Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Jealous Melanda


__ADS_3

Davina keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe dan rambutnya ditutup handuk karena habis keramas. Hari ini rasanya gerah dan dia ingin mandi air dingin.


"Vina, tadi ada cowok cari kamu" teriak seseorang dari luar kamarnya.


"Siapa?" balas Davina juga dengan berteriak.


"Nggak tahu!"


Davina menghela nafas panjang. Mbok ya ditanya dulu kenapeeee!


Gadis itu segera berganti pakaian mengenakan tank top dan celana pendek jeans lalu keluar kamar sambil membawa handuk untuk mengeringkan rambutnya.



"Sepertinya pengagum rahasiamu" kekeh pria yang mengenakan kacamata itu sambil bermain ponselnya.


"Siapa juga?" tanya Davina sambil mengambil ponselnya. Nomor ini kok familiar ya. Lihat dimana aku? "Kak Nathan, suaranya kayak apa tadi yang telpon?"


"Suara cowok lah tapi ada aksen asing, seperti timur tengah gitu" ucap Nathan cuek. Pria itu memang baru datang dari Singapore dan ingin menghabiskan day off nya di Jakarta bersama sepupunya.



Davina mengerenyitkan dahinya. Apa Ali sudah pulang? Gadis itu pun akhirnya menelpon balik meskipun sudah pukul sepuluh malam.


"Halo" sapa suara pria disana setelah deringan ke lima.


"Selamat malam. Maaf ini saya berbicara dengan siapa? Karena tadi..."


"Davina, ini aku" ucap pria di seberang sana.


"Siapa?" Davina hapal suara Ali dan orang ini bukan Ali.


"Kareem Hassan" jawab pria itu.


"Oh, ada apa Mr Hassan?" Nathan melirik ke arah adik sepupunya. Kareem Hassan? tanyanya tanpa suara dan Davina mengangguk. Nathan hanya tersenyum smirk.


"Tidak. Aku ingin mengajakmu makan siang besok. Apakah bisa?"


"Maaf Mr Hassan tapi saya sudah janjian dengan... "


"Say Yes!" bisik Nathan dengan wajah menggoda dan Davina langsung mendelik. "Udah terima saja!"


"Well, tampaknya bisa kok besok saya makan siang dengan anda" jawab Davina.


"Bagus. Besok setelah Jumatan, saya akan ke kantor anda, Davina. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." Davina meletakkan ponselnya. "Kak Nathan tuuuhhhh! Maksudnya apa sih?"


"Biar besok aku lihat si Kareem gedubrak tahu siapa yang menerima telponnya."


"Memang kenapa?" tanya Davina bingung.


"Soalnya tadi begitu aku bilang kamu mandi, dia langsung memutuskan telponnya. Mirip cowok cemburu" gelak Nathan.


"Masa sih? Dia baru bertemu aku tadi siang" ucap Davina sambil mengoleskan body lotion yang harumnya bikin Nathan mengernyitkan dahinya.


"Dav, kalau kamu pakai lotion itu di dekat Kareem, alamat kamu tidak selamat!"

__ADS_1


Davina melongo. "Kok bisa?"


"Soalnya harumnya bikin pria langsung traveling kemana-mana." Davina langsung memukul Nathan dengan bantal.


"Otakmu saja yang traveling, kak!" omel Davina.


"Ditambah pakai baju seperti itu" Nathan tambah tergelak.


"Diiihhh dasar jones! Ndang rabi sanaaaa!" seru Davina.


"Beeeuuu emang rabi gampang, Non! Susah cari cewek yang kagak matre kayak ipar-ipar kita, Dav! Gue paling males ketemu cewek kayak gitu bahkan dokter aja ada yang matre!" gerutu Nathan.


"Ada! Tuh mantannya mas Bara sampai ditinggal kawin hanya karena lakinya punya rumah sakit" kekeh Davina.


"Kalau aku sih, Dav, lebih suka Kareem karena aku dua kali bertemu dan dia pria yang baik plus sayang sama ibunya." Nathan menatap Davina. "Apa kamu suka dengan Ali?"


"Aku belum memutuskan, kak. Lagipula selama dia di Mumbai, jarang menghubungi diriku" senyum getir Davina terbit.


Nathan memeluk adiknya. "Listen, seleksi alam itu ada. Nanti akan ditunjukkan siapa yang terbaik untukmu."


Davina mengangguk.


