Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Mengakhiri perselisihan


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Dinda langsung melampiaskan kekesalannya pada pekerjaan rumah. Ia menyapu lantai, mengepel, mengelap jendela, serta membersihkan dua kamar sekaligus kamar mandinya. Tentu saja ia melakukannya dengan di iringi kemarahan, mulutnya komat-kamit merutuki dirinya sendiri dan juga Prillya. Birawa pun tak lepas dari semburan omelan yang meluncur begitu frontal.


"Bisa-bisanya aku menolong wanita laknat seperti dia, Dinda, Dinda, kamu ini kok polos si, besok-besok nggak usah di tolong, mau sekarat mau mati, udah biarin aja"


Tangannya terus bergerak, kali ini giliran dapur yang ia bersihkan.


"Awas aja, next time kalau ada apa-apa dengannya, jangan harap aku akan menolongnya"


"Nggak tahu di untung emang, coba kalau aku nggak nolong kemarin, nggak tahu apa yang akan terjadi pada dia"


"Birawa juga! pria egois, arogan, maunya menang sendiri, maunya selalu di turuti keinginannya, haha dasar sultan biawak"


Dinda menghentikan tangannya yang tengah membersihkan microwave.


"Tapi tunggu ... apa aku bisa membiarkan orang kesusahan, terus nggak aku tolongin? membiarkan yang sakit ku acuhkan?" Bibirnya ia kunci rapat-rapat, lalu ia tarik ke samping kiri. "Hmm tapi khusus wanita bernama Prillya, ogah. Keputusanku sudah bulat, tak-tak-tak, ketuk palu dari pak hakim"


"Nggak tahu terimakasih, ngapain di tolong, iya kan? Dan sebenarnya, tadi juga ingin sekali ku tonjok bibirnya yang pedas itu, tapi aku kan masih punya perasaan, masa iya, udah dianya lumpuh, nggak bisa jalan, anaknya di dalam inkubator, kasihan nanti kalau di tambah giginya rontok"


"Ish-ish" dia menggeleng lengkap dengan kekehan kecil.


Hingga beberapa menit berlalu, tahu-tahu semua ruangan sudah terbebas dari debu, segalanya rapi seketika dalam waktu tak kurang dari tiga jam.


Ia melempar tubuhnya di atas sofa, tangannya mengusap keringat di dahi. Ketika matanya melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul satu.


"Astaghfirullah, udah jam satu? aku belum sholat"


Wanita itu buru-buru bangkit lalu melangkah menuju kamar untuk sholat Dzuhur.


Dalam sholatnya, ia malah menyesali semua ucapan sumpah serapahnya yang ia tujukan untuk sang adik. Ia pun lekas memohon ampun.


Usai sholat dia keluar dari kamar menuju dapur untuk memasak makan siang.


Sampai pukul dua, badannya yang sudah terlampau letih, tak butuh waktu lama untuk kesadarannya menghilang di buai mimpi saat tubuhnya terlentang di atas tempat tidurnya yang empuk.


Diapun terlelap di tengah matahari yang belum sepenuhnya bergulir ke arah barat.


Waktu terus berlalu, ia menggeliat merasakan salah satu bagian tubuhnya seakan tertimpa sesuatu.


Membuka mata, ada sebuah tangan kokoh yang mendarat melingkari perutnya.


"Mas Adam, kok sudah pulang, memangnya ini jam berapa?" Dinda melempar pandangan pada jam waker di atas nakas.


"Jam lima!"


Pelan, dia bergerak memiringkan badan, lalu mengecup kening suaminya.


"Bangun mas, sudah sore"


Adam yang tadi pulang kerja pukul empat melihat Dinda sedang tertidur pulas, diapun turut tidur di sampingnya.


"Hmm" Dia hanya berdehem seraya menyurukkan kepala di bagian belahan dada Dinda.


"Sudah sore mas, kita sholat asar dulu, yuk"


"Mas sudah sholat" Tangannya melingkar lebih erat di pinggang Dinda.


