Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Ghibah


__ADS_3

Hembusan angin di sore hari terasa begitu sejuk, pandangan Adam tertuju pada langit yang bersemu jingga.


Ia bahkan tak pernah membayangkan akan sering mengunjungi tempat semacam ini hampir di setiap hari. Tidak sebelum Adam mengenal Dinda dan menikahinya.


Apalagi semenjak menganggur, dia sering sekali datang ke rumah sakit untuk antar jemput sang istri. Sampai-sampai para staf karyawan pun paham bahwa dirinya adalah suami dari salah satu dokter berprestasi di family care.


Dinda yang dulu selalu mendapat tatapan sinis dari para rekan kerja karena sudah merampas suami orang, perlahan mereka menyadari bahwa wanita yang di rebut suaminya itu ternyata malah hamil dengan pria lain. Di sini mereka pun berbalik menyalahkan Prilly. Ternyata apa yang selama ini mereka nilai, tidak sebaik yang mereka kira.


"Kenapa nggak masuk?"


Lamunan Adam buyar ketika tiba-tiba Dinda sudah berdiri di sampingnya. Ia memang menunggunya di parkiran tidak di dalam gedung rumah sakit.


"Bau obat"


Wanita itu langsung menerima uluran tangan Adam ketika dia mengulurkan di depan wajahnya.


"Ini rumah sakit, bukan hotel yang baunya selalu wangi"


"Kita pulang?" Tanya Adam sambil melompat turun dari kap mobil.


"Hmm"


Keduanya memasuki mobil.


Seperti biasa Adam dan Dinda selalu berbincang ketika sedang berkendara.


"Ada sesuatu yang ingin mas sampaikan"


Dinda memalingkan wajah ke kanan. "Apa?"


"Zidan dan Prilly mau menikah akhir bulan ini"


"Oh iya? bukankah Prilly masih berada dalam masa Iddah?"


Adam tersenyum seraya menggelengkan kepala tak percaya dengan ucapan Dinda. Padahal Dinda seorang alumni di sebuah yayasan pondok pesantren, tapi hal begitu saja dia tidak mengerti.


"Kenapa tersenyum, ada yang lucu?" Dinda mencebik sebal.


"Wanita yang dinikahi oleh seorang pria, sedangkan pria itu belum pernah menyetubuhinya, itu nggak punya masa Iddah, sayang"


"Iya aku tahu, tapi_"


"Apa?" Sebagian konsentrasinya fokus pada kemudi, sebagian lagi melirik Dinda dengan curiga.


"Kamu nggak percaya kalau suamimu ini nggak pernah nyentuh Prilly?"


Wanita itu meringis.


"Ckkk" Adam berdecak dengan salah satu sudut bibir terangkat. "Sumpah mas nggak pernah nyentuh dia, mas tahu betul ilmu agama seperti apa"


"Bisa ya, mas tinggal satu atap, satu kamar, bahkan satu ranjang, tapi ngga tergoda sama tubuhnya yang seksi. Kalau aku jadi lelaki, pasti sudah ku lahap habis tuh Prilly, wajahnya cantik, boddynya ughh"


Dinda mengatakannya dengan sorot serius sembari membayangkan wajah dan tubuh Prilly.


"Pasti permainannya aduhai"


Mendengar kalimat Dinda, tawa Adam pecah, ia merasa kalau sang istri sedang meledeknya.


"Kok ketawa?" tanya Dinda sinis.


"Untungnya kamu perempuan ya dek"

__ADS_1


Wanita itu mendengkus pelan, niat mengerjai suaminya, tapi sayangnya sang suami selalu bisa mementahkan kalimatnya yang bernada meledek.


"Jadinya nggak ada masa Iddah buat Prilly?"


