
Merasa hidupnya berada di titik terendah, Dindapun semakin mantap untuk kembali menggoda Adam. Dia benar-benar sudah tak memperdulikan apapun. Segalanya sudah bulat ia pertaruhkan, bahkan hidupnya sekalipun.
Aku harus menghubungi Adam untuk mengajaknya bertemu. Akan ku jebak dia seolah-olah sudah meniduriku.
Tidak ada pilihan lain. Jika dia meniduriku, otomatis dia akan menikahiku karena dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Akan ku jebak dia dengan obat tidur, ku bawa dia ke hotel, ku lepaskan semua pakaiannya, lalu aku akan tidur di sampingnya dengan tanpa pakaian sehelaipun.
Dia pasti akan mengira kalau dia sudah berbuat itu padaku.
Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, wanita cantik berhijab itu kemudian mengumpulkan keberanian untuk menghubungi Adam.
Entah demi apa, si bodoh ini kembali melakukan kebodohannya.
Dinda membatin seraya meraih ponsel dari dalam tas. Ia mencari kontak bernama Adam, lalu menekan tombol dial. Tak berapa lama panggilan pun tersambung, terdengar suara salam dari balik telfon.
"Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumsalam, mas?"
"Ada apa Din?"
"Bisa kita bertemu?"
"Maaf Dinda, sepertinya nggak bisa"
"Please mas, kali ini saja"
"Tidak bisa Din, aku sibuk"
Panggilan langsung terputus, membuat dinda reflek menggigit bibir saking frustasinya.
Dinda mencoba menelfonnya sekali lagi.
Cukup lama Adam tak mengangkat panggilannya, Ia terus berusaha menghubunginya. Namun alih-alih mendapat respon, dia justru harus merasakan panggilannya di rijek untuk kesekian kali.
Memberanikan diri, Dinda mencoba cara lain dengan mengirim pesan padanya.
"Aku minta maaf untuk semua kesalahanku. Bisa kita bertemu mas!" (11:30) Wib.
Satu pesan berhasil di kirim.
Hingga tiga puluh menit berlalu, Dinda belum mendapatkan balasan, padahal jelas kalau pesannya sudah terbaca.
Tak mau menyerah, dia kembali mengirimkan pesan.
"Aku mohon mas, temui aku kali ini saja!" (12:00) Wib
Setelah mengirim pesan pada Adam, Dinda kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
__ADS_1
Ia membuang napas pelan sambil menunggu notif pesan balasan darinya.
Sementara di tempat lain, Adam yang merasa terganggu dengan sikap Dinda, perlahan menjadi tak tega. Biar bagaimanapun, mereka berteman dekat dan bahkan saling nyambung satu sama lain. Apalagi Dinda yang memiliki sifat lemah lembut dan tidak mudah marah seperti Prilly, jelas mendapat penilaian lebih dari Adam.
Setelah mempertimbangkan segalanya, akhirnya pria itu menyetujui permintaan Dinda. Adam bersedia bertemu dengannya untuk yang terakhir kali.
"Toh, aku dan Dinda hanya berteman, tidak ada salahnya menemuinya"
Memilih menelfon dari pada membalas pesan Dinda. Tak menunggu lama, panggilanpun langsung tersambung, suara lembut dari balik telfon membuat bulu kuduk Adam seketika meremang.
"Assalamu'alaikum, mas" Sapa Dinda lembut.
"Wa'alaikumsalam" jawab Adam tak kalah lembut. "Mau bertemu di mana Din?"
"Mas mau bertemu denganku?"
"Hmm"
"Aku lagi di hotel Krakatau mas, lagi ada workshop" Dusta Dinda terpaksa. "Tapi belum selesai, dan kemungkinan akan selesai jam dua. Kalau bertemu di restauran hotel ini gimana?"
"Okey, aku akan menemuimu sebelum jam dua"
"Makasih mas"
"Sampai ketemu Din"
"Iya"
"Waalaikumsalam, mas"
"Huufftt,,,, syukurlah mas Adam mau menemuiku. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini, aku harus bisa menjebak dia dengan obat tidur" gumam Dinda setelah memutus telfon.
Aku akan memesan kamar hotel terlebih dulu, setelah itu akan ku beritahu rencanaku pada pak Birawa, entah bagaimana caranya, Birawa harus bisa membuat Prilly seolah-olah memergokiku sedang tidur dengan mas Adam dalam satu ranjang tanpa busana satu lapispun.
Dengan begitu, Prilly pasti akan menyangka kalau kami masih menjalin hubungan, dan bahkan hubungan kami kian lebih.
