Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Perkataan yang menusuk hati


__ADS_3

Satu bulan berlalu, Adam sudah menalak Prilly dan mendaftarkan perceraiannya ke pengadilan agama, dan hari ini surat perceraian itu sudah keluar.


Adam yang juga sudah satu bulan menganggur, belum mendapatkan pekerjaan sampai sekarang, waktunya ia isi dengan mengantar jemput sang istri ke rumah sakit.


"Maaf ya, mas belum dapat pekerjaan" tangan Adam terulur mengusap puncak kepala Dinda.


"Nggak apa-apa, sabar aja nanti pasti dapat"


"Kamu nggak malu, punya suami pengangguran? nggak kasih kamu uang bulanan buat belanja"


"Enggak, aku tahu gimana usaha mas buat cari-cari kerja" Dinda meraih tangan Adam dan menggenggamnya. "Mas kan sudah bekerja bertahun-tahun, nah mumpung lagi nggak kerja, manfaatkan waktu mas buat istirahat sebelum nanti sibuk banyak-banyak"


Mendengar ucapan Dinda, seketika membuat hati Adam menghangat.


"Insya Allah, nanti kalau mas sudah dapat kerjaan, mas janji semua gaji mas kasihkan ke kamu"


"Benar mas nggak minta buat uang makan atau uang bensin gitu? uang rokok gitu?"


"Ya pokoknya kamu yang atur nanti"


"Yakin kalau aku yang atur? nggak nyesel?"


"Enggak, memangnya nyesel kenapa?"


"Nggak dapat uang rokok loh?"


"Kamu nyuruh mas buat jangan merokok, tapi kalau mas lagi merokok kamu nggak ngelarang. Kalau mau ngatur suami yang tegas, jangan setengah-setengah"


"Kalau keberatan, mas ngomong, jangan diam aja"


"Bukan keberatan, dek... cuma pengin tahu segigih apa kamu melarang mas buat nggak merokok"


"Ya harusnya mas peka"


Adam tersenyum sementara


Dinda menghembuskan napas dan berusaha melepas tangan yang masih di genggamnya.


"Lepas mas, malu tahu" ucapnya pelan sambil melirik sekitar.


"Malu kenapa? memangnya kamu lagi sama suami orang?"


Melihat wajah Dinda yang reflek cemberut, Adam kembali tersenyum. Ia sama sekali tak menyangka bisa menikah dengan seorang dokter yang begitu imut dan lucu, tapi selalu bersikap dewasa dalam situasi apapun.


Menurut Adam, istrinya adalah sosok yang easy going, tidak pernah memperumit suatu keadaan jika sedang berkonflik. Sifatnya yang lemah lembut dan tidak mudah marah, mempermudah mereka untuk berbicara jika ada masalah.Termasuk saat rumah tangganya di uji dengan sang suami yang tidak memiliki pekerjaan.


"Jadinya, mas nggak di bolehin merokok mulai sekarang?" tanya Adam.

__ADS_1


"Terserah mas"


"Kalau jawabmu terserah, nanti mas bisa semaunya sendiri loh, sehari dua bungkus gimana?"


"Kalau aku jawab wajib berhenti merokok, nanti mas mikir aku terlalu mengekang dan banyak ngatur"


"Kalau mas nyuruh kamu buat jangan mampir-mampir setelah pulang kerja, kamu juga punya hak yang sama. Kamu punya hak untuk mengatur suamimu sama sepertiku yang kadang-kadang suka mengaturmu, memintamu untuk menuruti apa ucapan suami"


"Tapi seorang istri kan memang harus nurut sama suaminya"


"Mas belum selesai ngomong, Adinda"


Bibir Dinda langsug terkatup, kemudian hening. Mereka hanya diam seraya saling menatap.


"Aku ini suamimu, jangan memposisikan mas layaknya atasan, itu yang nantinya akan membuat kamu ragu buat menuntut hakmu"


"Seharusnya mas paham yang aku minta, semua juga buat kebaikan mas, kan?"


"Paham, tapi mas juga ingin dengar ketegasanmu, selama ini kamu cuma bilang jangan merokok, jangan merokok, tapi kalau mas merokok, kamunya diam saja"


"Jadi mas pengin aku tegas, begitu?" tanya Dinda memastikan. "Beneran jangan nyesel ya, jangan mengataiku istri yang enggak sopan kalau tiba-tiba ku ambil rokok yang sedang mas hisap"


Perkataan Dinda, di sambut dengan anggukan kepala dan senyum yang terulas di bibir Adam.


"Aku kerja dulu"


"Nanti pulang jam berapa?" tanya Adam masih dengan sisa senyumnya.


"Okay, sebelum jamnya pulang, mas sudah di sini"


"Iya"


"Ya udah masuk"


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Setelah memastikan Dinda benar-benar memasuki gedung rumah sakit, barulah Adam menyalakan mesin motor sebelum kemudian menarik gas di tangan kanannya.