"Enggak" jawab Adam setelah tawanya reda. Ia kembali fokus dengan arah jalan. "Tujuan masa Iddah itu kan untuk menjaga darah dari suaminya, sementara mas, darah kami sama sekali belum tercampur, karena memang mas belum pernah menyentuhnya"


"Lalu pernikahannya dengan Zidan gimana tuh?"


"Ya sah-sah saja, karena Zidan yang menghamilinya, Zidan ayah biologis dari anak yang Prilly kandung kan"


"Gitu ya"


"Hmm"


Setelah itu hening, Dinda melempar pandangan ke arah jendela sebelah kiri.


Hingga beberapa menit berlalu, ia teringat akan sesuatu kejadian tadi siang.


"Oh ya mas, mas tahu nggak_"


"Enggak" potongnya jahil.


"Ish, aku belum selesai ngomong" sahut Dinda tak terima


"Iya-iya?" Adam terkekeh, sebelum kemudian mempersilakan sang istri untuk kembali bicara.


"Ternyata, pak Birawa itu adalah teman lama mamah loh mas?"


"Hah?" pria itu seperti terlonjak kaget. "Masa iya?"


"Iya, mereka teman lama, dan sepertinya mereka seperti saling mengenal, maksudnya hubungan yang gimana gitu"


"Bagaimana kamu tahu kalau mereka berteman?"


"Oh ya?"


"Hmm" Dinda mengangguk mantap.


"Terus?"


"Terus aku pergi lebih dulu karena jam istirahatku selesai, aku tinggalin mereka berdua, karena mereka bilang teman lama, jadi aku mempersilahkan buat saling say hallo atau tanya kabar begitu"


"Tadi kamu bilang mereka seperti ada hubungan spesial, apakah mereka punya hubungan semacam pacaran saat muda, gitu?" tanya Adam.


"Aku feelingnya si gitu. Tapi entahlah hanya mamah yang tahu. Tapi mereka deket banget loh mas. Mungkin juga kalau dulu mereka pacaran, atau sahabatan? soalnya jelas banget raut terkejut itu di wajah mereka"


"Kalau iya jaman muda mereka pacaran, kira-kira gimana yah gaya pacarannya pak Bi dengan mamah"


Khayalan Adam mendadak menerawang jauh membayangkan masa muda Birawa dan Meta. "Apa mamah selalu bisa mengatasi wajah masamnya pak Bi, wajah kaku yang tanpa ekspresi? yang seperti mau ngajak adu tinju kalau bicara dengannya"


"Tapi gitu-gitu pak Bi sebenarnya baik, kayaknya si" racau Dinda sambil mendaratkan siku di jendela mobil lalu menopang sisi kepalanya.


"Tidak pada mas yang selalu menatap mas dengan sinis, apalagi pas mas sering datang ke rumahnya, selalu wajah menyeramkan yang ia tunjukkan. Benar-benar datar, tak ada senyum sama sekali"


"Asal mas tahu, dia juga pernah menunjukkan kelicikannya padaku meski aku tak pernah tahu ekspresi wajahnya seperti apa, karena ia mengatakannya saat di telfon. Dari nadanya bisa ku tangkap kalau dia begitu sinis"


"Dia mengatakan apa?" tanya Adam ingin tahu.


"Begini" kata Dinda sambil berusaha memasang wajah licik Birawa. "Anda bilang pada saya akan menaburkan obat perangsang, tapi nyatanya, anda hanya menaburkan obat tidur di minumannya. Jadi jangan salahkan saya kalau saya membelokkan rencana anda"


"Dia bilang gitu?"

__ADS_1


"Iya" jawab Dinda tanpa ragu.


"Beruntung hanya lewat telfon, nah kalau ke mas, dia langsung mengatakannya di depan wajah mas, jelas sekali raut menyebalkan itu terlukis di wajahnya"


"Menyebalkan banget ya mas"


"Sangat, pengin nimpuk pake sepatu saat itu"


Larut dalam obrolan yang tidak penting, apalagi obrolan itu tentang mengghibah seseorang, jelas sangat menyenangkan sampai-sampai mereka hanyut dengan sesekali di sisipi sebuah tawa bernada ejekan untuk Birawa. Hingga tanpa sadar, mobil mereka telah sampai di apartemen mewahnya.


