Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Bersitegang


__ADS_3

Dinda menyuruh Prilly masuk, kemudian mempersilakan duduk. Dia yang sudah mengenakan hijabnya, duduk bersebrangan dengan Prilly sementara Adam duduk di single sofa lainya, hanya bisa menatap dua wanita yang menjadi istrinya.


"Bisa nggak Din, kamu balikin Adam padaku, dan pergi dari kehidupan kami"


"Maaf kalau aku sudah merusak hubunganmu dengan mas Adam" kata Dinda merendahkan nada bicaranya. "Aku salah, mas Adam juga salah, tapi kamu juga harus menyadari kesalahanmu"


"Semua berawal darimu, Din. Kamu tahu itu"


Mendengar sahutan Prilly, Dinda bisa mengira kalau dia tidak akan pernah mau di salahkan.


"Kamu sedang mengandung anak siapa?"


"Kenapa kamu bahas yang jelas tidak ada hubungannya dengan aku, kamu dan juga Adam"


"Ini bagian dari alasan mas Adam meninggalkanmu, Prilly. Masa kayak gitu saja harus di beri tahu berulang kali"


"Tetap saja kamulah biang keroknya. Andai kamu tidak menyusup masuk ke hotel yang ku pesan, semua akan berjalan lancar, aku dan Adam pasti sudah membina rumah tangga tanpa kamu"


"Okay, aku biang keroknya, tapi harus kamu ingat kata pepatah. Serapat-rapatnya kamu menyimpan bangkai, cepat atau lambat, akan kecium juga baunya"


Adam membungkam mulutnya, bukan berarti tak berani mengucap sepatah katapun, hanya saja pria itu sudah benar-benar malas bicara dengan wanita yang arogan. Meski begitu, Adam selalu pasang badan jika Prilly mulai emosi.


"Kamu harus tahu kalau pak Zidan lebih mencintaimu"


"Tapi aku mencintai, Adam" Pandangan Prilly kini beralih pada lelaki yang sedang memainkan gawai dengan santainya.


"Kamu tahu saat ini aku mencintai siapa, Pril" Adam tanpa menatap wanita yang pernah mengisi hatinya.


"Aku mohon padamu Din, jangan rebut apa yang sudah menjadi milikku"


Dinda menahan napas. Sepasang matanya menatap sosok perempuan yang duduk dengan memangku kedua tangan di depannya, sedikit heran dengan nada suaranya yang tiba-tiba melembut seolah tak pernah ada insiden apapun.


"Kamu tanyakan pada mas Adam, apa aku sudah merebutnya darimu. Jika mas Adam bilang iya, aku siap mengembalikan suamimu, tapi jika mas Adam bilang tidak" pungkas Dinda menarik napas "Maaf, aku tidak akan mengembalikan mas Adam padamu"


Dia mendengkus sinis. Dan Dinda baru sadar kalau wanita di hadapannya benar-benar sangat menyebalkan. Prilly yang sudah sering meremehkan Dinda, kali ini bahkan seperti lebih dari meremehkan, bisa di bilang benar-benar sudah menginjak-injak harga dirinya dengan tanpa ampun. Dinda pikir ucapannya yang menyinggung soal anak akan sedikit mengubah pandangan dan sikapnya. Namun ternyata tidak.


"Kamu tahu? betapa bahagianya hubungan kami sebelum kamu masuk, Dinda?"

__ADS_1


"Aku tahu, tapi sekali lagi aku katakan, kamu sedang mengandung anak pria lain, bukan anak dari pria yang sudah menikahimu"


"Lalu apa masalahnya, anak ini nggak tahu apapun, aku mencintai Adam, dan harusnya kamu sadar diri kalau kamu bukan yang pertama. Jangan karena sudah memiliki Adam sepenuhnya lantas seenaknya menghalangiku untuk berhubungan dengan suamiku sendiri"


"Nggak usah berbelit-belit deh Pril, kamu tanya mas Adam, jika dia mau balik sama kamu silakan ambil dan bawa pulang, tapi jika mas Adam tidak mau, kamu jangan memaksa, karena mas Adam bukan anak kecil, dia orang dewasa yang tidak perlu di paksa-paksa untuk urusan cinta"


"Secepat itukah Adam mencintaimu, Dinda? jangan mudah percaya pada pria bermulut manis, aku dan Adam sudah berhubungan selama dua tahun, tidak mudah melupakan cinta pertamanya secepat itu"


Adam tercenung sekaligus tak percaya kalau Prillya terang-terangan menjelekkan dirinya di hadapannya sendiri.


