
Sejujurnya, Adam merasa cemburu melihat bagaimana Prilly bertukar cincin dengan Zidan. Namun ia sadar, jika Prilly bukanlah untuknya. Saking kuatnya tembok itu, hingga akhirnya Adam menyerah.
Dirinya merasa tidak mungkin mendapatkan Prilly, apalagi di tambah Adam yang sudah begitu dalam menyakiti hati mantan kekasihnya dengan meniduri Dinda.
Tidak mudah juga melupakan Prilly dalam hitungan hari, tapi biar bagaimanapun, ia tak ingin memberikan harapan palsu pada Dinda, Adampun memilih melupakan Prilly dan akan membina rumah tangga dengan dokter cantik itu.
Tentang kejadian dimana Adam meniduri Dinda, pria itu sedikit heran, kenapa bisa sampai tak mampu mengendalikan hasratnya.
Dia menyangka Dinda pasti mengira kalau dirinya adalah Pria brengsek.
Namun, ketika melihat bagaimana respon Dinda saat Adam menyentuhnya, dalam hati Adam bertanya-tanya kenapa dengan gampangnya wanita itu mau menyerahkan tubuhnya. Adam pikir Dinda semurahan itu, tapi ternyata tidak. Adam adalah pria pertama yang mengoyak keperawanannya.
Larut dalam pikiran yang mampu mengusik ketenangan hatinya, diam-diam Adam bersyukur mendapatkan Dinda. Ia merasa jika sikap Dinda sangat berlawanan dengan Prilly.
Bagi Adam, Prilly adalah wanita yang arogan, dia hanya ingin di mengerti tanpa mau memahami. Dia adalah wanita yang ambisius.
Jika keinginannya tidak di penuhi, dia tidak segan-segan memarahi Adam, mencela dengan kalimat-kalimat yang membuatnya sakit hati. Namun, karena saking cintanya, Adampun berusaha menerima sifat Prilly selama ini dengan harapan akan bisa merubahnya saat sudah berumah tangga.
Cuma aku Dam wanita kaya yang mau menerima pria miskin sepertimu, jadi jangan coba-coba kamu berkhianat di belakangku.
Itulah salah satu kalimat yang sering ia dengar.
Tidak hanya itu, jika Adam menolak bertemu ataupun berkencan karena kesibukannya sebagai karyawan biasa, Prillya selalu berprasangka kalau Adam memiliki wanita lain.
Berbeda dengan Dinda, wanita yang justru sangat mengerti kondisi Adam dan selalu berprasangka baik terhadapnya.
Seperti prasangkanya, semua ucapan Prilly pun kejadian, dia yang selalu menuduh Adam berselingkuh, akhirnya membuatnya dan Dinda menjalani hubungan pertemanan yang begitu solid, hingga akhirnya di luar kendali mereka telah tidur bersama dalam satu tempat tidur.
"Aku nggak nyangka, Prillya mendorong Dinda hingga jatuh ke kolam" Gumam Adam saat tengah fokus melajukan mobilnya menuju jalan pulang. "Lantas kenapa airnya sangat dingin seperti air es?"
"Apakah Prilly juga sengaja membuat airnya sedingin itu?"
"Tapi, apa maksudnya ingin membuat Dinda menderita?"
Adam menggelengkan kepala seraya menggembungkan mulut. Dia yang juga basah kuyub, langsung pulang setelah mengantar Dinda.
****
Hari berganti minggu, Semua aktivitas bisa Dinda lalui dengan baik dan lancar. Selain bekerja, selama beberapa hari ini Dinda serta Adam di sibukkan dengan persiapan pernikahan.
Begitu juga dengan Prilly yang tengah sibuk fitting gaun dan kesana kemari mempersiapkan segalanya.
