Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Thief of Kissing


__ADS_3

Kareem tidak memperdulikan jika kelakuannya dipergoki ibunya karena sejak tadi dia sudah gemas dengan Davina. Melihat kesempatan ada, tanpa ragu bibirnya langsung dia tempelkan ke bibir Davina. Gadis itu tersentak dan Kareem tidak peduli dia akan dihajar oleh putri Javier Arata.


Tangan Kareem memegang bahu Davina dan ciumannya berubah menjadi luma*Tan bahkan lidahnya mengeksplorasi dinding mulut Davina dan setelahnya lidah Kareem menyentuh lidah gadis itu. Kareem segera menghentikan ciumannya tiba-tiba yang membuat gadis itu sedikit terhuyung karena terkejut... plus kehilangan sesuatu yang memabukkan.


"Maaf Dav. Aku tidak bisa menahan diri..."


Plak!


Davina menampar Kareem keras dan matanya berkilat marah. "Kamu..." desisnya.


"Maaf Dav... Sungguh aku minta maaf tapi aku tidak mungkin melakukannya kalau tidak ada perasaan padamu. Aku benar-benar mencintaimu, Dav!" Kareem hendak mendekati Davina tapi tangan gadis itu menahan dada pria itu.


"Jangan mendekat. Anggap saja tadi tidak terjadi apa-apa" bisik Davina dengan wajah memerah.


"Tidak terja... Oh Astaga Davina! Tadi itu sesuatu yang indah, sayang! Aku tidak bisa melupakannya, kamu tahu!" suara Kareem sedikit tertahan agar pelayan tidak mendengar percakapan mereka meskipun mushola mini posisinya di samping taman yang agak jauh dari pintu belakang.


Davina melipat mukenanya dan menyimpannya di tempatnya setelahnya dia berdiri.


"Dav..." bisik Kareem.


"Apa Kareem?"


"I love you." Mata coklat Kareem berserobok dengan mata coklat Davina. Setelahnya Gadis itu hanya menunduk dan pergi meninggalkan Kareem.


Kareem, kamu terlalu cepat!


***


Di meja makan, Sari melihat ada yang berbeda diantara putra dan gadis cantik yang duduknya memilih agak berbeda satu kursi dari Kareem yang duduk di sudut meja sebagai kepala rumah.


"Davina, kenapa milih kursinya agak jauhan dari ibu?" tanya Sari Hassan.


"Eh?" Davina tergagap dan menatap Sari. "Nggak papa Bu, disini saja" jawab Davina manis. Aku tidak berani dekat-dekat dengan Kareem. Takut jantungku berantakan.


Sari pun melihat ke arah putranya yang menatap sendu ke Davina. Sudah lama dia tidak melihat mata Kareem seperti itu sejak Maryam meninggal. Tatapan yang menunjukkan bahwa dirinya jatuh cinta. Sari hapal putranya karena Kareem termasuk pria yang tidak pernah menutupi perasaannya jika sudah menyukai seseorang.


"Lagipula kata mama, nggak baik pindah-pindah tempat untuk makan" jawab Davina.


Sari tertawa. Gadis ini lucu dan polos. Benar-benar kontradiksi dengan sepak terjangnya di dunia bisnis.


Kareem hanya menarik sudut bibirnya sambil melanjutkan makannya. Kamu benar-benar menggemaskan. Pantas semua saudaramu begitu melindungimu, karena kamu terkadang polos. Mata coklat Kareem tak lepas-lepas menatap gadis yang agak jauh darinya.



Davina melanjutkan makannya dalam diam dan elegan seperti biasanya.


***


Usai makan malam, Sari dan Davina duduk di sofa ruang tamu sembari menunggu Kareem bersiap-siap mengantarkan gadis itu pulang.


"Davina, ibu mau tanya boleh?"

__ADS_1


"Ibu mau tanya apa? Insyaallah Davina bisa menjawabnya asal jangan ilmu pasti" senyum Davina.


Sari tertawa kecil. "Memangnya kita sedang berada di sekolah. Nggak Vina, yang ingin ibu tanyakan, apakah kamu ada perasaan tertentu dengan Kareem, anak ibu?"


Wajah Davina memerah. Kenapa tiba-tiba teringat ciuman tadi ya?


"Perasaan gimana Bu?" tanya Davina hati-hati.


"Suka atau tertarik begitu?"


Davina semakin memerah wajahnya. Tidak mungkin kan aku membalas ciuman kalau tidak ada perasaan khusus. "Kareem baik Bu, siapa yang tidak menyukai dia."


"Kamu pribadi?"


"Saya menghormati Kareem Bu. Suka, seperti tadi yang saya bilang, siapa yang tidak menyukai Kareem."


