
Di esok harinya, sebelum berangkat ke kantor, Adam lebih dulu ke rumah Meta untuk mengambil tas kerja yang tertinggal di sana, kemudian barulah Dinda akan mengantarkannya ke kantor.
"Gimana Prilly?" tanya Dinda saat di dalam mobil.
"Ya begitu, dia berusaha membuatku menyentuhnya"
"Lalu?" Dinda menoleh ke kanan.
"Lalu apa?" tanya Adam balik.
"Apa dia mau mengakhiri kebohongannya?"
Gelengan kepala Adam membuat Dinda menghempaskan kepala pada sandaran jok mobil. Ia melipat salah satu tangan sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menopang dagu dengan punggung tangannya.
"Dia maunya apa si, lama-lama kok ngeselin" Dinda mencebik lengkap dengan raut masam.
"Prilly memang begitu"
"Kenapa mas bisa secinta itu sama dia?"
"Dulu" Lanjut Adam bermaksud meralat.
"Sekarang udah enggak memangnya?"
Alih-alih menjawab, tangan kiri Adam terulur lalu mengusap belakang kepala Dinda yang tertutup hijab.
"Nggak usah ngeledek, kamu tahu yang mas cintai itu siapa saat ini"
"Tapi beneran kan nggak mempan sama godaannya?"
"Enggak, kalau satu aja cukup, kenapa harus dua"
"Benar ya, aku pegang kata-kata mas"
"Hmm, pegang yang erat" ucapan Adam bersamaan dengan dirinya yang memutar roda kemudi ke arah kanan.
Dinda yang duduk di sampingnya mengitari pandangan dan ternyata mereka telah sampai di kantor Adam.
"Nanti nggak di jemput?" tanya Dinda tanpa melihat Adam, sebab netranya masih menelisik perusahaan tempat suaminya bekerja.
"Nggak usah, kan mobil mas ada di sini"
"Terus nanti mampir ke apartemen?"
"Iya"
"Mau di masakin apa?"
"Bisa nggak kamu bikin soto lamongan?"
__ADS_1
Keningnya mengerut mendengar jawaban Adam. "Soto lamongan?"
"Kalau nggak bisa ya udah nggak usah"
"Cuma itu?" tanya Dinda lembut.
Meskipun mobil sudah berhenti, tapi mesinnya masih menyala.
"Bisa?"
"Buat mas, aku pasti bisa, lagi pula aku bisa bertanya pada google kan? tinggal cari bahannya, setelah itu bikin sesuai instruksi yang tertulis di resep"
"Makasih"
"Sama-sama" jawab Dinda dengan seulas senyum. "Nanti pulang seperti biasa kan?"
"Kayaknya jam empat keluar dari kantor, soalnya sudah nggak ada lembur"
"Okay, aku pulang jam lima, nanti kalau aku belum pulang, mas tunggu saja di apartemen"
Adam mengangguk sebelum kemudian berpamitan. "Kerja dulu ya. Kamu hati-hati, kalau sudah sampai di rumah sakit kabarin mas"
"Iya, mas juga Hati-hati" usai Dinda mengecup punggung tangan suaminya, mereka saling berciuman sebelum Adam turun.
"Jangan ngebut"
"Iya"
"Assalamu'alaikum, mas"
"Waalaikumsalam"
****
Di rumah, Prilly benar-benar marah dengan suaminya, dia bahkan tak di lirik barang sedetikpun oleh Adam, membuatnya murka dan ingin sekali memberikan pelajaran untuk suami sialannya.
"Jika kamu memberiku waktu satu minggu, maka dalam satu minggu itu aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku, Adam. Kamu benar-benar sudah merendahkanku, dan kamu, Dinda! aku pasti akan membuatmu di pecat seperti Harquina yang sudah menendangmu"
"Abi, umi dan mbak Ulva, ternyata kalian pecundang, kalian merestui pernikahan mereka dan menyembunyikannya dariku, awas saja aku juga akan membuat hidup kalian menderita"
Sorot murka terlukis jelas di wajah Prilly. Raut sinis dan sadis seakan tak mau pudar dan tetap terbingkai di wajah ayunya.
