
Selama dalam perjalanan ke rumah orang tua Adam, mereka mengobrol membicarakan banyak hal. Setelahnya, Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat ketika terjebak lampu merah.
Kesimpulan dari pembicaraan mereka di dalam mobil, Adam adalah anak kedua dari dua bersaudara, dia memiliki kakak perempuan yang sudah bersuami dan memiliki satu anak perempuan.
Perjalanan yang menempuh waktu hampir satu jam itu, tahu-tahu sudah berada di tempat yang mereka tuju, dan mobil sudah mulai menerobos masuk melewati pintu gerbang berbahan besi.
"Ini rumah mas?"
"Ini rumah orang tuaku, Din. Di sini aku menikmati masa kecil dan di besarkan oleh Abi dan Umi"
"Oh" sahut Dinda singkat.
"Ayo turun!"
Dinda mengangguk dengan perasaan grogi.
Bersamaan dengan gerakan tangan Dinda yang menutup pintu mobil, dia justru melihat sosok Santi berdiri di teras rumah lengkap dengan senyum tersungging di bibirnya.
Santi sendiri belum tahu kalau ternyata wanita yang akan di ajak berkenalan dengannya adalah dokter Dinda yang sudah merawatnya selama di rumah sakit. Penglihatan Santi yang tidak begitu jelas jika melihat dari kejauhan, di tambah pakaian Dinda yang tampak berbeda dengan pakaian saat ke rumah sakit, membuat Santi tak menyadari jika wanita dengan balutan busana syari'i itu adalah dokter cantik kesayangannya.
Sejujurnya, Dinda merasa heran dengan keberadaan Santi di rumah Adam.
Apakah bu Santi itu ibunya mas Adam?
Tak ingin rasa penasarannya terus bergelayut manja di dalam dirinya, Adinda pun menghampiri Adam yang baru saja turun dari mobil.
"Apa itu ibunya mas Adam?"
"Iya Din, itu Umi"
"Apa namanya bu Santi?" tanya Dinda kian penasaran.
"Kamu tahu Din?" alih-alih menjawab, Adam malah bertanya balik.
"Beliau pasienku mas"
"Berati, apa kalian sudah saling mengenal?"
Dinda mengangguk dengan bibir menekan ke dalam, lengkap dengan kedua alisnya yang terangkat.
"Bagus itu, setidaknya nggak terlalu canggung nanti. Ayo!" ajak Adam lembut.
Setelah melangkah beberapa langkah, dan langkahnya kian dekat, Santi masih belum sadar dengan keberadaan Dinda yang melangkah bersisian di samping sang putra.
"Assalamu'alaikum, umi?"
"Wa'alaikumsalam, nak" Adam langsung meraih tangan Santi, lalu ganti Dinda yang mengecup punggung tangannya.
"Ayo masuk!" ucap Santi lalu melingkarkan tangan di lengan putranya.
"Ibu tahu nggak ini siapa?" tanya Adam seraya mendudukan dirinya di sofa ruang tamu.
"Ya Umi belum tahu nak, kan kamu baru membawanya kemari"
Di sana Dinda tersenyum dengan menundukkan kepala. Dinda yang belum tahu kalau penglihatan Santi sudah memburam dan harus mengenakan kacamata, merasa heran dan bertanya dalam hati kenapa bisa tidak mengenali dirinya.
"Coba pakai kacamata Umi" Adam setengah bangkit lalu meraih kacamata yang tergeletak di meja bagian pojok ruangan.
"Ini Um, kacamatanya"
"Makasih nak"
Perlahan Santi mengenakan kacamatanya demi menajamkan penglihatan supaya lebih jelas.
Seketika pandangan Dinda dan Santi pun bersirobok.
"Masyaa Allah, nak Dinda?"
"Iya, bu"
"Jadi ini wanita yang ingin kamu perkenalkan dengan Umi, Dam?"
__ADS_1
"Iya Umi"
"Apakabar, Umi?" Tanya Dinda ramah.
"Alhamdulillah Umi baik nak"
"Syukur alhamdulillah kalau gitu, umi"
"Nak Dinda sendiri bagaimana?"
"Baik juga Um?"
"Masyaa Allah, akhinya ketemu lagi ya nak" Pandangan Santi beralih ke Adam. "Dokter Dinda ini dokter favorite Umi loh Dam, dia sangat baik dan pintar sekali merawat pasien"
"Itu berlebihan umi" Sela Dinda tak enak hati.
"Memang begitu kok, nak Dinda. Umi merasakan kalau nak Dinda bekerja dengan penuh cinta"
Adinda hanya tersenyum canggung.
"Abi dan mbak Ulva kemana Um?" Tanya Adam seraya melirik ke ruang tengah.
"Mbakmu ada di kamar, lagi bantu Della belajar. Kalau Abi tadi ada di be_" Belum sempat Santi menyempurnakan kalimatnya, ada sosok berpeci muncul dari arah ruang keluarga.
"Nah itu bapak"
Dinda serta Adam menoleh lalu bangkit.
"Adam!"
"Assalamu'alaikum Bi?" Sapa Adam di susul mencium punggung tangan Abinya.
"Wa'alaikumsalam"
"Ini Dinda Bi"
"Dinda" ucap Dinda memperkenalkan diri sambil menyalaminya.
"Iya pak" mereka kembali duduk.