"Apa yang terjadi di antara aku dan mas Adam, apa yang kami bicarakan berdua, aku rasa sudah sangat cukup untuk meyakinkanku kalau mas Adam memang mencintaiku"


"Apa yang kalian bicarakan?" Prilly menatap Adam dan Dinda bergantian. Tatapan penuh intimidasi seakan ingin tahu pembicaraan yang Dinda maksud.


Sementara Dinda membalas tatapan Prilly dengan dahi berkerut, mencoba memahami maksud dari pertanyaannya.


"Kamu tidak mau jawab, dokter Dinda?"


Adinda menelan salivanya yang kian tercekat di tenggorokan, kemudian menatap Adam yang tampak kelam dari sorot matanya.


"Cukup Prilly" bentak Adam seraya bangkit. "Aku diam bukan berarti menerima setiap perkataan kamu"


"Kenapa harus dia yang rebut kamu, Dam?" Prilly turut bangkit.


Dinda menatap dua orang yang sedang bersitatap penuh ketegangan dengan kepala terdongak.


"Waktu dan perhatianmu lambat laun berkurang, dan bahkan kamu tidak sudi menyentuh istrimu sendiri, siapa lagi yang bisa ku salahkan kalau bukan dia" tangan Kiri Prilly menunjuk Dinda.


"Bukan hanya waktu dan perhatianmu, cinta dan hati kamu pun juga teralih ke dia! Padahal sebelum ada dia, aku memiliki semua itu. Waktumu, perhatianmu, cinta dan bahkan hatimu"


Semua perkataan Prilly benar-benar sulit untuk Dinda terima dengan akal sehat.


Sedetik kemudian, tanpa Dinda duga, tiba-tiba Prilly meraih salah satu tangannya kemudian menggenggamnya cukup erat. Kelopak mata wanita itu pun sudah berkaca-kaca ketika Dinda mempertemukan netranya. "Sekali lagi aku memohon padamu, jangan rebut Adam dariku! dia satu-satunya pria yang ku cintai. Please Din, bujuk Adam supaya mau kembali padaku" pinta Prilly dengan raut wajah berubah memelas.


Tunggu ... bukankah ini salah. Batin Dinda seraya menelan salivanya.


"Silahkan kamu ngomong ke mas Adam, Pril"

__ADS_1


Dinda lalu masuk ke dalam kamar setelah mengatakan itu. Rasanya, ia benar-benar sudah malas dengan segala tuduhan serta dramanya.


"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau kembali padamu Prilly, jika aku dan Dinda harus berpisah, aku tidak sudi menjalin hubungan denganmu lagi, camkan itu" Lirih tapi penuh penekanan.


"Keluar dari rumah kami"


"Kamu mengusirku, Dam? Aku istrimu, harusnya kamu ikut pulang bersamaku"


"Kamu harus tahu, aku sudah tidak mencintaimu, dan alangkah baiknya, kamu kembali pada Zidan, karena dia adalah ayah dari anakmu. Itu akan lebih baik, tidak hanya buat anakmu, tapi juga buat kamu"


Prilly tak merespon, ia hanya menatap Adam lekat-lekat.


"Kalau kamu tidak mau pulang sendiri, baik aku akan mengantarkanmu pulang, tapi setelah mengantarmu, aku akan kembali lagi ke sini"


"Kenapa? itu juga rumahmu kan?"


"Aku tidak bisa lagi tinggal denganmu"


Prilly pun mengangguk setuju setelah lima detik. Usai berpamitan pada Dinda, Adam serta Prilly melangkah keluar.


Setibanya di rumah, Adam yang sudah mengantarkannya pulang, tercengang ketika mendengar kalimat Prilly.


"Jika kamu kembali ke apartemen Dinda" kata Prilly yang membuat Adam persekian detik menghentikan langkahnya kemudian berbalik. "Kamu tahu apa yang akan aku lakukan pada diriku sendiri"


"Apa maksud kamu?" tanya Adam mengernyit.


"Aku akan melukai diriku sendiri"


"Sinting kamu, Prilly"


"Aku begini karena kamu, dan kamu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku"


Menghela napas panjang, Adam merasa berada di situasi tersulit. Tak ada pilihan lain, dia pun mengirim pesan pada Dinda kalau dirinya tak jadi pulang ke apartemen dan akan menginap di rumah Prilly.


Bersambung.


Selamat senin...

__ADS_1


__ADS_2