Pernikahan yang juga akan di adakan lebih mewah dari acara pertunangannya, sejenak membuat Prilly bisa melupakan rasa sakit hatinya, namun ketika mendengar berita tentang pernikahan Adam dengan Dinda yang akan di gelar beberapa hari lagi, ia kembali tersulut amarah. Rencana membalas rasa sakit hatinya pun kembali meletup-letup.
"Aku tidak akan pernah rela jika orang yang sudah menyakitiku bisa hidup bahagia" Reflek, Prilly mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Adinda, lihat saja! aku pasti akan membuatmu hancur. Dan Adam, kamu pria brengsek yang dengan lancangnya mempermainkan hatiku, mematahkan hatiku hingga hancur berkeping-keping. Aku akan membuatmu di pecat dari pekerjaanmu. Lalu Dinda, kamu juga akan di pecat dari rumah sakit calon suamiku. Seberapa lama kalian bertahan dengan hubungan yang menyengsarakan"
Suara dari penghulu, membuat Prilly yang diam-diam datang ke acara pernikahan Adam dan Dinda tersentak dan mampu membuyarkan lamunannya.
"Saudara Adam Naizar bin Hasan Rosmana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan pinanganmu Adinda Sofiana binti Alm. Igor Sofian, dengan mahar emas dan seperangkat alat sholat, Tunai"
Adam segera menjawab dengan suara lantang.
"Saya terima pernikahannya, dan perkawinannya dengan mahar yang telah di sebutkan tunai, dan saya rela dengan hal itu, dan semoga Allah selalu memberikan anugerah"
"Sah?"
"Sah"
______
__ADS_1
"Tidaakkk!!"
Prilly langsung bangun dari tidurnya dengan nafas tersengal, butiran keringatpun memenuhi keningnya.
"Hanya mimpi" Gumam Prilly lirih lalu mengusap wajahnya.
"Prilly?" Suara dari seorang pria tiba-tiba menggema di ruangan kamarnya.
Prilly menoleh ke arah pintu, sepasang matanya mendapati sosok Zidan tengah berjalan menghampirinya.
"Zidan?"
"Tadi pas aku menaiki tangga, aku sempat mendengar teriakanmu, kamu mimpi?"
"I-iya Zi, aku mimpi buruk"
"Mimpi apa?" tanya Zidan seraya duduk di tepian ranjang.
Alih-alih menjawab, Prilly malah bertanya balik. "Kamu di sini Zi?"
"Iya, tadi aku ke perusahaan, tapi kata ayah kamu nggak ke kantor. Ayah juga bilang kamu sedikit nggak enak badan, jadi aku ke sini buat ngecek kamu"
"Iya Zi, aku sedikit pusing"
Mendengar kabar pernikahan Adam dengan Dinda, membuatnya tidak bisa berkonsentrasi, itu sebabnya ia memilih tetap tinggal di rumah dan tidak pergi ke kantor.
"Zi?" Panggil Prilly dengan sorot serius.
"Iya"
"Kamu cinta sama aku?"
"Sungguh?" Sorot mata Prilly lekat menatap pria di depannya.
"Sungguh" Jawab Zidan mantap. "Kenapa?"
Bukannya menjawab, Prilly justru mendekatkan wajahnya lalu merangkum wajah Zidan dan mengecup bibirnya. Wanita itu tanpa malu memberikan lum*atan lembut yang kian dalam.
Otomatis, Zidan membalas ciumannya tak kalah lembut. Mereka saling berpa gutan hingga lewat bermenit-menit. Tangan Zidan yang entah kapan menyusup di balik punggung Prilly dan menyalurkan getaran yang membuat bulu kuduknya meremang, sementara tangan lainnya meremas salah satu buah dadanya.
Menyadari tangan Zidan yang semakin liar, wanita itu melepas tautan bibirnya.
"Kamu mau Zi?" tanya Prilly sambil melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka.
"Boleh?"
"Kenapa tidak, toh sebentar lagi kita akan menikah, iya kan?"
