
Bagas membawa Falisha ke sebuah restauran Korea yang menyediakan grill dan berbagai macam makanan khas negeri ginseng itu. Ketika mereka masuk ke dalam restauran yang tidak terlalu jauh dari kantor pusat PRC group, Bagas merasa bangga bisa bersama gadis cantik seperti Falisha karena para pengunjung terutama kaum Adam, banyak yang menatap Falisha kagum.
Falisha memang cantik.
"Kita duduk disini?" tawar Bagas menunjukkan ke sebuah tempat duduk yang agak memojok.
"Sure. Why not" senyum Falisha yang membuat jantung Bagas berdebar kencang.
Ya Allah, indahnya ciptaanmu.
Setelah mengambil daging dan makanan lainnya, Bagas dan Falisha memulai acara grillnya.
"Aku saja yang memasak, Falisha. Kamu tinggal menunggu matang saja" ucap Bagas.
"Oke." Bagas benar-benar memanjakan Falisha.
"Bolehkah saya menanyakan sesuatu, pak Bagas?" tanya Falisha setelah mereka selesai makan dan sedang menikmati puding dan es krim.
"Tentang kakakku?" Bagas menaikkan sebelah alisnya.
"Yes."
Bagas menyukai Falisha yang tanpa basa-basi langsung mengiyakan.
"Aku punya dua orang kakak laki-laki. Mas Yudistira dan Mas Chandra. Mas Yudistira lebih tua empat tahun dariku sedangkan mas Chandra lebih tua dua tahun. Aku sekarang berusia 28 tahun."
Falisha masih menyimak.
"Mas Yudistira digadang-gadang oleh papa sebagai penggantinya tapi dia tidak tertarik di dunia perbankan dan memilih menjadi seniman, membuat papa marah, tapi Mas Yudi tetap ngeyel sampai kehidupannya berantakan dan berkenalan dengan Narkoba. Papa semakin marah besar dan mengusir mas Yudi dari rumah sampai aku dan mas Chandra tidak bisa menemukan dirinya." Bagas menatap Falisha serius.
"Hingga dua bulan lalu, kami mendapatkan kabar dari NYPD, bahwa mereka menemukan tubuh mas Yudistira tidak bernyawa di sebuah kamar motel di daerah Brooklyn area para pecandu. Papa shock, begitu juga aku dan mas Chandra. Rupanya semenjak diusir papa, mas Yudi mencoba peruntungan di Broadway dan berhasil mendapatkan beberapa show disana tapi pergaulannya dengan para seniman. dan teman-temannya yang sama-sama pecandu, semakin memperburuk dirinya hingga akhirnya dia ditemukan meninggal. Mas Yudi masih baru 32 tahun. Sekarang tinggal aku dan mas Chandra yang mengurus bank Papa."
Falisha menatap sendu ke Bagas. "Narkoba adalah biang dari semua kekacauan."
"You're right, Falisha."
"Bagaimana dengan anda? Masih suka dugem dan minum?" tanya Falisha sambil tersenyum.
Bagas melongo. Damn it! Dia tahu!
"Sudah berapa cewek anda tiduri, pak?" Bagas semakin menganga tidak percaya bagaimana Falisha mengetahui semua itu.
"Saya salut dengan penahanan berita tentang Yudistira Hadiyanto meninggal karena OD dan diberitakan karena kecelakaan" Falisha membuka Ipad-nya. "Pak Bagas, semua orang yang datang ke kami, semua di screening apalagi anda mengajak saya untuk makan siang."
"Know the enemy and know yourself; in a hundred battles you will never be in peril. When you are ignorant of the enemy, but know yourself, your chances of winning or losing are equal. If ignorant both of your enemy and yourself, you are certain in every battle to be in peril. ( Kenali musuh dan kenali diri Anda sendiri; dalam seratus pertempuran Anda tidak akan pernah berada dalam bahaya. Ketika Anda tidak mengetahui musuh, tetapi mengenal diri sendiri, peluang Anda untuk menang atau kalah adalah sama. Jika mengabaikan musuh Anda dan diri Anda sendiri, Anda pasti dalam setiap pertempuran berada dalam bahaya ) Sun Tzu, Seni Perang" papar Falisha.
