Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Kekesalan Dinda


__ADS_3

Setelah istirahat semalaman, paginya Dinda merasa lebih baik, meski agak sedikit pusing.


Karena hari ini dia ijin tidak ke rumah sakit, Dinda pergi ke Harquina berniat untuk menjenguk Prilya.


Dia di antar oleh Adam sebelum berangkat kerja.


"Makasih mas" Dinda melepas seatbelt, sejujurnya ada sedikit keraguan dalam hati atas niatnya, namun ia memberanikan diri sebagai sesama manusia untuk membesuk orang sakit.


"Sama-sama, sayang! kamu hati-hati ya, nanti kalau mau pulang, telfon mas. Mas pesankan taxi online"


"Aku pesan sendiri bisa kok mas"


"Pokoknya telfon mas, mas yang akan pesan"


Sepertinya percuma saja Dinda melawan mahkluk bernama Adam. Sosok suami yang tak terbantahkan.


"Ya udah, mas juga hati-hati"


Dinda menerima tangan Adam yang lebih dulu terulur.


"Assalamu'alaikum" pamitnya setelah mengecup punggung tangan suaminya.


"Wa'alaikumsalam" Adam membalas kecupan di kening, pipi, lalu bergeser ke bibir dan sedikit memberikan gigitan.


Sontak Dinda mendesah.


"Sakit, mas"


"Ish, pelan gitu kok sakit" sahut Adam mencebik.


"Aku turun ya"


"Hmm, turunlah"


"Mas hati-hati"


Setelah di iyakan oleh Adam, Dinda lantas turun.


Dia tak langsung masuk ke dalam gedung yang dulu pernah menjadi tempat kerjanya. Ia menunggu Adam beranjak dari sana sambil menormalkan perasaannya yang terlampau gugup. Bertemu dengan Prilly jelas membuatnya sedikit risau, takut jika kedatangannya tidak bisa di terima olehnya.


Wanita itu mengangguk lengkap dengan seulas senyum ketika sang suami menekan klakson sebelum melajukan mobilnya. Dia menatap mobil pemberian Birawa yang perlahan beranjak menjauh dari hadapannya.


Setelah mobil itu tak lagi terlihat, dia membalikkan badan, menarik napas panjang sebelum melangkahkan kakinya memasuki Harquine hospital.


"Bismillah" Lirihnya lalu membuang napas.


Langkah demi langkah ia lalui, kamar demi kamar pun terlewatkan, hingga langkahnya sampai di depan bangsal Prillya, debaran jantungnya terasa kian cepat.


Menelan saliva, ia mengetuk pintu setelah keberaniannya terkumpul sepenuhnya.


Setelah menunggu sekitar sepuluh detik, sosok Zidan muncul di hadapannya membuka pintu.

__ADS_1


"Assalamualaikum" sapa Dinda ramah.


"Wa'alaikumsalam" jawab Zidan agak sedikit terkejut sebenarnya. Namun keterkejutannya hanya sesaat. Ia kembali dengan gestur santainya.


"Boleh saya masuk"


"Masuklah, dokter Dinda"


"Terimakasih, Pak Zi!"


Zidan hanya mengangguk.


Setelah mendapat izin, Dinda pun menerobos pintu setelah pria itu menggeser badannya untuk memberi celah pada Dinda.


Sepasang mata Dinda langsung jatuh pada sepasang mata Prilly yang tengah rebah sambil bergeming membalas tatapannya.


"Prilly"


Hening wanita yang masih lemah itu tak merespon.


Sabar, Din! ini ujian.


"Bagaimana kondisimu Pril?" tanya Dinda setelah berdiri di samping ranjangnya.


"Seperti yang kamu lihat" ketusnya tanpa menatap wajah yang bertanya.


"Semangat ya, insya Allah sembuh secepatnya"


"Zi, bisa tinggalkan kami sebentar, aku ingin bicara dengan Dinda" Kata Prilly, sementara Dinda menoleh menatap Zidan yang sedang mengangguk membalas ucapan istrinya.


"Okay, aku keluar ya"


Ganti Prilly yang mengangguk lemah.


Beberapa saat setelah Zidan tak lagi berada di ruangannya, perlahan Prilly menghembuskan napas panjang sembari memejamkan mata.


"Kamu berempati atau mensyukuri kondisiku, Dinda?"


"Astaghfirullah, kenapa kamu bisa berfikir seperti itu, Pril?"


Prilly tersenyum sinis. "Kamu senang kan dengan kondisiku yang seperti ini?"


