Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Kedatangan Prilly


__ADS_3

"Dinda, buka pin_" Prilly menggantung kalimatnya saat tahu-tahu Adam membukakan pintu untuknya.


"Bisa nggak, kamu jangan teriak-teriak gitu?" ketus Adam sinis. "Nggak sopan tahu"


"Yang nggak sopan itu Dinda, Dam. Dia sudah lancang merebutmu dariku"


"Jaga mulut kamu"


Prilly berdecak sinis. "Dimana pelakor itu, apa dia tidak berani keluar setelah berhasil merebut suami orang?"


"Kamu mencariku, Prilly?" Suara itu datang dari arah balik punggung Adam.


"Oh, jadi ini wanita yang tak punya harga diri" dia sengaja meninggikan nada suara agar para tetangga mendengarnya.


"Apa kamu bisa merendahkan suaramu?" pinta Dinda.


"Kenapa, apa kamu malu karena sudah merebut dan menikahi pria yang sudah beristri?"


"Prillya" Bentak Adam dengan sorot tajam.


"Mas, biar aku yang bicara" Dinda menggamit lengan suaminya kemudian mengusapnya lembut.


"Tapi dek"


"Ijinkan aku ngomong, mas"


Menghela napas berat, Adampun tak bisa berbuat apapun selain menuruti permintaan Dinda.


Sebelum bicara, Dinda sempat mengedarkan pandangan dan menangkap ada seseorang yang mengintip obrolan mereka dari balik pagar.


"Boleh aku tahu, alasan kamu sampai harus mencariku ke rumahku?" tanya Dinda tenang.


"Kalau kamu berfikir aku akan diam saja melihatmu mengambil Adam dariku, kamu keliru, Dinda"


"Sudahlah Prilly, tidak usah terlalu dramatis, suamiku memberimu waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalahmu secara baik-baik, bukan?"


"Kamu makin berani padaku"


"Kenapa tidak, kamu yang membohongi semua orang termasuk abi dan umi, jadi saranku, lebih baik jujurlah dan menikahlah dengan ayah biologis dari anak yang sedang kamu kandung"


Wanita di depan Dinda ini malah tersenyum meremehkan.


"Terlepas dari semua kebohonganmu, mas Adam lebih memilihku, buktinya, dia menikahiku setelah resmi menjadi suamimu"


Terlihat perubahan wajah Prilly yang kian geram usai mendengar perkataan Dinda. Sangat tampak dari rahangnya yang mengerat.


"Kesalahan apa yang sudah ku perbuat hingga kamu berkeinginan sekali merenggut kebahagiaanku Dinda? dari semenjak kami berpacaran, sampai kami menikahpun kamu masih terus mengganggu hubunganku dengan Adam"


"Perlu ku ulangi lagi? kamu bukan anak kecil loh, yang kalau di kasih tahu harus diulang berkali-kali biar paham" ucap Dinda sarkas. "Aku tahu kalau dia mencintaimu, tapi itu dulu Prilya. Andai kamu tidak terburu-buru menyerahkan tubuhmu pada Zidan, pasti suamimu tidak akan pernah menikahiku. Ingat! karena kebodohanmu sendirilah yang membuat mas Adam berpaling darimu. Camkan itu!"

__ADS_1


Mengabaikan perkataan Dinda, Prilly kembali memunculkan senyum sinis.


"Menjijikan sekali, ternyata seperti ini penampakan pelakor yang sebenarnya. Meskipun berhijab, tapi kelakuanmu bagaikan binatang yang tidak tahu malu merampas pasangan orang"


"Cukup!" ujar Adam berusaha menenangkan diri dan berusaha mengatur nafas. "Sudah cukup kamu menghina Dinda" Adam menarik tangan Prillya lalu membawanya pergi dari rumah Meta. Pria itu melangkah menuju mobil milik Prilly.


Saat Prilly menyadari ada beberapa tetangga yang sedang melihat pertengkaran mereka, Prilly kembali berucap dengan intonasi berada di level teratas.


"Jahat kamu Dinda, kamu tahu aku sedang mengandung anaknya, tapi kamu tega merebut suamiku. Dasar wanita rendahan"


"Tutup mulutmu Prilly" Cengkraman Adam menguat, tapi tidak membuat Prillya merasakan sakit.


"Sekarang, bukan budaklah yang memiliki kasta terendah, perebut laki orang pantas menggantikan posisi itu" teriaknya dengan sorot berkilat.


"Masuk!" Adam membuka pintu mobil lalu mendorong istrinya, detik berikutnya menutup pintu itu dengan kasar. Dia berjalan memutari depan mobil, menyusul masuk dan duduk di kursi kemudi.


Dalam perjalanan pulang, hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Adam fokus dengan kemudi dan kekesalannya pada Prilly, sementara Prillya pun sibuk dengan pikirannya sendiri.


Wanita itu mengalihkan perhatian dengan memandang kepadatan lalu lintas yang tersaji di balik jendela mobil, wajahnya terlihat begitu menyedihkan.


"Ngapain saja kamu semalam dengan pelakor itu?" tanya Prilly memecah kesunyian.


