Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Elakshi Falisha Arata Hassan ( END )


__ADS_3

Davina menatap rumah milik Kareem Hassan dengan tatapan suka. Meskipun background pendidikannya bukan arsitek, tapi karena berkecimpung di bidang kontraktor, properti dan desain interior, Davina bisa melihat kwalitas bangunan yang berada di hadapannya. Rumah milik Kareem dibuat dari bahan berkualitas tinggi.



"Ayo masuk istriku" ajak Kareem sambil menggandeng Davina mengajak masuk istrinya ke ruamh bernuansa krem dan coklat kopi itu.


"Aku suka suasananya, asri dan so Mediterranean seperti rumah opa buyut Adrian Pratomo di Jakarta."


"Rumah itu sekarang gimana?" tanya Kareem sambil mengangguk ke kepala pelayannya yang membuka pintu. "Perkenalkan, ini adalah istriku, Davina Arata Hassan. Dav, ini kepala pelayan ku namanya Burak. Lalu itu Dinah yang bagian memasak dan Gusman bagian kebun."


Davina mengangguk ke semua pegawai Kareem. "Rumah itu masih terawat sebab dipakai untuk keluarga besar Al Jordan juga kalau ke Jakarta."


"Selamat datang Nyonya Hassan ke Istanbul" sapa Burak.


"Terimakasih." Davina tersenyum yang membuat Dinah menyeletuk. "Tuan Hassan, nyonya cantik sekali."


"Terimakasih Dinah" senyum Davina ke perempuan berusia sekitar lima puluh tahun itu.


"Yuk, aku ajak melihat rumah kita" Kareem menatap Dinah. "Masak yang enak ya Dinah."


"Tentu saja tuan" ucap Dinah bersemangat.


***


Davina diajak masuk ke dalam master bedroom yang berada di lantai dua dan lagi-lagi dia terkesima melihat penataan kamar cantik itu.



"Suka?" tanya Kareem.


"Suka banget!" Davina lalu meletakkan pan*tatnya di kursi sudut jendela. "Aku selalu suka rumah dengan tempat duduk di jendela. Membuatku menikmati keindahan alam di pagi hari."


Kareem lagi-lagi terkesima dengan cara Davina menikmati sesuatu.


"Dav?" Kareem yang berdiri di belakang Davina langsung memeluk istrinya. "I love you. Apalagi sesederhana ini saja kamu bahagia."


Davina memeluk tangan kekar Kareem yang berada di dadanya. "I'm a simple girl."


"I know." Kareem mencium pipi Davina.


***


Hampir sebulan Davina dan Kareem di Istanbul menikmati bulan madu dan bekerja. Meskipun jauh dari Jakarta, Davina tetap memeriksa semua pekerjaannya melalui panggilan zoom bahkan melakukan meeting disana.


Kareem pun melakukan hal yang sama dengan memeriksa semua bengkelnya baik yang di Istanbul dan Jakarta yang diawasi oleh Tariq selama Kareem di Istanbul.


Setelah puas berkeliling Turki berbulan madu, Davina dan Kareem pun kembali ke Jakarta dan kembali ke rutinitas.


***


"Hoek!" Davina bergegas ke wastafel yang ada di ruang makan mengeluarkan semua isi perutnya.


"Sayang... Astaga! Kamu kenapa?" Kareem bergegas menghampiri istrinya yang muntah-muntah. Keduanya sudah menikah hampir tujuh bulan sekarang dan Kareem baru sekarang melihat istrinya sakit.

__ADS_1


"Bawa ke Gendhis, Kareem. Jangan-jangan hamil mantu ibu" senyum Sari Hassan. Selama ini Sari memang tidak berharap menantunya segera hamil karena sedang menikmati pernikahannya.


"Ayo, ke Gendhis sekarang" ajak Kareem sambil mengusap mulut Davina dengan tissue.


"Tapi aku ada meeting..." ucap Davina lemas.


"Suruh Tammy dan Prabu yang handle." Kareem lalu menelpon Prabu, asisten Davina satu lagi.


"Assalamualaikum pak Hassan" sapa Prabu.


"Wa'alaikum salam. Prabu, hari ini apa ada meeting?" tanya Kareem sambil menghela istrinya untuk duduk.


"Iya pak. Bagaimana?"


"Tolong kamu handle sama Tammy. Bu Davina tidak enak badan dan harus ke rumah sakit."


"Oh siap pak! Semoga kabar baik ya" balas Prabu.


"Aamiin. Terimakasih doanya Prabu."


Setelah menutup panggilannya, Kareem pun mengajak Davina ke rumah sakit untuk bertemu dengan Gendhis.


***


"Wah, akhirnya! Alhamdulillah... Selamat kalian berdua." Arum memeluk Davina dan Kareem bergantian.


"Berapa bulan eh... Minggu mbak?" tanya Davina yang masih tidak percaya ada nyawa dalam rahimnya.


