
Haris datang ke mansion Adrian Pratomo malam hari usai pulang kantor, yang sekarang dipakai oleh keluarga Arata. Raymond, Valora, Ashley, Kristal dan Freya menginap di sana. Sedikit gugup, Haris pun duduk di ruang tamu setelah seorang pelayan mempersilahkan dirinya masuk.
Rasanya baru kemarin main tidur di kamar tamu, sekarang jadi tamu beneran.
Haris menunggu Freya keluar tapi malah Raymond Ruiz yang menemuinya.
"Mr Ruiz" sapa Haris sopan.
"Haris." Raymond menatap pria berusia 30 tahun itu. Mantan letnan NYPD dan bersahabat dengan Ghani Giandra hingga menjadi ipar, Raymond sempat tertawa mendengar Ghani darting dengan Bima saat mengejar-ngejar Arimbi. Kali ini, Raymond kena batunya bahkan lebih parah.
Karma benar-benar menyebalkan!
"Apa yang membuat kamu setuju menuruti perintah Javier? Seharusnya kamu tolak saja, Ris! Sudah tahu iparku itu sangat menyebalkan!" Raymond menatap Haris tajam.
"Please Mr Ruiz. Siapa yang berani melawan tuan Javier? Yang ada nyawa saya sudah dipindahkan ke pohon beringin" ucap Haris asal membuat Raymond melongo.
"Kamu itu gara-gara diajak berburu hantu sama Freya, jadi ikutan gesrek ya otaknya?"
"Maafkan saya Mr Ruiz. Meskipun awal saya merasa tidak sanggup dengan perintah tuan Javier tapi beberapa hari saya berkumpul dan menemani nona Freya, saya mulai menyukainya meskipun saya agak takut hantu sih." Haris menatap Raymond serius.
"Apa kamu yakin bisa membuat Freya lepas dari hobi nyelenehnya?"
"Insyaallah Mr Ruiz. Saya berusaha untuk mengalihkan perhatian nona Freya dari soal perhantuan dan penampakan ke kegiatan positif."
"Apa itu Haris?" tanya Raymond penasaran.
"Membuat cicit buat anda salah satunya" jawab Haris sambil nyengir.
Raymond terbahak. "That's a good diversion! Aku suka itu! Good Haris! Bagaimana caramu lah, kamu buat Freya tidak memikirkan kegiatan unfaedah itu sebab aku tidak mau kejadian di Jeremy, terjadi di keluarga lain."
Haris tersenyum sambil mengangguk.
"Ayo, kita makan malam sekarang" ajak Raymond ke Haris.
***
Aji mengajak Falisha bertemu dengan kedua orangtuanya di hotel tempat mereka menginap karena Aji ingin memberitahukan bahwa dirinya akan melamar putri Kareem dan Davina Hassan itu.
"Bahasa Mandarin aku berantakan lho mas" jawab Falisha.
Tidak apa. Nanti Nadya datang kok.
"Hah? Kak Nadya datang?" tanya Falisha.
Soalnya aku tahu, kamu tidak fasih Mandarin. Aji tersenyum pada Falisha.
"Baiklah."
Tadi sore Aji mengatakan kepada Kareem bahwa dia akan berbicara dengan kedua orangtuanya dan ditambah dia akan menjual mobil Toyota 86 miliknya jika sudah selesai dibetulkan di bengkel Kareem.
__ADS_1
"Serius kamu mau jual itu mobilmu?" tanya Kareem.
Serius Mr Hassan karena saya tidak mau memakainya lagi.
"Oke Ji, setelah kita membetulkan mobilnya, akan open market."
Terimakasih Mr Hassan.
Kini keduanya sudah sampai di hotel Mulia tempat kedua orangtuanya menginap. Nadya sudah menunggu di lobby seperti biasa tampak rapih dan anggun meskipun malam ini dia mengenakan kaus hitam, blazer dan jeans serta sepatu wedges bertali.
"Pak Aji, nona Falisha" sapa Nadya.
"Kak Nadya" sapa Falisha.
Tak lama kedua orangtuanya Aji pun datang ke lobby dan mereka menuju restauran di hotel itu. Kedua orang tua Aji tidak terkejut ketika mendengar putranya hendak melamar Falisha dan mereka akan segera datang ke rumah keluarga Hassan sebelum mereka kembali ke Beijing.
