
Happy reading,
Maaf kalau aluarnya lambat, konfliknya ringan dan datar. 😁😁 jadinya hambar nggak enak 😘😘
...🌷🌷🌷...
Sebuah karangan bunga berjejer rapi memenuhi halaman rumah sakit family care. Karangan bunga yang di kirim oleh seseorang suruhan Prilly, bertuliskan kalimat yang membuat Adinda tercenung ketika membacanya dalam hati.
"Dokter, cantik pelakor"
"Dokter yang sudah berhasil merebut suami orang, Adinda Sofiana"
"Perempuan kejam dan tidak punya harga diri, yang tega mencuri ayah dari calon bayinya"
"Selamat dokter Dinda, anda berhasil menikahi suami orang"
"Selamat atas gelar baru 'pelakor busuk' yang anda miliki"
Dan masih banyak lagi kalimat horor yang tertulis di sisi bagian depan karangan bunga.
Terhitung ada lebih dari sepuluh papan dengan model dan hiasan serta tulisan yang bervariasi, membuat Dinda mendengkus dengan menahan rasa kesal.
Ia sempat mengambil gambar papan bunga itu untuk ia kirimkan pada Adam, kemudian buru-buru berjalan menuju pos satpam untuk menanyakan siapa gerangan yang berani mencoreng nama baiknya.
Dengan langkah lebar, ia sudah bisa menebak siapa pengirimnya.
"Maaf pak, ini karangan bunga begini sejak kapan ya pak?" tanya Dinda ingin tahu.
"Sejak subuh tadi dokter, pas saya tanya, mereka bilang ini adalah suruhan dari seseorang yang suaminya di rebut oleh dokter Dinda"
Jelas dia pelakunya, siapa lagi ? batin Dinda lalu menghela napas panjang.
Saat dokter itu hendak menyerukan keberatannya, tahu-tahu sosok Ben berdehem dari arah belakang lengkap dengan dahi berkerut. Pandangannya ia lempar pada benda yang mampu menarik perhatian publik dengan mulut bergerak seakan sedang membaca tulisan itu.
"Ulah siapa ini, pak?" Tanya Ben merujuk pada pak satpam.
"Dari wanita bernama Prilly, pak. Dia merasa menjadi korban karena suaminya diam-diam telah menikah dengan dokter Dinda. Saat saya hendak menyingkirkan ini semua, mereka mengancam saya dan akan memenjarakan saya, jadi saya menunggu keputusan dari pak Ben"
__ADS_1
"Cepat singkirkan semuanya, bila perlu bakar saja"
"Baik, pak Ben" Pria bertubuh kekar itu langsung berlari ke arah halaman rumah sakit.
Sementara Dinda hanya diam seraya menatap kepergian si satpam.
"Jangan di fikirkan dokter Dinda" kata Ben menatap Dinda yang juga sedang menatapnya. "Saya harap anda tetap fokus bekerja, karena anda yang bertanggung jawab dalam masalah kesehatan para pasien di rumah sakit ini"
"Itu pasti pak, saya tidak akan membawa masalah pribadi saya ke tempat kerja"
"Bagus"
"Maaf atas kekacauan yang saya buat pak" tambah Dinda tak enak hati.
Ben mengangguk.
Setelah pandangan mereka saling bertali selama sekian detik, mereka sama-sama memutus kontak mata lantas mengalihkannya ke arah satpam yang sedang menyingkirkan karangan itu satu persatu.
"Saya duluan, dokter Dinda" Ucap Ben ramah.
Selang lima detik, Dinda turut beranjak dari sana, ia menggembungkan mulutnya selagi melangkah memasuki rumah sakit.
Sikap Prilly benar-benar sudah keterlaluan. Seolah tidak merasa dirinya bersalah. Aku harus temui Zidan dan membahas ini.
Wanita itu membatin sambil mengirimkan pesan gambar ke nomor ponsel suaminya.