"Alhamdulillah. Terimakasih Gendhis" ucap Kareem.


"Lho kok ke aku ucapinnya? Ke Allah SWT dong, karena beliau sudah memberikan kepercayaan kepada kalian sebagai orang tua." Arum tersenyum kepada sepupu iparnya.


"Iya benar."


***


Kehamilan Davina membuat Javier dan Agatha serta Sari Hassan bahagia karena mereka memang sudah menunggu kehadiran cucu dari Davina. Kareem pun antusias menjadi suami siaga selama kehamilan istrinya bahkan dia memindahkan kamar utama ke kamar tamu untuk sementara Davina hamil.


Davina mengalami kesulitan saat kehamilan trisemester pertama. Dia nyaris tidak bisa bangun karena dia akan merasa mual dan pusing. Kareem dengan telaten membantu Davina melewati masa morning sick nya bahkan bekerja hanya setengah hari dan sisanya dilakukan di rumah.


Ketika kandungan Davina berusia lima bulan, Arum memberitahukan bahwa bayi yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan. Kareem dan Davina sangat bahagia mengetahui nya, terutama Davina yang memang ingin memiliki anak perempuan.


Javier dan Agatha sendiri sangat antusias dengan cucu perempuannya yang akan lahir empat bulan lagi bahkan Javier bersemangat akan mengadakan acara nujuh bulan atau mitoni di mansion Arata.


Kareem sendiri hanya bisa memasrahkan semuanya ke papa mertuanya, apalagi Sari Hassan pun ikut semangat mendengar rencana acara mitoni Davina.


"Kami biarpun bule begini, tapi sangat menjunjung acara adat Jawa meskipun kalau menikah lebih suka yang simpel. Tapi acara mitoni, nyaris selalu kami adakan" ucap Javier kepada besannya, Sari Hassan. Saat ini Javier harus menghandle PRC group Jakarta karena Davina tiba-tiba drop.


"Saya setuju pak Javier, apalagi kan memang tujuannya baik dan mendoakan calon cucu kita tho" balas Sari Hassan.


Davina hanya bisa pasrah mendengar rencana kedua orangtua dan mertuanya. Entah kenapa hari ini dirinya lelah sekali padahal hanya ke rumah sakit kontrol seperti biasa.


"Sayang? Capek?" bisik Kareem yang dijawab anggukan. "Papa, mama, ibu, aku bawa Dav ke kamar dulu ya. Kayaknya si baby girl bikin mamanya capek" pamit Kareem ke semua orangtuanya.

__ADS_1


"Kareem, Davina itu seperti mama. Waktu mama hamil dia, mama juga begitu lemas sampai hampir bulan ke tujuh tapi habis itu hilang maboknya. Kok bisa nurun ya" gumam Agatha.


"Owalaahhh, jebule nurun tho" kekeh Sari Hassan.


"Iya Bu Sari, makanya saya nggak heran lihat Vina seperti itu karena saya dulu mengalaminya" kekeh Agatha. "Kasih minyak kayu putih, Kareem, bisa ngurangin mual kalau mama."


"Baik ma."


***


Kareem menidurkan Davina di tempat tidur king size-nya dengan lembut lalu mencium perut buncitnya.


"Princess...Jangan bikin Mama mabok dong. Kasihan mamamu" bisiknya di perut Davina.


"Hahahaha, mas tuh."


"Biar princess tahu, sudah bikin mamanya puyeng" kekeh Kareem yang entah putrinya mendengarkan, rasa mual dan lelahnya pun menghilang.


"Terimakasih mas. Si princess manut sama kamu" senyum Davina sambil mengelus pipi suaminya.


***


Hari yang ditunggu keluarga Arata dan Hassan karena Davina hendak melahirkan. Pagi tadi air ketubannya pecah saat hendak ke rumah sakit untuk memesan kamar dan Arum langsung sigap membantu persalinan sepupunya.


Kareem selalu mendampingi proses kelahiran putrinya dan menangis haru melihat bagaimana cantiknya putri pertamanya. Davina pun tidak bisa menahan rasa bahagianya melahirkan putri yang cantik dan sempurna.


***


"Siapa namanya Kareem?" tanya Agatha ketika melihat cucunya di ruang bayi.



"Elakshi Falisha Arata Hassan, artinya putri yang memiliki mata yang indah."


"Panggilannya Lakshi?" tanya Javier.


"No, papa. Panggilannya Falisha" senyum Kareem.


"Ya ampun, kalian jadi ikutan Oom Abi almarhum. Ghani ya nama tengah yang dipakai buat panggilan" kekeh Javier. "Tapi panggilannya papa suka."


Kareem menatap putrinya. Entah kenapa dia merasa putrinya akan membuatnya kerepotan di masa depan.


*** END ***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Davina dan Kareem end Yaaaa... tenang masih ada Bonchap nya.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2