Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Ali Tertembak


__ADS_3

Davina menatap papa dan para sepupu prianya yang mengatakan bahwa Ye-jun datang ke pesta pernikahan Bara dan Arum tapi dia tidak bisa mendekatinya karena ketatnya pengawalan dan pengawasan.


"Kita lakukan sesuai rencana" ucap Javier.


Para pria itu pun mengangguk. "Levi tidak bisa ikut, Oom soalnya Yanti sudah mulai terasa kontraksi dan sekarang sedang bersama Rani dan Gasendra Pradipta ke rumah sakit, begitu juga pak Heri" lapor Arjuna.


"Tak apa. Kita tahu Levi dan Yanti kan memang menanti kelahiran anak pertama dan memang masuk HPL nya" sahut Ghani.


"Ms Davina siap ya?" tanya Lt Crane dengan nada suaranya yang dalam.


"Siap Lieutenant" angguk Davina.


"Ali, kamu juga siap ya. Don't worry, kita semua ada di sekeliling kalian" senyum Arya.


***


Davina dan Ali Khan berjalan ke resort yang terpisah dari hotel yang berada di seberangnya. Memang sejak semalam Davina tidur terpisah dengan sepupunya dan bersama dengan Kris Ruiz yang bertugas menjaganya.


Malam ini, Bara sampai mengorbankan tidak melakukan malam pertama demi bisa menangkap pria psycho itu. Para pengawal yang dibawa Arya pun melaporkan bahwa pria itu pun menyewa resort yang tidak jauh dari tempat mereka.


Para keluarga memang menyewa beberapa resort agar mempermudah operasi mereka. Dan malam ini, mereka seperti biasa yang tidak waspada dan Davin masuk ke resort nya bersama dengan Ali Khan.


"Apakah kamu yakin kita bisa menangkapnya?" bisik Ali sambil memeluk Davina sesuai dengan skenario.


"Aku harap secepatnya. Aku sudah lelah dengan semua perbuatan psycho nya. Sejujurnya aku tidak tahu dia memiliki bibit seperti itu" bisik Davina.


"Dia itu sociopath, Vina" ucap Arya di earpiece Davina dan Ali Khan. "Sociopath dan Psychopath."


"Dead combination" sahut Arjuna.


"Kalian yang mesra kenape? Sulit banget!" ledek Fuji usil.


Davina hanya bisa menatap CCTV milik resort dengan tatapan judes namun seolah melihat keatas langit. Tawa para sepupunya membuat Ali jadi malu. Wajah pria India itu benar-benar merah padam.


"Al, lu tuh beneran mantan duda nggak sih? Kok kaku bangets?" ledek Arjuna.


"Vin" bisik Ali sambil memeluk Davina.


"Apa?" jika dari jauh tampak Ali seperti mencium kening Davina.


"Boleh nggak aku ngumpat? Sepupumu benar-benar deh!" bisik Ali serius.

__ADS_1


Davina nyaris terbahak ketika mendengar omelan di earpiece nya. Ali hanya bisa memeluk erat Davina sambil berjalan karena semua orang pada ramai di earpiece mereka.


"Mereka mengerikan" bisiknya lagi.


Davina sudah sampai di resort nya dan mulai membuka pintu sedangkan Ali memeluknya dari belakang seolah tidak sabar masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Ali masih agak keberatan melepas pelukannya namun dia teringat ada CCTV yang dipasang disana dan semua kelua besar melihatnya dari layar monitor.


"Awas ya kalau kalian aneh-aneh!" ancam Javier.


"Nggak, Pa." Davina segera mempersiapkan PPK di balik rok jeans nya dan SIG di punggung belakang yang dia selipkan di roknya.


Ali sendiri memilih mempersiapkan diri menjadi tameng bagi Davina karena dia tidak memiliki kemampuan untuk menembak.


"Now we wait" ucap Javier.


***


Beberapa orang bergerak dalam gelapnya malam yang menunjukkan pukul 1 malam. Hotel dan resort sudah tampak sepi dan kamar-kamar sudah memakai lampu kecil untuk tidur. Begitu juga resort tempat Davina dan Ali masuk yang sudah memakai lampu tidur.


