
"Silakan duduk!" Zidan lebih dulu duduk, di susul Adam serta Dinda.
Sempat hening beberapa detik, mereka sama-sama tidak bersuara.
"Kalian benar-benar sudah menikah?" Tanya Zidan dengan sorot fokus menatap Adam lalu Dinda.
"Kami menikah dua minggu setelah aku menikahi Prilly" Meski agak sedikit ragu, tapi Adam harus mengatakan dan menyelesaikan semuanya sebelum Prilly berulah semakin gila.
"Dan kamu harus tahu, walaupun aku sudah menikahi Prilya, tapi secara agama, aku tidak boleh menyentuhnya sampai dia melahirkan sebab dia sedang mengandung anak dari pria lain"
"Jadi kalian benar-benar belum pernah_"
"Belum" Potong Adam memenggal kalimat Zidan.
CEO dari Harquina itu menghela napas panjang.
"Bukankah pak Zidan pernah menawarkan kerja sama untuk menggagalkan pernikahan mas Adam dengan Prilly, jadi apakah sampai saat ini pak Zidan masih mencintai Prilly dan menginginkannya?" Perkataan Dinda membuat Zidan memindai wajahnya.
"Tentu saja, apalagi dia sedang mengandung anakku"
"Apa yang kamu katakan Zi?" Tiba-tiba sang mamah datang dari arah ruang tengah. Ia begitu terkejut ketika mendengar bahwa putranya adalah ayah dari bayi yang di kandung Prillya.
"M-mamah" Wanita bernama indah melangkah mendekat, lalu turut duduk di samping Zidan.
"Kamu bilang Prilly sedang mengandung anakmu?"
"B-begini mah"
"Katakan sejelas-jelasnya pada mamah, Zi"
"Iya mah"
Indah terdiam kaku dengan tatapan mata kosong.
"Bu, perkenalkan, saya Adam, dan ini Dinda, istri ke dua saya" Adam menunjuk wanita di sampingnya.
"Bukankah kamu suaminya Prilly, Prilly bilang sedang mengandung anakmu jadi dia memutuskan pertunangan dengan Zidan"
"Ternyata Prillya membohongi saya, bu.. Membohongi kita semua"
"Tapi kenapa?"
"Prilly mencintai Adam mah" sahut Zidan. "Sebenarnya, Adam adalah mantan pacar Prilly, tapi om Birawa tidak merestuinya, beliau meminta Prillya menerima pinanganku waktu itu"
"Sudah, mamah tidak mau membicarakan ini, sekarang Prilly sudah menjadi istri dari pria lain, itu tidak ada urusannya lagi dengan kita"
"Tapi mah, dia sedang mengandung anakku, aku juga masih mencintainya mah"
"Mamah tidak mau tahu, dia sudah memutuskan untuk tidak menikah denganmu, itu artinya dia memutuskan bahwa anaknya bukan anakmu"
"Tapi mah"
"Mamah tidak mau dengar apapun lagi Zi, wanita itu sudah mempermalukan keluarga kita dengan membatalkan pernikahan kalian, apa kamu tidak merasa terhina oleh sikapnya?"
"Tapi bu, anak yang di kandung Prilly itu anaknya pak Zidan, bukan anaknya mas Adam" Merasa geram, Dinda pun turut menyerukan unek-uneknya. "Biar bagaimanapun, anak itu harus tahu ayah kandungnya. Karena mas Adam tidak pernah menyentuh Prillya bu, mas Adam hanya di fitnah"
"Dari mana kalian tahu kalau anak itu seratus persen adalah anaknya Zidan, anak itu belum lahir, kalian tidak bisa bilang kalau itu anaknya Zidan"
"Tapi Prillya dan Zidan sudah mengakuinya bu" sambar Adam.
__ADS_1
"Belum tentu"
Zidan, Adam, dan Dinda tertegun mendengar sanggahan Indah.
