
Haris mendelik melihat area rumah pak Budi yang seperti bukan di Jakarta, lebih mirip desa sebuah yang tidak terjamah bau-bau perkotaan. Ada ya tempat seperti ini di Jakarta? Mirip-mirip hidden game for horor movie.
"Lokasinya dimana pak Budi?" setelah mobil mewah Haris terparkir di depan rumah pak Budi.
"Di belakang sana nona Freya, kan ada danau itu. Disana sering terjadi penampakan."
Haris mendelik. Seriously nona Freya yang terhormat, hantu di Indonesia itu tidak ada yang lucu macam Casper! And not FRIENDLY!
"Haris! Ayo, masuk ke rumah pak Budi. Kenalan sama istri dan anaknya." Freya menarik tangan Haris yang masih sibuk dengan pikirannya.
Eh?! Kok tanganku dipegang dan main tarik?
***
Aji mencium bibir seksih Falisha yang awalnya hanya menempel namun kemudian menjadi luma*Tan. Tubuh keduanya saling menempel, tangan Aji pun mengelus kepala dan tubuh Falisha sedangkan gadis itu memegang kemeja pria itu.
Entah berapa lama mereka saling berpagutan hingga akhirnya harus melepaskan untuk mengambil oksigen yang semakin menipis akibat memburunya nafas keduanya.
Aji dan Falisha saling berpandangan sembari menetralisir nafas masing-masing. Wajah keduanya memerah dan Aji tersenyum sesekali mencuri kecupan di wajah cantik Falisha.
"Aku suka melihat wajahmu memerah malu-malu begitu... menggemaskan." Aji memandang wajah cantik Falisha yang masih mengalungkan tangannya ke leher pria berhidung mancung itu.
"Aji..."
"Mas Aji... bukankah aku lebih tua darimu?" senyum Aji yang membuat Falisha tertawa kecil. Gadis itu menatap kekasihnya dan memberikan ciuman kecil di hidung sempurna itu.
Mas Aji. Falisha mengucapkan dengan bahasa isyarat.
Aishiteru. Aji menatap Falisha lembut dan penuh cinta.
Seni Seviyorum.
***
Haris hanya bisa menghela nafas panjang sembari mengikuti nona cantiknya yang sudah siap dengan semua peralatan mencari saudara Casper which is not a friendly ghost.
Dulu nyonya Kristal ngidam apa sih? Apa tuan Ashley memang punya hobi begini jadi nurun ke anaknya? Haris menghela nafas panjang lagi.
Mendengar pria di belakangnya hanya bisa inhale exhale tidak jelas, Freya menghentikan langkahnya dan berbalik.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Freya.
"Nona, sebenarnya apa sih yang membuat nona hobi mencari temennya Casper?" tanya Haris kepo.
"Aku dulu sekolah di sebuah asrama di London karena aku ingin hidup mandiri meskipun di London banyak keluarga sih. Ada opa Jeremy, Oma Rain, Oom Arjuna, Tante Sekar, Mas Jendra, mbak Aruna, Oom Aidan, Tante Thara jadi mama dan papa tidak masalah aku di London. Lalu suatu malam, aku dan teman sekamar terkejut mendengar suara tapak kaki di lorong asrama kami, padahal itu jam dua malam."
Tiba-tiba bulu kuduk Haris berdiri semua termasuk bulu-bulu di tangannya. Gawaaattt! Bisa ngibrit nih aku!
"Aku dan Amanda, temanku itu penasaran dan kami berdua keluar dari kamar dengan bermodal senter dan nekad. Untung Manda masih ada darah Indonesia juga dan nenek buyutnya dukun, dah biasa dia soal klenikan."
"Dukun?" cicit Haris sambil menatap horor ke Freya. "Seriously?"
"Serius! Nenek buyutnya dukun beranak di suku Dayak dan kamu tahu sendiri kan suku itu seperti apa."
Haris semakin merinding.
"Lalu kita berdua membuka pintu kamar, dan lorong asrama hanya ada lampu kecil. Kami celingukan mencari siapa yang melangkah tegap seperti tentara padahal asrama kami isinya cewek semua. Dan ketika kami menoleh ke sisi kiri kamar, terdapat penampakan dua orang apa hantu ya... mengenakan baju tentara jaman dulu berjalan tegap lalu menembus tembok."