Berulang kali wanita itu menarik napas panjang, mencoba meredam sesuatu yang terus bergejolak dalam dada.
Matanya tak bisa berhenti meneliti sekitar, dalam kesunyian, ia memandang ke setiap sudut rumah. Rumah yang besar nan mewah, namun tak ada kebahagiaan di dalamnya. Dan lagi-lagi kenangan manis bersama Adam dua tahun lalu berkelebat bebas dalam ingatan yang pada akhirnya waktu bisa mempermainkan perannya. Melempar kata kita hingga hancur tak tersisa.
"Aarrrggg semua gara-gara ayah dan dokter sialan itu" Teriak Prilly sembari menyapu isi meja nakas dengan tangannya. Semua benda yang ada di atas meja otomatis terhempas.
"Ternyata yang ku genggam bukanlah tanganmu Dam, tapi duri. Duri yang mampu mencabik-cabik telapak tanganku, dan sekuat apapun aku menggenggamnya, tetap saja melukaiku"
__ADS_1
"Jahat kamu, Adam. Terlebih lagi kamu, Dinda"
Hingga beberapa menit berlalu, ia menoleh ke samping kanan lalu meraih tasnya.
"Maaf, dengan nona Prilly?"
Wanita itu berdiri, lalu mengulurkan tangan. Sosok pria berbadan agak gemuk itu menerima uluran tangannya.
"Iya, saya Prillya, wakil direktur Sun shine tbk, sekaligus istri dari Adam, menejer keuangan di tempat anda bekerja"
"Istri pak Adam?"
Prilly mengangguk "Silakan duduk!"
"Terimakasih, nona"
Sesaat setelah duduk, pria yang menemui Prilly di sebuah restoran dekat kantornya kemudian bersuara.
"Ada yang bisa saya bantu, nona?"
"Begini" Ia menjeda ucapannya sejenak. "Saya butuh bantuan anda untuk membuat seolah-olah suami saya korupsi, lalu di pecat dari perusahaan"
"T-tapi nona, pak Adam adalah menejer kesayangan atasan kami, beliau adalah orang yang jujur"
"Jika anda berhasil, saya akan bayar anda lima puluh juta, bagaimana?"
"Hanya memanipulasi laporan keuangan, nanti anda simpan uang itu di koper suami saya, setelah itu kamu laporkan pada atasanmu, dengan begitu, perusahaan tidak akan kehilangan uangnya, dan mereka pasti akan langsung memecat suami saya"
Pria itu tampak berfikir, menimbang-nimbang tawaran dari wanita cantik yang berpakaian mewah.
"Seratus juta" tambah Prilly ketika pria di depannya tak kunjung memutuskan.
"Baik, saya akan membuat pak Adam di pecat"
"Bagus, setelah suami saya di pecat, anda bisa langsung menghubungi saya di nomor ini" Dia menyerahkan kartu nama. "Saya minta secepatnya"
"Baik nona"
"Saya tunggu kabar anda tiga hari dari sekarang"
"Akan saya usahakan"
Setelah kepergian pria itu, Prillya tersenyum sinis.
"Pasti Adam akan kesulitan mendapatkan pekerjaan jika imagenya buruk" Seringai licik muncul di sudut bibirnya yang tipis.
"Sekarang giliran menjatuhkan nama baik Dinda dari family care. Akan ku buat dokter pelakor itu seolah-olah membuat pasiennya anfal"
"Kalian berdua tidak akan pernah ku biarkan hidup bahagia di atas penderitaanku. Sekuat apapun kalian bertahan, maka segigih itu aku menghancurkannya"
__ADS_1
Bersambung