Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Kamu pikir aku sebodoh itu?


__ADS_3

"B-buku nikah?" Wajahnya memanas, jantung pun berdebar. "Milik siapa ini?"


Tanpa pikir panjang, tangannya bergerak membuka sampul dan seketika netranya menangkap foto pada halaman pertama.


"Adam, Dinda? m-mereka menikah?"


"Setega itu kamu menduakanku, Dam? padahal yang ku tahu kamu sangat mencintaiku? tapi, setelah kamu menikahiku, kamu juga menikahi Dinda?"


Barang sedetikpun, ia tak bisa mengalihkan perhatian pada dua foto berukuran dua kali empat yang berjejer rapi. Prillya menelan ludah yang bagai bongkahan batu di tenggorokan, merasakan nafasnya yang kian berat dan sesak.


Sekujur tubuhnya bergetar, tulang-tulang persendian pun melemas. Berulang kali wanita itu menarik napas panjang berharap rasa sesak yang menguasai dadanya sedikit berkurang. Tetapi tidak, justru rasa nyeri itu kian terasa mencengkram dengan sangat kejam.


"Tarik napas, lalu buang"


"Tarik napas, lalu buang"


"Tenang Prilly, kamu harus bisa membalas pengkhianatan ini"


Ia kembali mengambil nafas.


"Kamu pikir kamu dan Dinda bisa terus membodohiku, Dam?"


"Aku tidak akan tinggal diam"


"Kalian berdua harus turut merasakan apa yang aku rasakan, bila perlu harus lebih sakit dari ini"


Dia kembali memasukkan buku itu ke dalam tas kerja suaminya. Lalu berjalan ke arah balkon, mencari udara segar untuk ia salurkan ke dalam paru-parunya.


"Jadi kalian diam-diam sudah menikah?" Prillya tersenyum miring, tangannya mengusap titik bening yang kian berjatuhan sebelum kemudian melipatkan di depan dada.


"Keterlaluan kalian berdua"


"Dinda, Adam kalian main-main di belakangku!"


Hingga malam semakin pekat, dari atas balkon, wanita itu menatap ke atas langit kosong. Bulan tak tampak, gelapnya tak di hiasi taburan bintang. Sepertinya malam sedang berpihak dan ikut merasakan duka yang menimpanya.

__ADS_1


Duka atas pengkhianatan suami dengan dokter cantik pelakor, duniapun terasa gelap setelah tahu status hubungan mereka.


"Jadi kalian pasangan suami istri?"


"Rendah sekali kamu, Dinda! di jadikan istri kedua oleh suamiku"


"Prill"


Dia berbalik begitu namanya di panggil, netranya langsung memindai tubuh Adam yang sudah berdiri di ambang pintu antara kamar dengan balkon. Pria itu tampak lebih fresh dari sebelumnya, aroma sabun yang menguar dari tubuhnya, sesaat membuat Prilly hanyut dengan pesona suami tampannya, namun buku nikah yang ia temukan membuatnya sadar kalau pria tampan itu bukan hanya miliknya, tapi juga milik wanita lain.


"Ngapain di sini?"


"Nggak ngapa-ngapain"


"Masuk"


Menghela napas berat, ia lantas melangkah menerobos pintu memasuki kamar.


Wajahnya yang datar tanpa ekspresi, membuat Adam mengernyitkan dahi.


"Kenapa wajahnya sangat membosankan?"


Adam menggeleng dengan tangan bergerak menggeser pintu kaca.


Saat berbalik, sudah ada Prily berdiri di hadapannya, tangannya memegang buku berukuran kecil membuat Adam seketika termangu.


"Bisa kamu jelaskan ini apa?" wanita itu mengangkat tangan memperlihatkan benda yang ia pegang.


Menelan ludah, Adam melirik buku nikah miliknya sekilas, lalu beralih menatap wajah Prilly yang penuh amarah.


"Okay, mari kita akhiri semua kebohongan kita" Adam menarik napas sejenak.


"Sebelum meminta penjelasan dariku" Kata Adam tenang, "Bisakah kamu jelaskan padaku mengenai anak yang kamu kandung, dengan begitu akan adil bagiku, dan juga buatmu"


"Apa maksudmu?" tanya Prilly pura-pura tak mengerti.

__ADS_1


Tersenyum miring, Adam merampas buku miliknya.


"Kamu yang memulai kebohongan itu, jadi jangan salahkan aku kalau aku juga membohongimu"


"Kebohongan apa maksud kamu, Adam?"


"Aku tanya, dan jawablah dengan jujur. Siapa ayah dari bayi yang ada di perutmu?"


Kini ganti Prilly yang termangu, namun hanya sesaat, setelahnya ia kembali dengan gesture santai "Kamu yang sudah merampas kesucianku, kamu malah meragukan anak ini?"


"Jelas aku ragu, karena darah sucimu itu palsu"


Sepersekian detik, wanita itu menelan ludahnya dengan lancar.


"Aku tahu semuanya Prilly" kata Adam yang membuat jantung Prillya makin kebat-kebit.


"Aku tidak pernah menyentuhmu, aku juga bukan ayah dari anakmu. Andai aku tahu dari awal kalau itu bukanlah anakku, aku tidak akan pernah mau menikahimu"


"Apa kamu punya bukti, kalau anak ini bukan anakmu?" Prilly berusaha menormalkan detak jantungnya, ia harus bisa bersikap setenang mungkin di depan Adam.


"Zidan, dia ayah dari anakmu, bukan?"


Dengan buru-buru Adam menyambar kunci mobil yang ada di meja nakas.


"Kamu mau kemana, Adam?" Pasalnya, ia baru saja pulang dan kini malah berniat pergi lagi.


"Aku akan menunggumu untuk mengakhiri semua kebohonganmu secara baik-baik, akan aku maafkan perbuatanmu dan menyembunyikan image baik dari publik serta rekan bisnis ayahmu, tapi jika kamu tetap arrogant, apalagi membuat Dinda malu, aku tidak segan-segan membongkar semuanya"


Dia pergi usai mengatakan itu, meninggalkan istrinya yang terpaku tanpa kata lengkap dengan sorot nanar.


"Mengakhiri kebohongan secara baik-baik?! ckkk,, itu artinya aku menyerah dan membiarkan kalian hidup bahagia? kamu pikir aku sebodoh itu Dam, aku tidak akan membiarkan perebut suami orang menang"


Bersambung..


Hikksss udah malas bgt nulis karena sudah lelah duluan dengan pekerjaan...

__ADS_1


Sekolah sudah mulai normal nggak kaya tahun lalu banyak waktu luang karena pandemi. 😄😄😄


mohon maaf


__ADS_2