
"Mas sudah makan?"
"Sudah, tadi mas masak"
Mereka berjalan memasuki apartemen setelah memarkirkan mobilnya. Adam menggandeng tangan Dinda hingga langkahnya sampai di depan pintu lift, tangannya langsung terulur menekan tombol up. Sembari menunggu lift datang, mereka kembali terlibat perbincangan.
"Masak apa?" Dinda menatap Adam yang tengah mendongakkan kepala menatap layar di atas pintu lift. Di sana bisa di lihat ada tanda panah ke bawah dan angka lima. Itu artinya lift sedang berhenti di lantai lima, mungkin ada seseorang yang hendak turun.
"Cuma masak gurame bakar sama sambal matah"
"Enak dong, ada timun juga kan di kulkas bisa buat coel?"
"Hmm"
"Masih?" tanya Dinda bersamaan dengan bunyi lift yang datang.
"Masuk, sayang"
"Masih nggak, gurame bakarnya?"
"Masih, tapi belum di bakar" Kata Adam, kini posisi mereka sudah berada di dalam lift yang akan membawanya ke lantai empat belas. "Nanti selagi kamu mandi, mas masakin, selesai mandi tinggal makan deh"
"Makasih" sahut Dinda dengan tangan masih menggamit lengan Adam.
Saat akhirnya mereka sampai di rumahnya, Adam menutup pintu lalu menguncinya, Dinda melangkah menuju dapur kemudian mengisi dua gelas kosong dengan air putih. Lantas menyodorkan segelas air pada Adam saat pria itu menyusulnya ke dapur.
"Minum dulu" tawarnya.
Tanpa mengatakan apapun, Adam duduk dan langsung meneguk isinya hingga tandas.
"Coba critakan kenapa kamu bisa bertemu dengan Birawa?" dia meletakkan gelas di atas meja makan.
"Mas nggak biarin aku mandi dulu gitu?"
"Kan cuma crita dikit dek, paling sepuluh menit kan, sambil istirahat sejenak, kamu kasih tahu mas. Mas udah penasaran banget"
Tatapan mata Dinda memicing.
__ADS_1
Duduk berhadapan di batasi meja makan, wanita itu memilih diam dan menatap suaminya dengan kedua tangan bertaut di atas meja.
"Bicara dek!" Adam meraih satu tangan sang istri. Dia menggenggam dengan agak meremasnya lembut. "Bingung sama kalimat pembukanya juga?" Adam mengernyit.
Menarik napas panjang, Dinda berusaha menyusun kata-kata untuk memulai menceritakan pertemuannya dengan ayahnya Prilly.
Selang lima detik, Dinda akhirnya bersuara.
"Waktu itu, Birawa tiba-tiba berdiri di hadapanku dan menawarkan uang"
Adam menatap penuh cermat, ia mengangkat kedua alisnya agak tinggi ketika Dinda tak kunjung bersuara.
"Kami bertemu di rumah sakit, entah dari mana datangnya, yang jelas dia memintaku untuk memisahkan mas dengan Prilly. Aku terpaksa menerima tawarannya karena saat itu lagi butuh uang buat operasi mama"
Mendengar ungkapan Dinda, ingatan Adam tertuju pada kondisi ibu mertuanya yang memang saat itu baru saja menjalani pemasangan ring jantung.
"Tadinya aku mau nolak, tapi saat tahu kalau Harquina adalah rumah sakit milik calon menantunya, Zidan pria yang akan dia jodohkan dengan Prilly, dia mengancamku"
"Ngancam gimana?" tanya Adam penasaran. Ia menatap tajam wanita di depannya.
"Dia akan meminta Harquina untuk tidak mempekerjakanku di sana, dia juga mengancamku kalau aku tidak akan di terima kerja di rumah sakit manapun jika menolak kerja sama itu"
Kini posisi Adam sudah duduk di tepian meja, tinggi level mata mereka yang nyaris sama membuat Dinda tak harus merunduk dan Adampun tak perlu mendongak untuk mempertemukan netranya.
"Jadi selama ini kamu terkekang oleh ancaman Birawa?"
