Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Setuju berpisah


__ADS_3

"Kalau memang Zidanlah ayah dari bayimu, lantas kenapa kamu ingin memisahkan mereka?" Kata Birawa setelah Prilly selesai membaca surat peninggalan bundanya. "Ayah mohon nak, relakan Adam untuk Dinda, dan terima Zidan menjadi suamimu"


Tak ada jawaban dari Prilly, dia hanya bergeming sambil menundukkan kepalanya.


"Penuhi amanah bundamu, sayang! bantu ayah mengabulkan keinginannya. Lagi pula, Adam sudah tidak mencintaimu, untuk apa kamu mempertahankan suami yang mencintai wanita lain? untuk apa kamu pertaruhkan hatimu merasakan pesakitan karena mencintai tanpa di cintai?"


"Akan lebih indah hidup di cintai dari pada mencintai, Prilly. Contohnya bundamu, hidup bunda sangat menderita karena tidak mendapatkan cinta dari ayah, dia bahkan mengakhiri hidupnya sendiri karena ayah terlambat menyadari cinta bunda. Jadi please, jangan kamu ulangi apa yang menimpa bundamu, ayah tidak mau kehilanganmu"


Wanita itu langsung mengusap pipinya yang di jatuhi buliran bening dari pelupuk mata.


"Zidan lebih baik nak" tambah Birawa berusaha memberikan pengertian pada putrinya. "Ayah bisa jamin itu"


"Tapi aku tidak mencintainya, yah"


"Percayalah cinta akan tumbuh seiring waktu, seperti ayah yang kian lama mencintai bunda"


"Butuh waktu berapa tahun untuk bisa melupakan Adam sekaligus untuk mencintai Zidan, ayah?"


"Tidak lama jika kamu menutup pintu hatimu untuk Adam, lalu membukanya untuk Zidan dan membiarkan dia masuk"


"Itu artinya, aku membiarkan pelakor menang?" gumam Prilly yang membuat kening Birawa mengerut tajam.


"Ikhlaskan nak, Dinda pantas mendapatkan barang bekas dari wanita berkelas sepertimu"


Birawa mengira selama pernikahan, Adam dan Prillya sering melakuan hubungan suami istri.


"Berikan Adam pada Dinda, lalu kamu, hiduplah bersama pria yang sangat mencintaimu"


Cukup lama Prillya tak membalas perkataan sang ayah, merasa tidak rela jika harus menyerahkan pria yang ia cintai kepada wanita lain. Apalagi pada Dinda yang jelas-jelas dengan sengaja menginginkan suaminya. Wanita yang sudah berani mengusik hidupnya.


"Baik, aku akan penuhi amanah bunda" ujar Prilly setelah terdiam hingga bermenit-menit lamanya.


"Aku akan bercerai dengan Adam, dan menerima Zidan, tapi jika sampai anak ini lahir aku belum bisa mencintainya, aku akan menceraikannya"


Selain senang, Birawa juga tampak terkejut mendengar penuturan sang putri. Sepertinya ini PR bagi dia agar Prillya bisa jatuh cinta dengan Zidan. Karena kandungan Prilly sudah mulai memasuki bulan kedua, itu artinya tersisa tujuh bulan untuk menyelesaikan misinya.


***


Malam hari setelah dari rumah orang tuanya, Adam tidak langsung menuju ke rumah Dinda, ia mampir ke rumah ustadz Zaki untuk berkonsultasi tentang perceraiannya dengan Prilly. Pria itu bertanya apakah di perbolehkan menceraikan istrinya yang sedang dalam kondisi hamil.


"Seperti menalak istri harus dalam keadaan suci dan tidak dalam kondisi telah dicampuri (setelah berada dalam masa suci itu), atau boleh juga menalaknya pada saat hamil. Jadi kesimpulannya pun sama, bahwa cerai saat hamil itu di perbolehkan"


Begitulah jawaban yang Adam dapat dari ustadz Zaki yang memiliki ilmu agama cukup matang.


Sedikit membuat Adam lega sebenarnya, namun di sisi lain ia mengkhawatirkan Prillya yang kemungkinan besar akan menolak perceraiannya.


Mendesah pelan, pria itu memberikan kabar pada Prilly melalui pesan singkat bahwa dia tidak pulang ke rumah tapi akan pulang ke apartemen Dinda dan menginap di sana. Tidak peduli meski pesannya hanya di baca tanpa di balas.


****


Setibanya di apartemen, Dinda yang tengah sibuk memasak tak menyadari kepulangan Adam. Karena efek dari suara cooker hood di tambah dentingan sutil dan wajan yang saling beradu, dia tak tahu kalau sang suami sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Pelan, Adam melingkarkan tangan di perut Dinda, kemudian mendaratkan dagu di pundaknya.


"Astaghfirullah" Wanita itu berjengit. Ia nyaris melempar sutil karena saking kagetnya.


Saat berbalik, ada seringai usil yang terlukis di wajah Adam. Spontan Dinda memukul lengan suaminya kemudian mengecup punggung tangannya.


"Mas ngagetin tahu" Wajahnya memerah, sementara jantungnya masih menyisakan getaran cukup kencang.


"Masak apa?" tangan Adam terulur mematikan api pada kompor di balik badan sang istri.


"Telur dadar, oseng bayam sama jagung, terus ayam rica"


"Wow, enak dong"


"Kalau gitu lepaskan tangan mas, itu nanti ayamnya gosong"


Ketika hendak berbalik, Adam buru-buru mencegahnya sambil berkata. "Apinya sudah mas matiin"


"Kok di matiin?"