Li Huanran sangat senang Aji mendapatkan calon istri yang bisa menerima kekurangan putranya dan Falisha mengatakan bahwa dia melihat kepribadian Aji dan dia tidak mempermasalahkan kekurangan Aji.
Malam itu Aji dan kedua orangtuanya menyiapkan acara lamaran dan Nadya memeluk Falisha ikut bersyukur cucu tuannya mendapatkan jodoh yang baik.
***
Haris dan Freya menikmati duduk di halaman belakang mansion Adrian Pratomo. Dengan santainya gadis itu mengambil semua perlengkapan ghost Hunters nya dan memasangnya.
Melihat hal itu, Haris langsung mendelik. "Yang benar saja nona Freya! Masa mau cari penampakan di mansion keluarga?"
"Siapa tahu Opa buyut datang terus kasih restu ke aku" ucap Freya cuek.
"Ih Haris tuh!"
Haris menarik tubuh Freya dan menatap dalam ke mata biru itu. "Nona Freya, saya mohon untuk tidak melakukan kegiatan seperti ini."
Freya yang terkejut dalam pelukan Haris hanya bisa menatap mata biru pria itu yang entah kenapa semakin bertambah biru. Eh? Pelukable! Tanpa malu, Freya membalas pelukan Haris dan wajahnya menantang ke Haris.
"Apa reward nya kalau aku tidak melakukan pencarian penampakan?" goda Freya.
"Nona mau martabak? Es putar? Roti gembong?" tawar Haris yang membuat gadis itu tertawa.
"Kok makanan semua sih Ris?"
"Lha nona maunya apa?" Haris menatap bibir menggemaskan itu.
"Yang anti-mainstream dong!" goda Freya.
"Bungee jumping? Hiking gunung?" Haris benar-benar kehilangan konsentrasi. Betapa rindunya aku memeluk tubuh sintal ini.
"Haaaiisshhh! Aku takut ketinggian tahu!" cebik Freya. "Tapi naik pesawat nggak papa."
__ADS_1
Haris melongo. "Seriously nona, kamu nggak takut hantu tapi takut ketinggian?"
"Aneh kan?" gelak Freya masih dalam pelukan Haris.
"Tidak aneh sih. Manusiawi kok" jawab Haris pelan.
"So, apa yang akan kamu lakukan untuk mengalihkan perhatian aku dari acara berburu penampakan?" tanya Freya yang tanpa sadar memeluk tubuh liat Haris dan mengelus punggungnya.
Duh nona sotong ini malah mancing! Jangan dielus-elus dong punggung aku! Bikin tidak tahan, tahu nggak?
"Kalau saya melakukannya, apakah nona akan menghajar saya seperti kemarin?" tanya Haris.
Freya memincingkan matanya dan melihat pipi kiri Haris yang membengkak. "Kenapa pipimu?"
"Eeerrr setelah dihajar nona, tadi saya dihajar tuan Ashley" ucap Haris kikuk.
"Oohh poor Haris." Freya mengelus pipi Haris yang membuat pria itu tertegun. "Tapi kamu memang harus dihajar karena dengan enaknya melihat belahan dadaku!"
"Ehem... tapi itu terpampang jelas kok. Kan rugi kalau tidak dinikmati..."
PLAK!
"Haris meshum!" teriak Freya.
"Adduuuhhh! Triple bengkak ini!" keluh Haris sambil mengusap pipinya.
"Bodo!" Freya melepaskan pelukannya namun pria itu menariknya lagi membuat gadis itu terjatuh di sofa dan jatuh dalam pelukannya lagi.
"Harusnya aku berbuat langsung saja lah!" Haris mencium bibir Freya yang terbuka dan segera melu*matnya.
Freya yang tidak siap hanya pasrah mendapatkan perlakuan seperti itu dari pria kaku, yang otaknya hanya berisikan angka hitungan yang tidak diperhitungkan adalah jago berciuman.
Pria satu ini belajar dari mana berciuman?
Haris pun menindih tubuh Freya tanpa melepaskan ciumannya yang dibalas oleh gadis itu sama panasnya.
"HARIISS! FREEYYAAA!"
Keduanya melepaskan pagutannya dan terkejut melihat sang Mama Kristal dan Papa Ashley berdiri dengan wajah tidak bisa dijabarkan.
"Eh?"
***
Yuhuuu Up Jam Brunch Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️