Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Keretakan tulang panggul


__ADS_3

"Din!"


"Pak Bi?"


Ketika Dinda hendak bangkit, Birawa buru-buru mencegahnya.


"Tetaplah rebahan nak"


Dinda pun menuruti perintah Birawa sebab kepalanya masih kunang-kunang jika harus duduk.


"Bagaimana kondisimu?"


"Saya baik, pak"


"Syukurlah" Birawa memindai tubuh Dinda dari ujung kaki hingga kepala. Pria itu tak henti-hentinya mengucap syukur atas keselamatan pada kedua putrinya. "Saya senang kamu baik-baik saja"


Mereka memang masih canggung.


"Bagaimana dengan Prilly, apa dia sudah sadar?"


"Sudah, tapi masih agak lemah"


Dinda sudah tahu seperti apa kondisi bayinya Prilly, juga jenis kelaminnya.


"Semoga bayinya baik-baik saja" Kata Dinda tanpa menatap Birawa.


"Aamiin"


Pria yang masih tampan dan enerjik di usianya menghela napas panjang, lalu kembali berucap.


"Terimakasih, Din ... Sudah menolong Prillya"


"Sama-sama, pak. Ini sudah kewajiban saya sebagai dokter sesuai dengan sumpah yang pernah ku ikrarkan"


Sumpah dokter yang saat itu di saksikan oleh Adam.


Kemudian hening.


"Ya, semoga dengan kejadian ini hubungan kalian membaik, kalian bisa berdamai dan saling menyayangi satu sama lain"


Dinda tak merespon, dia sendiri bingung mau mengamini, atau justru menentang. Entahlah situasi masih setegang ini, apalagi belum ada ucapan apapun keluar dari mulut Prilly.


Sejujurnya dari pihak Dinda, dia tergantung Prilly. Jika Prilly bersedia menjalin hubungan baik dengannya, Dinda akan terima, namun jika Prilly tetap tak sudi, apa boleh buat. Dia pun enggan memohon padanya.


"Oh iya pak" Ujar Dinda setelah sempat diam beberapa saat. "Sebenarnya tujuan saya ke rumah bapak, saya hendak mengembalikan sertifikat rumah yang bapak berikan untuk saya"


"Mereka sudah menyerahkannya padamu, Din?"


"Sudah, tapi maaf, saya tidak bisa menerimanya"


"Kenapa?"


"Saya tidak mau memanfaatkan status saya sebagai anak kandung bapak untuk meminta harta bapak"


"Kenapa kamu bilang seperti itu? Bukankah jika seseorang memberi, kita wajib menerimanya dan mengucapkan terimakasih"


"Ya saya terimakasih atas empati bapak terhadap saya, tapi maaf saya tidak bisa"


"Jika kamu tidak mau menerima pemberian papahmu, itu artinya kamu anak durhaka"


"A-anak durhaka??" Dinda memberanikan diri mempertemukan netranya.


"Iya, bukankah anak yang menyakiti papah atau mamahnya itu adalah anak durhaka? dan penolakanmu itu sudah membuat saya merasa sakit hati, Dinda"


Apa yang pria itu katakan? begitulah pikir Dinda. Selain hobi mengancam, ternyata pria di hadapannya saat ini juga pandai beretorika.


"Ingat Din, kamu berdosa jika menyakiti papahmu. Dan secara terang-terangan saya mengatakan kalau saya tersinggung dengan sikapmu itu"


"Tapi_"


"Sekarang bayangkan, seandainya kamu memberikan makanan untuk tetanggamu, dan setelah tetanggamu menerima pemberianmu, di lain kesempatan dia justru mengembalikannya lagi padamu, bagaimana perasaanmu?"


Tunggu... ini salah, bukan seperti ini maksudku.


"Baiklah, Din.. Istirahatlah, saya permisi"


Dinda mengatupkan bibir, sebelum kemudian mengangguk sangat pelan.


