Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor
Diskusi


__ADS_3

Hamil di bulan pertama membuat Dinda bak orang kekurangan gizi. Morning sickness yang dia alami, membuat badannya berasa meriang. Aktivitas pun jadi terganggu sebab dia selalu lemah dan lesu, yang lebih memalukan lagi, ia terus saja menguap bahkan ketika sedang memeriksa pasiennya.


Tampak sekali dari sorot matanya yang kuyu menahan kantuk dan juga malas.


Entahlah, kenapa menjadi semalas ini, bahkan sangat manja pada suaminya.


Apa-apa selalu meminta bantuan Adam, bahkan Adamlah yang mengurus semuanya mulai dari mengurus rumah, memasak, atau mengurus istri hamilnya dan dirinya sendiri.


Pria itu benar-benar luar biasa hebat, dia bisa membagi waktu untuk urusan rumah dan pekerjaan.


"Mas"


"Hem"


"Sudah"


"Sudah?" Adam mengernyit. "Baru empat sendok"


"Sudah kenyang"


"Tiga sendok lagi ya?"


"Nggak mau, udah nggak kuat"


"Tapi kasian bayimu cuma di kasih makan sedikit. Tiga lagi biar genap tujuh suap" Mereka seperti tengah melakukan tawar menawar.


"Udah kenyang banget, nanti malah keluar lagi" Tolak Dinda memohon.


"Satu suap lagi"


Setelah mempertimbangkannya, akhirnya Dinda setuju.


"Okay, cuma satu suap ya?"


"Iya" Adam menyuapkan sendok berisi nasi dan lauk ke mulut Dinda.


"Udah" Suara Dinda teredam.


"Minum dulu"


"Minumnya mau ganti yang agak panas dikit"


"Okay, mas ambilkan dulu"


Adam keluar dari kamar, dengan membawa piring yang masih menyisakan nasi cukup banyak, juga gelas yang akan di ganti dengan air panas.


Setelah beberapa saat, dia kembali lagi ke kamarnya membawakan air pesanan Dinda.


Saat langkahnya sudah menerobos pintu kamar, ia mendengar suara Dinda yang sedang memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi.


Menarik napas panjang, reflek kepala Adam menggeleng.


Sebenarnya ia merasa sangat kasihan dengan kondisi Dinda yang selalu memuntahkan makanannya sesaat setelah makan. Ia bahkan merasa kalau tubuh Dinda agak sedikit kurus efek dari mengidam.


Meletakkan gelas di atas nakas, Adam langsung menghampiri Dinda.


"Muntah lagi dek?" Dia memijit tengkuk Dinda.


"Hem"


"Makan lagi sedikit ya?"


"Nggak mau"


Setelah mengeluarkan semua isi di dalam perutnya, Dinda seperti kehilangan tenaga. Dia meminta Adam untuk menggendongnya menuju ranjang.


Adampun dengan tangkas membopong tubuh Dinda.


"Minum susu ya" tawar Adam seraya membaringkan Dinda di atas kasur.


"Nggak mau"

__ADS_1


"Ini minum dulu"


Dinda mengambil alih gelas berisi air panas lalu di teguknya pelan, sementara Adam menggembungkan mulutnya, merasa frustasi dengan tingkah sang istri yang tidak mau makan apapun "Kamu ini dokter loh Dek, pintar, dan tahu dunia kesehatan, kamu tahu wanita hamil pasti butuh asupan gizi, iya kan?"


"Tapi perutnya mual kalau terisi, mas"


"Tapi tetap saja harus makan. Kamu pintar merayu pasien, tapi untuk kamu sendiri kenapa begitu sulit?" Adam menatapnya tajam. Rasanya setiap hari ia benar-benar di uji kesabarannya yang seluas samudra itu, untung saja cinta Adam ke Dinda sebesar gunung, bucinnya pun setengah mati "Kamu kan tahu kalau hamil memang gitu"


"Ya udah minum susu" kata Dinda menyerah.


Selang sekian detik, Adam bangkit mengarahkan kembali kakinya menuju dapur. Saat mendekati ambang pintu, spontan ia berhenti kemudian membalikkan badan.


"Mau rasa apa?" Fokus Adam penuh lekat menatap istrinya.


"Strowberry"


Pria itu kembali mengayunkan kaki usai mendengar ucapan Dinda.


Butuh waktu lima menit, Adam mempersiapkan susu untuk istrinya. Ketika hendak kembali ke kamar, ponsel Dinda yang masih berada di dalam tas yang ia taruh di kursi makan selepas pulang kerja, tiba-tiba berdering di iringi sebuah lagu.


Pria itu langsung memusatkan perhatian pada tas berwarna maron, kemudian melangkah beberapa langkah dan meletakan nampan di atas meja selagi dia mengambil ponsel yang masih mengeluarkan bunyi panggilan masuk.


Mamah Calling...


"Assalamu'alaikum, mah!"


"Wa'alaikumsalam, Adam. Dinda gimana?"


