
"Apa ini dokter Dinda?" Kalimat pertanyaan yang meluncur dari mulut direktur rumah sakit membuat Dinda mematung. Tak tahu harus memberikan jawaban apa pada Zidan yang saat ini tengah menatapnya dengan tajam, wanita itu hanya diam membisu sambil menahan rasa takut yang membelit jiwanya.
"Ke ruanganku sekarang juga!" Tambah Zidan datar, kemudian langsung berbalik.
Saat Dinda melewati wanita yang memfitnahnya, dia berhenti sejenak. Melempar tatapan benci seraya mengatupkan rahang menahan kesal.
Sorot marah serta ekspresi geram dari dokter itu benar-benar tampak jelas di raut wajahnya.
Puas menatap, Dinda kembali mengayunkan kaki menyusul langkah Zidan.
"Semuanya, ingat baik-baik wajah pelakor itu, pegang erat tangan suami kalian jika berpapasan dengannya, jangan biarkan dia merebut suami kalian"
"Dia sudah menjadi pelakor dalam rumah tangga saya"
Mawar bersuara dengan lantang di depan orang banyak. Teriakan yang masih Dinda dengar, bahkan saat dia sudah melangkah beberapa langkah menjauh meninggalkan area ruang tunggu.
Adam yang sudah janjian dengan Dinda untuk menjemput dan mengantarkannya pulang, justru harus menyaksikan kejadian sore ini. Sementara di sisi lain ada sosok Fino yang menyorot dengan tatapan iba. Pria yang masih memendam rasa tak bisa berbuat apa-apa pada teman satu angkatannya.
Wanita suruhan Prilly, benar-benar sudah membuat image Dinda sangat buruk. Dia bahkan berani bicara tentang perzinahan di depan khalayak ramai. Terlepas itu fakta atau fitnah, yang jelas Dinda sudah terlanjur malu dengan penghinaan itu.
***
Setibanya di ruang direktur utama, ragu-ragu Dinda mendudukan diri di kursi depan pria yang tengah menatapnya dengan penuh intimidasi.
Firasat Dinda mengatakan jika dirinya akan kehilangan pekerjaan, sebab beberapa waktu lalu, ia sempat di tegur oleh pamannya Zidan yang menjabat sebagai kepala rumah sakit. Pria paru baya itu mengatakan jika hal ini terulang kembali, maka pihak Harquina akan memberikan sanksi tegas dan bahkan berujung pemecatan.
"Apa-apaan ini dokter Dinda?"
"Itu tidak benar pak, wanita itu sudah memfitnah saya"
"Kalau ini fitnah" Zidan menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Kenapa bisa tahu tentang anda, hingga zina yang sudah anda lakukan?"
"Saya bersumpah pak, saya tidak merebut suaminya, saya juga tidak pernah tidur dengan suaminya, dia hanya wanita yang ingin menghancurkan nama baik saya pak"
"Dan karena ulah anda, rumah sakit ini jadi tercemar"
Lalu hening, Dinda tak bisa menjawab kalimat atasannya.
"Mulai sekarang anda saya pecat"
Ucapannya, membuat Dinda lemas seketika.
"Dan untuk gaji akan kami transfer dalam satu kali dua puluh empat jam"
"Tapi pak_"
"Silakan keluar dari ruangan saya" Zidan bangkit, mengabaikan tatapan Dinda yang kian menyendu.
Menghembuskan nafas frustasi, dokter cantik itu menyerah dan memilih keluar dari ruangan Zidan.
Berkat hasutan dari wanita asing yang mengaku suaminya telah di rebut oleh Dinda, Zidan, selaku direktur rumah sakit semakin mantap memecat dokter yang berpotensi di rumah sakitnya. Dengan mudahnya pria itu mengeluarkan salah satu asset karena di anggap mencemarkan nama baik Harquina hospital.
Ya, Adinda termasuk asset yang Harquina miliki. Sebab hanya dokter Dindalah, dokter baru yang memiliki banyak pasien rawat jalan. Tidak hanya itu, pasien rawat inap pun menyukai Dinda dengan segala kelembutan dan keramahannya.
__ADS_1
Berjalan gontai keluar dari gedung rumah sakit, Adinda sudah tahu bahwa pelakunya adalah Prilly.
Tanpa menoleh ke belakang, dia terus melangkah menuju halaman rumah sakit yang membentang luas.
Sejujurnya, ada rasa takut, marah, cemas, serta panik yang datang menyerang secara bersamaan. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Tidak ada, pikir Dinda.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti saat ada sosok wanita yang menghampiri dan memotong jalannya. Wanita itu langsung tertawa renyah. Tawa akan sarat sebuah ejekan yang begitu frontal.
Adam yang hendak mendekati Dinda pun urung ia lakukan ketika melihat Prilly menghadang calon istrinya.
Berjalan mendekat, pria itu berusaha mencuri dengar apa yang Prilly katakan.
"Bagaimana kudapan sore ini, dokter Dinda?"
"Aku tahu ini semua ulahmu, Prillya"
"Ya, kamu pikir aku akan melepaskanmu begitu saja setelah apa yang kamu perbuat padaku?"
Dinda hanya diam seraya menatap penuh lekat wanita di hadapannya.
"Makannya jangan merebut kekasih orang, jangan menjadi pelakor kalau tidak sanggup menerima konsekuensinya" Kata Prillya sarkasme.