Seperginya Birawa, Adam yang sudah kembali dan sempat menguping pembicaraan mereka, langsung melangkah masuk.


"Dek"


"Loh, m-mas!"

__ADS_1


"Birawa memberimu rumah?" tanya Adam ingin tahu.


"Iya mas, tapi aku menolak itu sebabnya aku datang ke rumah Birawa untuk mengembalikan sertifikat itu"


"Jadi itu urusan kamu?"


"Hmmm" sahut Dinda dengan bibir terkatup serta anggukan kepala ringan.


"Tapi ancamannya, mas juga mendengarnya kan?"


"Iya mas dengar"


"Terus menurut mas gimana?"


"Itu bahas nanti saja, sekarang kita makan dulu, mas beli sate lima porsi tapi satu porsi mas kasihkan ke orang yang membutuhkan tadi, dan empat porsi buat kita?"


"What!! empat porsi?"


Adam mengangguk lengkap dengan kedua alis terangkat.


"My maaa, dua porsi aja cukup, kenapa harus empat?"


"Enggak apa-apa sayang, kamu kan habis donor, nah sate itu baik untuk penambah darah, iya kan? kamu seorang dokter pasti tahu dong?"


Mendengar ucapan sang suami, tawa Dinda pecah seketika.


"Teori dari mana itu?" pungkas Dinda setelah tawanya reda.


"Dari abi, beliau suka bilang kalau darah tinggi umi kambuh, jangan makan sate kambing, nanti tambah naik tensinya"


"Ya ampun sayang, di medis nggak ada loh kayak gitu. Penambah darah itu justru sate ayam, bukan sate kambing. Buah bit, serta kacang-kacangan yang justru ampuh untuk menaikkan tekanan darah. Jadi nggak ada tuh makan sate kambing terus darah nambah. Ada-ada saja"


"Ah apapun itu, ayo kita makan"


Sembari menikmati makan malam yang kelewat malam, mereka tak lepas dari obrolan, hingga tiba-tiba ingatan Adam jatuh pada Meta ketika mendengar suara ponsel berbunyi.


"Astaga sayang, mamah nelfon"


"Kok astaga si, di angkat dong" Kata Dinda dengan mulut terisi makanan. "Kerasin suaranya, aku pengin dengar suara mamah"


Adam menggeser ikon hijau yang di susul dengan menyentuh ikon bergambar toa untuk mengeraskan suara.


"Assalamualaikum, mah"


"Waalaikumsalam, gimana dengan Dinda, Dam? kenapa nggak angkat telfon mamah dari tadi? chat mamah juga nggak di balas, apa Dinda sudah ada kabar? kenapa nggak kasih tahu mama?"


"Maaf mah"


"Maaf, maaf, dari tadi kamu buat mamah was-was, sekarang dengan entengnya minta maaf? Mana Dinda mamah mau bicara, mamah nggak mau dengar kamu bilang Dinda belum ketemu"


"Mah" Sambar Dinda.


"Sayang, kamu sudah pulang?"


"Mamah jangan marah-marah dulu. Ini salahku mah, aku nggak pamit sama mas Adam kalau ada urusan, terus ada tragedi tadi jadi nggak sempat kasih kabar"


"Tragedi? tragedi apa Dinda? kamu nggak apa-apa kan?"


"Aku nggak apa-apa, besok-besok di critain ya"


"Benar ya, kamu nggak apa-apa?"


"Benar mah, sehat wal'afiat ini"


"Ya sudah, mamah tutup ya"


"Hmm"


"Jaga diri baik-baik, bilang sama suamimu, harus minta maaf ke mama karena udah nggak angkat telfon dan balas chat mamah"


"Iya"


"Ya sudah, assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Sesaat setelah menutup panggilan, seorang suster datang untuk mengecek kondisi Dinda.


"Selamat malam, dokter Dinda!"