Selang lima belas menit, Adinda yang sebelumnya memesan kamar hotel melalui online, kini mendapat feedback jika pesanannya di setujui.
Lantai tiga, kamar nomor delapan. Dia sengaja memesan kamar di lantai paling atas hotel sebab lebih dekat dengan area restoran tempat dia menemui Adam. Hal itu akan memudahkan dirinya menuntun Adam menuju kamar nantinya.
Sukses dengan langkah pertama, langkah selanjutnya Dinda menghubungi Birawa untuk memberitahukan rencananya.
"Iya, dokter Dinda?" ucap pria dengan nada rendahnya.
Saat ini mereka tengah berbicara melalui sambungan udara.
"Begini pak" balas Dinda berusaha tenang. "Saya dan Adam akan bertemu di restoran lantai tiga hotel Krakatau, kami janjian sekitar pukul dua. Saya berencana membuat Adam meniduri saya dengan menaburkan obat perangsang di minumannya, saya akan meminta bantuan petugas restoran untuk membantu saya melancarkan rencana itu, pak Birawa bisa menghubungi putri bapak agar seoalah dia memergokiku"
"Baik, saya akan menyuruh orang saya untuk membawa Prilly ke hotel itu"
__ADS_1
"Saya memesan kamar nomor delapan di lantai tiga"
"Okay, saya setuju dengan rencana anda, saya harap rencana anda akan berhasil, dokter Adinda Sofiana"
Mendengar nama panjangnya di sebut, jantung Dinda rasanya mencelos, getarannyapun membuat Dinda merasa tak nyaman.
"Baiklah, selamat siang"
"Siang" sahut Birawa yang tak Dinda ketahui seperti apa ekspresinya.
Usai mendapat respon, Dinda pun menekan ikon merah untuk memutus panggilan.
Dinda memang mengatakan pada Birawa jika dia akan menaburkan obat perangsang, tapi yang sebenarnya, wanita yang berprofesi sebagai dokter itu hanya akan menaburkan obat tidur di minuman Adam. Karena jelas Dinda tak mau mempertaruhkan keperawannannya sebelum adanya ikatan pernikahan. Meskipun dia sadar bahwa rencana ini juga sangat di larang dalam agama. Setidaknya, ia masih bisa menyelamatkan kesuciannya.
Mendesah pelan, Adinda yang hanya bekerja setengah hari, Ia langsung mengarahkan kakinya menuju apotek untuk membeli obat tidur. Meskipun dirinya seorang dokter, dia tak pernah menyimpan obat tidur atau obat-obat lainnya.
Tanpa sepengetahuan Dinda, para pesuruh Birawa selalu mengawasi gerak-geriknya. Termasuk saat membeli obat tidur, dia yang baru saja keluar dari toko obat, pesuruh Birawa langsung masuk ke dalam apotek.
Si pesuruh memastikan dengan bertanya pada apoteker karena Birawa memiliki feeling jika Dinda adalah wanita berhijab yang kemungkinannya sangat kecil kalau harus menyerahkan tubuhnya pada pria di luar pernikahan. Itu sebabnya Birawa menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki obat apa yang di beli oleh Dinda.
"Kalau boleh tahu, obat apa yang di beli wanita tadi mbak?" tanya salah satu pesuruh Birawa. Tangannya dengan jelas menunjuk tubuh Adinda dari arah belakang.
"Maaf pak, saya tidak bisa memberitahukan pada anda, karena ini termasuk privasi"
"Jangan banyak aturan, saya akan bayar anda dua juta jika anda memberitahuku. Ini rahasia kita, bagaimana?"
Siapa yang tidak tergiur dengan penawaran itu? petugas apoteker yang hanya bergaji sedikit, jelas ini adalah kesempatan yang langka. Mendapat uang dua juta dalam hitungan detik dan tanpa mengeluarkan keringat barang setetespun.
"Dia hanya membeli obat tidur dosis rendah pak" katanya menyerah.
"Obat tidur dosis rendah?"
"I-iya"
"Ini untukmu" pria itu menyerahkan sejumlah uang yang sudah di janjikan. "ingat, ini rahasia"
"Tentu pak, tentu"
Setelah mendapat kepastian dari apoteker, pria itu langsung keluar, lalu meraih ponsel dari saku celana dan akan segera menghubungi atasannya.
"Iya Udin?" pesuruh itu bernama Udin dan Slamet.
"Ternyata dokter Dinda hanya membeli obat tidur dosis rendah tuan"
Benar kan dugaanku..! Birawa membatin.
"Okay Din, lakukan rencana kita"
"Siap pak"
__ADS_1
Begitu panggilan terputus, Udin kembali masuk ke toko obat.
Bersambung.