"Dia istriku, tentu saja melakukan hubungan suami istri"


Jawaban Adam, menimbulkan denyutan nyeri di dalam sana. Ia lantas menyentak napas kasar dengan salah satu sudut bibir terangkat.


"Jadi ini alasanmu tidak mau menyentuhku, Dinda sudah memuaskanmu ternyata"


Kemudian kembali hening. Prilly tak mampu menjawab apalagi menyangkal.


"Minggu depan bukankah ayah pulang?" tanya Adam melirik Prilly sekilas. "Setelah ayah pulang, aku harap kamu akan membicarakan hal mengenai ayah kandung bayimu, aku juga berharap kamu bisa melepasku dengan hati ikhlas, lalu membiarkanku dan Dinda hidup tenang"


"Okay, Dam aku akan berkata jujur pada ayah, tapi ada syaratnya"


"Apa syaratnya?"


"Beri aku kesempatan melayanimu di ranjang"


"Ckk"


"Please, Dam! just once, let's have a s*x. Aku ini istrimu, aku berhak mendapat nafkah batin dari kamu"


"Maaf Pril, aku tidak bisa"


"Kenapa?" tatapan Prilly penuh ke wajah Adam. "Setidaknya, kasih aku kesempatan, seperti kamu kasih kesempatan ke Dinda"


"Aku tidak bisa memberikan kesempatan pada wanita yang sedang mengandung anak pria lain. Kita memang sudah menikah secara sah menurut hukum negara. Tapi secara agama, aku tidak bisa menyentuhmu sampai kamu melahirkan"


"Kalau begitu, tunggu aku melahirkan, dan kita mulai dari awal, Dam" Prilly memegang lengan Adam.

__ADS_1


"Sayangnya, aku sudah jatuh cinta pada Dinda, Pril. Dia membuat hidupku penuh warna, penuh dengan ketenangan, kedamaian dan di perlakukan layaknya raja"


"Dinda lagi, Dinda lagi" ucap Prilly dengan intonasi tinggi. Wajahnya memanas mendengar Adam mengatakan itu. "Apa si, baiknya wanita itu? dia hanya seorang wanita bayaran, rendahan, dan tidak tahu malu"


"Asal kamu tahu, Dinda tidak sepertimu, dia lemah lembut dan tidak mudah marah"


"Stop kamu memujinya di hadapanku Adam!"


"Hentikan juga kebohongnmu. Ingat! waktumu hanya sampai minggu depan" tahu-tahu mobil Prilly sudah sampai di rumah mewahnya.


"Kalau tidak, aku dan Dinda yang akan membongkar semuanya" Setelah mengatakan itu, Adam turun dari mobil, membiarkan Prilly yang masih menyorot kesal.


***


Di rumah Meta, beberapa tetangga menatap sinis Dinda yang dengan teganya merebut suami wanita lain, dan parahnya, wanita itu sedang mengandung.


"Benar Din, suamimu itu juga suaminya wanita tadi?" tanya salah satu tetangganya.


"Kayaknya dari dulu permasalahanmu itu-itu melulu, mending mundur aja deh Din, kamu kan cantik, dokter pula, kamu bisa cari pria single yang lebih tampan, bukan pria yang bertatus suami orang"


"Ibu ibu, tolong jangan menyudutkan anak saya, kalian tidak tahu cerita yang sebenarnya seperti apa"


"Tapi yang namanya menikahi suami orang itu tetap saja namanya pelakor, bu Meta"


"Iya bu, kalau aku jadi Dinda, nggak sudi nikah sama laki orang, kesannya kayak nggak laku gitu" sambung tetangga yang lain.


"Biar itu menjadi urusan anak saya bu, kalian tidak perlu kepo apalagi ikut campur" tentu saja Meta akan terus membela sang putri.


"Apa yang kalian hinakan, belum tentu hina di mata Allah, bu ibu"


Ya udah deh, terserah bu Meta saja"


"Tapi anak sa_"


"Sudah mah, lebih baik kita masuk yuk" potong Dinda cepat, lalu mengalihkan pandangan ke wajah tiga wanita paruh baya seusia mamahnya. "Permisi bu ibu, saya masuk dulu"


Dinda melingkarkan tangan di lengan Meta, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kamu itu Din, jangan diam saja di katai pelakor, mamah tahu kamu menikahi suami orang, tapi kan bukan berarti kamu merebut Adam dari istrinya itu"


"Biarkan saja mah, semoga saja Prilly mau jujur dalam waktu satu minggu"


"Mustahil Din, dia itu wanita nggak waras"


"Mamah nggak boleh ngomong gitu mah, Prilly seperti itu karena dia cinta sama mas Adam"


Mendengar kalimat putrinya, seketika ingatan Meta jatuh pada kejadian beberapa tahun silam.


Saat dia masih muda, ada dua pria yang mencintainya, namun cintanya justru berlabuh pada papahnya Dinda yang tidak sekaya pria satunya.

__ADS_1


Pria kaya raya itu seakan dendam dan membuat hidup Meta serta suaminya selalu di terpa masalah. Hingga tak sanggup, papahnya Dinda pun sakit-sakitan dan akhirnya meninggal.


Bersambung


__ADS_2