Tatapan Zidan kian intens mencari kesungguhan atas ucapan Prilly.
"Tapi ada syaratnya" kata Prilly sambil membuka kancing kemeja Zidan bagian atas.
"Apa?"
"Pecat dokter Dinda!"
Mendengar kalimat Prilly, Zidan mengernyitkan dahi.
"Dia adalah pelakor Zi, aku benci dengan wanita yang merebut laki orang"
"Pelakor? memangnya, suami siapa yang sudah dia rebut?"
__ADS_1
"Suami temanku" Dusta Prilly, tidak mungkin wanita itu mengatakan jika kekasihnya sendiri yang sudah Dinda rebut. Enak saja kesannya memanfaatkan tunangannya yang berstatus sebagai pemilik Herquina Hospital.
"Dia merebut suami temanmu?"
Prilly mengangguk tanpa ragu.
"Baiklah, aku akan cari alasan untuk bisa memecatnya"
"Janji?" tanya Prilly dengan tatapan sepenuhnya menyoroti netra Zidan.
Pria itu menyelipkan rambut panjangnya sambil mengangguk. Detik berikutnya, mereka kembali mempertemukan bibir.
"Tutup pintunya Zi" ujar Prilly ketika ciumannya terurai.
Dengan cepat, Zidan bangkit lalu melangkah menuju pintu dan menguncinya.
Tak kurang dari satu menit, Zidan sudah kembali dan mencumbu wanita yang saat ini berada dalam kungkungannya.
Sentuhan dan cumbuan yang kian intens, membuat keduanya kian hanyut. Entah bagaimana caranya, Zidan sudah berhasil melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh Prilly. Prilly pun sudah berhasil melepas seluruh kancing kemeja Zidan dan melepas kemeja itu dari badannya.
Kini tangan Prilly berusaha melepas sabuk yang melingkar di pinggang pria yang ada di atasnya. Pria yang saat ini sibuk menyesap butiran kecil di area dada.
Sama-sama tenggelam dalam euforia kenikmatan, akhirnya mereka bersama-sama terbang melayang di atas awan.
***
Usai percintaanya, pria itu ambruk di atas tubuh Prilly. Ia sedikit menumpukan siku agar tak terlalu menindih tubuh wanita di bawahnya.
Sementara Prilly memeluk erat seraya mengatur nafasnya yang sempat berantakan.
"Makasih" ucap Zidan kemudian mengecup keningnya. "Aku beruntung menjadi pria pertama yang menyentuhmu. Kita akan segera menikah dan hidup bahagia"
Ada senyum di bibir Prilly. "Apa ini juga pertama kalinya buatmu?"
"Hmm"
"Bohong. Rasanya nggak mungkin karena selama ini kamu tinggal di luar negri"
"Aku serius" bisik Zidan di telinga Prilly. "Dari dulu, hingga sekarang, aku sangat mencintaimu, aku hanya ingin melakukannya denganmu"
Mendengar kalimat Zidan, hati Prilly menghangat, tangannya terulur menghapus titik bening di dahi lelaki yang masih bertahan di atasnya. "Datanglah padaku jika kamu menginginkannya lagi, Tapi jangan lupa syaratnya"
"Demi kamu, pasti akan aku kabulkan"
"Thankyou"
Prilly menangkup wajah Zidan kemudian mengecupnya sedikit agak lama. Tak kuasa, Zidan akhinya membalas ciumannya dan memberikan lum*atan.
Mereka kembali hanyut dalam ciuman yang memabukkan.
Dinda, Adam, aku sudah susun rencana untuk menghancurkan kalian. Tunggu saja, sebentar lagi kalian pasti akan menderita.
Prilly membatin di tengah-tengah ciuman panasnya.
Bersambung.
Sampai jumpa lagi ya... maaf kalau upnya nanti lama-lama.
Happy reading...
🌷Salam dari Addinda🌷
__ADS_1