Setibanya di rumah, mendadak Dinda menghentikan langkahnya.


"Tunggu" kata Dinda sambil mengendus tangan Adam yang sama sekali tak bau rokok. Sudah dua hari ini ia tak mencium aroma nikotin dari tubuh sang suami.


"Kenapa?"


"Aku baru ingat kalau nggak nyium bau rokok beberapa hari ini"


Mereka berdiri saling berhadapan. Dinda mendongak menatap Adam penuh selidik.


"Memang udah nggak merokok"


"Eeeiiiyy,,, demi apa coba?" sahut Dinda tak percaya.


"Demi nyenengin kamu kalau ciuman"


"Ish, mesum"


"Ku mesumin mau?"


Kehabisan kata-kata, Dinda malah mencubit pinggang Adam, lalu berniat segera melangkah. Tapi baru saja satu langkah, pergelangan tangannya di cekal, membuatnya kembali berada di posisi semula.


Detik berikutnya Adam menempelkan bibir. Hanya menempel, namun tiga detik kemudian bibir itu tak sekedar menempel, Adam sedikit memberikan lu matan. Dinda yang awalnya hanya bergeming sambil menikmati ciuman itu, kini membalas dengan memagutnya lembut ketika Adam berhenti melu*matnya.


Sekarang, ganti Adam yang tak melakukan apapun. Ia terdiam menikmati betapa lincahnya ******* bibir sang istri yang terasa begitu manis.


****


Pasca pertemuan pertamanya dengan Birawa setelah puluhan tahun, Meta merasa terusik, pikirannya benar-benar kacau apalagi saat perbuatan Birawa terlintas dalam ingatannya, jelas membuat Meta merasa tak tenang.


"Dinda dan Prilly adik kakak? mereka satu ayah?"


Tiba-tiba ia teringat tentang pernikahannya dengan Awang yang terjadi di saat kehamilannya.


Dulu, Meta dan Awang berencana menikah, namun sebulan sebelum pernikahan, ada kejadian yang membuatnya hamil di luar nikah. Kemudian di pernikahan yang kurang dua hari itu, Meta malah mengetahui kalau dirinya sedang hamil.


Tak mau membohongi Awang, dia pun menceritakan semuanya, ia bahkan sempat ingin membatalkan pernikahan itu karena tak mau Awang menikahi wanita yang sedang mengandung anak dari pria lain. Tapi alih-alih setuju dengan niat Meta, Awang justru tetap ingin menikahinya dan menganggap anak itu sebagai anaknya sendiri.


Setelah pernikahan terjadi, pria itu sama sekali tak menyentuh Meta sebelum melahirkan, karena Awang tahu persis hukum menikahi wanita yang sedang hamil bukan darah dagingnya adalah haram.


Rahasia itu pun bisa mereka sembunyikan dari keluarga hingga detik ini, dan bahkan hingga Awang tiada.


Birawa tak tahu kalau sentuhannya saat dulu membuat Meta mengandung benihnya.


Jadi baik Dinda dan Birawa sama-sama belum tahu kalau mereka memiliki hubungan darah yang kuat sebagai ayah dan anak kandung.


Bersambung.


Hampir semua critaku si prianya perokok.


Ya karena aku udah kesel sama suami yang juga perokok. 🤔🤔 dari pada melampiaskan kekesalan pada anak gara gara itu, ya udah akhirnya lampiaskan ke novel.

__ADS_1


andai suamiku kaya Adam, sekali tegur langsung berhenti bakar-bakar duit. 😀😀 sekali lagi realita tak seindah ekspektasi


yang punya cara ngilangin kebiasaan merokok, bagi tahu dong..


__ADS_2