Adam yang menerima pesan itu, langsung naik pitam dan mengurungkan niatnya yang hendak berangkat ke kantor.
"Prilly!" Pria itu berteriak kesetanan memanggil nama sang istri. Prilly yang berada di meja makan tersenyum sinis, ia menyeruput teh lalu menaruh cangkirnya di atas meja.
"Ada apa si teriak-teriak?" tanya Prilly dengan santainya.
"Apa maksud semua ini?"
Prilly melirik layar ponsel yang Adam perlihatkan ke arahnya, ia memutar bola matanya dengan malas.
"Faktanya memang begitu kan?"
__ADS_1
"Keterlaluan kamu Prilly" Ujar Adam, emosinya kian memuncak. "Aku yang sudah menikahinya, seharusnya kamu juga mengolok-olokku, karena aku yang salah sudah memaksa Dinda untuk menikah denganku. Dan harusnya kamu juga sadar diri dengan kesalahanmu"
Usai mengatakan itu, Adam kembali menggerakkan jarinya di atas touchscreen mencari video yang Dinda kirimkan.
"Lihat ini! Apa kamu nggak malu saat melakukan itu?"
Prilly membulatkan mata begitu melihat video yang saat ini memutar bagian dirinya tengah memecahkan darah perawan.
"Kamu sudah tahu, Dam?"
"Aku tahu segalanya, Prilly, termasuk pembicaraanmu dengan Zidan di malam pengantin kita"
"Tapi sekarang kamu yang sudah menikahiku, kamulah suamiku dan aku, akan tetap mempertahankan rumah tanggaku, tidak ada yang boleh merebutmu dariku termasuk dokter pelakor itu"
"Berhenti mengatai istriku" Intonasinya meninggi, membuat Prillya memberingsut.
"Aku juga istrimu" sorot mata wanita yang berkulit putih bersih itu terlihat berkilat marah. "Apa karena dokter ja lang itu sudah memberikan kesuciannya padamu, jadi kamu menikahinya?"
Adam menarik napas panjang, melembutkan ekspresinya sebelum kemudian berkata,
"Dinda tahu batasan menjadi seorang wanita, itu sebabnya aku ingin menjadikan dia sebagai istriku, karena aku tidak rela jika wanita sebaik Dinda menjadi milik lelaki lain"
"Batasan menjadi seorang wanita?" ulang Prilly menahan sesuatu di dalam sana.
"Dia tidak pernah meninggikan suara di depan suaminya"
"Oh, jadi kamu sedang membandingkanku dengannya?" ucap Prilly lamat-lamat ia bangkit dari duduknya, matanya tertuju pada Adam dengan sangat intens. "Lalu apa hukum wanita yang merebut suami orang? apa hukumnya wanita yang diam-diam menikah dengan pria yang sudah beristri?"
"Sebelum berbicara mengenai siapa yang merebut siapa, alangkah baiknya kamu cari tahu apa hukumnya wanita yang memfitnah dan melakukan hal menjijikan hingga perbuatan itu membuatmu hamil! dan parahnya, kamu meminta pria lain untuk bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah dia lakukan"
"Itu karena aku mencintaimu?"
"Cinta kamu bilang?" Adam bertanya dengan sorot tajam.
"Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan pernah menyerahkan tubuhmu pada pria lain. Padahal, meski aku terpaksa menikahimu, aku akan melupakan semua tentang Dinda dan memulai hidup denganmu. Tapi di malam pengantin, aku justru mendapatkan fakta yang mengejutkan tentang kehamilanmu"
"Maaf Prilly, karena sikapmu sudah tidak bisa ku tolerir, aku terpaksa akan membongkar semuanya di hadapan Zidan serta orang tuanya. Mengenai ayahmu, aku memberikan kesempatan untukmu menjelaskan semua padanya" tambah Adam lalu membalikkan badan dan melangkah pergi.
__ADS_1