
Perjalanan hidup memang tak selalu sesuai dengan ekspektasi, ada kerikil tajam yang pasti akan kita lalui, termasuk kehidupan Dinda yang terus di uji dengan cobaan. Namun cobaan itu tak serta merta membuat Dinda menjauh dari sang Khalik. Justru sebaliknya, ia semakin rajin mendekatkan diri pada sang pencipta. Apalagi semenjak penyatuan haram dengan pria yang kini sudah berhasil bersemayam di dalam hatinya, tak henti-henti wanita itu memohon ampun di setiap doanya.
Dia yang sudah beberapa hari ini tidak pergi ke rumah sakit untuk bekerja, selalu mengisi waktu luang untuk mengirimkan CV ke beberapa rumah sakit, baik secara online maupun datang langsung ke tempat tujuan, berharap akan secepatnya mendapatkan pekerjaan dan kembali sibuk dengan rutinitas yang sudah menjadi cita-citanya.
Tepat ketika tengah fokus berkutat di depan laptop, Adinda menangkap suara deru mobil. Dia sudah tahu siapa pemilik mobil yang kini tengah bergerak menuju halaman rumah. Dengan cepat, dia langsung menutup laptopnya dan meletakan di atas meja, tangannya terulur menyambar gawai kemudian melangkah menuju pintu untuk menyambut kedatangan Adam.
"Assalamu'alaikum?" Adam berjalan, menuju teras dan duduk di kursi yang tersedia.
"Wa'alaikumsalam, mas"
"Mamah ada?"
"Nggak ada, kenapa?"
"Kemana?"
Bukannya menjawab, Adam malah bertanya balik.
"Lagi ada acara pengajian rutinan di ponpes sebelah"
Baguslah..
Pikir Adam, setidaknya jika dirinya tersulut emosi karena kebenaran yang Prilly katakan, tidak di ketahui oleh Meta.
"Ada apa mas?"
Dinda menatap bingung calon suaminya yang menampilkan gesture tegang tak seperti biasanya, apalagi ketika melihat raut wajahnya yang tampak masam, itu menambah rasa penasaran Dinda semakin naik kelas. Lantas, wanita itu turut duduk dengan gusar di kursi teras yang berhadapan dengan di batasi meja.
"Ada apa mas?" ulang Dinda ketika pertanyaannya belum mendapat jawaban.
"Boleh aku cek transaksi di rekeningmu, Din?"
Dinda terkejut, persekian detik jantungnya berdesir tak terkontrol.
"U-untuk apa mas?"
"Aku hanya ingin tahu saja?" tatapan pria di depannya benar-benar menyelidik, membuat Dinda mereka-reka dalam hati mencari alasan kenapa pria itu ingin tahu isi rekeningnya. Otomatis, Dinda langsung was-was karena baru tadi malam ia mendapat transferan dari Birawa.
"Ingin tahu apa mas?"
Menarik napas, Adam kembali bersuara. "Apa kamu sudah bekerjasama dengan Birawa?"
Pertanyaan Adam membuat Dinda terkatup kemudian menelan ludahnya sendiri.
"Jawab Din" Suara rendahnya dan tatapan intimidasi, seolah menuntut Dinda untuk berkata jujur. "Apa kamu dan Birawa merencanakan sesuatu untuk membuat hubunganku dan Prilly hancur?"
"A-aku_"
Dengan tangkas Adam merebut ponsel Dinda dari tangannya.
Jari-jarinya dengan lincah membuka menu pesan, ia berharap tidak ada informasi apapun tentang pemberitahuan transaksi seperti yang Prilly katakan.
Namun, sekian detik kemudian harapannya sirna ketika ia menemukan pesan penambahan saldo di rekening dinda melalui M-banking.
Scroll ke bawah, Adam kembali menemukan transferan dalam jumlah lebih banyak dari sebelumnya.
"Ini apa Din?"
Pria itu memperlihatkan layar ponsel tepat di wajah Dinda.
"Kenapa ada transferan uang dari Birawa?"
"Akan aku jelaskan mas?"
"Benar, kamu kerjasama dengan Birawa?"
"Ak_"
"Jawab!" Suaranya sedikit meninggi dan penuh penekanan.
__ADS_1
Adinda mengangguk dengan tanpa melihat Adam. Pandanganya jatuh pada vas bunga di atas meja.
"Kenapa, Din? kamu ada hubungan khusus dengan ayahnya Prilly, sehingga mau menuruti perintahnya?"