Sari hanya tersenyum. Gadis ini masih menutupi perasaannya. Benar-benar gadis introvert.


"Sudah siap, Dav?" tanya Kareem yang malam ini memakai jaket kulit hitam dan bersiap mengantarkan Davina pulang.


Davina mengangguk. "Davina pulang dulu Bu, terima kasih sudah diundang makan malam yang enak." Gadis itu mencium punggung tangan Sari yang mendapatkan pelukan dan ciuman pipi kiri kanan dari wanita paruh baya itu.


"Sering-sering kemari nak. Rumah ibu selalu terbuka untukmu, anak cantik." Davina mengangguk.


"Bu, Kareem antar Davina dulu ya" pria itu mencium ibunya.


"Hati-hati ya nak. Jangan dinakali Davina nya" goda Sari.


"Jangan menggoda Davina! Kasihan anak itu jadi malu!" omel Sari.


Kareem terbahak lalu menggandeng Davina berjalan menuju mobilnya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam" balas Sari Hassan sambil tersenyum.


***


Davina menatap keluar jendela mobil dengan wajah datar. Dirinya tidak berani menatap Kareem yang duduk di sebelahnya. Hatinya masih berantakan karena dilema antara Kareem dan Ali. Ali Khan. Aku tidak salah kan jika tertarik dengan Kareem? Toh aku juga belum menerima lamarannya dan papa juga menyerahkan semuanya padaku. Jadi aku masih available kan?


"Dav..." panggil Kareem.


"Iya" jawab Davina sambil masih melihat luar jendela.


"Lihat sini dong" goda Kareem. "Nggak pegal tuh leher nengok kiri terus? Memang ada pemandangan apa sih? Mobil juga nggak kelihatan karena malam. Mending lihat sini, ada pemandangan indah."


Davina menoleh dan menatap Kareem dengan ekspresi datar. "Hah?"


"Nah gitu kan cantik. Aku suka memandang mu biarpun wajahmu lempeng gitu" cengir Kareem sambil melirik GPS nya.


Davina hanya melengos mendengar ucapan receh Kareem.

__ADS_1


"Rumahmu ternyata tidak terlalu jauh dari rumahku" senyum Kareem.


Tiba-tiba hujan pun mulai turun dan semakin deras. Kareem pun berjalan sedikit pelan karena jarak pandang yang mulai sulit dilihat.


"Kita jalan pelan saja ya Dav" ucap Kareem. "Pasti macet jalanan serta jalan licin kalau hujan begini dan aku tidak mau terjadi kecelakaan."


"Iya" jawab Davina. Lalu keduanya terdiam.


"Maafkan aku Dav..." suara Kareem memecahkan keheningan. "Aku lepas kendali tadi."


"Iya, sudah aku maafkan" jawab Davina sambil menatap lurus ke depan meskipun ya urung wajahnya memerah kesekian kalinya. Kenapa dengan Kareem, aku lebih gugup.


"Tapi menurut ku tadi yang kita lakukan itu indah, Dav. You're such a good kisser... Adduuuhhh!" Kareem mengusap bahunya yang dipukul Davina. "Beneran Dav. French kiss mu itu... Adduuuhhh! Permainan lidahmu benar-benar memabuk... Adduuuhhh!" Kareem merasa panas di bahunya.


"Mesum!" hardik Davina.


"Itu nggak mesum sayangku. Tandanya kamu juga memiliki perasaan yang sedikit banyak sama denganku. Aku sudah jatuh cinta pada saat pertama kali bertemu denganmu." Kareem menatap Davina lembut.


Davina menatap Kareem dengan wajah menyelidik.


"That's true!" ucap Kareem namun setelahnya pria itu kembali berkonsentrasi di jalan karena hujan semakin deras.


Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah Davina dan Kareem suka melihat rumah klasik Amerika itu. Penjaganya membuka pagar rumahnya ketika mengetahui nonanya datang. Mobil Audi R8 milik Kareem pun masuk ke dalam dan parkir di depan garasi rumah.



"Nice house Dav" puji Kareem. "Rancangan mu?" Davina mengangguk. "Tunggu, aku ambilkan payung."


Kareem melirik ada sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah Davina yang segera menutup otomatis. Kareem tidak peduli karena sekarang dirinyalah yang bersama Davina.


"Yuk turun" Kareem membuka payung besarnya yang bewarna merah. Bagus! Pagar rumahnya tinggi.


Davina pun turun dengan dipayungi oleh Kareem.


"Terima ka..."


Sekali lagi Kareem mencuri ciuman ke Davina. Bibirmu benar-benar candu, sayang.



***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Maaf maaf telat soalnya lagi sibuk di dunia nyata


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2