__ADS_1
Bagas semakin terkejut. Gadis di depanku penuh kejutan.
"Tampaknya tidak ada yang tidak lolos dari pengamatan anda, nona Falisha" senyum Bagas.
"Nope."
"Bahkan pria yang bernama Aji itu?" tanya Bagas dengan nada sedikit gusar dan...cemburu.
"Termasuk Pak Aji." Falisha menatap Bagas tenang.
"Apa yang ingin anda ketahui?" Bagas menjadi formal karena Falisha juga karena gadis itu berbicara formal.
"Apakah anda sudah berhenti dari kebiasaan anda?"
"Sedang berusaha" jawab Bagas tegas.
"Bagus karena itu demi kepentingan anda sendiri. Apa yang terjadi pada kakak anda, harusnya anda bisa belajar dari sana" ucap Falisha.
"Anda seperti seorang psikolog yang sedang menerapi saya" kekeh Bagas.
"Well, maafkan saya. Latar pendidikan saya di psikologi jadi terkadang saya lupa jika sedang tidak di ruang konsultasi saya" senyum Falisha dengan mata meminta maaf.
Bagaimana aku bisa kesal jika yang bicara gadis cantik seperti ini?
"Aku bukan pria sempurna, Falisha tapi ada satu trigger yang membuat aku harus berubah."
"Kamu tidak ingin tahu siapa dan apa yang membuat aku ingin berubah?" Bagas menatap lembut ke Falisha.
"Sejujurnya, saya tidak mau tahu karena saya menghargai privasi and..."
"Kamulah yang membuat aku ingin berubah" jawab Bagas tegas.
Falisha melongo. "Kok...saya?"
"Karena aku sudah tertarik padamu sejak pertama kali bertemu di kantor ayahmu."
Falisha memandang Bagas dengan tatapan tidak percaya.
***
Falisha tiba di ruang kerja sang mama dengan wajah bingung dan membuat Davina mengerenyitkan alisnya melihat putrinya seperti itu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Davina setelah putrinya duduk di hadapannya.
"Falisha kaget saja ma" jawab Falisha.
"Kaget kenapa?"
__ADS_1
"Tadi Falisha makan siang bersama Bagas Hadiyanto dan disana secara implisit dia menyatakan perasaannya pada Falisha."
"Tapi kamu tidak tertarik?" tebak Davina.
Falisha mengangguk. "Bagi Falisha, Bagas hanya sekedar klien di kantor papa."
"Kalau Aji, gimana?" goda Davina.
Falisha merona. "Dia pria yang menyenangkan dan wawasannya luas."
Davina memajukan tubuhnya dari balik meja kerjanya. "Sebelum kamu memutuskan, kamu Selami dulu perasaanmu. Mama dulu juga harus memantapkan diri saat memilih papamu karena ada pria lain juga yang mendekati mama."
"Oom Ali Khan?" cengir Falisha dan Davina mengangguk.
"Jika kamu masih ragu, mintalah petunjuk dari sang Pencipta..."
Suara ponsel Falisha berbunyi dan tanpa sadar tersenyum melihat siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum Aji" sapa Falisha.
"Wa'alaikum salam. Maaf apakah ini nomor nona Falisha Hassan?" suara perempuan terdengar di seberang membuat Falisha bingung.
"Iya, betul. Maaf ini dari siapa?"
"Saya Nadya, nona Falisha, sekretaris pak Sangaji. Saya mau mengabarkan kalau pak Aji mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju bandara..."
"Sekarang dirawat dimana?" suara Falisha benar-benar terdengar panik.
"Saat ini dirawat di rumah sakit Daan Mogot, nona..."
"Saya kesana sekarang!" Falisha segera menutup panggilannya. "Mama, maaf aku harus ke rumah sakit Daan Mogot."
"Siapa yang sakit, Falisha?" tanya Davina.
"Aji, ma... Tadi sekretarisnya yang telpon, katanya Aji kecelakaan." Falisha segera mengambil tasnya. "Aku pergi dulu!" Gadis itu mencium pipi Davina.
"Hati-hati!" pesan Davina tapi putrinya tampaknya tidak mendengarkan.
Davina tersenyum. Rupanya kamu milih dia, princess.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️