"Apalagi pria yang kamu rebut itu bukan kekasih dari wanita sembarangan. Pria itu kekasihku Dinda, kamu keliru sudah berurusan denganku"
"Aku sudah di pecat, apa balas dendammu tuntas sekarang?"
"Belum, sebelum aku benar-benar membuat hidupmu menderita"
"Apa lagi yang akan kamu lakukan padaku?"
Alis Dinda menukik.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup bahagia bersama Adam"
Usai kalimat itu keluar dari mulut Prilly, mereka beradu pandang dengan kondisi batin yang berbeda.
Prillya dengan dendamnya, sedangkan Adinda dengan amarahnya.
Setelah itu,
Berbagai kata umpatan, cacian serta hinaan keluar dari mulut Prilly. Dia mengatai kalau Dinda adalah wanita ja lang yang murahan, wanita rendahan yang tak berbandrol, sesuatu yang bukan limited edition alias obralan, dan masih banyak lagi kata-kata makian untuknya. Namun Dinda hanya diam sembari terus melemparkan tatapan muak.
Bukan berarti dia tak berani melawan, itu karena saat ini pikiran Dinda tengah kacau dan acak-acakan setelah menerima pemecatan dari direktur Harquina.
"Emang dasar wanita tak tahu diri, wanita hina, dokter ja_"
"Prillya" Adam berteriak, menahan marah yang sudah berada di puncak kepala. Kakinya terayun menghampiri dua wanita itu.
"Berhenti menghina calon istriku"
"A-Adam!"
"Berani kamu menghina Dinda, aku tidak akan tinggal diam"
__ADS_1
Adam meraih tangan Dinda lalu memperlihatkannya pada Prilly.
"Tangan ini, akan selalu berpegangan erat seperti ini Prillya. Saling menguatkan ketika salah satu di antara kita terpuruk. Tidak ada yang bisa mengurai tangan ini termasuk kamu. Ingat, sekeras apapun usahamu membuatnya menderita, maka sekuat itu aku melindunginya"
Dinda merasa terenyuh mendengar kalimat Adam. Sementara Prillya semakin meradang, tak terima jika Adam sampai mengatakan hal itu di depannya.
"Adam, dia sudah merebutmu dariku, wanita murahan ini sudah menyakitiku"
"Aku yang salah bukan dia!" pekik Adam dengan wajah yang kian memanas. "Seharusnya salahkan saja aku, karena aku yang sudah tergoda"
Pembelaan Adam untuk Dinda, memantik Amarah Prilly kian memuncak. Wanita itu semakin merasakan sakit dan sesak di bagian dada.
Dia pun mengeraskan suaranya di hadapan orang banyak. Menghina Prillya dengan umpatan yang sangat menyakitkan.
"Dasar pelakor busuk, kalau memang akal sehatmu masih berfungsi, coba bayangkan seperti apa rasanya jika kamu ada di posisi aku, Dinda?"
Suaranya sangat kencang, membuat Dinda bergidik ngeri.
"Asal kamu tahu, semua impian dan janji manis lelaki sialan ini, dan segala ucapan manis yang dia tawarkan kepadamu, juga pernah diberikan padaku"
"Aku pastikan kamu akan menderita"
Tak ingin mendengar rentetan kalimat Prillya yang bernada memojokkan, menghina dan mempermalukannya bahkan mengancam, Adam membawa Dinda pergi dari hadapan Prilly. Image Dinda yang sudah jelek di mata semua orang, pasti akan menjadi bulan-bulanan para wanita yang bermulut pedas dan menentang keras pelakor.
Sementara Prilly yang Amarahnya berada di level teratas, menatap dua orang yang berjalan sambil terus bergandengan tangan.
"Pelakor sialan, brengsek kamu Dinda, tunggu saja pembalasanku, kamu pasti menangis darah dan memohon padaku untuk semua yang sudah kamu lakukan padaku"
"Aahh...Sh..iit"
**
Di dalam mobil,,,
Mereka duduk berdampingan. Adam yang duduk di balik kemudi, memilih diam sambil menatap Dinda dengan satu tangan mendarat di sandaran jok mobil.
"Ada apa dek?"
Dinda tak langsung menjawab. Hingga beberapa detik kemudian, dia bersuara lirih.
"Aku di pecat, mas" menundukkan kepala untuk menyembunyikan raut kecewa dari hadapan pria di sampingnya.
"Enggak apa-apa Din, mungkin bukan rezekimu di rumah sakit itu"
"Tapi pasienku sangat banyak di sana"
"Pasien itu rezeki, dan rezeki itu datangnya dari Allah, di tempat yang baru nanti, kamu pasti bisa mendapatkan pasien dan bahkan lebih banyak dari yang di sini"
Tangan Adam terulur untuk meraih tangan Dinda. Ia meremasnya lembut seakan memintanya untuk mengangkat kepala. Dan Dinda benar-benar mengangkat kepala untuk mempertemukan pandangan. Mencari keyakinan untuk dirinya sendiri lewat sorot mata Adam yang teduh.
"Aamiin" jawab Dinda singkat.
Dalam hati, sebenarnya Dinda sangat marah, dia berniat meminta konpensasi pada Birawa karena sudah melanggar janjinya untuk memuluskan karir Dinda di rumah sakit milik calon besannya.
__ADS_1
Bersambung.