pergi dengan tanpa rasa bersalah usai menghempaskan tangannya. Menyisakan Dinda yang berdiri mematung dengan sorot terluka campur malu.


Beberapa saat kemudian, Dinda mengedarkan pandangan kepada para pengunjung rumah sakit dan rekan kerjanya yang menatapnya nyalang. Detik itu juga ia mendengar bisikan-bisikan penuh mengejek, membuat Dinda seakan kehilangan muka dan menangis dalam hati.


Dinda yakin kalau salah satu dari mereka yang menyaksikan kejadian siang ini, pasti sudah merekam dan mengambil videonya.


Hal itu membuat Dinda harus mempersiapkan diri karena kejadian ini pasti akan viral, dan masalah ini pasti akan sampai ke telinga kepala rumah sakit. Tidak hanya itu, tetangga, teman serta rekan kerja pasti akan berghibah di belakangnya.


***

__ADS_1


"Jangan minta aku diam saja setelah melihat ini Din" 


"Anggap kamu nggak lihat apa-apa Fin" lirih Dinda tak berani menatap lawan bicaranya. Setelah melihat kejadian mencekam barusan, Fino membawa Dinda ke kantin rumah sakit.


"Aku tidak sebodoh itu, Dinda"


"Ini masalahku, kamu nggak perlu ikut campur"


"Ini kamu loh Din, wanita berhijab yang selalu menundukkan kepala dan tidak suka mencari masalah dengan orang lain" Fino yang duduk di depan Dinda melembutkan nada bicaranya.


"Apa kamu lupa, kalau aku sudah mengenalmu sejak lama?"


Fino berdecak pelan.


Tak ingin berdebat dengan temannya, Dinda memilih pergi ke mushola. Ia yang tadinya berniat makan siang pun urung ia lakukan sebab sudah tak bernafsu karena efek dari kejadian yang menimpanya.


"Maaf Fin, aku lupa belum sholat dzuhur"


Baru saja bangkit dan hendak melangkahkan kaki, suara Fino kembali terdengar di telinga Dinda.


"Persiapkan dirimu untuk menghadapi kemarahan kepala rumah sakit karena sudah mempermalukan nama baik Herquina hospital yang sudah mempekerjakanmu"


Mendengar ucapan Fino yang tanpa jeda, Jantung Dinda rasanya jatuh, ia menatap wajah temannya dalam-dalam selama sekian detik, setelahnya Dinda lantas pergi begitu saja dari hadapan Fino. Langkahnya tertuju ke mushola rumah sakit untuk melakukan kewajibannya sebagai umat muslim.


Selesai menumpang sholat di mushola rumah sakit, Dinda tak langsung pergi. Mencoba menenangkan diri, ia bertahan di dalam ruangan yang tidak luas, tapi juga tidak sempit.


Menghembuskan napas berat, Perlahan Dinda mulai merasakan pikirannya kembali jernih, wanita itu segera beranjak pergi dari area mushola. Ia bahkan mengabaikan dirinya yang menjadi topik perbincangan orang-orang dan para staf rumah sakit. Gosip tak sedap beredar, tatapan aneh dari orang-orang yang menyorot penuh iba pun tak lepas dari pandangan mereka.


Sekembalinya Dinda dari tempat ibadah yang ada di rumah sakit, dan baru saja ia duduk di kursi ruangannya, seseorang tampak mengetuk pintu dari luar, sedetik kemudian pintu pun terbuka.


"Dokter Dinda!"


"Iya dokter Fino?"


"Kepala rumah sakit memanggilmu"


Reflek, kening Dinda mengerut mendengar kalimat Fino.


"Ada apa Fin?"


"Apa lagi Din, mereka ingin tahu tentang berita yang viral siang ini"


Dinda mendesah pelan.


Secepat inikah kabar itu mencuat hingga sampai kepada kepala rumah sakit?

__ADS_1


Apa yang harus ku lakukan sekarang?


"Din?"


Dinda berjengit dengan panggilan Fino. Persekian detik, dia langsung mempertemukan netranya.


"Jauhi dia, kamu tahu kan Prilly itu kerabat Atmajaya. Aku nggak mau kamu kehilangan karirmu di rumah sakit ini"


"Apa maksudmu dokter Fino? Apa kamu masih berfikir aku merebut pria itu dari Prilly?"


"Tapi pasti Prilly tidak akan tinggal diam, hanya menjentikkan jarinya saja, dia bisa menyingkirkanmu, dan aku nggak mau kamu kehilangan pekerjaanmu Dinda"


"Aku bisa mengatasinya Fin, jangan khawatirkan aku" Dinda menyentuh lengan Fino sebelum kemudian beranjak pergi untuk melangkahkan kaki menuju ruangan kepala rumah sakit._____


"Selamat siang pak" sapa Dinda ramah sesaat setelah masuk ke ruangan kepala rumah sakit.


"Siang" sahutnya datar tanpa ekspresi. "Silakan duduk!"


Pelan, Dinda menarik kursi, lalu duduk di depan pria dengan pembawaan tegas.


"Anda tahu kenapa saya memanggil anda?" tanyanya dingin.


"Tahu pak"


"Ini hari pertama anda bekerja di sini, tapi anda sudah melakukan kesalahan. Saya harap, kejadian seperti ini tidak terulang kembali, dokter Dinda"


"Iya pak saya mengerti"


"Tolong jaga perilaku anda dan jangan merusak suasana kondusif rumah sakit kami" tegurnya dengan nada tegas. "Jangan membawa masalah pribadi anda ke arena rumah sakit, apalagi sampai mencoreng nama baik Herquina"


"Maaf pak"


"Ini peringatan pertama untuk anda dokter, jika kejadian ini terulang kembali, saya akan menindak tegas dan akan memberikan sanksi  kepada anda" tambahnya yang membuat hati Adinda langsung mencelos.


"Baik pak" Dinda tak berani menatapanya. "Maaf sekali lagi atas kegaduhan yang saya buat"


"Silakan kembali bekerja" Perintahnya masih dengan nada dingin.


"Saya permisi pak, selamat siang"


Pria paruh baya itu hanya mengangguk meresponnya.


Bersambung...


Regards

__ADS_1


Ane


__ADS_2