"Bisa saja itu anak pria lain, kan?"
"Mah" sentak Zidan seakan tak terima.
"Mamah masih belum bisa terima Zi, kamu ingat kan bagaimana dia membatalkan pernikahan kalian yang akan di laksanakan dalam hitungan hari, dia bilang tidak bisa melanjutkan pernikahan karena sedang hamil anak pria lain, padahal semua persiapan saat itu sudah sembilan puluh persen, untung saja undangan belum di bagikan. Coba kalau sudah, papah dan mamah pasti akan lebih malu lagi"
"Please mah, jangan bahas soal yang dulu-dulu, anak itu benar-benar anakku, calon cucu mamah. Kami sering melakukannya setelah bertunangan mah, dan sampai detik ini, aku masih sangat mencintainya"
"Mamah tidak bisa memutuskan, kita bahas dengan papah nanti"
Usai mengatakan itu, Indah bangkit lalu meninggalkan ruang tamu.
Sementara Dinda dan Adam menatap kepergian wanita paruh baya itu dengan perasaan was-was.
"Saya akan menalak Prilly secepatnya, Zi" ucap Adam setelah terdiam beberapa saat.
"Ku kira kalian saling mencintai, itu sebabnya aku tidak berani mengganggu hubungan kalian"
"Itu dulu, sekarang aku sudah tidak mencintainya, aku lebih memilih Dinda, dan kamu bisa menikah dengannya"
"Tapi aku harus membicarakan ini dengan orang tuaku"
"Kami akan membantumu, pak Zidan" Dinda menyela. "Tapi bantu mas Adam bicara dengan Birawa"
"Baiklah, kita akan menunggu om Birawa pulang dari perjalanan bisnisnya, baru kita bicarakan ini"
"Itu bagus Zi, aku setuju" Timpal Adam.
***
Setelah makan malam, Adam dan Dinda duduk di sofa sambil melihat berita di TV. Melihat sang istri memasang raut cemas, Adam menarik pinggang Dinda agar bergeser merapat padanya.
"Ada apa?"
Dinda menggeleng.
"Mas ini pendengar setiamu, katakan apa yang mengusik pikiranmu pada suamimu"
Hening, Dinda tak kunjung bersuara, ia menutup rapat mulutnya.
"Kamu takut dengan Prillya, Birawa, atau gimana?" tanya Adam dengan nada sangat lembut.
Wanita itu tak langsung menjawab, tetapi kemudian teringat bagaimana Birawa akan selalu membela putrinya meskipun salah.
"Kalau iya, seharusnya kamu bisa dengan mudah mengabaikan itu, karena mas akan selalu ada untuk menyelesaikan semuanya. Kamu jangan khawatir dek"
"Bagaimana kalau_" Kalamat Dinda terhenti karena tiba-tiba Adam menghempaskan tubuhnya hingga ia rebah di atas sofa. Adam yang langsung menempatkan posisinya di atas tubuh Dinda, dengan cepat ia menciumi lehernya lalu membuat kissmark. Tangannya bahkan entah sejak kapan sudah berhasil membuka beberapa kancing piyama Dinda bagian atas, hingga dia membuat tanda yang sama di area tulang selangka.
"Kita bahkan sudah berulang kali melakukannya, kan?" tanyanya lalu mengerlingkan salah satu matanya.
Sadar karena sedang di goda oleh sang suami, reflek wanita itu mencubit lengan suaminya.
"Jangan memikirkan apapun, mas yang akan menyelesaikannya"
"Tapi .... kekhawatiranku masih ada" lirih Dinda. Bola matanya bergerak mencoba menyelami netra kelam milik Adam.
__ADS_1
"Its okay I'll take care of it one by one"
Teduh... tetapi tak cukup menenangkan hatinya yang entah kenapa masih di selimuti kerisauan. Adam terus melontarkan kalimat-kalimat agar Dinda tak terlalu mencemaskan soal permasalahan di dalam rumah tangganya. Mereka lalu berbincang ringan mengenai kegiatan masing-masing di tempat kerja yang Sesekali terhenti karena tangan dan bibir nakal Adam kerap menginterupsi percakapan mereka.