Wajah tampan Haris semakin memucat dan tanpa sadar mencengkeram jaket Freya.
"Sejak saat itu, aku dan Manda semakin penasaran dengan hantu bule yang berbeda dengan hantu Asia. Sayang, setelah kami lulus dan aku meneruskan kuliah di RCA, Manda pindah ke Louisiana Amerika Serikat. Tapi kami bertemu lagi tahun lalu saat aku liburan dan aku jadi ikut deh group ghost Hunters nya dia meskipun di London aku juga punya grup yang sama."
"Nona Freya..." bisik Haris.
"Benar nona tapi harusnya agak malam lagi hanya saja nanti kalau kemalaman saya dimarahi sama tuan Kareem" kekeh pak Budi.
Freya melirik jam Rolexnya yang menunjukkan pukul 23.00. "Ya sejam deh kita lihat." Gadis itu lalu menyalakan Handycam yang memiliki sensor termal, DVR dan EMF Sensor.
"Now we wait." Freya menduduki sebuah batu besar disana sedangkan Haris semakin menaikkan kerah jaketnya.
Alamat lama iniii!
***
Falisha tiba di rumahnya sekitar pukul 22.30 setelah tadi dia menghabiskan waktunya bersama Aji di rumah pria itu.
Kareem yang melihat putrinya baru pulang, hanya tersenyum tipis. "Kamu sudah makan princess?" tanya pria blasteran Turki-Indonesia itu.
"Sudah pa, tadi di rumah Aji."
"Opamu sudah resmi mengakusisi dua pabrik milik Lau dan sekarang mereka dalam proses hukum karena Nathan dan Fuji menuntut mereka membuat keributan di rumah sakit milik PRC group, ditambah penggelapan uang dan pajak, kasus judi dan percobaan pembunuhan ke Aji."
__ADS_1
Falisha melongo. Opa tidak main-main ternyata.
"Bagaimana Aji? Papa harap dia tidak terkejut dengan semua ini" ucap Kareem.
"Aji sudah tahu dari Opa jadi tadi kami membahasnya dan dia tidak mau mengambil alih pabrik Guandong dan menyerahkan semuanya ke Opa. Aji juga tidak keberatan jika dijual karena akan lebih baik di tangan orang yang paham."
Kareem mengangguk. "Opamu sudah mendapatkan buyer dan proses jual belinya akan dimulai Minggu depan."
"Benar kata mas Abi, jangan menyenggol Opa Javier. Ohya Pa, mama kemana?" Falisha celingukan mencari mamanya.
"Biasa, di kamar nenek. Kamu tahu sendiri kan sejak nenek kena stroke ringan maunya didongengi mamamu" senyum Kareem. Sari Hassan mendapatkan serangan stroke ringan dua bulan lalu dan Fuji sudah wanti-wanti agar mereka semua menjaga emosi Sari. Sejak serangan itu, setiap malam sebelum tidur, Sari maunya Davina datang ke kamarnya dan bercerita tentang apapun seharian ini.
"Aku ke kamar nenek dulu, pa." Falisha mencium Kareem lalu berjalan menuju kamar Sari Hassan di lantai satu.
"Falisha."
Falisha berhenti dan menoleh ke papanya. "Ya pa?"
"Kenapa badanmu bau parfum pria?" Kareem memincingkan matanya. Falisha melongko. "Apa yang terjadi di rumah Aji?"
Falisha tampak gugup. Kareem tertawa kecil.
"Kalian hanya berciuman saja kan Fa?" selidik Kareem.
Falisha kembali duduk di sofa bersama Kareem. "Kami hanya berciuman pa. Tidak lebih."
"Papa harap setelah kasus ini semua selesai, Aji datang kemari dan nembung ke papa."
"Lho kok gitu?"
"Memangnya setelah Aji cium kamu, papa biarkan begitu saja? Hohohoho...tidak semudah itu Férguso!" seringai Kareem.
Ini papa seperti tidak pernah muda saja sih? Bukannya dulu lebih parah ya sampai dihajar Opa? Falisha hanya bisa menghela nafas panjang.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️