"Selamat malam, suster"


"Maaf ya dok, ganggu makan malamnya sebentar"

__ADS_1


"Nggak apa-apa sust"


"Saya tensi dulu dok, kalau hasilnya stabil, malam ini boleh langsung pulang, tapi jangan jalan dulu, takutnya kunang-kunang nantinya"


"Iya sust"


Selang sekian detik...


"Hasilnya 100/70. Kata dokter Zaskia jika hasil tensi di atas sembilan puluh boleh pulang, jadi dokter Dinda bisa pulang malam ini"


"Iya sust, makasih ya"


"Untuk sementara ini apa ada keluhan, dok?" si suster bertanya sambil merapikan alat tensinya.


"Masih agak pusing sedikit, tapi nggak apa-apa sust, mulutnya masih enak makan"


Suster itu tersenyum meresponnya. "Saya bantu lepas infus ya dok"


"Iya sust"


Saat sempat pingsan tadi, suster memang memasang infus, dan sampai detik ini satu botol infus yang masuk ke tubuh Dinda nyaris habis.


"Sudah, dok. Bisa langsung pulang ya, tapi pakai kursi roda menuju ke mobilnya, nanti di rumah harus langsung istirahat"


"Baik suster"


***


Usai menghabiskan makan malam, selagi Adam keluar mencari kursi roda, Dinda bersiap-siap dan merapikan hijabnya yang sempat berantakan.


Tak lama kemudian Adam datang dengan membawa kursi roda. Pria itu membantu memapah Dinda untuk duduk di kursi itu.


Pelan, Adam mendorongnya melewati lorong rumah sakit. Saat langkahnya di depan ruang nifas yang di pastikan penghuninya adalah Prilly, Adam menghentikan langkah sebab terdengar teriakan dari wanita yang sangat familiar.


"Suara Prilly kan mas?" tanya Dinda sambil mendongak menatap sang suami yang berdiri di belakangnya.


"Iya dek"


"Ada apa ya?"


"Mas nggak tahu"


Tiba-tiba, seorang dokter melangkah dengan gugup.


"Dokter Maura, ada apa ini?" Dinda mencegah dokter kandungan yang baru saja keluar dari kamar Prilly.


"Nona Zidan di pastikan mengalami kelumpuhan, dok!"


"Lumpuh?" tanya Dinda tak percaya.


"Iya, saat hamil, mungkin saja dia kekurangan kalium, menurut diagnosa sementara, tulang panggulnya retak akibat hentakan sangat keras saat terjatuh"


"Innalillahi" Desis Dinda masih dalam posisinya duduk di kursi roda. Sama halnya Adam yang juga terkejut.


"Lalu sekarang gimana, dok?"


"Nona Zidan sangat shock ketika tidak bisa menggerakkan kakinya"


"Begitu ya"


"Iya, dok. Dokter Dinda sendiri bagaimana kondisinya?"


"Saya sudah membaik"


"Syukurlah"


"Dokter Maura, ini dosis yang dokter minta" Seorang suster tiba-tiba menyela.


"Baik, bantu saya mengatasi nona Zidan suster" Kata dokter bernama Maura. "Dokter Dinda, saya permisi"


"Iya dokter, tolong beri penanganan terbaik untuknya" balas Dinda yang langsung di anggukan oleh dokter cantik itu.


"Lumpuh dek? kok bisa?" tanya Adam tak paham.


"Seperti yang dokter Maura bilang tadi, tulang panggulnya mengalami keretakan"


Adam bergidik membayangkan betapa sakitnya apa yang di alami oleh Prilly.


"Dek, mas jadi takut kamu hamil"


"Nggak usah parno gitu"


"Ngeri aja bayangin kamu yang ada di posisi Prilly"

__ADS_1


"Kan udah pernah, sampai koma pula" Dinda menggelengkan kepala. "Udah yuk kita pulang, besok kita jenguk dia" lanjut Dinda.


Adam pun kembali mendorong kursi rodanya.


__ADS_2