Mendengar kalimat Adam, Dinda mengangkat pandangan, mencari manik hitam yang pria itu miliki.
"Apa? hubungan spesial?" Ucap Dinda tak percaya. "Bagaimana bisa mas bilang aku ada hubungan spesial dengan ayahnya Prilly?"
"Lalu apa maksudnya transaksi ini, Dinda?" Intonasi Adam kian meninggi, membuat Dinda kian gugup sekaligus takut. "Sudah berapa banyak uang yang kamu terima dari Birawa?" Adam bertanya dengan penuh menyelidik.
"Aku memang menerima uang dari Birawa, tapi_"
"Jawabanmu, cukup membuatku kecewa, Dinda" Adam memangkas kalimat Dinda lalu bangkit.
"Aku nggak nyangka kalau kamu seorang wanita bayaran"
Sambil duduk, Dinda mendongakkan kepala, menatap pria yang kini sudah berdiri "Aku bisa jelaskan, mas"
"Simpan saja penjelasanmu" Sahut Adam sambil berlalu.
"Dengarkan aku sebentar saja mas"
"Tidak perlu repot-repot menjelaskan, Din"
Menepis tangan Dinda. Ia terus melangkah menuju mobil.
"Mas!"
Kecewa, ia tak peduli teriakan Dinda, Adam kembali menaiki mobil lalu melajukannya keluar dari area rumah Meta.
"Aku memang di bayar oleh Birawa, tapi aku memiliki alasan, dan saat dengar alasanku, mas pasti memakluminya" Teriakan Dinda yang tanpa jeda, benar-benar di abaikan. Mobil itu terus menjauh hingga mengecil dari pandangannya.
Mendesah pelan,
Dinda menghembuskan napas berat.
"Dari mana mas Adam tahu?"
Wanita itu menggeleng.
"Sepertinya bukan"
Tampak kedua pipi Dinda menggembung, kembali menarik napas panjang, berharap kesalahpahamannya tidak berlarut-larut.
"Dari manapun mas Adam tahu, tetap kamu yang salah, Dinda. Seharusnya kamu menceritakan semuanya saat kamu memutuskan menikah dengannya, pddahal mas Adam sudah mengingatkanmu untuk jangan berbohong. Sekarang terima akibat dari kebohonganmu"
"Kamu memang wanita bodoh"
Tiba-tiba terdengar suara ponsel. Dinda menoleh menatap ponsel yang tergeletak di atas meja.
Sebuah bunyi yang menandakan pesan masuk.
Mbak Ulva : "Benar Din, kamu menjadi sugar babby ayahnya Prilly?" (10:30) Wib.
"Apa? kenapa mbak Ulva mengira aku sugar babbynya Birawa?" Adinda terduduk lemas.
"Prilly! aku tahu ini pasti kerjaan dia. Mau sampai kapan dia terus memfitnahku?"
Pesan kedua dari Ulva kembali masuk.
Mbak Ulva : "Aku tidak sudi ya, memiliki adik ipar seorang sugar babby dari pria tua. Akan aku pastikan pernikahan kalian batal"
Spontan, Dinda mendaratkan tangan di pinggiran meja, di susul menempelkan kening pada lengannya. Tangan kanannya masih memegangi ponsel di atas pangkuan.
Masalah demi masalah terus datang, seolah menguras energi Dinda hingga tak tersisa. Membuatnya ingin lari sekencang-kencangnya dari kenyataan.
Semua berawal dari dirinya yang terhimpit masalah uang. Hingga ia bertemu dengan Birawa dan semuanya di mulai.
Percaya pada dirimu sendiri nak, semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Harus kamu ingat, bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan umat-Nya. Kamu hanya perlu memahami dirimu sendiri, memahami permasalahan yang menimpamu dan kamu pasti akan mendapatkan jawabannya. Papah yakin kamu bisa melaluinya, Dinda.
"Din"
Seseorang mengusap punggung Dinda hingga tubuhnya berjengit karena kaget. Ia langsung mendongak melihat sang mamah yang tahu-tahu berdiri di samping kursi yang ia duduki.
"Kamu tidur di sini, nak?"
"Mamah"
"Kalau tidur di dalam, jangan disini! pintu juga terbuka, nanti kalau ada orang jahat gimana?"