Hari ini Adam mengantar Dinda menggunakan motor matic yang dulu menjadi penyebab perkenalannya.


Sambil mengendarai motor Dinda, ingatan Adam mengulas tentang pertemuan pertama mereka. Reflek, bibirnya tersenyum di balik masker, kepalanya menggeleng teringat tentang semuanya.


Sementara Dinda, Baru saja memasuki area ruang tunggu, langkahnya di cegat oleh wanita yang menjadi rivalnya.


Sedari tadi, wanita itu menyaksikan percakapan Dinda dan Adam dari kejauhan, ia merasa cemburu melihat bagaimana sepasang suami istri terlihat begitu mesra. Apalagi ketika tangan Adam mengusap puncak kepala Dinda lengkap dengan bibir mengulas senyum, rasanya api amarah sekaligus cemburu terus berkobar di dalam benaknya.

__ADS_1


"Prilly" pandangan mereka bertemu.


"Sukses gila dalam hal merebut suami orang" desisnya santai.


"Terserah apa katamu"


"Ya, terserah apa katamu, yang penting aku sudah merebut suamimu" Ucap Prilly dengan nada meledek.


"Sampai kapanpun, bagiku kamulah pelakor. Perebut laki orang, dan aku berdoa semoga anakmu kelak merasakan suaminya di rebut oleh wanita lain"


"Nggak usah sok ngancam kamu"


Dia tersenyum sinis. "Bukankah apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai, dokter Dinda?" tanya Prilly. "Okey, sekarang aku biarkan kamu menang, tapi lihat saja, kamu pasti akan mendapat karma karena sudah merebut suamiku"


Menelan ludah, berulang kali Dinda mencerna ucapan Prilly.


Bukankah dia yang berulah, kenapa dia menyumpahiku?


Apa dirinya sudah benar, sehingga berani mengancam orang dengan dalih sebuah karma?


"Ingat Dinda" kata Prilly yang sepersekian detik membuyarkan fokus Dinda. Suaranya rendah, tapi penuh penekanan. "Pelakor, tidak akan pernah hidup tenang. Pelakor, akan selalu di hantui oleh seorang pelakor"


Lagi-lagi, Dinda menelan ludahnya dengan susah payah, ia mencoba menahan diri agar emosinya tak ikut terpancing.


"Kamu tahu nggak, kalau nganggurnya suamimu itu bagian dari karmamu?"


"Nggak usah bawa-bawa karma, Prilly, kamu pikir kamu tidak pernah berbuat salah?"


"Dan lagi" Prilly tak mengindahi kalimat Dinda barusan. "Dua bulan kamu menikah, apakah sudah ada tanda-tanda hamil? awas lho, kalau nggak bisa secepatnya punya anak, mas Adammu mungkin bisa berpaling kepada wanita lain, pada pelakor misalnya"


"Apa maksud kamu?" tanya Dinda berusaha tenang.


Wanita itu tersenyum miring. "Memangnya apa lagi yang di harapkan pasangan suami istri setelah pernikahan selain anak?" Prilly seakan meremehkan. "Mungkin sudah berulang kali kalian melakukan hubungan suami istri, tapi mana hasilnya? sementara aku, hanya berhubungan beberapa kali saja sudah di nyatakan positif"


"Jangan merasa bangga hamil sebelum menikah"


"Setidaknya, aku bisa di pastikan kalau aku bisa memberikan keturunan, sementara kamu, masih abu-abu"


"Soal keturunan, biarlah menjadi rahasia yang maha kuasa, baik kamu atau siapapun tidak berhak menghakimi seorang istri yang belum hamil"


"Ya ya, terserah apa katamu, yang jelas, berhati-hatilah dengan pelakor, awas tak kunjung hamil, suami bisa berpaling" Prillya mengatakannya seraya meraih amplop di dalam tasnya.


"Ini surat resmi perceraian kami, ini adalah bukti kalau kamu berhasil merebut suamiku, dan siap-siap untuk menghadapi calon pelakor yang akan merebut suamimu nanti" Menyerahkan amplop itu, dan kembali berkata.


"Aku memang menyerahkan suamiku padamu, tapi tidak dengan kerelaanku, suatu saat akan ada wanita yang merebut Adam darimu, dan kamu akan merasakan sakit yang aku rasa" tambahnya dengan mata menajam.


Ucapan Prilly, bagaikan peluru yang di tembakkan tepat di dada sebelah kiri, hingga nyerinya langsung menjalar ke seluruh tubuh.

__ADS_1


"Ingat Dinda, kamu sudah sangat menyakitiku"


Dia langsung pergi tanpa menunggu Dinda merespon balik. Tak peduli meski perkataanya sudah menyinggung Dinda begitu dalam.


__ADS_2