"Suamimu merindukanmu"


"Jangan lebay deh mas, lebih baik mas mandi sekarang, terus makan"


Dinda yang lebih pendek dari Adam, ia mendongak, menatap wajah suami yang tampak kuyu. Sedetik kemudian, tanganya yang mendarat di sisi pinggang Adam, kini bergerak menangkup wajahnya.


"Mas capek?"


Adam mengangguk tanpa sepatah kata.


"Ada sesuatu yang ingin mas sampaikan"


"Soal apa?" tanya Dinda mengernyit. Tangannya kembali menggamit sisi pinggang Adam.


"Setelah makan malam, okay!"


Bola mata Dinda bergerak mengikuti pergerakan bola mata Adam, kemudian ia mengangguk dengan penuh penasaran.


Usai menyiapkan baju ganti untuk suaminya tadi, Dinda tak menampik kalau pikirannya terus menebak-nebak apa yang akan di sampaikan Adam setelah makan malam. Sampai ketika makan malam selesai, pikiran Dinda masih mencari-cari jawabannya. Jujur saja ia ingin sekali meninggalkan piring kotor yang terus meronta di wastafle, seolah meminta untuk segera di cuci, namun mengingat ini hal yang serius, di tambah wajah Adam yang menyorot gelisah, Dinda berusaha menahan diri.


"Kamu kenapa?"


Pertanyaan Adam yang terdengar begitu dekat, membuatnya sedikit berjengit karena terkejut. Saat menoleh, sosok Adam berdiri di sampingnya. Padahal setahu Dinda, dia tadi berada di kamar untuk menerima telfon.


"Kamu kenapa, dek?" ulangnya yang membuat Dinda mengerjap menatapnya.


"Pasti ada yang lagi di pikirin kan?" tanyanya lagi seraya mengambil piring yang Dinda pegang, meletakkannya di tempat cucian piring sebelum menyalakan kran air untuk membilas tangan Dinda yang di penuhi busa.


"Aku belum selesai cuci piring, mas" katanya mencoba menarik tangan tapi berhasil di tahan oleh pria di sampingnya.


"Biar mas yang lanjutkan" balasnya dengan fokus tertuju ke tangannya yang membersihkan tangan Dinda.

__ADS_1


Setelah busa di tangan sang istri lenyap, Adam mengeringkannya dengan telaten.


"Tinggal sedikit kok, biar aku yang selesaikan, mas"


"Memang tinggal dikit, tapi nggak akan selesai karena kamu melamun"


Sejujurnya Adinda merasa was-was dengan kondisi Prillya, apalagi dia tahu kalau Birawa sudah kembali dari perjalanan bisnisnya, dan Adam sudah mengatakan kebenaran pada Birawa. Saat Dinda menanyakan bagaimana tanggapan pria yang pernah membayarnya, Adam malah memberikan jawaban kalau akan membahasnya setelah makan malam. Jelas hal itu benar-benar mengganggu pikirannya.


"Mikirin soal reaksi Birawa?" tanya Adam.


Saat mata mereka melakukan kontak, reflek Dinda memberi respon dengan menganggukkan kepala.


"Kalau gitu, kamu tunggu di kamar, setelah mas cuci semua piring, kita bicara"


Dinda membuang napas pelan, tak memutus kontak mata sebab Adam masih menatapnya penuh intens, dengan tubuh yang agak sedikit membungkuk hingga sepasang mata keduanya berada pada level yang sama.


"Masuk ke kamar, lima menit mas akan menyusul"


Mau tidak mau, Dinda pun menurut.


Selagi mencuci piring bekas makan malam, Adam menimbang-nimbang antara mengatakan tentang reaksi Birawa terlebih dulu, atau tentang pemecatannya dari kantor. Dan ia memilih untuk membicarakan tentang Birawa, baru kemudian soal pemecatannya.


"Jadi gimana?" tanya Dinda sambil memindai tubuh Adam lewat sepasang netranya.


Adam merebahkan diri dan mendaratkan kepala di pangkuan Dinda yang duduk di sofa.


"Tentang Birawa" Pungkas Adam yang membuat jantung Dinda persekian detik bertambah ritmenya. "Dia akan membantu mas dan Zidan"


"Mas serius?" Dinda menunduk sambil mengusap rambut Adam.


"Hmm, jadi jangan khawatirkan apapun lagi karena mas akan menghandlenya"


"Dia nggak marah?"


"Enggak, justru ini adalah kesempatan buat dia agar Prilly bisa menikah dengan Zidan, menantu ideal seperti keinginannya"


"Mas nggak kalah hebat dari Zidan kok"


Dinda berusaha membuat Adam melayang dengan pujiannya. "Bagiku mas lebih segalanya dari Zidan, dan menurutku, Birawa sudah salah karena pernah menolak menantu seperti mas"


"Kamu membuatku tersanjung, Din"


"Aku serius mas, mas adalah pria hebatku"


"Ada satu lagi yang ingin mas sampaikan"


Alis Dinda menukik tajam. "Apa?"


Bibir Adam terkatup, sementara netra mereka saling menatap penuh lekat.


"Apa lagi?" tanya Dinda ketika Adam tak kunjung bersuara.

__ADS_1


"Mas di pecat!"


Bersambung


__ADS_2