"Maaf mah, aku ketiduran"
"Duduk kok bisa ketiduran. Ayo masuk, kita buat makan siang"
"Iya mah"
Papah, jelas-jelas tadi yang mengusap punggungku itu papah.
Aku bermimpi di tengah teriknya matahari?
Mimpi yang tampak sangat nyata.
Kepala Dinda reflek menggeleng.
"Mau masak apa, Din?"
"Yang mamah suka aja mah"
"Sayur asam, sama nila goreng, terus sambal terasi, gimana?"
"Boleh mah" Dinda membuka kulkas lalu mengambil bahan-bahan yang akan di masak untuk makan siang.
"Tadi itu pengajian dalam rangka apa mah?"
"Ya rutinan Din, tapi di ponpes ada jatah ketempatan untuk Asma'ul Husna lingkup kota, jadi agak lama nggak seperti biasanya"
"Pantas saja tadi aku dengar bacaan Asma'ul Husna berulang kali, tapi kok hari sabtu mom, biasanya rutinan kan setiap hari minggu?"
"Iya pengajiannya di majuin soalnya sekalian memberi santunan buat anak yatim. Hari ini kan tanggal sepuluh muharram, kita di wajibkan untuk memuliakan anak yatim piatu, coba tadi kamu datang, pasti terharu melihat bagaimana anak-anak itu terlihat tegar dan kuat tanpa orang tua, tanpa ayah, atau tanpa ibu" Meta terus bicara sembari meracik sayur asam. "Kamu juga dulu di muliakan sama mereka nak, sampai bisa menjadi dokter berkat bantuan dari pengasuh ponpes, di tambah kamu selalu berprestasi, jadi abah Zaki tak segan-segan menyekolahkanmu. Kamu harus bersyukur, meskipun papah sudah meninggal, tapi ada banyak orang yang baik sama kamu"
"Next time ajak aku ya mah?"
"Loh, bukannya mamah sering ajak kamu, dan kamu selalu menolak karena jarang sekali libur kan"
"Iya mah, kalau pas libur, ajak aku ya"
"Iya deh, nanti mamah ajak kamu, tadi juga kamu di tanyaain sama Abah Zaki dan ummah"
"Tanyain gimana mah?"
"Umah nanya. Dinda sehat kan bu Meta?" mamah jawab; sehat umah?' umah bilang lagi, mbok ya suruh datang kesini, umah kangen pengin ketemu. Terus mamah jawab, besok umah, saya suruh kesini, kebetulan anaknya lagi di rumah terus, lagi sibuk cari-cari kerja. Si ummah kaget terus nanya lagi, loh bukannya sudah kerja? mamah jawab, iya tapi katanya ada yang nggak suka sama Dinda, jadi rumah sakit mencabut ijin prakteknya"
Adinda tersenyum geli mendengar cerita Meta. Keduanya mengobrol seraya fokus memasak, Dinda yang menggoreng ikan Nila, sementara Meta membuat sayur asam dengan sesekali nyambi membuat sambal.
"Abah Zaki juga nyuruh kamu sesekali datang ke ponpes, buat kunjungin setiap kelas dan memberikan semangat terutama untuk anak yatim supaya tetap tegar walau tanpa dampingan orang tua"
"Insya Allah besok datang mah"
Semenjak bekerja, Dinda memang jarang sekali datang ke pondok pesantren. Sebuah lembaga pendidikan terpadu mulai dari RA, MI, MtS, dan MA. Tempat Dinda menuntut Ilmu sampai tingkat MA yang setara dengan SMU. Dengan bantuan Ustad Zaki yang di panggil Abah, Dinda bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Kesibukan itulah yang menjadi alasan dokter cantik itu jarang mengunjungi ponpes yang lokasinya tak jauh dari rumah.
"Oh ya Din, tadi pas di pengajian, sempat ada yang bisik-bisik tentang kamu, tapi mamah lebih fokus dengerin ceramah, jadi nggak tahu apa yang mereka bisikin, ya mamah si cuma bisa menerka kalau mereka pasti ngomongin kamu yang tiba-tiba di pecat"
Tangan Dinda yang bergerak di atas penggorengan seketika berhenti. Dia terperanjat dan jantungnya serasa mau runtuh.
Yaa Rabb, jangan biarkan mamah mendengar gosip di rumah sakit, apalagi mengenai pernikahanku yang terancam batal.
Bersambung.
__ADS_1
Di real sepuluh muharramnya baru besok, hari senin... 😀