Sekitar sepuluh orang bergerak mendekati resort tempat Davina berada. Sesosok memakai baju serba hitam berjalan dengan pedenya dan di tangan kirinya tampak dia memegang pistol.


Pria itu lalu menempelkan sebuah key card di pintu resort dan pintu mulai terbuka. Pelan pria itu menutup pintunya sedangkan sepuluh orang yang bergerak tadi berjaga-jaga di depan resort.


Pria berbaju hitam-hitam itu memincingkan matanya melihat gadis yang diincarnya tidur berpelukan dengan pria yang dia benci.


Pria itu mulai mengokang SIG nya dan hendak mengacungkan ke gadis yang terlelap itu namun sedetik kemudian mata hazel itu terbuka dan langsung menodongkan pistolnya ke arah pria itu sebelum didahului olehnya.


"Halo Ry" sapa Davina.


***


Sepuluh pria yang berjaga di sekitar resort dihampiri oleh beberapa orang yang mengenakan baju kamuflase mirip ninja. Satu persatu para penjaga itu dilumpuhkan dengan suntikan bius yang dibawa oleh masing-masing orang yang menghampiri mereka dalam senyap.


Salah seorang harus dipukul tengkuknya hingga pingsan dan disuntik dengan bius.


Bisa-bisanya mau main tengok! Pukul sajalah! - Arya menyeret tubuh pengawal itu ke arah semak-semak.


Ke sepuluh pengawal itu dilumpuhkan oleh para pasukan Durjana.


"Davina gimana?" bisik Arjuna.


"Masih menodong Ye-jun" ucap Bryan.

__ADS_1


"Lr Crane, kalian bersiap semua!" perintah Javier.


***


"Blaze! Kau tega menodongkan senjata padaku?" ucap Ye-jun dengan tatapan terluka.


"Bukankah kau yang hendak menodongkan padaku terlebih dahulu?" sahut Davina dingin. Ali Khan sendiri memilih berdiri di belakang gadis itu.


"Apa yang bisa kamu peroleh dari pria yang tidak bisa apa-apa? Dia tidak bisa beladiri. Bukan kandidat yang pantas buat masuk ke keluarga mu." Ye-jun menatap sinis ke pria India itu yang menatap balik dengan tatapan dingin.


"Lalu? Siapa? Kamu? Kamu yang pantas masuk ke keluarga aku? Karena kamu memiliki kekayaan? Apa kamu lupa, keluargaku tidak silau harta kekayaan, Ry." Davina menatap tajam ke Ye-jun.


"Kamu adalah milikku, Blaze! Hanya milikku!"


"Aku bukan milikmu! Aku adalah milik aku sendiri!" balas Davina.


"Kamu adalah milikku, Blaze! Sejak awal di Stanford, kamu adalah milikku selalu selamanya! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada orang yang boleh memilikimu!"


Ye-jun menodongkan pistolnya ke arah Davina dan menekan pelatuknya. Suara tembakan terdengar bertepatan dengan pintu resort terbuka.


Lt Crane langsung menahan Ye-jun bersama dengan para petugas dari DEA dan FBI yang langsung memborgolnya serta mengamankan pistol yang dibawanya sedangkan Javier menuju ke putrinya yang berjongkok memeriksa Ali yang tertembak.


"Bawa dia dari sini!" ucap Ghani dan Lt Crane bersamaan ke arah para petugas.


"Blaze! Kau hanya milikku! MILIKKU!" teriak Ye-jun sambil diborgol dibawa keluar resort.


Javier ikut memeriksa keadaan Ali yang terkapar.


"Pa, Ali pa! Ali!" teriak Davina histeris sampai harus dipeluk oleh Ghani.


"Vina! Vina! Tunggu dulu! Biar diperiksa Papamu!" bujuk Ghani.


Fuji yang datang membawa tas dokternya pun ikut memeriksa Ali bersamaan dengan Nathan. Kedua dokter itu segera membuka kemeja Ali dan tersenyum.


"Enak Al kena peluru?" kekeh Fuji.


***


Yuhuuu Up Sore Yaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2