"Kenapa aku harus senang kalau saudara sedarahku kondisinya seperti ini?"


"Ckk, nggak usah munafik kamu. Kamu datang kesini untuk menghujatku kan? sama seperti yang pernah aku lakukan padamu dulu?"


"Enggak, aku datang kesini untuk memastikan kalau kondisimu baik-baik saja, aku datang kesini karena ingin tahu apa yang menyebabkan kamu seperti ini" Jujurnya sesuai dengan isi hati Dinda. "Aku ingin membantumu sembuh"


Prilly berdecak tak percaya. "Untuk apa membantuku, aku punya ayah dan suami, aku tidak butuh bantuanmu"


"Turunkan egomu, Pril. Okay aku salah aku minta maaf sudah merebut mas Adam darimu, jika kamu masih menginginkan mas Adam, aku bersedia mengembalikannya padamu"

__ADS_1


Dia tertawa seakan mengejek. "Yakin, mau mengembalikan Adam padaku?"


"Ya, kalau memang itu mau kamu"


"Tapi sayangnya aku nggak pernah menerima barang kembalian apalagi bekas. Jangankan bekasmu, bekas artis fenomenal saja aku nggak mau"


Dinda berusaha menahan diri agar tak terpancing emosi.


"Lantas apa maumu?"


"Aku mau kamu pergi dari kehidupan ayahku, dan jangan pernah menuntut warisan darinya"


"Dan sayangnya Pril, aku nggak tertarik dengan harta ayahmu"


"Wah, cukup munafik juga ya kamu, bukankah selama ini kamu selalu menerima pemberian dari ayahku?"


Kenapa jadi ngomongin ini sih?


Dinda membatin.


"Maaf Pril, aku kesini bukan untuk membahas ini, aku datang murni untuk membesukmu"


"Kamu lagi mengelak, atau menyanggah, hmm?" suara Prilly kian sinis.


"Aku heran pada wanita modern sepertimu, Prilly" Pikir Dinda, untuk apa dia beritikad baik kalau responnya justru menyakitinya. "Sudah di tolong bukannya berterimakasih malah mengolok orang yang menolongnya. Ingat Prilly, jika aku tidak menolongmu, mungkin kamu dan bayimu sudah tiada, dan kamu pasti tahu, siapa yang memenangkan permainan ini setelah kamu tiada? bukan hanya harta ayahmu, tapi kasih sayangnya pun akan jatuh ke tanganku. Ingat, aku adalah anak biologi Birawa, jika aku menginginkan, aku akan membujuk pak Birawa untuk menikahi ibuku, dengan begitu, kebahagiannku pasti akan lengkap. Suami tampan yang baik seperti mas Adam, harta melimpah, dan orang tua yang lengkap"


Mendengar pernyataan Dinda, Prilly seakan tertampar dengan sangat keras.


Benar juga, jika dia tiada maka Dindalah pemenangnya. Wanita itu pasti akan sangat bahagia hidup dengan kedua orang tua yang lengkap. Begitulah pikir Prillya.


"Mungkin ini teguran untukmu, Prilly! lebih baik renungkan semua perbuatanmu, hiduplah sesuai norma sosial dan agama, aku yakin kamu akan lebih tenang setelah menyadari kesalahanmu"


Dia menelan salivanya dengan susah payah. Ucapan Dinda lagi-lagi membuatnya mati kutu.


"Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya jika sudah menyakitimu, dan aku memaafkan semua kesalahanmu padaku. Semoga lekas sembuh" kata Dinda dengan ekspresi kesal.


"Permisi!"


Wanita itu langsung meninggalkan Prillya tanpa menunggu jawabannya. Dia sudah terlanjut naik pitam atas prasangkanya yang masih saja berfikir buruk tentangnya.


Niat baik menolong sang adikpun seketikan musnah.


"Dalam kondisinya yang seperti ini, dia masih saja angkuh? masih saja mempermasalahkan soal harta, ada di mana pikirannya? Andai saja bisa, ku bius dia, ku bongkar isi kepalanya lalu ku ganti otaknya dengan software agar dia mau menuruti perintahku" Ketus Dinda menahan gejolak amarah yang masih singgah dalam benaknya.


Sembari melangkah, ia terus mengeluarkan kata-kata di luar akal sehatnya.


"Dasar wanita rubah, nggak tahu diri nggak tahu terimakasih, kurang ajar, kalau bisa mengulang waktu, aku tidak akan datang ke rumah Birawa kemarin, jadi tidak harus menolongnya"


Entahlah, emosinya memuncak kian tinggi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2