Dia yang masih memposisikan dirinya di atas tubuh Dinda, membuat pergerakan Dinda menjadi terbatas. Bahkan, ia tak bisa menghindari setiap cumbuan dan sentuhan tangan sang suami.
Masih berpakaian nyaris utuh tapi sudah sama-sama berantakan, kesadaran Dinda yang nyaris melayang karena perlakuan manis dari Adam, mendadak terkumpul ketika mendengar suara ketukan pintu.
"Mas" panggil Dinda mencoba menghentikan sang suami yang sedang bermain-main di area dadanya. "Mas!" ulang Dinda seraya menangkup kedua rahang dan membuat agar Adam menatapnya.
"Ada yang datang" Ujarnya yang tak lama kemudian kembali terdengar suara ketukan pintu. Kali ini suaranya seperti orang yang tidak sabaran.
"Sh-" Dengan gerak cepat Dinda membungkam bibir Adam dengan dua jari tangan kanan. Dinda tahu betul jika suaminya pasti akan mengumpat.
"Jangan mengumpat, siapa tahu abi atau umi yang datang" kata Dinda menahan senyum melihat wajah kesal suaminya.
Bergerak bangkit, pria itu bertumpu pada kedua lututnya yang masih di atas tubuh Dinda, dia mengenakan kaos putih polosnya yang tadi di pakai sebagai dalaman. Setelah kaos itu melekat sempurna, dia membantu merapikan kemeja Dinda.
"Mas lihat dulu siapa yang datang" Adam bangkit lalu mengintip door viewer menggunakan salah satu matanya.
Setelah memastikan siapa yang berada di balik pintu, Adam menatap Dinda yang tahu-tahu sedang memakai kerudung.
"Jangan pakai jilbabmu"
"Nggak mau"
"Ayolah sayang, buka jilbabmu"
"Tapi siapa yang datang?" tanya Dinda penasaran.
Alih-alih menjawab, Adam justru melepaskan kain yang menutupi kepala Dinda.
"Mana pita rambutmu?"
Dinda menunjukan pergelangan tangan. Tadi dia sempat memungut gelang karetnya di lantai. Tanpa mengatakan apapun, Adam mengambil pita rambut itu lalu memutar tubuh Dinda.
Dia menggulung rambut sang istri cukup tinggi. Bukan gulungan yang rapi, setelah itu kembali memutar tubuh Dinda dan memastikan dua kancing teratas piyamanya terbuka.
"Biar dia lihat itu"
Dinda termangu dengan tatapan bingung. Ia bahkan tak menolak ketika tangan Adam menarik dan menggandeng tangannya menuju pintu.
Mulanya Dinda tak tahu apa maksudnya, tapi setelah Adam membuka pintu apartemen, dan melihat siapa yang berdiri di sana, spontan Dinda menelan ludah seraya menoleh menatap suaminya yang sedikit terlihat acak-acakkan.
"P-Prilly?" ucapan Dinda terdengar seperti gumaman kecil. Menyadari tatapan Prilly yang begitu tajam, membuat Dinda membeku.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Adam to the point.
"Aku mencarimu, kenapa?" Prilly sama sekali tak menganggap bahwa Dinda berdiri di sebelah suaminya.
"Tapi kamu mengganggu kami yang sedang bercinta"
Mendengar ucapan Adam, detik itu juga Prillya mengalihkan pandangan menatap Dinda. Matanya menyorot tak suka ketika melihat leher dan tulang selangka yang di penuhi tanda merah.
Tatapan nanar yang sarat akan kebencian dan amarah.
Bersambung
sudah ku penuhi janjiku ya.. 😁😁 giliran nggarap tugas di dunia nyata.
__ADS_1