Dinda diam mengerjap, rahangnya terkatup rapat lalu mengangguk mengiyakan, sementara Adam langsung menghela napas panjang tepat di depan wajah Dinda.
"Maaf" ucapnya tenang dengan salah satu tangan yang tadi melingkar di pinggang Dinda, kini menyentuh pipinya lembut. "Andai mas meminta penjelasanmu dulu, mungkin mas nggak akan menikahi Prilly"
"Mas tahu? aku semakin terjepit ketika anak buah Birawa datang ke rumah dan meminta uang itu kembali karena aku sudah gagal memisahkan mas dengan Prilly, dia memintaku mengembalikan uang Birawa yang sudah ku pakai buat operasi mama"
"Jadi karena situasi itu kamu terpaksa menjebak mas? biar hubungan mas dan Prilly yang sudah membaik kembali berantakan?"
"Hmm, tapi aku nggak bermaksud ke arah sana mas, obat yang ku campur itu adalah obat tidur biasa, tapi karena Birawa tahu rencanaku, diam-diam dia menukar obat tidurku dengan obat jahanam yang membuat kita tanpa sadar melakukan hubungan itu"
Tangan Adam yang masih ada di sekitar wajah Dinda, bergerak mengusap pelan pipinya, sedetik kemudian berdiri tegap, menarik dan membawa Dinda ke pelukannya.
__ADS_1
"Masih ada lagi yang belum kamu critakan??"
"Enggak"
"Okay, jangan lagi memendam apa yang mengusik ketenanganmu" Pria itu mengurai pelukannya, menatap wajah istrinya lekat-lekat. "Sekarang kamu sudah bersuami, mulai detik ini kamu wajib mengatakan apa yang ada di sini" dia menyentuh dada Dinda. "Dan disini" kali ini menunjuk bagian pelipis. "Ngerti ya?"
"Hmm.... Aku berlebihan ya mas?" Dinda mendongak.
Adam tersenyum. "Masih bisa di toleransi" balasnya lalu kembali memeluk Dinda. "Kalau mas ada di posisimu juga akan melakukan hal yang sama, itu wajar kok, menyelamatkan mamah adalah yang utama kan"
Tangan Dinda yang tadinya di sisi pinggang Adam, kini melingkari pinggangnya. "Aku nggak tahu wajar atau enggaknya, tapi karena itulah aku jadi pelakor" Lirih Dinda sambil menghirup dalam-dalam aroma suaminya yang tercium kuat.
"How can i be this luckiest to have a wife like you?" gumam Adam.
"Beruntung?" Dinda tak mengerti.
Hanya senyum satu-satunya respon yang Dinda lihat di wajah Adam atas kebingungannya. Hingga kemudian bibirnya menyentuh bibir Dinda, menciumnya dengan sangat lembut. Ciuman yang tenang dan dalam, membuat Dinda beberapa saat tanpa sadar sedikit berjinjit, lalu tangannya bergerak melingkari leher Adam.
Tak sampai semenit, dengan kening yang masih saling menempel, pria itu kembali mencium sang istri. Ciuman yang kedua kalinya itu terlepas, Adam menatap Dinda dengan sangat intens sebelum kemudian berkata.
"Kamu mandi, mas masakin. Setelah itu makan"
"Setelah makan?" tanya Dinda mengulum senyum.
"Tidur dong" sahut Adam santai. "Atau mau main-main dulu juga boleh, bobo panas sampai panas banget" Ada senyum menggoda yang terbit di bibir Adam, dan itu membuat Dinda gemas lalu mencubit pinggangnya lembut.
"Awhh"
Dinda langsung melarikan diri saat Adam melepas lingkaran tangan untuk mengusap bekas cubitannya.
"Awas ya, tunggu pembalasan mas"
"Ayo, siapa takut! kita bertempur di presidential suite" sahut Dinda sambil melangkah dan menoleh ke belakang.
Adam semakin terkekeh melihat tingkah Dinda.
Bersambung...
__ADS_1
Yang sudah baca Menjadi selingkuhan suamiku, kalian ingat nggak sama BIMA anaknya papi Rio dan mami Irma?
hehe nanya doang si 😁😁