"Tapi aku belum sholat, aku mau bangun"


Alih-alih melepas, Pria itu malah semakin mengikis jarak, mengacuhkan ucapan Dinda.


"Nanti kalau aku nggak sholat, dosa mas tambah banyak, kan mas yang nanggung dosaku"


Mendengar kalimat istrinya, Adampun mengurai pelukan, lalu membalikkan badan memunggunginya.


"Aku sholat dulu, setelah itu masak buat makan malam" lirih Dinda. Ia mengecup kepala Adam sebelum beranjak dari atas kasur.


Selagi wanita itu melakukan ibadah, gerakannya tak luput dari pandangan Adam yang sudah membuka mata sejak roka'at pertama.

__ADS_1


Hingga selesai sholat dan berdoa, Dinda melangkah menuju nakas, ia berdiri di samping ranjang untuk meraih ponselnya. Wanita itu ingin memastikan apakah ada pesan masuk atau tidak.


Tapi tiba-tiba salah satu tangannya di tarik oleh Adam sampai ia terjerembab di atas tubuh suaminya.


Dengan gerak cepat Adam langsung menukar posisi mereka, Dinda yang kini sudah berada di bawah kungkungannya terdiam untuk beberapa saat.


"Mau apa?" tanya Dinda memicingkan mata.


"Bikin adek bayi" Adam lalu mengecup bibir Dinda kilat.


"Nanti saja, sekarang mau masak"


"Soal masak bisa nanti" ia kembali mengecup bibir ranumnya.


"Aku mau mandi, risih tadi abis bersih-bersih rumah"


"Okay, setelah ini kita mandi sama-sama"


Tangannya sudah liar menjamah setiap jengkal tubuh Dinda, bahkan sudah menyusup ke dalam bajunya dan meremas lembut bagian dadanya.


"Tapi badan mas leng_"


"Ah itu bukan masalah besar, dek" potong Adam. Dia seakan hanyut dalam desiran aneh yang mampu melumpuhkan syaraf di otaknya.


Sepertinya alasan Dinda bisa di patahkan mentah-mentah oleh Adam, hingga dia tak mampu lagi berkutik.


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibsi syaithoona maarazaqtanaa


"Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami."


Sebuah doa yang mengawali penyatuan mereka.


Sampai sekian menit berlalu, Adam kembali melantunkan doa sesaat sebelum ia mengeluarkan cairan benih yang akan membuahi rah!m istri cantiknya.


"Allahummaj'alnuthfatna dzurriyyatan thayibah "Ya Allah jadikanlah nutfah (sp**ma) kami ini menjadi keturunan yang baik (saleh),”


Sementara Dinda mengamininya dengan tulus.


Tak terasa sudah satu bulan Prilly mendekam di rumah sakit. Selama satu bulan, ruang kamar VVIP benar-benar di sulap menjadi tempat tinggalnya. Dan hari ini, meskipun belum bisa berjalan, dia sudah di ijinkan pulang dengan membawa bayinya yang juga sudah membaik, serta berat badan yang sudah bertambah.


Dalam waktu satu bulan juga, dia melihat betapa Zidan merawatnya dengan tulus, menggantikan kaki tangannya dalam setiap aktivitasnya.


Disini Prilly benar-benar melihat betapa mencintainya Zidan terhadap dirinya.


Mungkin, cinta Zidan jauh lebih besar dari cinta Adam saat mereka masih menjalin hubungan, terbukti sekali bahwa pria itu tak meninggalkannya di saat dirinya terpuruk karena lumpuh, begadang mengawasi bayinya di tengah malam, dia juga berulang kali menasehati sang istri supaya bisa berdamai dengan keadaan, mengakhiri permusuhannya dengan Dinda.


Tak hanya Zidan, Birawapun selalu memperingatkan tentang pengorbanan Dinda untuk dirinya.