***


Davina masih sibuk dengan berbagai berkas yang berasal dari semua proyek PRC group didampingi oleh Tammy, asistennya dan ditemani Yono pengawalnya yang sudah selesai Jumatan sampai suara telpon kantornya berbunyi.


"Ya Dani?" sapa Davina ke bagian resepsionis.


"Nona Davina, ada tuan Kareem Hassan ingin bertemu dengan anda."


"Suruh dia naik, Dani. Tolong kartumu untuk menjalankan lift CEO ya."


Tammy memandang Bossnya. "Tuan Kareem Hassan nona? Baru lagi?" godanya.


"Shut up Tammy!" sungut Davina.


Tammy tertawa. "Saya akan menyambut Tuan Hassan dulu." Gadis itu pun berdiri dan berjalan keluar ruang kerja Davina.


"Saya harus mengikuti anda, nona Davina? Seperti biasanya?" tanya Yono.


"Iya, No. Seperti biasanya" jawab Davina tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas dan layar iMac nya.


Suara ketukan di pintu ruang kerja Davina berbunyi dan Tammy pun masuk mempersilahkan seorang pria tampan bertubuh tinggi mengenakan sweater dan kemeja putih plus celana jeans.


"Silahkan masuk tuan Hassan" Tammy menunjukkan sofa disana. "Silahkan duduk."


"Terimakasih Tammy." Kareem melihat Davina masih sibuk dengan pekerjaannya dan ada seorang pria berwajah seram duduk di sudut ruangan sembari mengangguk hormat ke dirinya.


"Oh, dia Yono pengawal nona Davina."


"Sebentar ya tuan Hassan. Saya harus menyelesaikan ini dulu" ucap Davina tanpa memandang pria itu.



"It's okay. Selesaikan dulu saja, Davina."


Kareem pun memindai ruang kerja Davina yang bernuansa black and white. Yono memberikan sebotol air mineral bewarna hijau kepada Kareem.

__ADS_1


"Silahkan tuan Hassan."


"Terimakasih Yono." Yono pun mengangguk dan kembali ke tempat duduknya semula.



Kareem memperhatikan bagaimana gadis itu bersama Tammy saling berdiskusi tentang pekerjaan dan tampak serius. Wajah Davina tampak sangat ekspresif, serius, cemberut, tersenyum smirk dan... pening. Apa perlu aku pijit kepalamu? Kareem tersenyum sendiri. What am I thinking? Belum tentu juga dia mau sama kamu, K. Mana semalam ada pria yang bersamanya. Mana sedang mandi pula.


Otak Kareem traveling kemana-mana apalagi dia adalah duda yang sudah mencicipi surga dunia bersama almarhum istrinya, Maryam. Melihat Davina, Kareem harus benar-benar bisa mengendalikan dirinya. Bahaya!


Setengah jam kemudian Davina dan Tammy menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu pun berdiri sambil membawa tas Channel-nya dan menghampiri Kareem.


"Maaf lama. Shall we, Mr Hassan?" ajak Davina. Kareem pun berdiri mengikuti gadis itu sedangkan Tammy membereskan berkas mereka. Yono pun tidak ketinggalan mengikuti nonanya.


"Kita akan makan dimana?" tanya Davina.


"Turkuaz, restauran Turki. Mau?" tawar Kareem.


"Mau lah! Aku pecinta kuliner." Davina tersenyum.


Kareem mengangguk dan keduanya menuju tempat parkir dimana mobil Audi R8 hitam miliknya terparkir disana. Davina pun masuk ke dalam mobil setelah dibukakan oleh Kareem dan mobil mewah itu pun keluar dari gedung PRC group.



***


Kareem dan Davina sampai di restauran Turkuaz dan pria itu langsung memesan Sultan platter yang memang porsinya banyak dan cukup untuk mereka berdua.



Setelahnya, Kareem menatap Davina. "Davina, boleh kah aku bertanya sesuatu?"


"Mau menanyakan apa?" balas gadis itu.


"Siapa yang semalam menerima telpon mu?"


Davina memincingkan matanya. "Memang kenapa?"


"Well, jika kamu punya pasangan, aku tidak akan mengganggumu."


Davina terbahak. "Aku tidak punya pasangan alias jomblo."


"Lalu yang semalam? Yang bilang kamu mandi?"


"Aku yang terima."


Kareem menatap pria yang berdiri di belakang Davina.


"Kamu?"


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Arimbi dan Ren wait Yaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2