
"Kak!"
Dinda dan Prilly saling menempelkan pipi kanan kirinya.
"Duduk, kak!" Tambah Prilly mempersilakan.
Saat ini dua pasang suami istri akan makan malam di sebuah restauran mewah untuk membahas soal Birawa dan juga Meta.
Prilly yang berniat menjodohkan ayahnya dengan mamahnya Dinda, berharap di setujui oleh sang kakak. Ia menginginkan sebuah keluarga yang lengkap meski bukan dengan ibu kandungnya.
"Gimana kakimu, sudah ada kemajuan?" tanya Dinda yang sudah duduk bersebrangan dengan Prilly dan Zidan.
"Sudah ada perubahan kak, nggak seberat saat pertama kali therapi"
"Syukurlah"
"Mau pesan apa, Dam?" tanya Zidan yang tengah membolak balikkan buku menu.
"Apa ya?" gumam Adam, ia meraih buku menu lainnya untuk melihat-lihat menu yang tersedia di restauran ini.
Sementara Dinda dan Prilly sibuk bertukar cerita tentang Arsya, anak Prilly yang saat ini usianya sudah dua bulan.
"Kamu nggak kerepotan ngurus Arsya?"
"Enggak kak, ada mas Zi dan juga baby sitter"
"Sudah bisa ngapain dia?"
"Sudah bisa merespon dikit-dikit kalau bercanda"
"Syukurlah, semoga sehat terus buat Arsya"
"Aamiin, makasih kak"
"Aku dan Adam sudah pesan, kalian mau pesan apa?" tiba-tiba Zidan menyela.
"Aku samain sama kamu mas" sahut Prilly.
"Kamu, Din?"
"Aku nanti nebeng ke mas Adam aja"
"Mau nebeng mas, dek?" Adam yang tadinya sedang memberitahukan waitres mengenai pesanan mereka, langsung menoleh ke arah Dinda yang langsung merespon dengan anggukan kepala.
"Bentar ya mbak"
"Baik, mas" Jawab wanita berseragam restauran"
"Nggak pesan sendiri aja?"
__ADS_1
"Enggak mas, aku pesan minum aja"
"Minumnya apa?"
"Coklat marsmellow"
"Coklat marsmellow, ada mbak?" Adam kembali mengalihkan pandangan ke petugas.
"Ada, mas"
"Okay, satu"
"Ada tambahan lainnya?"
"French fries, mas" sambar Dinda cepat.
"French friesnya dua porsi mbak"
"Baik, ada lagi"
"Ada tambahan, Zi? Prilly?"
"Nggak"
"Okay mbak, sementara itu dulu"
"Makasih, mbak"
"Sama-sama"
"Gimana Arsya Zi?"
"Gembul" Satu kata untuk merespon pertanyaan Adam.
"Wah, lucu pasti"
"Iya dong, sudah pintar dia nendang-nendang mamihnya"
Adam dan Zidan tergelak.
"By the way, gimana ini soal ayah dan bu Meta?" Prilly mulai membahas tentang keinginannya.
"Jadi benar kamu ke rumah mamah, Pril?" Dinda memastikan, sementara Adam dan Zidan diam menyimak. Mereka merasa tidak berhak ikut menentukan apalagi mengijinkan para orang tua kembali terlibat percintaan yang sempat terputus.
"Iya, kak! ku rasa ayah sangat mencintai bu Meta"
Dinda mengernyit ketika Prilly mengeluarkan foto masa muda Meta yang ia curi di laci ruang kerja ayahnya.
"Ini bu Meta kan kak?"
__ADS_1
Tangan Dinda terulur meraih selembar foto lawas yang sudah usang.
"Mamah?"
"Benar kan kak, itu bu Meta?"
"Iya Pril"
"Aku ambil ini di ruang kerja ayah, aku juga sering pergokin ayah lagi lihat poto itu"
Bibir Dinda terkatup rapat, sebelum kemudian Adam meraih foto itu dari tangan istrinya.
"Ini mamah, dek?"
"Iya mas, itu mamah"
"Cantik, sayang"
"Kita langsung acarakan saja gimana kak? Bu Meta juga setuju kok"
"Tapi, ayah?"
"Ayah pasti juga setuju"
"Permisi" Seorang pelayan menginterupsi obrolan mereka.
Selang beberapa detik, sebagian pesanan sudah tersaji di atas meja.
"Nanti aku yang ngomong ke ayah, kak" lanjut Prilly.
"Soal biaya pernikahan, nanti aku yang tanggung" Ucap Zidan sambil mengunyah makannan.
"Lima puluh persen dariku" Adam tak mau kalah.
"Loh,, kalian apaan si? Aku belum deal loh"
"Udah dek, deal aja. Biarkan papa dan mama menikmati masa muda di masa tua"
"Iya kak, mas Adam benar, kasih kesempatan buat ayah menebus kesalahannya. Bukankah bu Meta sangat menderita, karena harus membesarkan kakak sendirian sejak suaminya meninggal?"
"Ya udah deh, yang penting mamah sama papah bahagia"
"Okay, deal ya?"
Dinda mengangguk, meski berat, namun hatinya mantap dengan keputusannya.
"Okay mari bersulang" Ajak Zidan dengan raut bahagia.
Bersambung
__ADS_1