"Panggil Abi saja, nak Dinda" kata Santi dengan seulas senyum.
"Iya Umi"
Entahlah, jantung Dinda benar-benar kurang ajar di dalam sana.
Apalagi saat kakaknya Adam tiba-tiba keluar bersama anak dan suaminya.
Tatapan tak suka dari Ulva benar-benar membuat Dinda tak nyaman. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan kakak perempuannya Adam menatap Dinda dengan sorot seperti itu, yang jelas perasaannya mendadak was-was. Otaknya langsung berkelana dan berspekulasi jika Ulva memang tidak menyukai Adinda.
Namun, karena Dinda tak mau ambil pusing, dia berusaha bersikap senormal mungkin.
Setelah berkenalan dengan kakaknya Adam, serta keponakannya, mereka kembali fokus mengobrol.
"Selain dokter, sibuk apa nak Dinda?" tanya Hasan.
"Hanya itu Bi kesibukan saya, paling kalau di rumah bantu merawat mamah"
"Iya Bi, mamahnya Dinda sempat menjalani perawatan intensive di rumah sakit karena jantung" sela Adam.
"Oh ya?"
"Iya, tapi alhamdulillah sekarang sudah sehat ya dek?" Adam menatap Dinda sekilas. Detik itu juga Dinda tercenung dengan panggilan Adam.
"Iya" Sahut Dinda kikuk.
"Beruntung ya kalau anaknya dokter" kata Santi menyambung "Kalau sakit tinggal panggil anaknya"
"Ya nggak gitu juga Um" sambar Ulva sambil melektakkan teh di atas meja. "Tetap saja butuh dokter lain. Iya kan Din? kamu juga pasti nggak merawat mamahmu kan?"
"Iya mbak, malah aku sama sekali nggak merawatnya saat di rumah sakit, semua aku serahkan pada dokter lain"
__ADS_1
"Tuh kan Umi, tetap butuh dokter lain, karena setiap penyakit sudah ada dokter ahlinya masing-masing"
"Tapi kan mending ada dokter di sampingnya" balas Santi "Ayo nak Dinda silahkan di minum"
"Iya Umi"
"Kayak kemarin, Dinda merawat umi dengan sangat baik"
"Itu sudah menjadi tugas saya dalam bekerja, Umi"
Setelah itu hening sesaat...
Tampak Adam meraih cangkir berisi teh lalu meminumnya pelan.
"Abi, Umi" kata Adam sambil meletakkan kembali cangkir di atas piring kecil.
"Ini Adinda Sofiana, aku berniat memperkenalkan Dinda sebagai calon istriku"
Jantung Dinda benar-benar seperti akan terlepas dari tempatnya saat Adam mengatakan itu.
"Aku meminta ijin Abi sama Umi supaya merestui kami"
Kali ini Dinda melirik Ulva yang menarik napas panjang, sama sekali tidak tahu apa maksud dari helaan napasnya itu.
"Aku ingin menikahinya Bi, Umi"
Mengabaikan tatapan Ulva, bola mata Dinda fokus tertuju pada Santi dan Hasan yang menampilkan raut senang.
"Ini menyangkut masa depanmu nak, jika kamu sudah mantap membina rumah tangga, Abi hanya bisa mendoakanmu, iya kan Um?"
"Iya Bi" Sahut Santi merujuk ke suaminya. "Umi setuju Dam kalau kamu mau menikahi nak Dinda, umi berikan restu umi pada kalian, lagi pula, umi suka sama dokter Dinda"
"Kalau abi bagaimana?" tanya Adam dengan sorot agak cemas.
"Insya Allah Abi juga setuju dan merestui kalian"
"Tapi Abi?" Dinda menyela, memantik seisi kursi langsung menatapnya penuh menyelidik.
"Saya sudah tidak ada papah"
Ada senyum tersungging di bibir Hasan.
"Memangnya kenapa kalau tidak ada papah? Khawatir mengenai perwalian?"
Untuk kesekian kalinya Dinda tersenyum canggung.
"Papahnya sudah meninggal atau gimana Din?" tanya Ulva dengan nada frontal.
"Sudah meninggal mbak"
"Oh" sahut mereka nyaris kompak.
"Tidak apa-apa nak Dinda, Adam sudah memilihmu dan menerima kekuranganmu, Abi pun tak ada masalah dengan itu"
Dinda pun menarik napas lega.
"Kapan kira-kira Abi ke rumah nak Dinda Dam?"
"Secepatnya apa dek?" Adam malah menoleh ke arah Dinda.
"Terserah mas saja"
"Abi, Umi, apa pernikahannya bisa di percepat? maksudku, langsung menikah tanpa bertunangan terlebih dulu?"
"Tentu bisa Dam, tapi apa tidak terburu-buru? butuh persiapan yang lumayan menyita waktu lho"
"Kami sepakat menikah secara sederhana Bi"
"Oh ya sudah, lebih cepat lebih baik supaya terhindar dari fitnah" kata abinya.
Entah kenapa rasa khawatir, cemas dan takut tiba-tiba merongrong di benak Dinda. Selain Adam yang masih setengah hati menikahinya, Ulva yang sepertinya kurang cocok, ada hal lain yang di sembunyikan Dinda. Yaitu mengenai rahasia kerjasamanya dengan Birawa.
__ADS_1
Bersambung.