
Panasnya deru nafas yang saling bertubrukan, justru membuat Dinda mengikis jarak. Pelukannya mengerat kala gerakan intim dari pria di atasnya kian cepat. Hingga sebuah lenguhan panjang menandakan bahwa aktivitas penyatuan tubuh baru saja usai.
Keduanya saling beradu pandang dan tersenyum lembut.
Tak ada yang mereka lakukan kecuali diam dengan pandangan lekat saling menatap.
Sampai beberapa saat kemudian, Adam menarik napas panjang tanpa bergerak sedikitpun. Ia masih nyaman berada di posisinya dengan tangan menopang berat tubuhnya agar tak terlalu menindih wanita di bawahnya.
"Kenapa diam?" Dinda merangkum wajah Adam, memberikan usapan ringan menggunakan ibu jari di pipinya.
"Kamu nggak bosan sama aku?"
"Pertanyaan konyol" sahut Dinda menoel hidung suaminya.
"Aku nggak punya apa-apa, dek"
"Apa aku minta rumah mewah, aku minta uang yang banyak? enggak, kan? jadi nggak apa-apa, yang penting masih punya hati buat terus sayang sama aku"
"Satu hal yang harus kamu yakini" Adam menjeda ucapannya sebelum kemudian kembali melanjutkan. "Mas adalah orang yang jujur, apa adanya dan akan selalu mencintaimu"
"Janji?"
"Insya Allah"
"Tapi bagaimana kalau aku nggak bisa punya anak?"
Sebelum menjawab, Adam menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sebab hawa panas yang tadi sempat ia rasakan, berganti dengan sejuk karena pancaran AC.
"Kita akan adopsi anak yatim, kita rawat dan besarkan layaknya anak kita"
"Mas nggak mau nikah lagi?"
__ADS_1
"Kita nggak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, iya kan?" Sorot mata Adam penuh mengikuti gerakan manik hitam Dinda. "Mas berharap kalau Allah, yang memiliki kekuatan membolak-balikkan hati manusia, tidak akan mengubah perasaan mas ke kamu"
"Don't leave me. Apa nggak apa-apa aku ngomong gitu?"
"Ya enggak dong" Adam tersenyum, lalu mengecup kilat bibir Dinda.
"Hiduplah terus bersamaku, sampai rambut kita memutih"
"Insya Allah" balas Dinda berbisik.
"Lagi, mau?"
Dinda yang selalu tak bisa menahan hasratnya jika sedang intens seperti ini, langsung mengangguk malu-malu.
Mendapat persetujuan dari sang istri, Adam kembali mencumbunya penuh gairah, tak memperdulikan erangan istrinya yang kian menderu.
Mereka yang terlampau lelah, langsung hanyut dalam mimpi usai penyatuan yang kedua kali.
"Jadi gimana soal orang yang menabrakku, mas?"
"Entahlah dek, sepertinya dia sangat profesional, dia sama sekali tak meninggalkan jejak apapun, mulai dari nomor kendaraan, motor yang di modifikasi, orang itu memakai Helm, lengkap dengan jaket dan sarung tangan. Dia juga larinya ke arah yang tak ada CCTV jalan, jadi sulit terdekteksi"
"Ya udah lah mas, nggak usah di lanjutin pencariannya, mas cabut laporan mas. Buang-buang waktu. Kita doakan saja semoga dia taubat, dan ada niat baik untuk mencariku buat minta maaf"
"Nggak bisa gitu dong sayang, kita harus kasih hukuman, dia nyaris membuat mas kehilanganmu lho"
"Ya gimana, ini sudah lewat tiga bulan, tapi polisi masih belum menemukan pelaku tabrak lari itu"
"Sabar sayang"
"Sebenarnya pak Ben menawarkan jasa untuk membantu kita, mas. Tapi ku tolak"
__ADS_1
"Kenapa di tolak?"
"Ya karena urusan dia aja udah banyak banget, belum lagi bisnis atasannya yang ada di penjuru Macau-Hongkong. Aku nggak enak lah"
"Benar juga si, mas setuju"
"Ikhlasin aja ya?" Pinta Dinda memelas. "Aku suka bingung kalau polisi menginterogasiku. Waktuku juga terbuang gara-gara ini"
"Yakin kamu ikhlas, Dek? kalau mas, jujur nggak ikhlas, mas pengin usut sampai tuntas, sampai pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya"
"Maunya juga gitu, tapi melihat bagaimana polisi belum bisa mengusut sampai detik ini, aku jadi capek sendiri"
"Ya udah deh, mas ngikut kamu"
"Bismillah ya, ikhlas"
"Hmm" Adam mengangguk. "Semoga keikhlasan ini di ganti sama anak yang sholeh dan sholehah"
"Aamiin"
Dinda mengamini tanpa ragu. Sebab bulan lalu Adam dan Dinda yang melakukan tes kesuburan, hasilnya benar-benar memuaskan. Keduanya sama-sama tidak memiliki masalah apapun. Itu artinya, Adam dan Dinda hanya perlu berusaha lebih keras lagi, lebih sabar, dan terus berdoa"
"Kita berangkat?" Ajak Adam yang lebih dulu menyelesaikan sarapannya.
"Ayo" Adam yang sudah sibuk dengan pekerjaan, membuatnya jarang sekali mengantar Dinda ke rumah sakit. Seperti pagi ini, mereka sama-sama keluar dari gedung apartemennya dan menuju mobil masing-masing. Mereka berpisah di pintu keluar, sebab lokasi kerjanya berlawanan arah.
Di tempat lain, Perut Prilly yang memasuki bulan ke delapan, ruang geraknya menjadi terbatas. Dia sama sekali tak di ijinkan bekerja oleh mertuanya, ayah, serta suaminya. Dia hanya duduk di rumah, shoping, healing dengan suami, kadang-kadang juga ngumpul bersama teman-teman sosialitanya.
Semenjak ancaman dari sang ayah, Prilly memang memilih untuk melupakan konfliknya dengan Dinda. Dia tak mau ambil resiko dan mendekam di penjara, selain itu, Zidan juga mewanti-wanti untuk jangan lagi bermusuhan dengan Dinda.
Dan kesibukan bersama teman-teman melakukan aktivitas kehamilannya, benar-benar membuatnya lebih tenang.
__ADS_1
Bersambung