"Sudah siap sayang?" tanya Zidan sebelum memindahkan Prilly dari atas ranjang ke kursi roda.


"Mas"


Zidah tercenung mendengar sang istri memanggilnya dengan sebutan itu.


"Kamu panggil aku apa?" Pria itu ingin mendengar sekali lagi.


"Mas"


Saking bahagianya, Zidan langsung merengkuh Prilly ke dalam pelukannya. "I love you, I love you, forever"


Prilly membalas pelukannya.


"I love you too, so much"


Zidan mengurai pelukannya, lalu mengecup keningnya.


"Kamu akan sembuh, dan kita akan hidup bahagia dengan anak-anak kita"

__ADS_1


Pandangan mereka penuh lekat saling menatap. Zidan yang menangkup wajah Prilly, mengecup keningnya usai mengatakan itu.


"Aku minta maaf"


"Kenapa minta maaf?"


"Aku terlambat menyadari cintamu yang luar biasa ini"


"Nggak ada yang terlambat Prilly, aku nggak membatasi waktu untuk kamu menyadari cintaku, aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu meski tubuhmu renta di telan usia"


"Janji?"


"Of course" Manik hitam Zidan bergerak mengikuti gerakan manik hitam Prillya.


"Kamu sudah mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan jagoanku, pewaris Atmajaya, mana mungkin aku meninggalkanmu"


Sepasang mata Prilly berkaca-kaca. Tak kuasa, akhirnya wanita itu memeluk erat tubuh suaminya. Melepaskan semua beban yang selama ini ia pendam, menyesakkan dadanya. Detik itu juga, ia merasakan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Satu menit, dua menit, hingga berganti menjadi tiga menit, mereka masih nyaman dengan posisinya, saling melampiaskan rasa cintanya.


Sampai sebuah ketukan pintu, menginterupsi pelukan mereka.


"Assalamualaikum" Seorang ayah yang selalu setia menjenguknya selepas bekerja.


"Waalaikumsalam" jawab Zidan dan Prilly kompak.


"Hari ini di ijinkan pulang, kan?" Pria itu menghampiri putrinya yang tengah mengusap titik bening di pipinya.


"Iya, yah" Sahut sang menantu.


Menyadari Prilly menangis, secara reflek Birawa mengerutkan kening.


"Apa kamu nggak mau pulang, nak. Jadi kamu menangis?"


"Ah ayah bisa saja, aku menangis karena senang bisa kembali lagi ke rumah"


"Iya, ayah nggak berhenti bersyukur untuk itu, sayang"


"Mmm, yah!"


"Iya?"


"Setelah aku merenungi semua perbuatanku, aku ingin meminta maaf pada Dinda"


Birawa terhenyak tak percaya. Tampak jelas semburat ketidak percayaan itu di wajahnya.


"K-kamu serius, nak?"


"Iya yah" Prilly meraih tangan Birawa lalu menggenggamnya erat-erat.


"Maafin Prilly yah, sudah jadi anak nakal"


"Kamu anak nakal yang akan terus ayah sayangi" Pria itu memeluk putrinya dengan linangan air mata.


"Aku ingin berdamai dengan Dinda sesuai dengan nasehat ayah selama ini"


Tak ada jawaban dari pria itu, tapi helaan nafasnya menyiratkan kebahagiaan yang mendalam.


"Aku ingin mengakhiri permusuhan ini, yah. Aku akan terima Dinda sebagai kakakku"


"Alhamdulillah, alhamdulillah" lirih Birawa nyaris tanpa suara.


"Kamu tahu, Prilly! ini adalah hari yang ayah nantikan. Hari di mana kamu mau menerima Dinda sebagai kakakmu. Terimakasih banyak, sayang"


"Tapi apa ayah mau menemaniku menemui Dinda?" Pelukan mereka terurai.


"Tentu nak" Birawa mengangguk.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang?" kata Zidan setelah sempat hening beberapa saat.


Birawa serta Prilly mengangguk mantap.


__ADS_2