
Kareem terkejut ketika melihat Davina berada di rumah sakit pagi hari sambil membawakan tas makanan. Tanpa ragu, gadis itu masuk ke dalam ruang rawat Sari Hassan dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu yang tidak terkena jarum infus.
"Selamat pagi Bu Sari. Hari ini saya bawakan bubur ayam buat sarapan, sekalian saya ke kantor pagi ini" sapa Davina manis.
"Pagi anak cantik. Malah jadi merepotkan" senyum Sari dengan hati menghangat melihat wajah cantik itu dengan luwesnya duduk di sebelah tempat tidurnya.
Kareem lalu membenarkan tempat tidur ibunya menjadi setengah duduk. Pria itu melihat bagaimana gadis itu mengeluarkan semua yang ada di tas pikniknya.
"Vina siapkan dulu buburnya ya Bu" ucap Davina yang membuka rantang yang berisikan bubur ayam.
"Hati-hati nak, masih panas." Davina mengangguk dan meletakkan diatas meja pasien yang memang disediakan untuk makan.
"Aduh!" Jari Davina terkena pinggiran rantang yang panas. Rupanya cempal yang dipakainya sedikit bergeser hingga jarinya rantang stainless itu.
Kareem langsung menghampiri Davina untuk melihat jarinya yang terkena pinggiran rantang tanpa sadar langsung meniupnya dan mencium jari itu membuat Davina dan Sari melongo.
"Kamu nggak papa?" tanya Kareem.
Davina hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah.
"Mau sampai kapan tuh tangan dipegang?"
Kareem dan Davina menoleh dan tampak Nathan bersender di pintu kamar Sari Hassan dengan wajah menggoda.
"Eh?"
***
Kareem hanya bisa tersenyum kikuk di hadapan Nathan. Kini keduanya berada di sebuah kantin rumah sakit karena Sari sedang dimandikan oleh perawat. Davina sendiri sudah berangkat menuju kantor PRC group.
"Apa yang kamu lakukan pada Davina?" selidik Nathan santai.
"Tadi jarinya kena pinggiran rantang yang panas" jawab Kareem.
"Oh keslomot" sahut Nathan sambil tersenyum.
"Hah?"
"Itu bahasa Jawa kalau kita kena benda panas hanya saja aku mencari padu padan yang pas di bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, tidak ada malah nggak ketemu" gelak Nathan. "Daddy dan mommyku kan tinggal di Solo malah mommyku wong Jowo asli meskipun daddyku orang Korea Selatan."
"Oooohhh. Ibuku orang Jawa tapi aku tidak pernah belajar bahasa Jawa jadi nggak paham" cengir Kareem.
__ADS_1
"Oh, soal Davina, dia memang care sama orang lain dengan caranya sendiri. Sebenarnya dia kesepian dan selama ini hanya kita-kita saudaranya yang ada." Nathan menatap Kareem. "Semalam dia kesini kan?"
Kareem gelagapan. "Bagaimana... Ah, sudahlah. Pengawalmu yang laporan."
"Apakah Davina bercerita tentang masa lalunya?"
"Soal Ye-jun? Cerita. Soal Ali Khan? Cerita juga."
"And? Still interested to my sister?"
Kareem mengangguk. "Bahkan ibu saya menyukai Davina dan meminta agar saya mendekati adikmu."
"Kamu mendekati Davina karena memang kamu menyukai adikku atau karena ibumu?"
"Aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan adikmu, dan itu pertama kalinya aku merasakan hal itu setelah dua tahun ditinggal Maryam. Dan aku semakin mantap melangkah setelah ibuku sendiri memberikan restu kepada ku untuk mendekati Davina."
Nathan menatap lurus ke mata coklat pria blasteran Turki itu. Tampak kesungguhan disana dan Nathan tidak meragukan bagaimana Kareem nanti akan memberlakukan adiknya karena dia melihat sendiri bagaimana pria itu sayang kepada ibunya.
"Aku harap kamu bisa bersabar dengan Davina karena dia introvert dan manja."
Kareem mengangguk. "Aku sudah tahu akan hal itu."
"How?"
"Aku hanya takut dia masih terbayang Ye-jun karena cinta pertamanya dan pria yang bisa menembus hatinya adalah pria psycho itu. Jika kamu bisa mendapatkan hatinya, Davina akan benar-benar jatuh cinta padamu."
Kareem menatap pria blasteran Korea dan Indonesia itu. "Akan aku rebut hati adikmu."
***
Davina memangku kepalanya diatas tumpuan tangannya. Kejadian tadi di ruang rawat inap Sari Hassan membuatnya merona. Kenapa lebih berdebar-debar dibanding saat bersama Ali? Aku tuh kenapa?
Suara notifikasi di ponselnya dan wajah Davina tersenyum.
Kareem.
"Assalamualaikum" sapa Davina.
"Wa'alaikum salam. Bagaimana jarimu?"
"Oh, much better kok. Terimakasih."
__ADS_1
"Sama-sama Dav. Oh, apakah kamu mau makan siang bersamaku nanti?"
Davina mengangguk lalu menyadari bahwa Kareem tidak melihatnya. "Aku akan ke rumah sakit, Kareem. Biar nanti aku bawakan sushi. Kamu suka sushi?"
"Aku suka apa saja yang kamu bawakan, Dav."
Davina mengerenyitkan alisnya. Hanya dia dan kak Nathan yang memanggilku 'Dav'.
"Nanti aku kesana, Kareem."
"Terimakasih Dav."
Davina lalu memutuskan hubungan dan mulai memesan sushi untuk makan siangnya nanti.
Suara ketukan di pintu ruang kerjanya membuat gadis itu sedikit berteriak untuk masuk. Betapa terkejutnya Davina ketika melihat siapa yang berada di sana.
"Ali Khan?"
"Halo Davina. Apa kabar?" senyum pria India itu.
Astagaaaaa. Bagaimana ini?
***
Kareem terkejut ketika melihat Davina datang bersama dengan seorang pria tampan yang dia tebak adalah Ali Khan.
Kok dia sudah datang?
Davina sendiri hanya memasang wajah datar namun Kareem bisa melihat rasa tidak nyaman.
How can I help you Dav?
Tiba-tiba Kareem bertekad untuk dapat merebut Davina dari Ali Khan..
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️