"Masih begitu mah, nggak mau makan"


"Coba mamah mau bicara"


"Sebentar ya mah" Adam kembali mengangkat nampan, berjalan ke arah kamar.


"Mamah telfon, dek" Dia menyerahkan benda tipis ke istrinya.


Begitu Dinda menerimanya, ia langsung menekan tombol loudspeaker supaya Adam juga bisa mendangarnya.


"Wa'alaikumsalam"


"Ada apa mah?" tanya Dinda lembut, dari sebrang telfon.


"Kata suamimu kamu masih belum makan, sudah ke dokter?"


"Sudah, mah"


"Jangan sampai nggak makan ya, Din! Kasihan anak kamu nanti"


"Iya mah"


"Din!"


"Ada apa mah? mamah nggak kenapa-kenapa kan?"


"Mama pengin ngomong sama kamu"


Mendengar suara Meta yang sendu, Dinda melirik Adam yang juga tengah meliriknya.


"Di minum dulu susunya sayang" bisik Adam ketika mata mereka saling bersirobok.


"Mau ngomong apa mah?" Setelah mengatakan itu, Dinda menempelkan bibirnya pada mulut gelas yang Adam sodorkan.


"Prilly, Din!"


"Ada apa dengannya, dia bikin masalah sama mamah?"


"Tidak" Sergah Meta cepat. "Dia datang ke rumah mamah dan melamar mamah untuk pak Bi?"


"Apa?"


"Iya, Din"

__ADS_1


Tak hanya Dinda, Adam pun begitu terkejut.


"Dia memohon sama mamah supaya mau menikah dengan ayahnya"


"Terus mamah jawab apa? Mamah menerimanya?"


"Belum, mamah jawab mau berunding dulu sama kamu sama Adam. Menurut kamu gimana, nak?"


Dinda dan Adam kembali saling mempertemukan netranya.


"Yakin Prilly meminta mamah buat nikah sama papa?"


"Iya, mamah juga nggak menduga. Tapi dia datang kemari melamar mamah"


"Mamah sendiri gimana?" tanya Dinda dengan nada rendahnya.


"Mamah tergantung kamu, Din. Kalau kamu memang menginginkan papahmu dan mama bersatu, ya mamah terima. Mamah lakukan demi kamu dan juga Prilly"


"Maksud aku mah, mamah mencintai pak Bi atau engga? Kalau enggak ya mending nggak usah. Kita kan juga nggak tahu pak Bi masih cinta sama mamah atau enggak, yang melamar mamah kan Prilly bukan pak Bi sendiri"


"Tapi kata Prilly, pak Bi mencintai mamah, nak"


"Memangnya Prillya tahu, kalau ayahnya mencintai mamah?"


"Tahu sayang, dia sering memergoki ayahnya senyum-senyum sendiri pas lihat poto mamah jaman muda. Sebenarnya, papahmu sendiri juga sering mengunjungi mamah"


"Hah??!! Jadi diam-diam papah ngapelin mamah?"


"Iya Din, dia juga pernah mengatakan kalau masih nunggu mamah"


"Masa iya?"


"Iya sayang"


"Terserah mamah aja mah. Kalau mamah bahagia, aku suport mamah"


"Tapi kalau menurutku mah" potong Adam kilat. Dan Dinda langsung menatap suaminya yang menampilkan wajah serius. "Mamah sama papah mungkin memang harus menikah. Kalian kan pernah memiliki masa lalu, saat ini sama-sama sendiri, nggak ada salahnya kalian menghabiskan sisa waktu bersama"


"Mamah juga butuh teman kan, biar kalau ada masalah, mamah bisa membaginya sama papah" tambah Adam menyerukan pendapatnya.


"Mamah butuh teman curhat loh sayang" kali ini Adam bicara pada Dinda. "Toh, mereka sudah berubah, yang lebih meyakinkan lagi, ini permintaan Prilly sendiri"


"Iya juga si"


"Gimana Din?" tanya Meta gamang.


"Terserah mamah, kalau mamah mau menerimanya, aku dan mas Adam dukung mamah. Benar kata mas Adam, mamah butuh pendamping hidup meski usia mamah nggak lagi muda"


"Jadi mamah terima?"


"Ya kalau memang ini permintaan Prilly, mama dan papah juga saling cinta, apa salahnya?"


"Prilly juga mau bilang ke kamu, Din. Dia belum memberitahumu?"


"Belum mah"


"Kalian bicarakan saja ya, mamah nurut kalian aja"


"Nanti aku coba hubungi Prilly mah, minta kejelasan lagi"


"Ya udah, gitu aja ya nak. Ini mamah tutup"


"Iya mah"


Dinda menekan ikon merah menutup panggilannya setelah mengucap salam.


"Yakin mas?" Pandangan Adam dan Dinda lekat saling menatap.


"Kita bicarakan dengan Prilly dan Zidan, sayang"


Dinda mengangguk setuju.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2